
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Jauh di tengah konflik yang terjadi,di sebuah negeri yang indah. Tampak seorang lelaki dengan jubah kebesarannya tengah memandangi sebuah lukisan dalam diam.
Senyuman di bibirnya tak luntur barang sedetik pun,saat lagi-lagi ingatannya kembali memutar memori itu, seperti sebuah video yang di putar ulang.
Meski hanya sekali melihat,namun ia bisa menjabarkan bagaimana rupa wanita itu dengan terperinci. Kecantikannya benar-benar membuat siapapun yang melihatnya,meski baru pertama kali,tetap tidak akan mudah untuk melupakannya.
Dia adalah Louis, seorang Raja dari kerajaan Zwitland. Tangannya terulur menyentuh dasar kanvas yang terbuat dari kain sutera berkualitas tinggi. Terasa halus dan lembut,saat jemari itu mengelus pelan wajah seseorang yang terpatri disana.
Seorang gadis memakai gaun berwarna merah muda. Yang tengah mengagumi keindahan laut,di bawah sinar jingga saat matahari hampir terbenam. Dengan rambut-rambut yang berterbangan mengikuti alunan melodi musik angin.
Kanvas berukuran sangat besar itu,di pasangnya pada sebuah ruangan khusus. Ruangan yang besar dan megah. Tidak di izinkan sembarang orang untuk memasuki ruangan ini.
Jika bisa di lihat,maka ada puluhan lukisan dengan bentuk berbeda terpajang indah di setiap permukaan dinding.
"Kau,telah menang. Siapapun dirimu,kau telah berhasil menerobos ke dalam pintu hati yang selama ini ku tutup."
"Meski aku tahu, memiliki mu sudah tidak mungkin lagi terjadi. Namun aku yakin, Tuhan mempertemukan kita,bukan untuk sia-sia. Karena sesuatu yang misteri,bisa saja akan terjadi nantinya di masa depan, Castela Ardeland."
...🦋🦋🦋...
BRAK!!
"KATAKAN KEPADAKU,SIAPA LELAKI ITU?!"
"K-kau,, menamparku?"
Rosenta tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tadinya dirinya sangat antusias dan bahagia menyambut kepulangan suaminya. Namun tiba-tiba, dirinya di tarik dari barisan dan langsung di bawa ke kamar dengan tarikan yang kasar.
Rosenta memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri. Tamparan itu bukan main rasanya. Sepertinya, lelaki di hadapannya ini telah mendengar rumor yang beredar di masyarakat.
'Baik Rosenta, saatnya kita masuk ke dalam permainan.'
"Hiks,, aku- aku tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Aku juga terkejut saat mendengar rumor itu,aku bersumpah pangeran! Hiks,,, Aku bahkan selama ini selalu menghabiskan waktu menyulam, bagaimana bisa ada rumor seperti itu,, Aku sangat malu,, hiks"
Morgan tidak menjawab,dia masih terbalut amarah. Sebuah seringai tipis muncul di bibir Rosenta,namun setelahnya ia kembali memasang wajah tertindas.
__ADS_1
"Kau pergi tanpa pamit kepada ku. Hiks,, Kau bahkan tidak tahukan,jika aku menunggumu seharian di meja makan? Hiks,,, Hanya karena sebuah rumor,kau langsung menyakiti ku tanpa sedikitpun mau mendengarkan pembelaan dariku?! Kau egois pangeran! Kau egois! Kau sudah tidak mencintaiku lagi! Kau,, hiks,, kau sudah berniat akan membuangku karena telah mendapatkan yang lebih berharga,hiks,,"
Kalimat itu terasa sangat menyakitkan di hati Morgan. Ia beralih menatap istrinya yang sudah terlihat kacau. Perlahan Morgan mendekat,lalu ia membawa tubuh Rosenta ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku,aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan katakan lagi,aku tidak akan membuang mu,aku sangat mencintaimu Rosenta. Jangan katakan itu lagi." Ucap Morgan lemah.
Sungguh sangat menyakitkan saat Rosenta mengatakan jika dirinya telah tergantikan. Itu semua salah. Bahkan hingga saat ini,hanya Rosentalah satu-satunya yang mendiami seluruh sudut hatinya.
"Kau bohong pangeran! Kau bohong! Kau sengaja menuduhku,dan dengan begitu kau bisa dengan mudahnya mencampakkan ku!" Ucap Rosenta masih dengan Isak tangisnya yang menyedihkan,ia memukul-mukul dada kekar Morgan.
"Maafkan aku, maafkan aku,aku tau kau tersiksa karena rumor ini. Maafkan aku,aku mempercayai mu. Sekarang, istirahatlah,aku akan mengurus ini semua,dan menghukum orang yang telah berani melakukan hal ini." Ucap Morgan menciumi seluruh wajah Rosenta,lalu membaringkannya di atas kasur.
Setelah itu,ia pergi keluar, menuju ke ruang kerjanya.
Rosenta menghapus air matanya,kedua matanya berkilat tajam. Lalu suara tawa memenuhi seluruh kamarnya.
HAHAHA
"Kau benar-benar bodoh Morgan, lelaki seperti mu,mana mungkin cocok bersanding denganku? Baiklah,mari kita lihat, hukuman apa yang akan kau berikan kepada ikan kecil itu?" Ucapnya setelah tawanya reda.
