
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Suasana di ruangan itu yang sedari tadi tegang akhirnya mencair. Para dokter dan pelayan yang membantu persalinan mengusap air mata bahagia saat menyaksikan keajaiban dari dewa.
Sang permaisuri yang sangat mereka hormati akhirnya melahirkan dua orang putra kembar. Wajahnya yang tampan benar-benar mirip dengan dirinya. Sementara warna rambut mereka keduanya mirip seperti pangeran mahkota.
Castela yang sudah kembali sadar walau belum sepenuhnya menghela nafas lega. Rasa sakit yang harus ia rasakan selama berjam-jam akhirnya terbayarkan dengan kehadiran dua putranya yang sehat.
"Selamat yang mulia,anda melahirkan dua pangeran kembar. Sungguh keagungan dan keberuntungan menyertai kerajaan SEATHLAND." Ucap salah satu dokter wanita itu tersenyum.
"Wah, selamat yang mulia,pantas saja perut anda selama ini berukuran lebih besar dari wanita hamil pada umumnya. Ternyata ada dua pangeran di dalamnya." ucap salah seorang dayang sambil tersenyum bahagia.
Castela hanya tersenyum membalas perkataan mereka. Jujur saja,saat ini tubuhnya benar-benar masih sangat lemah. Seluruh tenaganya sudah ia habiskan untuk mengeluarkan kedua putranya agar bisa melihat dunia ini.
"Saya benar-benar terharu, baiklah saya akan memanggil pangeran dan mengabarkan berita baik ini." Ucap Ema lalu berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum ia berjalan lebih jauh, beberapa orang berpakaian hitam tiba-tiba masuk dan langsung menggorok leher mereka semua dengan menggunakan pedang.
Darah berceceran dimana-mana membasahi setiap jengkal dinding dan lantai kamar itu. Castela benar-benar sangat panik,ia segera menyembunyikan kedua anaknya di bawah selimut.
Ema yang melihat adegan pembunuhan Seca langsung di depan matanya tentu saja sangat terkejut. Ia lalu beralih kepada Castela yang tampak menyembunyikan anaknya dengan raut wajah tak kalah panik.
Ema langsung menerjang salah satu diantara mereka yang hendak menusukkan pedang ke arah para pangeran. Orang itu yang tidak siap seketika oleng ke samping sehingga mata pedangnya malah menggores lengan Ema cukup dalam.
Ema meringis merasakan panas dan perih menjalar di lengannya. Darah merembes menembus pakaiannya yang saat ini ia kenakan.
Castela benar-benar merasa sangat ketakutan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini karena kondisi tubuhnya. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang memiliki tubuh lemah hanya karena baru selesai melahirkan. Seharusnya ia menjadi lebih kuat.
PLAK!
__ADS_1
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Ema. Kulitnya yang putih itu seketika menjadi kemerahan dengan jejak telapak tangan di sana. Ema meringis,namun ia tidak akan menyerah. Ia sendiri sudah bersumpah,akan melindungi nonanya dalam kondisi apapun.
"Sialan! apa kau sudah bosan hidup?!" umpat lelaki itu lalu bangkit kembali.
Ia mengarahkan pedangnya ke arah Ema,namun belum sempat ia melakukannya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Dia adalah Abigail,sang ksatria bayangan milik Castela.
Seketika orang-orang berbaju hitam itu merasa panik saat melihat kehadiran Abigail,di tambah suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke ruangan ini. Dengan sekali kode,mereka saling mengangguk.
Mereka melumpuhkan Castela dan Ema dengan menotok bagian belakang kepala mereka. Seketika mereka pingsan dan para orang-orang berbaju hitam tadi segera membawa Castela dan Ema melalui jendela.
Bertepatan dengan itu, Abigail terhempas ke dinding karena baru saja fokusnya terbagi menjadi dua.
Dengan gerakan kilat,mereka berlari melewati jendela kamar dan menghilang dalam situasi menegangkan ini. Abigail langsung bangkit dan mengejar mereka tanpa memperdulikan keadaannya sendiri. Dan di saat Abigail baru keluar dari jendela,di saat itulah pintu kamar terbuka dengan kasar dari luar.
Rosenta segera berlari dari istana untuk menyelamatkan diri. Di belakangnya sana,ada pasukan Marchel yang sedang mengejarnya. Ia merasa sangat bodoh karena bisa dengan mudahnya ketahuan.
Rosenta terus berlari hingga tidak menyadari jika ada seseorang yang menarik tangannya dan masuk ke dalam salah satu ruangan. Rosenta memasang sikap waspada. Seseorang sedang berdiri di depannya saat ini dengan sebuah jubah.
