
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Setelah selesai berganti pakaian, Castela keluar dari tendanya. Ia mengamati sekeliling yang tampak berbeda, dan setelahnya ia sadar jika mereka sudah sampai di kota Rutin,kota yang menjadi tujuan mereka.
Mungkin karena tadi dirinya dilanda panik, dirinya tidak sempat melihat sekeliling. Dan saat ini, manik matanya yang berwarna hijau zambrud itu bisa melihat dengan jelas rumah-rumah yang sudah roboh,bekas tanah yang masih becek dan puing-puing bangunan sejauh mata memandang.
Castela ingin menangis,namun gadis itu hanya berusaha menahannya saat melihat anak-anak kecil yang sedang tertawa sambil bermain kejar-kejaran. Tidak ada sedikit pun raut sedih tergores di wajah imut mereka.
Meski pakaian yang mereka gunakan terkesan Sangat sederhana dan tampak usang,namun terdapat kehangatan serta ketulusan di setiap tatapan mereka.
Castela berusaha tegar. Ia berjalan mendekati anak-anak itu dan menyapa mereka.
"Hay anak-anak,apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Castela sambil berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan anak-anak itu.
Anak-anak itu berhenti bermain dan memandang takjub ke arah Castela. Seolah enggan untuk berkedip.
"Apakah nona ini seorang Dewi?" Tanya salah satu anak laki-laki berambut coklat,dengan iris mata berwarna hitam, berbisik kepada temannya yang berambut keriting.
Namun tidak bisa di katakan berbisik,karena suara anak itu masih bisa di dengar oleh Castela. Castela tertawa saat mendapat respon seperti itu.
'Wah gila anjir,nih anak cakep banget!! Jadi pengen masukin karung!' batinnya berteriak histeris.
"Tidak, sepertinya seorang malaikat. Tapi aku tidak melihat sayapnya. Bukankah malaikat memiliki sayap?" Tanya seorang anak kecil perempuan berambut panjang berwarna biru gelap, yang di angguki oleh teman-temannya yang lain.
Castela semakin di buat gemas oleh kata-kata yang mereka keluar. Hingga sebuah suara membuat Castela mendengus kesal.
"Kalian salah anak-anak,dia ini adalah iblis! Jangan dekat-dekat dengannya jika kalian masih ingin hidup!"
Morgan sudah berdiri di belakang Castela dengan seringaian di bibirnya. Membuat emosi Castela seketika meledak-ledak seperti gunung Merapi yang siap memuntahkan laharnya.
Anak-anak yang menyadari kehadiran pangeran kerajaan mereka langsung memberikan hormat. Membuat Castela semakin kesal karena ternyata anak-anak ini tidak mengenal dirinya.
'Yah, memangnya kau pikir siapa dirimu Castela. Oh astaga,kau tidak boleh menjadi wanita yang gila hormat!'
__ADS_1
"Hey! apa mulut mu itu belum pernah di sumpal dengan batu? Atau jangan-jangan matamu itu katarak? Ah, sepertinya iya. Wanita secantik ini kau bilang iblis? Yang benar saja." Ucap Castela menggeleng tidak percaya.
Morgan hanya diam tidak menanggapi Omelan Castela. Ia kemudian mengusap lembut kepala Castela yang membuat gadis itu seketika blushing.
"Maafkan aku sayang,aku hanya bercanda."
'Oh, astaga, apa-apaan ini? Kenapa jantungmu itu murahan sekali Castela? Kau tidak boleh jatuh ke dalam permainan lelaki itu,atau kau akan mati!'
"Wah sepertinya kau sudah terjerat ke dalam pesonaku. Tapi maaf saja,aku tidak tertarik denganmu." Ucap Castela dengan percaya diri, padahal jauh di lubuk hatinya, jantungnya tengah meronta berdisko ria karena perlakuan dan panggilan lembut Morgan.
"Ah, benarkah?" Tanya Morgan tidak percaya
"Sudah-sudah,aku sudah muak melihat wajahmu,aku ingin pergi menemui Baron Lavis. Aku bisa darah tinggi jika lama-lama berada di sampingmu." Ucap Castela kemudian berlalu.
Sementara Morgan,ia hanya tertawa,ia tahu jika gadis itu telah mengerjainya saat di tenda tadi.
Sementara itu, Castela menghampiri Baron Lavis yang tengah berbincang serius dengan Marquis Steven.
"Salam permaisuri." Ucap Marquis Steven yang pertama kali menyadari kehadirannya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Castela menatap kedua lelaki berbeda usia itu.
