ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 39


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Morgan berjalan menyusuri hutan. Matahari sudah hampir tenggelam,namun istri kecilnya tidak kunjung juga kembali. Pikiran-pikiran negatif bersarang di otaknya tatkala pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu terngiang kembali di memorinya.


Dengan langkah pasti,dengan perasaan yang berkecamuk,ia menyusuri setiap inci hutan. Menajamkan penglihatannya agar tidak ada yang terlewatkan sedikit pun.


Matanya menyipit saat menangkap satu objek yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Hanya satu kata yang terlintas di dalam otaknya,


"Cantik"


Morgan mempercepat langkahnya tatkala sinar jingga itu menimpa wajah istrinya. Ia benar-benar merasa gelisah saat rasa takut yang tiba-tiba muncul di benaknya bisa saja menjadi kenyataan.


Ia,tidak ingin gadis itu meninggalkannya. Ia harus mengakui,jika dirinya benar-benar telah jatuh terlalu dalam. Persetan dengan harga diri,atau bahkan janjinya kepada istri pertamanya untuk tidak menyentuh gadis itu.


Saat ini,ada hal yang jauh lebih penting dari semuanya. Yaitu, mempertahankan gadis itu disisinya. Tidak peduli entah itu dengan cara lembut,atau bahkan cara kotor sekalipun. Bukankah sebelumnya ia juga telah menggunakan cara kotor untuk bisa mengikat gadis itu di sisinya?


"Aku,tidak akan melepaskan mu Castela. Kau hanya milikku. HANYA MILIKKU!" ucapnya dengan penuh penekanan.


Morgan menarik pergelangan tangan Castela. Membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Castela dengan nada tidak suka.


Morgan tidak menjawab, dia hanya terus menarik tangan Castela untuk mengikutinya. Castela mengerutkan keningnya.


'Apa lagi yang di rencanakan oleh lelaki ini?' begitulah tanya batinnya.


Namun ia hanya bisa menurut,tarikan itu tidak terkesan memaksa, Castela bisa melepaskannya jika ia ingin. Namun ia mengurungkan niatnya,ia menyadari satu hal dalam situasi ini, Morgan sedang tidak ingin di bantah.


Untuk sesaat sebelum terlalu jauh, Castela kembali mengalihkan pandangannya ke arah lautan. Mencoba mencari sosok itu. Apakah dia masih berada disana? Apakah sosok itu nyata?

__ADS_1


Namun ia tidak menemukan apapun. Atau lebih tepatnya,tidak bisa menemukannya. Karena gelapnya malam, benar-benar menelan habis seluruh cahaya dan objek yang tadi sempat ia lihat.


Hanya terdengar suara deburan ombak yang semakin lama semakin kuat. Serta angin malam yang semakin lama semakin bergerak cepat. Menerbangkan gaunnya yang telah basah di bagian bawahnya karena sempat terhantam ombak itu.


Mereka sampai di tenda, bahkan Castela tidak menyadari jika sedari tadi Morgan telah menggendongnya ala bridal style. Membuat beberapa pasang mata menatap binar kepada mereka.


Terdengar suara Morgan yang melarang siapapun untuk masuk ke dalam tenda Hingga besok pagi. Memecah lamunan Castela mengenai,sejak kapan dirinya ada di dalam gendongan lelaki itu.


Tidak hanya itu, Morgan juga menyuruh prajurit untuk berjaga jauh dari tenda. Bahkan mereka tidak menyadari,jika di antara tatapan memuji itu,ada sebuah tatapan berbalut amarah yang tengah bersusah payah untuk menahan emosi di dalam dirinya yang bergejolak.


Morgan menutup pintu tenda,tidak membiarkan siapapun masuk. Bahkan lilin yang di pasang di setiap sudut ia matikan. Hanya mengisahkan dua lilin di setiap sudut ranjang yang selama ini ia dan Castela tempati.


Castela merasakan alarm bahaya saat Morgan membaringkannya ke atas kasur. Castela ingin bangkit,namun entah sejak kapan Morgan sudah mengungkung dirinya di bawah lelaki itu.


Castela meneguk salivanya saat wajah mereka hanya berjarak lima Senti saat ini. Castela bisa merasakan aroma nafas Morgan yang berbau mint saat menerpa wajahnya. Castela mencoba mengalihkan pandangannya,namun secepat kilat Morgan menarik wajah Castela dan mencium bibirnya,bibir yang pertama kali membuat Morgan merasakan sengatan aneh dan sensasi menegangkan untuk pertama kalinya Waktu itu.


