
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela masih tertegun di tempatnya. Beningan kristal jatuh melewati pipinya dan bersih di ujung dagunya. Dengan cepat wanita itu menghapuskannya dengan kasar. Hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Apa yang tadi di katakan Raja Philip benar-benar membuat jiwanya terguncang. Selama ini,selama bertahun-tahun dirinya mencari sosok pelaku yang telah Menggunakan tangan kotornya untuk membunuh ibunya. Selama bertahun-tahun ia melatih diri dengan sangat keras. Agar suatu hari nanti,dengan kedua tangannya sendirilah ia akan melenyapkan pembunuh itu.
Namun, kebenaran yang selama ini ia nantikan benar-benar membuatnya terkejut hingga kesulitan untuk bernafas. Ayah dari anak yang ia kandung, adalah orang yang telah membunuh Duchess?
"Siapa?" Tanya Castela dengan suara parau,menatap dingin Raja Philip
"Apanya?" Tanya Raja Philip yang tidak mengerti dengan pertanyaan menantunya itu.
"Siapa saja yang tahu kebenaran ini?" Tanya Castela dengan jelas.
Raja Philip terdiam, mengambil nafas sejenak, sebelum akhirnya berucap. "Aku, ayahmu dan juga saudara kembarmu, Camelia. Dia tidak sengaja melihat kejadian itu, kejadian dimana putraku menusuk ibumu dengan sebuah belati."
Castela mengusap kasar wajahnya. Jadi, mereka semua mengetahui hal ini? Dan dirinya tidak di beri tahu? Padahal sudah setengah mati Castela mencari tahu. Ah,pantas saja ia tidak segera menemukan pelakunya, ternyata orang itu adalah orang berkuasa.
"Ayah Mohon El,tolong menilai semua ini dari sudut pandang yang berbeda. Ayah yakin,jika Morgan tidak sengaja melakukannya. Ini semua hanya kesalahpahaman. Ayah Mohon,jangan tinggalkan Morgan El,ayah tidak ingin melihatnya kembali menderita." Ucap Raja Philip memohon.
Castela tidak menjawab,ia bahkan sedang larut di dalam pikirannya sendiri. Kebenaran yang terungkap, benar-benar membuatnya merasa sesak.
Apa-apaan ini? Ibunya adalah kekasih Raja yang di khianati oleh raja sendiri karena Menikah dengan wanita lain. Ibunya juga berdarah kebangsaan Zwitland,musuh negerinya sendiri. Yang artinya,di dalam dirinya terdapat dua darah sekaligus? Dan lebih sialnya,yang membunuh ibunya adalah Morgan, suaminya sendiri. Dan kembarannya juga tahu tentang fakta ini.
Jika di fikirkan kembali, semuanya benar-benar saling terikat satu sama lain. Masalah ini, benar-benar saling menghubungkan. Jika sudah seperti ini,maka Castela harus bisa mencari benang merahnya. Benang yang menjadi pusat terhubungnya semua masalah ini.
Mimpi itu, apakah ada kaitannya dengan semua ini? Bulan yang berdiri di antara dua naga yang saling menyerang. Apakah bulan itu memang dirinya? Dan apakah mimpi buruk penuh darah yang melibatkan dua kerajaan itu benar-benar akan terjadi?
Rosenta yang tengah menyamar memasukkan tetesan botol itu ke dalam teko teh. Baru saja,ia melihat pelayan wanita yang bertugas untuk menghantarkan teh ke istana Raja sedang izin ke kamar mandi sebentar.
__ADS_1
Rosenta menyeringai licik, sepertinya tugas yang ia kerjakan sudah akan selesai. Pelayan itu kemudian datang dengan terburu-buru. Ia tersenyum ke arah Rosenta dan mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga tehnya sebelum akhirnya pergi ke kamar raja.
Rosenta mengikuti pelayan wanita itu diam-diam dari kejauhan. Ia bisa melihat jika di depan pintu masuk ada Ema beserta dua orang ksatria. Yang ia ketahui,jika salah satunya adalah ksatria milik Castela.
Setelah memastikan pelayan itu benar-benar masuk, Rosenta pergi dari tempat itu. Saat ini,ia sedang mencari tempat yang aman untuk menerima perintah selanjutnya.
