
...🦋 HAPPY READING 🦋...
"Mengapa kau membodohi mereka dengan cerita-cerita tidak masuk akal mu itu Marquis? Berhentilah menceritakan kisah-kisah aneh mengenai adikku,atau aku akan melarang mereka untuk bertemu denganmu." Ucap Duke Marchel menatap tajam Marquis Steven tidak suka.
Marquis Steven mengangkat sebelah alisnya, menatap Duke Marchel dengan seringaian tipis.
"Mengapa aku tidak boleh menceritakannya kepada mereka Duke? Bukankah apa yang aku ceritakan kepada mereka selama ini adalah kebenaran? Mereka berhak tahu Duke,mereka berhak tahu semuanya."
"Kau benar,tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat Marquis. Kau menceritakan kisah-kisah tidak masuk akal tentang adikku kepada mereka, sementara mereka masih berumur lima tahun. Apakah kau waras?" Ucap Duke Marchel tidak terima.
"Hahah... bukankah memang sejak dulu aku sudah tidak waras Duke? Apa anda tahu Duke,tidak selamanya matahari dan bulan akan terpisah. Ada satu waktu dimana mereka akan kembali bertemu setelah ribuan siang malam yang panjang." Ucap Marquis Steven misterius.
Sementara keempat lelaki itu hanya diam menanggapi. Tidak ada seorang pun yang berani mencela perdebatan diantara kedua orang berpengaruh di SEATHLAND itu.
Bahkan,tanpa mereka sadari,mereka telah larut ke dalam pemikiran mereka masing-masing. Erik yang tak lagi memijit pundak Marquis Steven. Abigail yang tengah menatap kedua orang berpengaruh itu dengan tatapan penuh tanya. Dan kedua pangeran yang sedang memikirkan maksud dari ucapan paman mereka.
'Apa,hal yang tidak bisa mereka ketahui?'
"Aku tahu apa yang kau maksud Marquis. Tapi,tidak seharusnya kau meracuni keponakan ku dengan cerita-cerita mengenai adikku. Adikku telah tiada,dan orang yang telah tiada,tidak akan pernah kembali lagi ke dunia. Berhentilah membuat kami hidup di dalam bayang-bayang harapan yang masih abu-abu." Tekan Duke Marchel.
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan Duke?" Tanya Marquis Steven "Dan ini adalah cara yang aku lakukan, untuk bisa mengekspresikan emosi yang bergejolak di dalam diriku." Lanjutnya serius.
"Aku memang menyuruhmu melakukannya Marquis. Tapi,tidak seharusnya kau menyeret kami masuk terlalu dalam,ke dalam dunia khayalan yang kau ciptakan. Mungkin di dunia khayalan miliki mu itu,adikku masih hidup. Tapi sadarilah satu hal Marquis,di dunia ini, adikku benar-benar telah tiada. Jadi, berhentilah membual dan cobalah untuk mengikhlaskannya!" Tekan Duke Marchel dengan menahan emosinya agar tidak keluar.
__ADS_1
"TAPI AKU TIDAK MEMBUAL DUKE! Ela... Ela Memang masih hidup!" Ucap Marquis Steven kekeh dengan kedua mata yang sudah memerah. Menahan amarah sekaligus tangis yang meronta ingin di keluarkan.
"Kau... Telah gila Marquis! Mulai hari ini,aku melarang mu untuk menemui kedua keponakanku." Ucap Duke Marchel lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Aku tidak gila Duke! Apa kau tahu? Setelah kematian Ela,aku telah mengelilingi dunia ini selama lima tahun. Mengembara mencari buku serta informasi yang memuat mengenai ACASHA. Yah,aku melakukannya... Apa kau tahu apa yang telah aku temukan? Saat penantian membuatku hampir gila,saat keputusasaan membuat ku hampir mengakhiri hidup yang tidak berharga ini,aku menemukannya. Aku menemukan sebuah perkamen tua yang mencatat semuanya,semua hal yang telah menimpa daratan SEATHLAND.
