ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 83


__ADS_3

...πŸ¦‹ HAPPY READING πŸ¦‹...


Castela duduk bersandar di tubuh serigala Zean. Gaunnya yang putih menjuntai,tidak sedikitpun kotor meski ia sudah berulang kali berbaring dan duduk di sembarang tempat.


Castela langsung menghempaskan seluruh pemikirannya tentang papinya. Castela tertawa miris,yah, untuk apa ia repot-repot memikirkan seseorang yang tidak memikirkannya juga? Hanya membuang-buang waktu dan juga tenaga.


Tiba-tiba ia kembali teringat sesuatu.


"Em... Zean, jika memang aku seorang Dewi, bisakah aku mengajukan satu permintaan?" Tanya Castela ragu.


Jujur saja,ia merasa tidak yakin jika permintaan konyolnya ini bisa terwujud. Namun,ia benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan rindu. Ia benar-benar ingin melihat, bagaimana rupa dari anak-anak yang ia lahirkan.


"Iya Dewi, katakan apa permintaan mu itu,aku akan mempertimbangkannya."


Castela merubah posisi duduknya menjadi tegap. Ia menatap ke bawah,tidak berani menatap serigala besar yang terlihat imut dan menyeramkan disaat bersamaan ini.


"Em... Bisakah, bisakah kau membawaku menemui putraku? Jujur,aku sangat merindukan mereka." Ucap Castela pelan.


Ia mendongakkan kepalanya, serigala besar itu hanya diam tidak menjawab. Ia memberanikan dirinya untuk menatap kedua mata Zean yang sangat indah, seperti sebuah batu permata.

__ADS_1


"Kau tahu,aku adalah seorang wanita,aku juga sudah menjadi seorang ibu. Selama delapan bulan,ku habiskan waktuku untuk merawat mereka di dalam perutku. Berharap bisa melihat mereka,namun nyatanya aku malah tersesat disini. Ah,tidak, maksudku... Apa kau tahu? Aku merasa telah menjadi seorang ibu yang buruk,hahah." Castela tertawa hambar,tidak ada yang lucu,karena kedua matanya telah terasa panas.


"Aku... Aku tidak ingin mereka merasa sedih dan kecewa. Aku... Sebagai seorang ibu,aku sempat bermimpi bisa menjadi pendengar setia mereka, menghabiskan waktu untuk mengamati perkembangan mereka setiap detik waktu yang berlalu. Aku... Huh,aku tidak ingin mereka merasa sendirian. Aku tidak ingin suatu hari nanti,mereka merasakan bagaimana dunia yang mereka bayangkan indah itu, ternyata hanya sebuah bualan yang selalu aku ucapkan ketika mereka masih ada di dalam perutku. Aku... Hiks"


Castela tidak kuat,ia menyerah, tangisnya seketika pecah. Membuat kedua pundaknya itu bergetar hebat. Zean tidak menjawab,ia hanya diam. Ia tidak tahu, apakah ia bisa mengabulkan permintaan kecil dari seorang ibu yang telah kehilangan anaknya itu. Ia kembali mendekap tubuh rapuh Castela ke dalam pelukannya.


"Aku benar-benar ibu yang buruk,Zean... Aku seorang ibu yang gagal. Aku tidak tahu bagaimana keadaan mereka selama aku pergi. Apakah mereka bisa tidur dengan nyenyak,hiks... Ap-apakah mereka juga takut petir seperti diriku... apakah mereka sering terbangun dan menangis di tengah malam. Apakah Morgan bisa mengurus mereka berdua meski aku tahu ada banyak pelayan di istana yang selalu siap siaga. Tapi... Aku benar-benar merindukan mereka Zean. Hatiku sakit tatkala mengingat... jika aku mengingat... tidak ada yang bisa aku ingat dari kedua putraku, selain tangisan pertama mereka yang ketakutan ketika mereka hampir terbunuh."


"Aku ibu yang buruk Zean... Aku merasa marah! Aku merasa marah kepada diriku sendiri yang terlalu lemah, hingga tidak bisa melindungi orang-orang yang aku sayang. Aku... Hiks, aku bahkan tidak sempat melihat bagaimana wajah mereka... Hanya tangisan pilu mereka,yang selalu menyayat hati ketika suara-suara itu kembali berputar di telingaku. Aku.. aku- bagaimana bisa aku di sebut sebagai seorang ibu, jika sejak awal aku sendiri tidak pantas menyandangnya... Aku-"


"Berhentilah Dewi,jangan menyalahkan diri anda untuk apa yang telah terjadi. Anda bukan ibu yang buruk,anda adalah ibu yang hebat. Bahkan anda masih berjuang hingga akhir untuk melindungi kedua pangeran,meski saat itu nyawa anda sendiri juga sedang di pertaruhkan. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Saya yakin,mereka pasti bangga memiliki ibu seperti anda." Ucap Zean lembut sambil mengusap tubuh Castela dengan ekor lembut miliknya.


