
...🦋 HAPPY READING 🦋...
"Apa kau tetap akan diam saja?"
Suara yang sudah tidak asing lagi itu terdengar, menyadarkan Morgan dari apa yang saat ini sedang ia lihat dari kejauhan.
Morgan membalikkan badannya,lalu menatap lelaki itu dengan sebelah alis terangkat, sebagai tanda bahwa ia tidak mengerti apa yang sedang ia maksud.
"Anda tentu tahu apa yang saya maksud yang mulia. Mau sampai kapan semuanya berjalan sesuai kehendak hati wanita itu? Tidakkah anda sudah sering melihatnya sendiri? Sebelum semuanya benar-benar berada diluar batas dan sulit untuk di berhentikan,maka anda harus turun untuk menanganinya."
Sosok pria itu, adalah Marquis Steven. Menatap jauh ke taman di ujung sana,dimana taman itu adalah tempat favorit Castela selama berada di istana ini. Namun lihatlah,karena ulah kakak dari wanita yang ia cintai itu, tempat itu kini telah kehilangan keindahannya.
Semuanya tampak suram,terasa mencekam dengan diliputi aura-aura seram yang meminta keadilan atas apa yang telah dilakukan oleh wanita yang telah menjabat sebagai Ratu kerajaan SEATHLAND itu.
"Aku masih belum tahu harus berbuat apa Marquis. Semuanya terlalu cepat dan tiba-tiba. Bahkan,aku sendiri juga tidak tahu kapan semua itu dimulai." Ucap Morgan kembali memposisikan tubuhnya seperti semula,menatap taman istana yang sudah di bersihkan oleh para pelayan dan di bantu oleh beberapa prajurit istana itu.
"Anda,harus memilih yang mulia. Jika anda terus-menerus mengulur waktu dan membuatnya terbuang sia-sia,anda sendiri yang akan kesulitan untuk mengatasinya di akhir nanti." Lelaki yang masih menjabat sebagai Marquis itu menghela nafas kasar sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Tidak akan ada seorang ibu yang rela melihat anaknya hidup di dalam penderitaan,rasa takut, keputusasaan, bahkan menyalahkan diri sendiri. Dan tidak ada seorang anak pun yang akan diam saja, ketika melihat ayahnya, sosok yang paling ia cintai dan kasihi di perlakukan seperti binatang peliharaan."
Lelaki yang sudah menjabat sebagai seorang Raja selama lima tahun belakangan ini pun terdiam. Mencerna semua perkataan yang di katakan oleh seorang Marquis,yang merupakan teman baik dari mendiang istrinya itu.
__ADS_1
"Awalnya aku mengira jika semuanya belum terlalu jauh. Namun setelah apa yang kau ucapkan barusan,aku tiba-tiba tersadar,jika semuanya telah berubah menjadi sangat rumit, lebih rumit dari apa yang kita bayangkan."
Lelaki yang berulang kali menolak gelar Duke itu,dan lebih mempertahankan gelar Marquisnya mendongak,menatap langit yang cerah.
"Saya hanya berharap,jika suatu hari Nanti, ketika waktunya telah tiba. Dia tidak membenci kita yang mulia. Saya hanya takut, bahkan tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Kembali membuatnya merasa kecewa, adalah hal yang selama ini selalu saya takutkan."
"Yah,aku juga berfikir seperti itu. Namun aku sudah pasrah dan akan menerima apapun konsekuensi dari apa yang telah aku lakukan. Sekalipun dirinya harus membenciku karena hal ini." Morgan tersenyum miris,jelas sekali terlihat rasa ketidakberdayaan di wajah tampannya yang semakin terlihat dewasa dengan bulu-bulu halus di wajahnya. "Karena aku tidak seperti dirimu Marquis."
Marquis Steven hanya diam,tidak menanggapi ucapan Raja Morgan. Karena ia masih menunggu kelanjutannya.
"Karena aku tidak seperti dirimu yang masih mempertahankan gelar Marquismu itu, hanya karena takut jika suatu saat nanti,saat dia kembali,dia tidak akan bisa mengenali dirimu sebagai seorang Duke. Seandainya aku bisa,tapi sampai kapan pun aku tetap tidak akan bisa. Aku tidak bisa egois,jika aku melepaskan takhta Ini dan tetap menjadi seorang pangeran, bukankah hal itu akan lebih membuatnya semakin membenciku?"
