ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 28


__ADS_3

Hai readers, sebelumnya author minta maaf karena kemarin gak bisa up karena ada kepentingan mendadak. Jadi hari ini author sengaja up lebih panjang dari biasanya. Buat kalian yang uda nunggu, selamat membaca dan selamat menikmati🦋


----------------------


...🦋 HAPPY READING 🦋...


Rosenta duduk di taman kediamannya. Tangannya dengan gerakan anggun menuang teh dari ekstrak bunga Krisan ke gelas kecil berukir yang sangat indah.


Tangannya meletakkan gelas dengan anggun,dan menggesernya ke sisi lain meja.


"Minumlah,kau pasti lelah bukan."


Seolah tahu jika ada yang akan datang. Seorang pelayan berusia dua tahun lebih muda darinya itu mengangguk. Ia berlutut di dekat meja lalu meminum teh yang rasanya sangat enak itu. Terasa sedikit pahit,tapi lembut dan menyegarkan di mulut.


"Terima kasih putri." Ucapnya setelah menghabiskan teh itu dalam sekali teguk.


Dirinya tersenyum bangga, sedikit sombong karena tidak semua pelayan bisa mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini. Hanya orang-orang yang di lahirkan dengan keberuntungan saja yang bisa merasakannya, contohnya dirinya.


"Bagaimana? Apa kau sudah melakukan tugasmu?"


Putri Rosenta mengipasi tehnya yang masih mengepul sebelum akhirnya meminumnya sedikit demi sedikit. Kedua matanya tidak sedikit pun berpaling untuk sekedar melihat pelayanannya yang berada tidak jauh dari kakinya.


"Saya sudah melakukannya putri."


"Katakanlah apa yang kau dapatkan."


Gadis itu bernama Daily,sejak kepulangan putra mahkota tadi pagi, putri Rosenta memberikan perintah kepadanya untuk mengawasi kediaman putra mahkota.


Meski putra mahkota mencintainya, dirinya masih belum bisa percaya sepenuhnya kepada lelaki itu. Apalagi melihat ambisi di kedua matanya yang tampak berkobar. Baru kali ini,ia melihat ambisi itu di mata Pangeran Morgan.


Bisa saja lelaki itu masuk ke dalam perangkap dan menghancurkan segala rencananya. Jika itu terjadi,maka dirinya akan semakin lama bisa terbebas dari wanita itu.


Daily menceritakan semua yang ia lihat. Apa yang terjadi di taman,dan bagaimana respon pangeran mahkota,ia menceritakan semuanya tanpa kurang sedikit pun.


"Ah,jadi dia sudah tidak sabar ya? Sayang sekali, sepertinya aku harus menunda keinginannya itu. Akan sangat sulit untuk menyingkirkan gadis itu jika ada seorang anak di antara mereka." Ucapnya lembut sambil menikmati langit sore yang mulai tampak menguning.


"Jadi,apa langkah anda selanjutnya putri?" Daily bertanya tidak sabaran.


Sungguh, dirinya sangat senang mendapat tuan seperti putri Rosenta ini. Walau kelihatannya putri Rosenta adalah wanita yang polos dan baik,tapi mereka tidak tahu jika wanita seperti itu sebenernya menyimpan banyak rencana licik di otaknya.


"Katakan kepada pangeran,aku akan datang ke kediamannya. Dia tidak akan menolak, katakan kepadanya jika aku akan menagih janjinya itu."


Putri Rosenta tersenyum,sudut bibirnya berkedut memikirkan bagaimana reaksi gadis kecil itu nanti. Ingin bermain dengannya? Ayolah, dirinya sedang sangat bosan saat ini.


"Lalu, bagaimana dengan permaisuri putri?"


"Nanti malam, suruh dia datang ke kediaman pangeran. Pastikan dirinya melihat apa yang akan terjadi nanti. Pastikan semua orang mengetahui tentang hal ini."