Tubuh Rosenta menegang saat mendengar suara yang benar-benar sangat ia kenali. Suara yang mampu menghancurkan seluruh hidup dan juga mimpi-mimpinya. Itu adalah suara tuannya,tuan yang selama bertahun-tahun ini menjadi dalang di balik kejahatannya.
"T-tuan,, saya telah melakukan pekerjaan saya. S-saya mohon,,, lepaskan saya dan b-biarkan saya pergi jauh." ucap Rosenta terbata-bata menutupi rasa takutnya.
Sosok itu tertawa di dalam kegelapan ruangan ini. Hanya ada cahaya yang berhasil masuk melalui celah-celah gorden yang berterbangan karena tertiup angin.
"Kau,telah melakukan tugasmu dengan baik. Jadi,aku akan mengabulkan permintaan mu itu. Apa ada permintaan yang lain?" tanya sosok misterius yang tersembunyi di balik jubah Hitamnya itu.
Rosenta menggeleng,ia tidak membutuhkan yang lain. Ia hanya butuh sebuah kebebasan dan keluar dari bayang-bayang menyeramkan ini.
"T-tidak ada tuan, saya hanya ingin bebas." ucap Rosenta yang sudah bersandar di pintu. Tangannya yang berada di balik punggung mencoba memutar knop pintu secara diam-diam. Namun Percuma, pintu ini terkunci.
__ADS_1
"Benarkah? bukankah selama ini kau juga penasaran dengan raut wajahku?" tanya sosok itu sambil tersenyum miring di balik jubahnya.
Rosenta menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana sosok ini bisa mengetahui hal itu. Jujur saja, dirinya benar-benar merasa sangat penasaran. Siapa sebenarnya sosok berkuasa yang benar-benar sangat jahat dan kejam yang telah menjadikan dirinya sebagai anjing selama ini.
Sosok itu lagi-lagi tertawa keras. Ia seolah tidak takut jika ada seseorang yang mendengar suara tawanya yang menggema itu. Apalagi pasukan yang di pimpin oleh Marchel tengah mengejarnya tadi.
"Huh! Aku akan mengabulkan permintaan terakhir mu, sekaligus menjawab rasa penasaran mu itu Rosenta. Aku,akan memberikan mu sebuah kebebasan sekaligus menunjukkan wajah cantikku kepadamu." ucap sosok itu.
Perlahan namun pasti,sosok itu menyingkap jubahnya yang selama ini menutupi seluruh wajahnya. Di bawah sinar matahari yang minim, Rosenta membeku di tempatnya saat sepasang mata itu bertabrakan dengan kedua Netranya.
"K-kau..."
Sosok itu kembali tertawa dan kemudian menyeringai.
"Yah,ini aku." ucapnya tersenyum lebar.
Rosenta luruh ke lantai sangking terkejutnya. Selama ini, dirinya telah mencari tahu siapa sosok yang telah memanfaatkannya. Selama ini ia selalu bertanya-tanya siapa sosok yang memiliki kekuasaan dan koneksi yang begitu hebatnya hingga mampu membuatnya masuk ke dalam istana dengan mudahnya.
Selama ini,ia selalu bertanya-tanya. Dan hari ini,ia berhasil mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu semua. Sosok yang benar-benar tidak pernah ia sangka sebelumnya. Semua orang menyanjungnya sebagai malaikat,namun tidak ada yang tahu jika wanita yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang monster yang kejam dan tidak memiliki hati.
"C-Ca.,, ukhuk! ukhuk!"
Rosenta tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tenggorokannya terasa sangat sakit dan seperti terbakar. Lalu darah segar yang amis dan pekat keluar melalui mulut dan juga hidungnya. Rosenta melotot tidak percaya.
Bukankah wanita itu sudah berjanji akan memberikannya sebuah kebebasan? apa maksudnya semua ini? mengapa bukan kebebasan yang ia dapatkan? mengapa yang ia dapatkan malah kematian?
"Kau, terlalu bodoh ternyata. Kau meminta kebebasan bukan? kau, berkata ingin pergi ke tempat yang jauh. Maka,tidak ada tempat yang lebih jauh dan lebih bebas dari pada,,, NERAKA"
"T-terku-tuklah k-kau! k-kau be-benar-bhe-nar m-mho-ns-ter." ucap Rosenta sebelum akhirnya jatuh ke lantai dengan mengenaskan.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, akhirnya ia berhasil melenyapkan anjing terakhirnya. Begitu bodohnya Rosenta karena meminum ramuan yang ia berikan tanpa berfikir dua kali.
Memang benar apa kata orang. Dendam,bisa membuatmu buta dan melupakan kehati-hatian. Sosok itu lalu pergi meloncat dari jendela dan menghilang dalam kegelapan.