"Anda tidak perlu menjadi saya,atau menjadi siapapun yang mulia. Tetaplah menjadi diri anda sendiri. Semua orang berbeda,dengan kesan masing-masing yang mereka tinggalkan. Jalan yang saya pilih, adalah jalan yang masih bisa dirubah dengan menentang takdir, karena hanya melibatkan saya sendiri di dalamnya. Tapi,jalan yang harus anda tempuh berbeda yang mulia. Jalan anda sudah di tulis sendiri oleh takdir,dan jika ingin merubahnya,maka harus mempertaruhkan ratusan nyawa rakyat anda diluar sana." Terang Marquis Steven dengan wajah datarnya.
Menjadi sosok Raja, bukanlah hal yang mudah. Apalagi, begitu banyak darah yang mengiringi langkahnya sebelum mencapai puncak tertinggi itu.
Ia merasa bersyukur,karena lelaki yang saat ini berdiri di sebelahnya,tidak ikut menyusul meninggalkannya. Sama seperti Brian, Sahabat istrinya yang rela mengorbankan nyawanya demi melindungi wanita yang sangat ia cintai itu.
Memimpin sebuah wilayah dengan kondisi sangat berduka. Di tambah lagi dengan beragam musibah yang terus menerus hadir dan singgah setiap tahun. Membuat Morgan benar-benar kehilangan kehidupannya yang sesungguhnya.
Bahkan,ia sampai lupa mengurusi kedua putranya. Hingga mereka selalu beranggapan,jika dirinya menikah dengan Camelia hanya untuk menggantikan peran ibu mereka. Namun,satu hal yang terus ia rahasiakan dari anak-anaknya dan juga publik.
__ADS_1
Mereka menganggap Morgan sebagai Raja yang brengsek. Karena menikah lagi dengan wanita lain setelah pemakaman istrinya. Dan sialnya yang dinikahi olehnya adalah kakak kandung istrinya sendiri.
Mereka selalu beranggapan,apa karena mereka memiliki wajah yang sama? sehingga Morgan belum mampu melupakannya? apa karena takut kesepian setelah di tinggal pergi oleh istrinya? di mata publik, Morgan tak lebih dari seorang Raja tirani.
Menjadi kambing hitam di balik topeng yang dimainkan oleh Camelia. Bahkan masih segar di ingatan mereka bagaimana Duke Herli yang di seret paksa,lalu di siksa dan di tahan selama lima tahun ini di penjara istana. Publik hanya tahu jika perintah itu dikungkungi oleh Morgan. Tapi tidak ada satupun yang tahu jika Camelia lah dalang di balik semuanya.
Marquis Steven dan Morgan, tersadar dari lamunan mereka masing-masing, saat mendengar sebuah suara berat dan dingin menyapa Indra pendengaran mereka.
"Salam yang mulia," Duke Marchel memberikan hormat,lalu beralih menatap Marquis Steven yang memberikan hormat kepadanya.
"Ah,anda sudah datang Duke? kenapa anda tiba-tiba datang cepat? bukankah waktu untuk mengadakan ritual doa masih nanti malam?" Tanya Morgan sedikit basa basi dengan sedikit canggung. Pasalnya,sejak kejadian ia menikah lagi dengan Camelia yang langsung di tentang oleh lelaki itu,di tambah lagi penangkapan ayahnya dan penurunan jabatan Secara tiba-tiba kepada Marchel, hubungan mereka menjadi buruk dan semakin merenggang.
Tidak ada lagi Marchel yang cerewet dan menyebalkan. Yang sekarang ada, hanyalah Marcel yang dingin dan tidak tersentuh. Yang selalu memandang orang-orang dengan ekspresi datar dan tatapan yang tajam.
"Ah, Duke Marcel pasti ingin berjumpa dengan Kedua pangeran. Kalau begitu saya permisi dulu yang mulia,anda bisa melanjutkan kegiatan anda lagi. Saya akan menemani Duke berkeliling sekaligus mencari para pangeran kembar." Ucap Marquis Steven mencairkan suasana yang sudah benar-benar terasa sangat dingin.
Bahkan bulu kuduknya saja terasa merinding saat melihat tatapan ingin membunuh yang dilayangkan Marchel kepada Morgan.
Morgan mengangguk mengerti,ia tersenyum tipis sebelum akhirnya mempersilahkan mereka pergi dengan isyarat tangannya yang memberi jalan.
"Silahkan nikmati waktu kalian. Pangeran Aidan dan pangeran Aiden mungkin sedang berada di perpustakaan." terangnya sebelum akhirnya beranjak pergi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Aku benar-benar ingin sekali melenyapkan pria itu. Akh... Benar-benar menyebalkan." Gumam Marchel pelan yang masih tertangkap Indra pendengaran Marquis Steven. Membuat lelaki itu tersenyum canggung dan merinding.
"Mari Duke," ucapnya tersenyum kaku melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.