ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 51 (Flashback)


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Duke Herli tampak sangat cemas saat mengetahui Camelia, Putrinya yang masih dalam keadaan itu koma mendadak kejang-kejang.


Wajahnya begitu pucat bahkan tubuhnya terlihat kaku dan dingin. Dapat dikatakan jika kondisi Camelia menurun selama beberapa Minggu ini.


Dokter keluarga telah melakukan pemeriksaan. Dan menemukan jika camelia di diagnosa keracunan. Entah racun apa, dokter setengah abad itu masih belum mengetahuinya.


Darah yang mengalir dari sela bibirnya telah di bersihkan. Dokter juga sudah memberikan obat untuk menghentikan pendarahan di bagian dalam itu.


Duke Herli benar-benar sangat murka, bagaimana bisa ada kejadian seperti ini di kediamannya? Siapa yang telah berani melakukan hal hina seperti ini kepada keluarganya?


Aura di kediaman Duke Herli masih sangat tegang. Dan kehadiran Marquis Steven di kediamannya yang terkesan mendadak dan dalam situasi yang tidak tepat memunculkan tanda tanya besar di kepala Duke Herli.


Duke Herli memerintahkan kepada ksatrianya untuk membawa Marquis Steven ke ruang kerjanya. Setelah berganti pakaian, Duke Herli langsung menemui Marquis Steven.


Keterkejutannya ternyata tidak berhenti sampai disitu. Duke Herli semakin mengerutkan keningnya saat melihat pelayan yang mendampingi Putri bungsunya juga ada di dalam. Berdiri di dekat Marquis Steven dengan wajah yang pucat.


"Hormat saya Duke." Ucap Marquis Steven bangkit lalu sedikit membungkuk.


Begitu pun Ema yang memberikan hormat meski sedari tadi kepalanya memang sudah menunduk.


Duke Herli mengangguk,lalu mempersilahkan Marquis Steven kembali duduk. Ia pun mengambil tempat di salah satu sofa. Namun kedua matanya masih melirik Ema yang hadir bersama Marquis Steven.


"Ah, sebelumnya saya mohon maaf karena telah datang secara tiba-tiba. Saya tahu jika saya sudah lancang Duke."


Duke Herli hanya mengangguk menanggapinya. Ia tidak marah kepada Marquis Steven karena ia tahu bagaimana hubungan Marquis Steven terhadap Putrinya. Marquis Steven sudah berteman lama dengan putri bungsunya sejak kecil.


"Tidak masalah,saya tahu jika anda memiliki alasan yang cukup kuat sehingga datang ke kediaman saya tanpa pemberitahuan." Kemudian Duke Herli menatap Ema, "Dan Ema,saya harap kau juga memiliki alasan yang kuat mengapa kau bisa berada disini."


Ema yang mendengar itu hanya bisa menundukkan wajahnya semakin dalam. Pikirannya masih kalut, memikirkan bagaimana keadaan nonanya disana. Terhitung sudah dua hari ia pergi meninggalkan nonanya sendirian disana.


"Ah, baiklah Duke, sepertinya kita tidak boleh membuang waktu lagi. Ada hal serius yang perlu saya bicarakan dengan anda." Ucap Marquis Steven memasang wajah serius.


Duke Herli bisa melihat bagaimana kedua manusia di depannya ini sedang menutupi ketegangan diantara mereka.


"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya Marquis? Saya rasa ini adalah hal yang sangat penting."


Marquis Steven menarik nafas panjang untuk menetralkan rasa gugupnya, sebelum akhirnya membuka suara.


"Apakah anda tahu jika Lady Castela sedang mengandung putra mahkota?" Tanyanya mengawali pembicaraan serius mereka sebelum memasuki inti pembicaraan.


Duke Herli tampak menegang di tempatnya duduk,saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Marquis Steven.


"Apakah anda sadar tentang apa yang baru saja anda katakan Marquis? Jika kabar ini sampai kepada Raja dan ternyata hanya sebuah kebohongan,apa kau tau apa konsekuensinya?" Tanya Duke Herli melirik Ema yang masih betah dengan posisinya.


Marquis Steven diam sejenak, sebelum akhirnya kembali bersuara.


"Raja sudah mengetahuinya meski tidak mendengarnya langsung dari lady Castela. Bisa di katakan jika lady Castela masih menutupi hal ini. Jadi hanya Raja, Lady Castela dan pelayannya saja yang tahu. Dan kedatangan Ema, berkaitan dengan keselamatan putri anda dan juga anak di dalam kandungannya."

__ADS_1


Duke Herli menatap Ema, meminta kepastian dari apa yang dikatakan oleh Marquis Steven.


"Benar Duke,nona saat ini sedang mengandung. Nona sengaja merahasiakan hal ini karena ada yang mengincar nyawa nona. Itu sebabnya saya datang kesini untuk meminta bantuan kepada Duke dan tuan Marquis. Hanya kalian yang bisa membantu nona." Ucap Ema dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.