Pelayan itu masuk dengan kepala yang menunduk. Setelah memberi hormat,ia segera menuang teh untuk Raja dan Castela. Lalu Setelahnya ia keluar karena Raja yahh memerintahkannya.
Raja memberikan secangkir teh kepada Castela agar wanita hamil itu bisa tenang. Meski terkesan jahat,karena telah memberitahukan berita sesensitif itu kepada seorang wanita yang sedang hamil,namun ini adalah hal yang penting. Karena Raja Philip sudah memiliki sebuah firasat, jika hidupnya sudah tidak akan lama lagi.
"Terima kasih yang mulia."
"Minumlah terlebih dahulu, maafkan ayah karena memberitahukan semuanya di waktu yang tidak tepat. Tapi ayah memiliki firasat yang buruk. El,jika suatu hari nanti ayah pergi, berjanjilah untuk melindungi kerajaan ini agar tidak jatuh di tangan yang salah. El,jangan percaya dengan siapapun. Kau hanya boleh percaya dengan dirimu sendiri." Ucap Raja Philip serius.
Castela tidak tahu maksud dan tujuan Raja Philip mengucapkan hal itu. Apakah dirinya telah mengetahui sesuatu yang penting. Apakah ada penghianat sesungguhnya masih berada di sekitar mereka?
Begitu air itu mengalir membasahi kerongkongannya dan masuk ke dalam lambung. Tiba-tiba saja Castela merasakan perutnya yang melilit. Castela mencoba menghiraukannya karena merasa ada sesuatu yang janggal.
Ia merasa sedang di mata-matai. Castela mengalihkan pandangannya ke segala arah dan akhirnya ia menemukan. Sesuatu sedang bersembunyi di balik rak buku yang besar. Jika Castela tidak teliti, mungkin dirinya tidak bisa menemukan orang itu.
Castela ingin menghampiri orang itu,namun seketika langkahnya terhenti saat merasakan darah mengalir dari sela-sela kakinya.
"Sial!" Umpat Castela saat merasakan perutnya sangat sakit. Seperti ada yang ingin meminta keluar saat itu juga.
"Aakhhhh"
BRAK
Castela jatuh ke lantai dengan wajah yang pucat. Raja Philip benar-benar panik,ia segera menopang Castela. Sementara Ema,Brian dan juga pengawal raja yang sedang berdiri diluar langsung menerobos masuk saat mendengar sesuatu terjatuh ke lantai dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Ya ampun nona!"
"Astaga El!"
Raja segera memerintahkan Brian untuk membaringkan Castela di atas kasurnya. Suasana seketika menjadi panik. Ema segera memanggil dokter istana dengan keadaan kacau. Darah Castela berserakan di lantai istana.
"Brian,,"
Castela memegang tangan Brian dan memanggilnya dengan suara yang lemah dan lirih.
"El, bertahanlah. Jangan tutup matamu oke? kau pasti bisa El." ucap Brian dengan wajahnya yang sudah memucat sangking paniknya.
"A-aku t-takut, anakku-" ucapnya dengan terbata-bata.
"Kau tidak perlu takut El, dengarkan aku,kau dan anakmu akan baik-baik saja. oke? jangan tutup matamu hingga aku menyuruhmu."
Castela ingin mempercayai Ucapan Brian,namun ia tidak bisa. Ia tahu jika itu hanyalah sebuah kata-kata penenang,namun rasa sakit ini benar-benar menyiksanya.
"Brian, berjanjilah satu hal kepadaku," ucap Castela dengan nafas yang tersengal-sengal.
Castela bisa melihat wajah pucat itu mengangguk cepat. Membuat Castela tersenyum di sela-sela ia menahan sakitnya.
"Berjanjilah agar kau dan Steven melindungi anakku, bahkan dengan nyawamu."
Dengan cepat Brian pun mengangguk. Ia berjanji,ia berjanji akan melindungi Castela dan juga anak mereka dengan nyawanya sendiri.
"A-aku percaya p-padamu br-brian."
"MOHON MENYINGKIR, PERMAISURI HARUS SEGERA MELAKUKAN PERSALINAN SEKARANG. ATAU BAYINYA TIDAK AKAN SELAMAT!" ucap seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa keadaan Castela.
__ADS_1