ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 85


__ADS_3

...πŸ¦‹ HAPPY READING πŸ¦‹...


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan. Aku tidak mengenalmu,jadi jangan bertingkah seolah kita saling mengenal."


HAHAHA


"Putramu, sangat tampan, tidakkah kau ingin menyentuh mereka Dewi?"


Suara tanpa wujud itu kembali keluar, menggema di seluruh hutan yang sepi dan gelap,tanpa kehidupan itu.


"Sudah ku bilang berhentilah bic-"


Perkataan Castela terhenti,saat ia melihat sebuah sinar terang perlahan muncul,lalu meredup. Cahaya tersebut berkumpul menjadi satu dalam wujud sebuah layar besar,terlihat seperti layar bioskop.


Castela bisa melihat, samar-samar siluet seorang anak kecil laki-laki. Lalu,hadir beberapa anak laki-laki lain dan salah satunya terlihat memiliki wajah yang sama,saat siluet itu jelas menampilkan sosok tersebut.


Castela meremas kedua tangannya di sisi gaun yang ia kenakan. Tubuhnya terasah kaku,Kedua matanya tiba-tiba memanas. Dia memang tidak mengenal salah satu anak tersebut,tapi ia mengenal yang lainnya.


Itu adalah, "Erik..." Lirih Castela


Dan dua anak laki-laki yang berusia sekitar lima tahun itu, "apakah itu anakku?" Tanya Castela tanpa sadar.


Kakinya melangkah ke depan, sementara salah satu tangannya terangkat, ingin meraih sosok di dalam layar tersebut. Namun, belum sempat tangannya itu sampai, sebuah ledakan muncul dari dalam layar tersebut, membuat Castela terkejut dan terdorong ke belakang.


"Ti-tidak! Anakku..." Ucap Castela panik saat melihat tempat itu tiba-tiba meledak,lalu muncul kobaran api yang besar.


HAHAHAH


Castela tersadar,ia telah terjebak. Ini salah, tidak seharusnya ia menunjukkan keinginan terdalamnya ini.


"Kau,telah terjebak Dewi! Kau terjebak! HAHAHAH akhirnya aku tau dimana kedua bocah itu di sembunyikan."

__ADS_1


Castela menatap nyalang ke sekeliling. Tidak, apa maksudnya? Apa sebenarnya yang terjadi? Anaknya dalam bahaya,tidak,ini tidak bisa di biarkan.


Castela bangkit,lalu berlari, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan anaknya. Tapi,ia tidak bisa menemukan dimana jalan keluar itu.


"Sialan! Dimitri! Atau siapapun namamu,tolong keluarkan aku! Aku ingin menyelamatkan kedua anakku. Aku mohon... Tolong keluarkan aku dari sini." Udap Castela parau sambil terus mencari. Air matanya bahkan sudah menetes sedari tadi.


"Maafkan aku Zean... Maafkan aku, seharusnya aku mendengarkan ucapanmu. Kini aku terjebak... tolong aku Zean." Ucap Castela sambil senggugukan.


HAHAHAH


"Selamat tinggal Dewi, semoga kau betah menghabiskan seluruh hidupmu dalam penyesalan. Dengan begini, perang ini sudah jelas akan kami menangkan."


Ucap suara tanpa wujud itu lagi, sebelum akhirnya benar-benar menghilang. Lenyap, seperti tidak pernah ada.


Apa? Perang? Perang apa? Mengapa Zean tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang perang? Apa selama ini ia membohongi ku? Apa ini alasannya kenapa aku selalu di kurung disini dalam pengawasan Zean? Agar aku tidak bisa menyelamatkan anak-anak ku?


"Tidak! Tidak! ZEAN TOLONG AKU! DIMITRI SIALAN! KELUARKAN AKU!"


Castela terus berlari, berulang kali ia terjatuh, tersandung akar-akar pohon yang melintang. Menyebabkan bajunya kotor karena tanah, namun ia tetap bangkit. Hatinya terasa sakit dan mendenyut,saat melihat ledakan tadi. Dan rupa anak-anak itu yang ketakutan.


Anak-anaknya harus segera di selamatkan, Castela kembali jatuh ke tanah. Ia meraung keras sambil memukul-mukul permukaan tanah yang keras. Ia benar-benar merasa sangat frustasi.


