ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 47


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Castela terbangun dari pingsannya, dirinya sudah berada di salah satu penjara kosong yang sebelumnya ia lihat. Hanya ada tanah yang lembab, dingin dan kotor yang menjadi alas tidurnya. Benar-benar tempat yang sangat keji untuk orang seperti dirinya.


Bagaimana pun dirinya adalah seorang permaisuri, putri seorang Duke yang memiliki jasa besar terhadap kerajaan ini. Walaupun dirinya adalah seorang penjahat,namun tidak ada bukti yang membenarkan dirinya penjahat.


Morgan sialan itu, beserta Karel dan kekasihnya,mereka semua benar-benar harus di lenyapkan dari negeri ini. Orang berhati dingin dan kasar seperti mereka,tidak pantas untuk di berikan sebuah kehidupan. Berkah itu, terlalu berlebihan untuk mereka.


Castela memegang perutnya,terasa nyeri dan sedikit mendenyut. Bahkan saat ini tubuhnya terasa remuk dan hampir hancur. Castela mengusap lembut perutnya dengan tangannya yang lecet. Mencoba menenangkan anaknya yang mungkin saja khawatir.


"Sabar ya sayang,,, mama janji, sebentar lagi kita akan keluar dari tempat ini. Bertahanlah sedikit lagi ya sayang."


Air mata Castela menetes,ia mengusapnya dengan sedikit kasar. Ia tidak ingat sudah berapa lama ia pingsan. Ia teringat,jika tadi pagi dirinya hanya minum susu dan makan bubur. Meskipun dirinya bisa menahan lapar,namun tidak dengan anak di perutnya.


Kedua mata Castela lalu menangkap mangkok kecil berisi makanan. Sangat tidak layak, mungkin sudah basi. Castela menatapnya, kemudian membawa mangkok itu mendekat ke hidungnya.


Lalu kemudian Castela meletakkan mangkok itu kembali. Beracun,ada racun yang di campurkan ke dalam makanan itu. Bukan jenis racun yang berbahaya,namun tetap saja memiliki efek samping yang tinggi.


Mungkin jika tadi Castela tidak mengandung, dirinya masih bisa bertahan dari racun itu. Tapi saat ini, kondisinya benar-benar sedikit menyulitkannya. Meski dirinya tidak menyesal akan kehadiran anaknya ini.


Namun Castela tidak bisa membahayakan nyawa anaknya yang masih berusia empat Minggu. Castela tahu jika belum ada orang yang menyadari tentang kehamilannya. Mereka sengaja meletakkan racun itu untuk membunuhnya secara perlahan-lahan.


Entah siapa orang bodoh itu, tapi Castela bersumpah. Semoga saja orang itu mati terinjak kaki kuda.


Sejak hamil, Castela menjadi cepat lelah dan mengantuk. Di tambah lagi, tubuhnya yang saat ini benar-benar sangat lemah. Castela kembali memutuskan untuk tidur. Meski sebenarnya ia tidak tega melihat anaknya kelaparan,namun ia lebih tidak tega memberikan anaknya makan dengan racun.


Memangnya, ibu mana yang tega meracuni anaknya sendiri? Ibu tiri? Ibu kota? Atau ibu-ibuan?


Castela kembali memejamkan matanya. Ia terus menerus memberikan sugesti kepada dirinya sendiri agar tetap tenang. Terlalu banyak pikiran,akan berdampak buruk bagi si bayi. Setidaknya, begitulah yang ia dengar saat mengantarkan tantenya cek up rutin ke dokter kandungan.


Ah, mengingat dokter itu Castela jadi sedikit kecewa. Dokter kandungan itu masih terlalu muda,walau sudah duda anak satu karena istrinya meninggal dunia setelah melahirkan. Namun dokter itu sangat tampan, bahkan anaknya menggemaskan. Seandainya saja Castela bisa menikah dengan dokter itu,yah dirinya rela dari pada harus terus-menerus menghindar dari sebuah hama yang bernama Devan.


Entah berapa lama Castela tertidur, lagi-lagi dirinya lupa. Atau bisa di katakan, tidak tahu. Karena tempat ini benar-benar sangat gelap. Di luar di jaga ketat, apalagi dengan kehadiran dirinya disini.


Castela mengumpat saat menyadari tubuhnya basah dan di siram dengan tidak etis. Rasa dingin dan perih menjalar dengan tidak manusiawi di tubuhnya yang penuh luka.

__ADS_1


Wajah itu, Castela benar-benar sangat muak melihat wajahnya. Membuat perutnya mual dan ingin memuntahkan isi perutnya ke wajah itu.


Dengan paksa, dirinya di seret ke tempat semula. Bedanya dirinya tidak lagi di ikat di tiang itu, melainkan di dudukkan di sebuah kursi yang entah sejak kapan berada di ruangan itu.


Castela tidak sanggup memberontak, tubuhnya benar-benar terasa seperti mati rasa. Dirinya terus menerus merapalkan doa agar anaknya masih selamat di dalam sana.


Castela menatap tajam wajah panglima Karel. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Membuat dirinya terlihat sangat menyeramkan. Benar-benar tidak terlihat seperti seorang permaisuri.