Tubuh Castela masih bergetar,namun tidak sehebat sebelumnya. Tangisnya juga perlahan-lahan reda. Di gantikan dengan suara deru nafas yang teratur,dengan sedikit isskan kecil sisa tangisannya.


Ini adalah kehidupan ACASHA yang terakhir. Setelah ini,tidak akan ada lagi yang namanya ACASHA. Mereka hanya akan mengingatnya dalam bentuk sebuah kisah,yang kehadirannya entah benar-benar ada atau tidak. Itu sebabnya,di kelahiran yang ini, acasha tidak sedikitpun mengingat apa-apa.


Zean menatap ke langit,dia memejamkan kedua matanya, setelahnya,tubuh Castela bersinar seolah di kelilingi oleh ribuan pecahan cahaya.


"Bersabarlah Dewi,ini adalah yang terakhir. Anda harus bersiap, untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Karena pengkhianatan,bisa datang dari siapa saja. Itu sebabnya,saya disini, menjaga anda agar anda tidak terluka. Agar anda tidak lagi merasakan sakitnya penghianatan,yang datang dari orang terdekat anda. Sudah cukup,luka yang anda rasakan." Ucap Zean.

__ADS_1


...🌼🌼🌼...


Sementara itu,di kastil tempat Duke Herli di tahan. Lelaki paruh baya itu menatap ke arah langit malam yang tampak pekat. Lusa adalah gerhana matahari,hari sakral yang telah di tunggu-tunggu oleh setiap golongan bangsa iblis.


Beberapa malam ini, langit selalu terlihat berbeda. Tidak ada bulan di langit, seolah-olah bulan itu tengah bersembunyi dari kejaran seluruh manusia. Duke Herli merasakan dadanya yang sesak. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana pun juga,ia mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya.


Duke Herli merasakan penyesalan teramat dalam. Sungguh,ia pikir selama ini,ia sudah benar dalam mendidik anak-anaknya. Nyatanya,ia salah besar. Ia bahkan tidak menyadari,jika salah satu anaknya telah berubah menjadi seorang iblis,yang siap untuk menghabisi nyawa saudarinya yang lain.


"Ela... papa tidak tau, apakah kau benar-benar masih hidup seperti yang mereka bicarakan. Papa merasa gagal nak... papa gagal mendidik kalian. Maafkan papa, maafkan papa karena telah menyeret kalian ke dalam penderitaan ini. Namun,jika kau benar-benar masih hidup, izinkan papa meminta kepada Dewa. Papa minta agar Dewa segera mencabut nyawamu El...


Jika ternyata hidupmu hanya membawa kehancuran dan malapetaka bagi dunia ini,maka papa ikhlas El,papa ikhlas. Biar papa yang akan menebus semua dosa ini. Itu semua akan lebih baik, daripada iblis itu berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan."


Ucap Duke Herli menangis terisak-isak. Bahunya yang dulu kokoh itu,kini tampak rapuh. Tidak ada lagi tempatnya untuk bisa bersandar, semenjak kematian istrinya. Selama ini ia lemah, namun ia pura-pura kuat di hadapan semua orang,demi anak-anaknya.


Sungguh,ia benar-benar tidak menyangka jika hal seperti ini akan hadir di dalam hidupnya.Ia tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup jika harus melihat ketiga anaknya saling bertarung satu sama lain.


Ia benar-benar tidak sanggup,jika dalam pertempuran kali ini,darah ketiga anaknya lah yang akan memenuhi dataran SEATHLAND, dataran yang dulu ia dapatkan dengan mengorbankan darah miliknya sendiri.


Ia tidak bodoh, dengan apa yang ia dengar dan dengan semua yang telah terjadi. Perang itu, perang itu benar-benar akan terjadi. Meskipun ia tidak tahu pasti,namun ia bisa memprediksi jika ada lebih dari 50.000 pasukan Zwitland yang telah siap untuk bertempur di perbatasan.

__ADS_1


"Dewa... ku mohon, untuk kali ini saja, tolong kabulkan permintaanku." ucap Duke Herli terisak dengan begitu menyedihkan.


menangis diatas lantai kastil yang kotor dan dingin. Di temani langit malam yang pekat,yang menghantarkan aroma kelam. Seperti hendak memberi sebuah kabar,jika pertumpahan akan segera datang.


__ADS_2