
...π¦ HAPPY READING π¦...
"Sial! Kau benar-benar kejam Morgan. Bahkan, setelah semua yang aku lakukan untuk mu,kau masih tidak bisa mencintai diriku dan tetap mencintai wanita itu." Ucap Camelia sendu sambil menghapus air matanya.
Ia bangkit dari lantai dan berjalan tertatih ke arah jendela kamar.
"Aku mencintaimu Morgan. Ketika aku mengatakan jika aku mencintaimu, itu semua adalah sebuah kejujuran. Tidak ada kebohongan disana." Kedua matanya menatap jauh, menatap jauh ke arah di ujung sana,dimana kakaknya sedang bermain dengan keponakannya,anak dari wanita yang telah ia lenyapkan demi mendapatkan apa yang selama ini ia impikan.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan mu,maka dia pun juga tidak berhak mendapatkan cintamu kembali. ACASHA,,," desisnya pelan.
"Huh... Ternyata waktunya sudah akan tiba ya. Maafkan aku Morgan, seperti yang telah aku katakan kepadamu. Kaulah yang harus bertanggung jawab, untuk apa yang telah terjadi,dan yang akan terjadi kepada masa depan SEATHLAND."
"PELAYAN!!" Panggil Camelia
"Iya,yang mulia Ratu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya beberapa orang pelayan yang masuk dengan tergesa-gesa,dengan kepala menunduk.
"Bantu aku berganti pakaian." Ucapnya dengan nada angkuh yang di angguki oleh para pelayan tersebut.
...πΌπΌπΌ...
"Paman!! Hey kakak... Ini milikku!" Jerit pangeran Aiden saat pangeran Aidan mengambil kue bulan dari kotak miliknya dan langsung memakannya.
"Hey! Mengapa kau pelit sekali dengan kakakmu ini? Paman membawakan kita kue bulan ini agar bisa kita nikmati berdua. Aku hanya meminta milikmu, mengapa kau pelit!" Ucap pangeran Aidan tidak terima.
"Tapi kau sudah mendapatkan bagianmu sendiri kakak." Ucap pangeran Aiden dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang sudah melipat.
"Aku hanya meminta kue bulan milikmu Aiden,dan kau langsung menangis? CK! Mengapa kau lemah sekali? Mama pasti akan kecewa jika melihat putranya tumbuh menjadi lelaki yang cengeng." Ucap pangeran Aidan sambil melahap kue bulannya dengan wajah kecewa.
"T- tapi hiks... Kakak yang jahat,ka-kak yang hiks memakan kue bulanku. Benarkan paman?" Tanya pangeran Aiden Kepada Duke Marchel yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dengan hidungnya yang sudah memerah dan pipinya yang sudah basah karena air mata.
"Benar,mama kalian pasti akan kecewa karena melihat anaknya tumbuh menjadi lelaki yang cengeng dan nakal." Ucap Duke Marchel sambil menyesap tehnya yang masih mengeluarkan kepulan uap panas.
"Hey bocah! Mengapa kalian berisik sekali? Itu hanyalah kue bulan. Makanlah dengan tenang sebelum paman kalian yang tampan ini,akan menendang bokong kalian ke kandang kuda." Ucap Marquis Steven sambil mengunyah makanan sejenis keripik singkong. Namun keripik ini berbeda,ia adalah tumbuhan sejenis umbi-umbian yang keras. Hingga harus di iris tipis lalu di goreng dengan minyak bawang terlebih dahulu agar bisa di konsumsi.
"Ah, Paman Marquis. Apa yang paman makan itu, bisakah aku mendapatkannya juga?" Tanya pangeran Aiden berbinar,lalu menatap Marquis Steven dengan puppy eyes nya.
"Benar paman Marquis,aku juga menginginkannya!" Seru pangeran Aidan dengan wajah Semangatnya.
__ADS_1
"Tidak!" Tekan Marquis cepat.
"Paman pelit!" Decak pangeran Aidan
Lagi-lagi Duke Marchel hanya menanggapinya dengan diam dan sesekali tersenyum saat melihat wajah lucu yang di tampilkan kedua keponakannya.
"Tidakkah kau melihatnya El? Kedua putramu telah tumbuh menjadi anak yang manis dan hebat. Mereka tumbuh menjadi sosok yang kuat dan berusaha menyembunyikan rasa sakit yang mereka rasakan selama ini,demi agar kau tidak kecewa. Tidakkah kau ingin memeluk mereka El? Tidakkah kau Ingin seperti aku yang juga menginginkan untuk memelukmu kembali?" Batinnya berbicara
"Baiklah, baiklah! Paman akan memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada keripik ini." Ucap Marquis Steven kemudian.
Membuat dua Pangeran kecil itu menatap penuh binar ke arah Marquis Steven.
"Benarkah,apa itu paman?" Tanya pangeran Aiden semangat.
"Apa kalian ingin tahu makanan apa yang sangat disukai oleh ibu kalian?" Tanya Marquis Steven tersenyum misterius.
"Wahhh... Benarkah? Katakan paman,cepat katakan..!" Seru mereka berdua semangat.
"Baiklah, baiklah tapi kalian harus berbaikan terlebih dahulu. Dan berjanji kepada paman,jika kalian tidak akan bertengkar kembali." Ucap Marquis Steven dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Pangeran Aidan dan pangeran Aiden saling pandang untuk sesaat, sebelum akhirnya kompak mengangguk.