Perasaan Duke Herli menjadi tidak enak. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa ia tidak tahu jika ada yang mengincar nyawa Putrinya?


"Apa yang terjadi kepada putriku Ema?" Tanya Duke Herli dengan emosi yang tertahan.


Marquis Steven mempersilahkan Ema untuk menjelaskan segalanya kepada Duke Herli. Semua yang telah terjadi dan semua yang ia ketahui.


Tentang penyerangan saat menuju kota Rutin. Perselingkuhan Rosenta dan panglima Karel,serta keadaan Castela yang di tahan di penjara bawah tanah atas persetujuan dari pangeran Morgan.


Duke Herli benar-benar sangat marah. Ia benar-benar tidak menduga jika kehidupan Putrinya Sangat menderita di istana. Bertepatan dengan itu,sebuah burung merpati hinggap di jendela ruang kerja Duke Herli.


Ema mengenal burung itu,ia langsung meminta izin untuk mengambil surat yang terikat di kaki burung itu.


Ema menghembuskan nafas lega lalu menatap mantap kedua lelaki pemilik kekuasaan tinggi itu.


"Kita harus segera bergegas jika tidak ingin terlambat tuan. Saya baru menerima kabar dari orang kepercayaannya nona yang bertugas menemui yang mulia Raja,saat ini mereka telah memasuki ibukota dan akan segera tiba di istana."


Tanpa menunggu lagi, Duke Herli segera menyuruh orang untuk mempersiapkan kudanya. Duke Herli juga memperketat penjagaan di kediaman karena saat ini banyak yang sedang mengincar nyawa keluarganya.


Ia juga menuliskan surat darurat kepada Marchel agar kembali secepatnya dari akademi dan menjaga adiknya, Camelia yang sedang dalam masa kritis.


Setelah itu, diikuti oleh ratusan ksatria terhebatnya, Duke Herli, Marquis Steven,dan Ema langsung menuju ke istana. Bergabung dengan pasukan Raja Philip yang sudah hampir sampai.


Diantara ketegangan itu,mereka tidak sadar jika sedari tadi percakapan mereka sudah di sabotase oleh seseorang.


"Cih,sudah sejauh ini dan masih gagal? Mereka memang sudah tidak bisa di harapkan. Waktunya membuang anjing-anjing tidak berguna itu sebelum semuanya berantakan." Sosok itu melesat dengan cepat melalui jendela ruang kerja Duke Herli yang terbuka.


Lalu Setelahnya hilang begitu saja, sehingga tidak ada yang menyadari akan kehadirannya.


Akses keluar masuk istana di tutup sejak tiga hari yang lalu. Istana mendadak gempar akan berita tentang permaisuri pangeran yang di tangkap dan akan di jatuhi Hukuman mati.


Para pelayan juga tidak henti-hentinya membicarakan hal ini, apalagi mereka tidak melihat pangeran yang mencoba memberikan penjelasan. Informasi mereka semua di batasi, sehingga mereka tidak tahu bagaimana keadaan Castela.


Rosenta meremas gaunnya, tindakan yang di ambil oleh Karel kali ini tidak ada di dalam rencananya. Menjadikan Castela sebagai umpan, bukankah bisa menjadi Boomerang kepada mereka?


Itu sebabnya ia menemui panglima Karel dan segera melenyapkan Castela. Jika Castela mati dan semuanya terbongkar, mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal lainnya. Karena tugas mereka saat ini tinggal satu, menyingkirkan Castela.


Ia lalu menyuruh panglima Karel untuk memberikan racun kepada Castela sebelum pangeran Morgan menyadari kejanggalan yang terjadi di istana.


Dan semua terjadi begitu cepat. Rosenta mendengar kabar jika Raja dan Duke Herli telah menuju ke istana dengan pasukan mereka. Karel bahkan belum memberikan kabar apakah ia berhasil melenyapkan Castela.


Dengan segala pertimbangan, akhirnya Rosenta menyelinap melalui pintu belakang dan kabur dari istana. Lelaki tua itu telah mencurigai dirinya sejak awal. Mungkin saja hubungannya dengan panglima Karel juga telah di Ketahui oleh Raja tua itu.


Ia berulang kali mengatakan kata maaf kepada panglima Karel.


"Maafkan aku Karel,aku harus pergi. Tidak baik jika kita berdua tertangkap dan berakhir di tangan mereka. Jika nanti kau tiada,aku berjanji akan membalaskan semua penderitaan yang telah mereka berikan kepada kita." ucap Rosenta lalu melompat dari tembok istana yang cukup tinggi.

__ADS_1


Ia meringis saat merasakan kakinya yang terasa sangat sakit saat mendarat tadi. Sepertinya tulang kakinya itu patah. Dengan sisa kekuatannya,ia menyeret kakinya berjalan jauh sebelum pasukan kerajaan berhasil menemukannya.