Tatapan lelaki itu masih sama, penuh dengan ambisi untuk membunuhnya.


"Bagaimana kabarmu permaisuri? Apa kau menyukai tempat tinggal barumu?" Tanyanya dengan sudut bibir terangkat.


Castela tidak menjawab,ia hanya diam memperhatikan. Karena jujur, dirinya sedang menyimpan tenaganya saat ini. Menjawab kalimat-kalimat tidak bermutu itu hanya membuat tenaganya sia-sia.


"Apa selama tiga hari di tempat ini kau berubah menjadi wanita bisu?" ucapnya dengan senyuman mengejek.


Apa? tiga hari? jadi dirinya sudah tiga hari tidak sadarkan diri? wah,pantas saja tubuhnya saat ini mati rasa. Tiga hari bukanlah waktu yang singkat. itu sudah cukup untuk membunuh seorang gadis sepertinya.


"Kenapa kau diam? sedang berpikir heh?"


Lagi-lagi tawa mengejek itu terdengar di telinga Castela. Membuat gadis itu mendengus kasar.


"Kau sungguh hebat permaisuri, bahkan kau bisa bertahan tanpa makan dan minum selama tiga hari ini. Ah, sungguh tidak seru, padahal aku sudah berpikir jika dirimu menyerah,dan memakan makanan khusus yang sudah aku siapkan.Kau, membuatku kecewa." Ucapnya setelah tawa reda.


Kini raut wajahnya berubah menjadi sendu. Ia memandangi wajah Castela dengan tatapan seperti itu, membuat Castela ingin menonjok wajahnya.


Tapi kemudian wajah itu kembali berubah,menjadi senyuman licik penuh intrik,dan menyeramkan. Salah satu tangannya mengambil sebuah gelas.


Entah apa isi dari gelas itu, Castela tidak tahu. Tapi jika boleh menyimpulkan, mungkin itu adalah racun. Yah, sebuah racun yang lebih berbahaya dari yang ada di makanannya selama ini.


Wajah menyebalkan itu kembali menunjukkan taringnya. Ia terus berjalan mendekat,tanpa sedikitpun melepaskan senyuman mengejek di bibirnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Castela saat lelaki gila itu sudah tepat di hadapannya.


"Apa yang akan aku lakukan?" Karel terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali bersuara tepat di telinga Castela. "Melakukan yang seharusnya aku lakukan sejak pertama kali kita bertemu."

__ADS_1


Castela merasakan tanda-tanda bahaya. Insting keibuannya tentu saja langsung membawa tangannya untuk mendekap perutnya. Mencoba melindungi anaknya,tanpa ia sadari.


Karel sejak tadi memperhatikan gerak gerik itu, dan gerakan barusan membuat wajahnya murung.


"Ah,kau sedang mengandung rupanya. Maafkan aku,aku tidak tahu." ucapnya dengan nada lemah.


Castela mengangkat wajahnya, menatap lelaki itu dengan sebelah alis terangkat. Mencoba menyakini satu hal di dalam dirinya, lelaki ini gila.


"Jika saja aku tahu jika dirimu sedang mengandung calon pewaris,aku pasti tidak akan melakukan hal ini kepada mu permaisuri. Aku tidak suka menyiksa wanita yang sedang mengandung. Akan lebih baik,jika kau langsung ku bunuh. Itu adalah takdir terbaik untuk anakmu yang malang."


Karel kembali tertawa,dengan gerakan cepat ia meraih wajah Castela. Memaksa membuka mulutnya. Castela memberontak, bagaimana pun juga,dari baunya saja dirinya bisa menyimpulkan jika racun ini sangat berbahaya. Tidak berwarna,namun berbau Sangat pekat dan menyengat.


Air mata Castela sudah menetes, dinginnya permukaan gelas itu kini bertemu dengan permukaan bibinya yang kering dengan bekas darah mengering di sudutnya.


Lelaki ini benar-benar sudah gila. Castela merutuki lelaki ini dalam hatinya. Doa-doa ia rapalkan memohon keajaiban dari Tuhan.


"Kenapa kau begitu bodoh? seharusnya kau mati saja! Kau telah merusak kebahagiaan kami! Hadirmu benar-benar sebuah bencana! Matilah kau Castela, matilah! matilah kau-"


BRAK!!


**BUGH


BUGH**


Castela terjatuh,ia benar-benar sudah tidak tahan. Racun itu berhasil menembus pertahanan dirinya. Kedua matanya menggelap,ia tidak bisa mendengar ataupun melihat apapun.


Yang saat ini ada di hadapannya adalah, sebuah gerbang kematian. Castela tersenyum, setidaknya anaknya mati tidak sendirian. Ada dirinya yang ikut bersama. Bersama-sama melewati gerbang akhirat, bukanlah hal yang buruk.


Selamat tinggal papa


Selamat tinggal Marchel


selamat tinggal Ema, Abigail


selamat tinggal Steven,Brian

__ADS_1


selamat tinggal dunia aneh


Selamat tinggal... Morgan


__ADS_2