Rosenta melepaskan salah satu cincin berlian di jarinya yang bernilai cukup tinggi. Ia melemparkannya ke arah daily. Pelayan itu menangkap benda itu dengan mata berbinar. Bekerja untuk tuannya,memang tidak pernah mengecewakan.


Ia pun bangkit dan memilih undur diri dengan raut wajah yang benar-benar sangat bahagia.


Karel mengetuk pintu ruang kerja pangeran Morgan. Setelah di izinkan masuk,ia pun segera masuk ke dalam.


"Ada apa?" Pangeran Morgan bertanya sambil melirik panglima Karel dari balik kertas-kertas yang sedang ia periksa.


"Pelayan dari kediaman tuan putri datang. Dia mengatakan jika tuan putri meminta Untuk berkunjung ke kediaman anda nanti malam."


Ada raut wajah tidak bersemangat untuk sesaat di wajah panglima Karel saat mengatakan hal itu. Namun ia segera mengubahnya sebelum pangeran Morgan menyadarinya.


Pangeran Morgan mengangguk,lalu kemudian ia teringat sesuatu.

__ADS_1


"Aku berencana untuk mengunjungi permaisuri nanti malam. Tapi aku tidak bisa mengabaikan permintaan putri."


Pangeran Morgan tampak sedang berfikir. Panglima Karel mengamati perubahan raut wajah tuannya itu.


"Bukankah sudah saya katakan,tidak mudah memiliki istri lebih dari satu. Tapi anda tidak pernah mendengarkan saya. Anda terlalu keras kepala dan egois." Ucap Karel tanpa sedikitpun menutupi raut kekesalannya.


"Diamlah,tutup mulutmu itu! Aku tidak mungkin memilih satu di antara dua. Jika bisa dapat keduanya mengapa harus memilih satu." Ucap pangeran Morgan


Panglima Karel memutar malas bola matanya.


"Baiklah saya akan diam." Ucap panglima Karel lalu menepi dan duduk di salah satu kursi. Tidak menghiraukan tatapan menusuk yang di layangkan pangeran Morgan kepadanya.


Cukup lama pangeran Morgan berfikir akhirnya ia berhasil memutuskan. Ia menendang kaki panglima Karel dengan cukup keras. Membuat empunya yang sedang tidur jatuh menggelinding ke lantai.


Panglima Karel mengusap kakinya yang tersisa mendenyut itu lalu menatap pangeran Morgan dengan tatapan kesal.


"Berhenti menatapku seperti itu, sebelum ku colok kedua matamu dengan ujung pedangku." Ucap pangeran Morgan datar membuat panglima Karel hanya bisa mengumpat di dalam hati.


"Sampaikan ke kediaman putri,malam ini dia boleh untuk datang berkunjung, kebetulan aku juga merindukannya."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Pangeran Morgan langsung mengusir panglima Karel dari ruang kerjanya.


Panglima Karel pergi dengan raut wajah yang benar-benar sangat kesal. Hingga para prajurit dan pelayanan pun takut untuk menegurnya. Ia berjalan ke arah paviliun Milik putri Rosenta untuk segera menuntaskan tugasnya. Karena saat ini, dirinya benar-benar sangat mengantuk.


Sementara itu di paviliun milik permaisuri Castela juga sedang terjadi ketegangan. Ema sedari tadi mengkhawatirkan nonanya.


"Nona,jika anda memang tidak berniat untuk pergi, sebaiknya tidak usah pergi. Saya akan mengatakan kepada pelayan jika anda sedang tidak enak badan." Ucap Ema mencoba menenangkan Castela.


Beberapa saat yang lalu, seorang pelayan mengatakan jika pangeran Morgan memintanya untuk berkunjung ke kediaman pangeran.


Hal ini benar-benar membuat Castela sedari tadi cemas. Untungnya Ema memiliki inisiatif untuk menyuruh pelayan itu kembali dan akan mengatakan keputusan Castela nanti.