Sementara itu, Morgan tengah berdiri di depan jendelanya. Di belakangnya ada panglima Karel yang baru saja tiba.
"Kau pasti sudah mendengar rumor itu bukan?" Tanya Morgan tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari seorang gadis yang sedang berlarian mengejar kupu-kupu di taman bersama dengan pelayan pribadinya,dan beberapa pelayan lainnya.
"Maafkan saya pangeran,saya gagal dalam menjalankan tugas melindungi tuan putri Rosenta." ucap panglima Karel dengan penuh penyesalan.
"Baguslah jika kau sadar,aku tidak akan menghukum-mu Karel. Tapi sebagai gantinya,aku akan memberikan tugas kepadamu."
"Terima kasih yang mulia,atas kemurahan hati anda. Tugas apa pun itu akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin."
"Selidiki siapa yang menyebarkan rumor itu,dan segera bawa dia ke hadapan ku. Aku memberikan waktu kepada mu satu Minggu,jika dalam satu Minggu itu kau gagal,maka kepalamu yang akan menjadi gantinya."
Degg
Panglima Karel menelan salivanya, dengan ekspresi terkejut. Namun secepat mungkin ia kembali menormalkan ekspresi wajahnya.
"Baik yang mulia,saya akan menjalankan tugas yang anda berikan. Kalau begitu saya permisi yang mulia."
__ADS_1
Morgan hanya melambaikan tangannya sebagai instruksi agar panglima Karel segera pergi.
Sementara itu, Castela yang baru sampai di kamarnya memanggil Ema untuk masuk. Di dalam kamar itu sudah ada Abigail yang menjaganya Secara diam-diam.
Castela mengajak Ema untuk ke taman bersama dengan beberapa pelayan yang menjaga paviliunnya.
"Kalian,cepat bantu aku menangkap kupu-kupu itu!" Seru Castela dengan semangat.
Castela berlari kesana-kemari untuk mengejar kupu-kupu di taman,tanpa sedikitpun menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikannya dalam diam.
"Nona! anda tidak boleh berlari! anda belum sembuh total!" Ucap Ema yang khawatir melihat Castela yang begitu semangat.
"Cepatlah Ema,aku sangat menginginkan kupu-kupu itu! jika kau tidak segera menangkapnya Untuk ku,maka aku tidak akan mau berbicara denganmu!" ancam Castela yang membuat ketiga pelayan itu langsung bergegas berlarian menangkap kupu-kupu yang di maksud.
Entah mengapa,hari ini dirinya benar-benar ingin menangkap kupu-kupu itu. Sebenarnya dirinya juga ingin Abigail untuk ikut serta,namun Abigail lebih dulu menolaknya dengan alasan jika kehadirannya adalah sebuah rahasia.
Abigail tertawa melihat pertunjukan di ujung sana. Saat ini dirinya sedang mengawasi tuannya dari sebuah pohon apel yang sangat rindang. Jadi,tidak akan ada satu pun yang menyadari kehadirannya disana.
"Untung saja aku pandai mencari alasan. Jika tidak,aku Pasti akan terlihat konyol bersama wanita-wanita itu. Lagi pula, Untuk apa nona meminta Ema dan pelayan-pelayan itu menangkap kupu-kupu di siang terik seperti ini? nona sungguh aneh." Monolog Abigail sambil menggigit apel merah di tangannya.
"Hmm,apel ini enak, sepertinya aku akan sering-sering berkunjung Untuk memakannya. Nona sendiri pasti tidak akan marah." monolognya lagi sambil terus mengunyah apel di mulutnya.
"Nona! saya sudah dapat! sekarang lebih baik kita kembali, lihatlah anda sudah terlihat kelelahan." ucap Ema sambil menyerahkan sepasang kupu-kupu yang sudah ia masukkan ke dalam toples kaca kepada Castela.
Castela dengan semangat menerimanya.
"Terima kasih Ema!!! kau memang yang paling terbaik!!" ucap Castela senang sambil memeluk toples kaca itu sangat erat di dadanya.
"Permaisuri terlihat aneh, seperti seorang wanita yang sedang ngidam." ucap salah satu pelayan berbisik kepada Ema.
"Hey,jaga mulutmu! jangan sampai nona mendengarnya! kau tidak boleh lagi membicarakan hal itu di depan nona, mengerti?" ucap Ema berbisik, sambil memandang tajam pelayan tadi.
"Maaf kakak,kami tidak akan lagi mengungkitnya." ucap mereka berdua yang terlihat takut karena sudah salah berbicara.
"Ya sudah,sana kalian kembali duluan. Siapkan air untuk nona mandi."
"Baik kak," ucap kedua pelayan itu tadi lalu meninggalkan Ema dan Castela yang masih kagum dengan isi toplesnya.
__ADS_1
"Tapi aku juga merasa nona sangat aneh, bukankah nona tidak pernah menyukai kupu-kupu? dan apa-apaan tingkahnya tadi? benar-benar bukan seperti nona. Apakah nona hamil? ah,tidak mungkin,ini pasti tidak mungkin! nona tidak mungkin hamil karena sudah meminum obat yang diresepkan dokter!" ucap Ema menggeleng keras membantah argumennya sendiri.