Ciuman itu terkesan menuntut, memaksa Castela untuk memberikan ruang agar lidahnya bisa masuk. Castela melotot tidak percaya saat bibirnya di gigit oleh Morgan karena tidak urung terbuka. merasakan ciuman Morgan benar-benar sangat kasar. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas, dirinya harus bersusah payah.


Morgan yang menyadari pipinya tampak basah menghentikan pagutannya. Ia menghapus air mata Castela dengan ibu jarinya. Lalu tangannya beralih ke bibir merah muda yang sudah tampak bengkak dengan luka yang masih mengeluarkan darah karena perbuatannya.


"Maaf,"


Morgan membersihkan luka itu,lalu fokusnya kembali kepada Castela. Kedua matanya saat ini berkabut gairah. Ia benar-benar sudah berada di batasnya. Dengan suara serak, ia menatap kembali Castela yang juga menatapnya.


"Bolehkah aku, melakukannya? Aku,sudah tidak tahan. Tapi jika tidak boleh,aku tidak akan memaksa mu. Aku bisa mencari-"


Castela menghentikan ucapan Morgan. Ia sudah tahu kemana arah pembicaraan lelaki itu. Bagaimana pun juga ia adalah seorang wanita dewasa di dunianya yang dulu. Ia bisa melihat jika Morgan selama ini sudah bersusah payah menahannya.


Castela mencium bibir Morgan membuat lelaki itu terkejut. Meski sebenarnya dirinya tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Terlihat lucu di mata Morgan saat Castela dengan gerakan lambat ******* bibirnya.

__ADS_1


Namun,ada rasa senang di dalam dirinya karena gadis ini tidak menolak sama sekali, seperti Waktu itu.


Morgan mengambil alih,ia ******* dengan lembut bibir yang sudah menjadi candunya. Mengecapnya sambil merasakan rasa manis yang benar-benar tidak berubah.


Ciumannya turun ke rahang gadis itu. Lalu kemudian beralih ke bagian lehernya. Menjilatinya lalu menggigitnya hingga membuat gadis di bawahnya mengerang.


"Ss-shh mhor-ghan!"


Racau Castela saat salah satu tangan Morgan tengah bermain di balik gaunnya. Sementara tangan yang lain masih sibuk mencari pengait gaun yang ia kenakan


Sisi liar di dalam dirinya bangkit meronta saat mendengar suara ******* yang keluar dari mulut indah itu. Namun ini. Belum saatnya, terlalu cepat untuk mereka melakukannya.


Bibir Morgan kembali ******* bibir Castela untuk meredam suara itu. Ia masih ingin sedikit melepas rindu. Morgan dapat melihat tatapan pasrah di netra hijau zambrud itu bercampur dengan tatapan kesal karena Morgan benar-benar bermain dengan tubuhnya.


Castela benar-benar sangat tersiksa. Entah perasaan apa yang membuat tubuhnya terasa haus dan ingin segera di sentuh oleh lelaki yang saat ini berada di atas tubuhnya.


Castela tahu apa yang di lakukan Lelaki ini. Dengan tidak sabar, Castela membantu Morgan melepaskan pakaian lelaki itu. Sebuah kemeja telah terlepas membuat Morgan untuk sejenak terkejut,namun setelahnya ia tersenyum. Tampak sekali jika gadis ini benar-benar sudah tidak sabaran.


Castela juga membantu melepas gaunnya karena gerakan Morgan yang menurutnya sangat lama. Morgan melepaskan gaun Castela dan membuangnya ke sembarang arah tanpa melepaskan pagutan mereka.


Ciuman Morgan kini kembali turun ke leher Castela. Ciuman kali ini berbeda dengan ciuman yang tadi. Kali ini,ia memberikan ciuman basah yang membuat hormon gadis itu kembali memberontak.


"Ss-shh Ahh aku-tidak kuat." Ucap Castela mendesah saat merasakan sesuatu di bawahnya terasa basah.


"Keluarkan sayang,tidak apa." Ucap Morgan sensual di telinga Castela yang membuat kabut gairah di matanya semakin jelas.


Ia benar-benar malu saat melihat wajah Morgan mendekat ke pusaka nya,lalu bermain disana, menyingkirkan kain segitiga yang menutupi tempat itu.


Berbeda dengan Morgan,ia malah menatap Castela yang saat ini terlihat berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Morgan berdiri dari sana, membuat Castela seketika kaget. Apakah lelaki itu akan meninggalkannya?

__ADS_1


Namun pemikiran itu tertepis saat melihat Morgan kini berjalan mendekat tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ia kembali mengungkung Castela di bawahnya,aksi bermain-mainnya telah selesai. Saatnya melakukan permainan yang sesungguhnya.


__ADS_2