Castela lalu mengarahkan pandangannya ke atas langit yang gelap. Dengan perasaan kesal,sesal,sedih,marah yang tercampur menjadi satu. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras dengan air mata yang terus mengalir dari matanya yang sudah memerah.


"Jika aku benar-benar Dewi,maka tidak ada satu makhluk pun yang bisa mempermainkan ku!"


Seketika,hutan yang gelap dan menyeramkan itu tertiup angin kencang yang entah datang dari mana. Membuat tiap helai rambut Castela yang tidak dikucir, bertebaran mengikuti arah angin.


"Kalian,akan menyesal karena telah membangkitkan diriku." Ucap Castela dengan suara yang terdengar sedikit berbeda. Lebih berat,tegas dan berwibawa. Memecah kegelapan hutan, diantara angin kencang yang masih berhembus.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


"Kakek penyihir Zargon, mengapa kami harus pergi?" Tanya pangeran Aidan dengan kening mengkerut.


Pasalnya,mereka baru bisa tidur nyenyak setelah menempuh perjalanan berat selama berhari-hari kemarin dengan kereta kuda,tanpa istirahat.


"Situasi diluar benar-benar darurat pangeran. Saya bisa melihat, diluar sana,mereka sedang berusaha mencari kita. Dan ada kemungkinan, keberadaan kita yang sudah saya samarkan bisa tercium oleh mereka. Itu sebabnya,kalian harus pergi untuk bersembunyi." Ucap kakek tua berjenggot putih dengan tongkat kayu di tangannya itu.


"Tapi kakek penyihir,kenapa kau harus tetap tinggal? Kenapa kita tidak pergi bersama? Kau sudah tua, bagaimana jika ada sesuatu yang buruk terjadi kepadamu?" Tanya pangeran Aidan dengan wajah yang sudah pucat.


Ia tidak pernah menyangka,jika ternyata banyak sekali yang mengincar hidupnya. Bahkan,sejak ia masih di kandungan dulu, ibunya sendiri bersusah payah agar ia dan adiknya bisa tetap hidup.


"Maafkan saya pangeran,tapi keselamatan kalian lebih penting. Bahkan, jika saya harus mengorbankan hidup saya untuk keselamatan kedua pangeran,maka saya tidak akan pernah menyesali keputusan ini. Saya sudah bersumpah kepada Duke Herli,akan melindungi semua keturunannya yang masih bisa saya Lindungi dengan nyawa saya." Ucap kakek penyihir itu tersenyum manis, "pergilah pangeran, keberadaan kita telah berhasil mereka ketahui." Lanjutnya lagi.


"Tidak,kakek penyihir kita harus-"


DUAR


Mereka semua terkejut, sebuah ledakan berasal dari luar. Tuan penyihir Zargon segera memasang tameng untuk melindungi ke empat bocah itu.


"Pergilah pangeran! Erik,aku menitipkan kedua pangeran kepadamu! Pergilah,biar aku yang menghambat mereka disini." Ucap tuan penyihir Zargon berteriak yang langsung di angguki oleh Erik dan Hendri.


HAHAHA


"Akhirnya aku menemukan kalian bocah." ucap Dimitri,si suara tanpa wujud.


Mereka semua sontak melihat ke asal suara,lalu munculah sebuah sosok siluet lelaki tinggi,dengan tanduk dan sayap hitam di belakangnya.


"Dimitri sialan! mengapa bisa berubah kembali ke wujud iblis mu?" Ucap tuan penyihir Zargon menahan amarah.


Sosok iblis tampan itu mengangkat sebelah alisnya,dengan bibir tertarik ke atas membentuk sebuah seringaian.


"Terkejut hhm? Apa kau tidak merindukan ku tua bangka? bukankah seharusnya kau memelukku, bukankah kita adalah teman lama?" tanya Dimitri dengan suara menyebalkan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? kenapa kau bisa keluar dari hutan itu? siapa yang membebaskan mu Dimitri!" Tanya penyihir Zargon dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Kau penasaran,hhm? tapi sayang sekali,aku tidak akan memberitahukan apapun kepadamu. Karena tujuanku mendatangi gubuk jelek mu ini lagi setelah ratusan tahun adalah,mereka." ucap Dimitri sambil tersenyum lebar, hingga menampakkan gigi taringnya,saat kedua matanya bersitatap dengan kedua mata milik pangeran Aiden yang berada di dalam dekapan pangeran Aidan.


__ADS_2