ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 75


__ADS_3

...πŸ¦‹ HAPPY READING πŸ¦‹...


"Bagaimana kabar anda Duke?" Tanya Marquis Steven berbasa-basi demi memecahkan keheningan diantara mereka selama dalam perjalanan.


Duke Marchel tidak menjawab,ia malah melirik Marquis Steven lalu balik melontarkan pertanyaan yang sama.


"Bagaimana kabar anda Setelah lima tahun di tinggalkan adik saya, Marquis?"


Marquis Steven terdiam. Ia tanpa sadar telah menghentikan langkahnya,lalu memandang ke arah tanah dengan perasaan sulit di defenisikan.


"Berat bukan? Bahkan anda sendiri tidak bisa mendefinisikannya. Seperti itu pulalah yang saya rasakan, Marquis. Tidak ada seorang pun yang akan baik-baik saja,ketika di tinggal oleh orang yang paling ia kasihi. Terlalu berat, hingga bahkan pundak saya yang kokoh ini tidak sanggup menahannya." Ucap Duke Marchel tanpa ekspresi.


"Berhentilah berpura-pura terlihat kuat,demi menguatkan orang lain Marquis. Hatimu juga butuh ekspresi untuk di ungkapkan. Kau,juga membutuhkan jeda untuk beristirahat Marquis. Kau sama seperti kami,sebuah tubuh yang di berikan nyawa yang bisa merasakan sakit, sedih,marah, kehilangan serta rasa kecewa. Kau,bukan iblis yang hidup dalam kendali dendam dan ambisi. Menangis lah jika itu sedih dan marahlah jika itu menyakiti hatimu. Lakukanlah,jika itu semua bisa menenangkan hatimu." Lanjutnya lagi.


"Hahaha apa maksud anda Duke? Mengapa anda tiba-tiba berkata panjang lebar seperti ini?" Ucap Marquis Steven tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jujur saja,jauh di dalam lubuk hatinya. Sebenarnya ia sudah benar-benar merasa lelah. Merasa lelah untuk terlihat kuat di depan orang lain. Bagaimana pun juga, dirinya hanyalah seorang manusia biasa. Bisa merasakan sakit dan sedih saat Castela, wanita yang ia cintai meninggalkannya untuk selamanya.


Namun ia tidak memiliki pilihan lain, terlihat lemah atau terlihat kuat, semuanya sama saja. Apa yang telah terjadi,tetap tidak bisa di ubah pada akhirnya. Mereka akan berjalan sesuai takdir. Mengikuti alur yang sudah di gariskan oleh alam.


Terlihat kuat memang tidak bisa mengurangi sedikit pun rasa sedih yang kita alami. Namun setidaknya,ia mampu mengurangi rasa sedih dan kecewa yang menimpa orang lain. Setidaknya,hal itu berguna dan bisa sejenak membuatnya sedikit melupakan rasa sedih itu.


"Sudahlah lupakan saja,ayo... Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan keponakan ku." Ucap Duke Marchel menepuk pundak Marquis Steven,lalu berjalan lebih dulu di depannya.

__ADS_1


"Dasar,kesambet setan apa tuh orang tiba-tiba jadi melow seperti itu." Gumam Marquis Steven bergidik negeri,lalu menyusul Duke Marchel yang sudah menjauh.


...🌼🌼🌼...


PLAK!!


"Morgan... Kau, barusan kau menamparku?" Tanya Camelia menatap Morgan tidak percaya.


"Apa perbuatanku barusan tidak bisa kau artikan sendiri?" Tanya Raja Morgan dengan wajah memerah dan kedua telapak tangan yang mengepal menahan amarah.


"Kau benar-benar keterlaluan Morgan! Tidakkah sedikit saja kau memiliki hati? Aku istrimu! Tidak bisakah kau memperlakukan diriku selayaknya seorang istri?" Tanya Camelia dengan kedua mata memerah menahan tangis.


"Kau benar-benar membuatku merasa mual Camelia. Siapa yang memberikan mu izin untuk masuk ke dalam kamarku?!"


"Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu Camelia! Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu dengan mulut busukmu? Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Masuk ke dalam kamarku,memakai gaun milik Castela, memakai benda-benda kesayangannya,lalu memelukku secara tiba-tiba. Hal licik apalagi yang sedang kau rencanakan camelia?" Tanya Morgan menatap Camelia dengan tatapan merendahkan.


Morgan benar-benar tidak habis pikir. Setelah pertemuan dengan kakak iparnya yang berakhir dengan kecanggungan. Morgan segera bergegas kembali ke kamar untuk menenangkan dirinya.


Namun apa yang ia dapatkan di dalam kamarnya benar-benar membuat emosi yang ia tahan meluap begitu saja.