Pangeran Aiden tersenyum,lalu mengangguk. "Aiden juga minta maaf,karena tidak memberikan kakak kue bulan milik Aiden. Tapi Aiden benar-benar menyayangi kakak, jadi kakak tidak boleh lagi mengambil kue bulan Aiden tanpa izin." Ucap bocah kecil itu tersenyum polos.
Duke Marchel tersenyum tipis, sementara Marquis Steven tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan dua bocil itu.
"Kau benar-benar pelit Aiden." ucap pangeran Aidan kesal.
"Biarin wlee..!" ucap Pangeran Aiden sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
"kau..."
"Hey, sudah-sudah! Sekarang duduk yang bagus. Paman akan menceritakannya,kisah tentang ibu kalian yang sangat hebat." ucap Marquis Steven yang membuat kedua pangeran itu duduk tertib di kursinya.
Marquis Steven tersenyum,ia kemudian melirik Erik, pengawal pangeran Aidan yang sedari tadi memasang wajah penasaran. Yah, Marquis Steven tentu tahu siapa anak ini,yang telah menjadi pengawal pribadi pangeran Aidan. Dia adalah Erik,salah satu anak yang pernah di selamatkan oleh lady Castela.
"Erik,aku ingin kau memijit bahuku sembari aku bercerita. Kemarin aku begadang karena banyak tugas yang harus aku selesaikan. Bisakah kau membantuku? jika tidak, mungkin aku tidak bisa menceritakannya." ucap Marquis Steven sambil memijit pelan pundaknya yang tentu saja tidak sakit dan baik-baik saja.
__ADS_1
Ia sengaja melakukannya agar remaja itu mau mendekat dengan mereka.
Duke Marchel hanya diam memperhatikan sambil menikmati kue kering di meja. Ia tentu juga mengetahui siapa anak ini,karena dirinyalah yang membantu anak ini sehingga bisa mengikuti rangkaian tes yang di lakukan saat menyeleksi calon pengawal pribadi keponakannya.
Erik memasang wajah terkejut, sementara Abigail yang berada di atas pohon di belakang mereka Menggeram kesal. Entah mengapa Abigail tidak menyukai Erik. Bukan tidak suka dalam artian negatif. Tapi ia tidak suka saja saat melihat lelaki lain yang menatap penuh damba saat mendengarkan kisah tentang tuannya itu.
Apalagi lelaki itu memiliki paras yang tampan seperti Erik. Walau sebenarnya Erik juga masih sangat muda di bawahnya. Namun tetap saja ia selalu merasa kesal, apalagi terhadap Marquis Steven. Lelaki itu sangat beruntung,karena mengetahui lebih banyak tentang tuannya di bandingkan dirinya.
Erik melirik pangeran Aidan dengan kepala tertunduk.
"Sudahlah Erik, lakukan saja apa yang diminta paman. Paman adalah pria yang licik,jika kita tidak menurutinya,maka dia tidak akan menceritakan kisah tentang ibuku." ucap pangeran Aidan yang langsung di tanggapi anggukan oleh Erik.
Lelaki bersurai merah itu dengan cepat melangkah ke tempat duduk Marquis Steven dan langsung memijit pundak Marquis muda itu.
"Kau benar-benar pandai memijat anak muda." ucap Marquis Steven yang di sahuti decakan kesal dari mulut pangeran Aidan.
"Sudahlah paman, hentikan omong kosong mu itu. Ayolah ceritakan..." ucapnya lagi.
"Baiklah, baiklah."
Marquis Steven mulai bercerita sambil menatap jauh ke depan.
"Lady Castela, adalah seorang wanita yang hebat. Ia memiliki hobi menyelinap keluar dari rumah lalu bermain ke perbatasan. Hal yang paling ia sukai, adalah apel. Dia tidak hanya pintar memasak,lady Castela juga mahir bermain pedang."
"Wah... benarkah? mama menyukai buah apel? sama seperti Aiden." ucap pangeran Aiden tidak percaya dengan mulut terbuka.
Marquis Steven tersenyum, lalu mengangguk.
"Lady Castela punya seekor kuda putih yang paling ia sayangi, namanya adalah black. Kuda yang selalu menemani lady Castela kemana pun lady Castela melangkah. Kuda itu benar-benar sangat indah, surainya selembut sutra dan warnanya seputih salju." ucap Marquis Steven yang membuat keempat lelaki berbeda usia disana terkejut.
"Kuda seputih salju dan selembut sutra? apakah benar ada kuda seperti itu?" lirih Erik pelan terkejut. Lalu dengan cepat ia menormalkan wajahnya.
Marquis Steven hanya tersenyum melihat reaksi mereka. Sementara Duke Marchel menggeleng kepalanya, sambil kembali menyesap tehnya.
"Benarkah? apakah kuda seperti itu benar-benar ada?" tanya pangeran Aidan.
"Tapi paman, bukankah kuda itu hanya ada di dalam legenda? kuda putih dengan kulit seputih salju dan Surai selembut sutra." sambung pangeran Aiden.
__ADS_1
"Yah,apa yang kau katakan memang benar pangeran Aiden. Kuda itu memang kuda di dalam legenda,dan ibu kalian adalah sosok yang hidup di dalam legenda itu." ucap Marquis Steven yang berhasil membuat Duke Marchel menghentikan pergerakannya yang akan kembali meminum teh,dan menatapnya dengan tatapan Sulit di artikan.