Kedatangan Raja dengan pasukannya dan di susul oleh Duke Herli dan Marquis Steven dengan pasukannya juga membuat istana menjadi kacau. Dengan Amarah di wajah mereka berdua, Raja langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat putranya.


Tanpa basa basi lagi, Raja Philip langsung menghajar pangeran Morgan. Luka-luka yang cukup serius berhasil ia dapatkan karena ia tidak sedikit pun melawan. Bagaimana ia harus melawan,jika ia tidak tahu mengapa ayahnya itu tiba-tiba berada disini dan memukulinya tanpa ampun.


wajah pangeran Morgan babak belur. Bibirnya sobek dan tangan sebelah kirinya patah. Ia menatap tidak percaya kepada ayahnya yang terlihat sangat murka itu. Bahkan ada Duke Herli dan Marquis Steven di belakang ayahnya yang terlihat sedang menahan Amarah.


"Dimana menantuku?" Tanya Raja Philip setelah menghajar putranya itu.


"Menantu yang mana yang ayah maksud? Rosenta sedang-"


"Dia bukan menantu ku bodoh! Menantuku hanya satu, dimana Castela?!"


"Kenapa ayah menanyakannya kepada ku? dia ada di paviliunnya,kenapa ayah mencarinya disini? apa wanita itu membuat masalah? ah Astaga,apa sebenarnya yang ia lakukan, mengapa ia senang sekali membuat mas-"


BUGH


Satu pukulan tepat di wajah pangeran Morgan membuat lelaki itu jatuh menghantam dinding di belakangnya.


Pangeran Morgan tampak marah saat menyadari siapa yang baru saja berani memukul wajahnya.


"Kau! Berani-beraninya kau memukul ku!"


"Aku bahkan ingin sekali membunuhmu pangeran. Pukulan itu tidak sebanding dengan apa yang telah kau lakukan kepada Castela."


"Apa-apaan ini! Mengapa kalian semua menyalahkan ku karena wanita sialan itu! jika kalian ingin marah,maka marahlah kepada dia!" ucap pangeran Morgan tidak terima.


"Bagaimana bisa aku marah dengan Putri sendiri pangeran? di saat dia sedang mengandung anakmu,namun dengan seenaknya kau menyiksa dirinya di penjara bawah tanah?" ucap Duke Herli menatap Morgan dengan datar.


"Apa? mengandung? Castela mengandung? Sialan! siapa yang berani mencelakakan calon anakku?" Desis pangeran Morgan tidak percaya.


Raja Philip merasa sangat muak dan kecewa kepada putranya. Bisa-bisanya si bodoh itu tidak juga menyadari keanehan terhadap dirinya.


Ia langsung berlalu pergi menuju ke penjara bawah tanah diikuti oleh Duke Herli dan Marquis Steven di belakangnya. Tanpa sedikitpun memperdulikan putranya yang sudah berteriak-teriak seperti orang gila di dalam sana.


Pangeran Morgan lalu berlari dan menyusul ayahnya. Ia tidak akan memaafkan siapapun yang telah berani mengkhianatinya.


Begitu sampai di penjara bawah tanah ia membeku di tempatnya. Saat melihat bagaimana Orang kepercayaannya itu sedang memaksa istrinya untuk meminum sesuatu di dalam gelas.


Hatinya teriris saat melihat bagaimana kondisi istrinya itu yang mencoba mencegah minuman itu masuk ke dalam mulutnya.


Marquis Steven langsung bergerak cepat menghajar panglima Karel. Namun gerakannya kalah cepat,karena Castela telah meminum minuman itu. Tubuh gadis itu terjatuh di atas kursi. Sementara panglima Karel langsung diseret oleh kesatria Duke Herli dan di paksa berlutut.


"Aku benar-benar tidak percaya jika kau bisa melakukan semua ini Karel. Padahal aku begitu mempercayai mu. Mengapa kau tega mengkhianati ku?"


Panglima Karel tertawa, "Kau benar-benar bajingan pangeran. Kau bahkan masih bisa menyalahkan orang lain akan kesalahan mu sendiri. Bukankah kau yang menyuruhku untuk menyiksa dan menghukum mati pelaku penyebaran rumor istri tercinta mu itu? lihatlah pangeran,ini semua adalah hasil dari kerja kerasmu selama ini. Hiduplah di dalam penyesalan seumur hidupmu pangeran."


JLEBB

__ADS_1


Dengan gerakan cepat, panglima Karel langsung menusukkan belati yang sejak awal ia sembunyikan ke dalam dadanya. Saat itu juga, lelaki itu menghembuskan nafas terakhirnya. Tanpa sedikitpun meninggalkan informasi tentang siapa yang berada di baliknya.


Raja benar-benar memandang kecewa putranya itu. Lalu mereka pergi dari sana,dengan Castela yang berada di dalam gendongan Marquis Steven.


__ADS_2