Dia telah memberikan larangan kepada Camelia untuk tidak memasuki kamarnya. Dimana tempat itu merupakan satu-satunya tempat yang masih bisa ia selamatkan kenangannya dengan sang istri. Namun dengan bodohnya wanita itu malah masuk ke dalam kamarnya,lalu berdandan seperti Castela dan memakai pakaian serta aksesoris milik Castela.


Apa sebenarnya yang ada di dalam otak wanita itu? Apakah dia sudah frustasi dan gila karena Morgan yang tidak sedikit pun memberikan kesempatan untuk membuka hati kepadanya?

__ADS_1


"Kau,masih bertanya apa yang aku inginkan? Setelah apa yang aku lakukan,kau masih bertanya? Aku menginginkan mu Morgan! AKU MENGINGINKAN MU!"


"TAPI KAU SUDAH MENDAPATKAN KU CAMELIA. KAU,TELAH MENDAPATKAN KU SEPERTI YANG KAU INGINKAN!"


"Yah,kau benar Morgan. Aku memang sudah mendapatkan mu. Tapi itu semua tidak seperti yang ku bayangkan,ini semua jauh dari yang ku pikirkan! Kau ada,namun tiada. Kau dekat,tapi tidak bisa untuk ku dekap! Kau,hanya milikku dalam status,tapi tidak dengan tubuh dan hatimu. Tidak bisakah sekali saja kau melihatku Morgan? Melihat ku dari pandangan seorang wanita yang mengharapkan cinta dari lelaki yang ia cintai. Tidak bisakah kau melihat ku dari pandangan itu?"


Morgan tertawa, benar-benar tertawa. Ia merasa lucu saat mendengar semua kata-kata itu keluar dari bibir Camelia.


"Kau, benar-benar lucu Camelia. Bagaimana bisa aku melihatmu sebagai seorang manusia? Terlebih melihatmu sebagai seorang wanita yang mengharapkan cinta? Sedangkan di mataku selama ini,kau adalah seorang monster. Kau, wanita monster yang rela melakukan segala cara,tidak peduli itu benar atau salah,kau tetap akan melakukannya demi mendapatkan apa yang kau inginkan.


Bahkan kau sedikitpun tidak merasa kasihan saat melenyapkan orang yang aku cintai, meskipun dia adalah adik kandungmu sendiri,demi bisa memiliki ku. Apanya yang bisa di sebut sebagai cinta Camelia? Kau,telah terobsesi Camelia! Kau terobsesi denganku, ini bukan cinta! Berhentilah mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas mustahil untuk kau dapatkan. Bukankah sejak awal sudah jelas ku katakan? Bahkan jika wanita di dunia ini hanya menyisakan kau seorang,aku lebih memilih mati dari pada harus berakhir denganmu!" Ucap Morgan dingin.


"Bagaimana mungkin kau menyalahkan ku untuk semua ini Morgan?! aku tidak akan jadi seperti ini,jika diri mu tidak mengingkari janjimu kepadaku! kau,kaulah yang harus di salahkan untuk semua kesalahan yang terjadi saat ini Morgan! kau! kaulah yang harus di salahkan!" bentak Camelia dengan air mata yang sudah menetes sedari tadi.


"Terserah kau mengatakan apa Camelia. Namun kenyataannya,kaulah yang paling bersalah disini. Jika saja kau mati saat itu,dan tidak lagi kembali,maka kau tidak akan merasakan semua ini. Kau,tidak perlu bersikap seolah-olah kaulah yang paling tersakiti disini Camelia. Karena kenyataannya,kaulah yang membuat dirimu sendiri tersakiti. Hingga menyakiti orang-orang di sekitar mu." ucap Morgan serius.


"Aku tidak ingin melihatmu masih disini ketika aku kembali nanti. Lepaskan semua milik Castela yang kau ambil. Aku tidak ingin kau menyentuh barang-barang yang sudah ku jaga selama ini. Kau mau tau satu Rahasia Camelia?" tanya Morgan sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar.


Tanpa menunggu jawaban dari camelia, Morgan tetap menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.


"Kau tahu,kenapa Dewa memberikan semua berkah ini kepada Castela dan bukan kepadamu? Jawabannya sangat sederhana Camelia. Karena kau adalah wanita yang serakah. Kau tidak pernah merasa puas dengan apa yang Dewa berikan kepada mu. Kau,tidak akan puas, bahkan setelah kau mendapatkan diriku. Kau bahkan masih bertingkah meniru Castela yang sudah meninggal. Apa sebegitu takutnya diri mu kepada Castela? bahkan kau masih dihinggapi rasa iri Kepadanya meski ia sudah pergi dari dunia ini selama lima tahun lamanya. Wanita seperti mu,tidak akan pernah pantas untuk mendapatkan cintaku." ucapnya lalu pergi dari kamar.


Meninggalkan Camelia yang telah luruh ke lantai dengan segala isi pemikirannya.

__ADS_1


__ADS_2