Kelahiran dua anak kembar, pengaruh dan tipu daya iblis terhadap salah satunya, kematian acasha, sebuah ritual terlarang, kematian Raja, jatuhnya sosok berpengaruh yang disegani,lalu semuanya akan kembali ke satu garis edaran yang telah tertulis. Perang besar, akan hadir sebuah perang besar saat matahari dan bulan berdiri di dalam satu garis edar yang sama. Dan saat itulah acasha akan kembali hadir. Tidakkah apa yang di tulis di perkamen itu adalah sebuah kebenaran Duke?" Jelas Marquis Steven sambil menghapus cepat air matanya.
Duke Marchel terdiam,jujur saja ia sempat mendengar tentang perkamen itu. Namun hingga sampai hari ini,ia belum juga menemukannya. Dan betapa terkejutnya ia saat mendengar jika Marquis Steven berhasil menemukannya.
"Lalu dimana perkamen itu Marquis?" Tanya Duke Marchel.
"Tidak ada. Aku tidak tahu dimana perkamen itu saat ini. Saat perjalanan kembali ke SEATHLAND,kapal yang aku tumpangi karam dan seluruh barang bawaan ku tenggelam ke lautan. Laut perbatasan yang memisahkan antara Zwitland dengan SEATHLAND. Laut mati. Dua naga memeluk bulan, bisakah kau memberi tahukan kepadaku,apa Maksud dari kalimat itu Duke? Bisakah kau mengatakannya,agar aku berhenti untuk berharap?" Ucapnya lemah sambil menatap ke arah lain. Memejamkan kedua matanya untuk menetralkan rasa sakit yang berdesir mengalir bersamaan dengan setiap tarikan nafasnya.
Bukankah itu adalah kalimat yang sama? Kalimat yang di ucapkan oleh kakek Billi beberapa tahun yang lalu, setelah Castela kembali dari komanya dan mengalami hilang ingatan. Pembicaraan malam itu, pembicaraan malam itu kembali memutar bagaikan sebuah film di otak Duke Marcel.
"Anda salah Duke, kerajaan ini pernah mengalami malapetaka nya."
"Kesalahan apa yang anda maksud kakek tua?"
"Raja William memiliki dua bulan"
"Saat itulah SEATHLAND memiliki dua bulan di langit. Namun SEATHLAND tidak pernah memiliki dua bulan di langitnya."
__ADS_1
"Kemarikanlah tanganmu lady,kakek tua ini akan meramal masa depanmu."
"Aku melihat Bulan di masa depannya,dengan dua naga di kedua sisinya."
"Aku tidak tahu apa arti dari semua ini. Tapi aku meminta mu untuk menjaga putri mu dengan baik Duke. Tidak ada yang benar-benar bisa di percayai Duke."
"Kau tahu, ACASHA tidak pernah dipilih Duke,dialah yang memilih. Dialah yang memilih kapan waktunya untuk datang dan kapan harus pergi. Kau harus berhati-hati Duke,karena sepertinya penghianatan akan hadir dari arah yang tidak terduga."
"Camelia... Ternyata kaulah penghianatan yang datang dari arah yang tidak terduga itu? Ternyata... Kaulah yang harus di waspadai. Mengapa Camelia? mengapa harus kau?" batinnya kecewa.
"Saya tahu tuan."
Duke Marchel, Marquis Steven, Abigail dan kedua pangeran kembar itu sontak melihat ke arah sumber suara.
Di depan mereka,Erik,bocah bersurai merah itu berdiri dengan tanpa rasa takut. Dan dengan semburat merah di pipinya. Menatap Marquis Steven dan Duke Marchel. Kedua tangannya yang masih berukuran tidak terlalu besar itu terkepal erat. Menampilkan urat-urat tangan hasil dari latihan-latihannya selama ini.
"Apa yang kau tahu bocah?" Tanya Marquis Steven menatap Erik dengan sebelah alis terangkat.
Sementara Duke Marchel merutuki kebodohannya sendiri. Bocah ini,bocah ini adalah salah satu orang yang ia lupakan. Bagaimana bisa ia melupakan siapa bocah ini dan apa alasan bocah ini berada di istana saat ini. Apakah bocah ini mendengar semua pembicaraan mereka malam itu? Bukankah bocah ini sedang tertidur di pangkuan adiknya?
Apakah sebenarnya bocah ini-
"Bulan dengan dua naga di kedua sisinya. Saya mengetahui apa artinya." Ucap Erik sambil menatap Duke Marchel penuh arti.
__ADS_1
Sementara Duke Marchel yang di tatap, tiba-tiba menegang di tempatnya.