"Ah,jadi anda adalah permaisuri Castela? Sebelumnya maaf karena saya tidak mengenali anda. Saya adalah Baron Lavis,saya pemimpin kota ini." Ucap Baron Lavis menatap kagum Castela.
"Tidak masalah Baron Lavis,saya memakluminya. Jadi,apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Kami sedang membicarakan mengenai masalah banjir bandang ini. Sepertinya ada yang janggal dengan kejadian ini." Ucap Marquis Steven sambil mengelus dagunya.
"Ah,jadi kau juga mengira seperti itu Marquis?" Ucap Castela
"Maksud anda? Anda juga berfikir seperti itu yang mulia?" Kini Baron Lavis ikut bersuara.
Castela menatap Baron Lavis, sebelum akhirnya mengangguk. Sementara Baron Lavis yang di tatap seperti itu,mendadak menjadi grogi. Pesona wanita, memang tidak bisa di anggap sepele.
__ADS_1
"Yah, tentu saja. Aku sudah menyelidikinya lebih dulu sebelum memutuskan untuk pergi kesini." Ucap Castela membuat Marquis Steven menatapnya kagum.
"Lalu,apa yang anda temukan lady?" Tanya Marquis Steven,karena sebenarnya ia tidak tahu jika Castela telah menyelidiki hal ini.
"Ah,kau pasti terkejut, maafkan aku Marquis. Aku tidak sempat memberitahukan mu. Aku hanya merasa ada yang janggal dengan kejadian ini. Jadi,aku memerintahkan Ema untuk mengutus salah satu prajurit yang ku percaya secara diam-diam untuk menyelidiki tempat kejadian. Dan yah,aku mendapatkannya. Rencananya aku ingin memberitahukan kepadamu saat kita di perjalanan,tapi aku tidak menyangka jika ada penyerangan, sepertinya mereka sudah menyadarinya." Ucap Castela menjelaskan.
"Tidak masalah, anda sudah melakukan yang terbaik. Jadi, apa yang kau dapatkan?" Tanya Marquis Steven tersenyum manis.
"Kau tau, bendungan itu hancur bukan karena tidak sanggup menahan derasnya arus air. Aku menemukan sebuah retakan yang timbul akibat sebuah pukulan keras, membuat kerusakan di tempat yang tidak terjangkau air. Karena retakan itu,di tambah arus air yang kuat, menyebabkan bendungan itu hancur dan air yang tidak terkontrol meluap-luap hingga menyebabkan banjir." Jelas Castela menerangkan.
"Lalu,apa yang membuatmu yakin jika memang dia yang melakukannya?" Tanya Marquis Steven.
Castela mengeluarkan sesuatu dari balik gaunnya. Ia lalu melemparkannya ke meja sebuah benda yang berhasil membuat Marquis Steven tidak percaya.
"Ini-"
"Yah, kau pasti mengenalinya bukan? Hanya satu orang yang memilikinya di kerajaan ini?"
Marquis Steven Memegang sebuah lencana pengenal yang terbuat dari batu giok hitam dengan ukiran pedang.
Baron Lavis yang tidak mengerti arah pembicaraan ini,hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?" Tanyanya meminta penjelasan. Karena kedua manusia berbeda jenis kelamin itu hanya berbicara tanpa melibatkan dirinya.
"Baron Lavis, Sekarang kau temui pelayanku, namanya Ema. Katakan saja kepadanya jika aku menyuruh mu menemuinya. Dia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan." Ucap Castela.
Baron Lavis yang ingin memprotes hanya bisa mengangguk. Ia hanya seorang Baron,ia tidak mungkin menentang Ucapan seorang permaisuri,calon Ratu negeri ini. Ia lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedikit tidak rela.
Marquis Steven menatap Castela dengan seringaian di bibirnya.
"Dia sangat ceroboh, bagaimana bisa dia melakukan hal ini? Apa sebenarnya rencana mereka?" Tanya Marquis Steven
"Kenapa kau masih bertanya Marquis? Apa penyerangan kemarin belum bisa menjelaskan semuanya?" Ucap Castela santai, meskipun sebenarnya dirinya merasa takut. Karena sudah sejauh ini,itu artinya nyawanya semakin terancam.
__ADS_1
"Apa pangeran bodoh itu mengetahuinya?"
"Tentu saja tidak, dia sangat mempercayai tangan kanannya itu. Dia saja tidak sadar jika telah di bohongi dan di khianati oleh istrinya, apalagi tentang panglimanya? Bagaimana menurut mu jika dia mengetahuinya? Kira-kira Hukuman apa yang akan ia berikan kepada panglima Karel?" Tanya Castela menatap tajam Marquis Steven.