"Tapi apa tidak masalah Ema? Aku masih baru disini, takutnya akan banyak gosip buruk tentangku jika aku menolak. Bagaimana pun juga,ini adalah Undangan dari pangeran."


"Saya baru tau kalau anda sangat memperdulikan gosip tentang anda nona. Bukankah dulu anda tidak pernah tertarik untuk memikirkan gosip-gosip tentang anda?"


Castela menghembuskan nafas dengan kasar. Benar apa yang di katakan oleh Ema. Sebelumnya dirinya tidak penting peduli dengan gosip yang beredar. Tapi saat ini mereka sedang berada di tempat yang berbahaya.


Salah melangkah sedikit saja,nyawa yang akan jadi taruhannya.


"Baiklah,aku akan kesana. Katakan kepada pelayan itu,aku akan berkunjung ke kediaman pangeran." Putus Castela mantap.


Meskipun sebenarnya dirinya merasa ragu dan takut. Apa pun yang terjadi, dirinya benar-benar harus selalu waspada.


Ema kemudian pergi dari kamar Castela dan bergegas untuk memberitahu pelayan tadi. Pelayan tersebut tersenyum bahagia, membuat Ema sedikit merasa aneh. Namun ia segera menepis pikiran buruk yang sempat hinggap di otaknya yang dangkal itu.


...🦋🦋🦋...


Jam telah menunjukkan waktu malam. Castela berjalan mengenakan selimut yang tebal dan berjalan di lorong istana. Di temani oleh Ema yang bersikeras untuk ikut mengantarkannya.


Ia hanya menggunakan gaun biasa tanpa bordiran berlian atau batu-batu mulia di gaunnya. Bisa di katakan, dirinya benar-benar sangat malas berdandan karena memutuskan tidak akan lama disana. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan meski baru menjabat beberapa Minggu menjadi permaisuri.


Salju malam ini terasa berbeda, udara terasa sedikit panas namun begitu dingin. Di sepanjang jalan, Castela menatap ranting-ranting pohon yang sudah sepenuhnya tertutup salju.


Angin berhembus semakin kencang. Membuat Ema semangkin mengeratkan selimut Castela.


"Apa lebih baik kita kembali saja nona? Malam ini terasa sangat dingin sekali." Ucap Ema ketika melihat wajah nonanya sudah memerah karena menahan dingin.


"Tidak apa Ema,kita sudah hampir sampai." Ucap Castela


Ema hanya bisa mengangguk, di depan sana adalah kediaman pangeran. Mereka akhirnya memasuki lorong-lorong paviliun milik pangeran.

__ADS_1


Para pelayan dan juga prajurit tampak terkejut mengetahui kehadiran Castela. Namun mereka tidak bisa banyak bicara karena sadar akan status mereka. Castela hanya tersenyum samar kepada mereka dan berlalu pergi.


"Bagaimana ini? bukankah malam ini pangeran mengundang putri untuk bermalam di kamarnya?" ucap salah satu pelayan


"Iya,aku juga melihatnya. Aku kasihan kepada permaisuri, Padahal dirinya baru menikah,tapi pangeran belum sekalipun mengunjunginya. Bahkan setelah pergi cukup lama, pangeran malah menghabiskan waktu dengan putri Rosenta." pelayan yang lainnya ikut menanggapi


"Aku juga merasa kasihan, bukankah pernikahan ini terjadi karena paksaan pangeran? ku dengar, permaisuri menyetujui pernikahan ini karena pangeran mengancamnya dengan nyawa kakaknya yang sedang koma."


"*Wah, benar-benar sangat kejam."


"Sudahlah kita tidak usah ikut campur. Lebih baik kita kembali bekerja*."


Mereka saling berbisik setelah kepergian Castela dan Ema. Sungguh,tidak ada yang paling menyebalkan di dunia ini kecuali gosip.


"Nona, mengapa mereka terlihat kaget seperti itu? Apa anda tidak merasa aneh?" Tanya Ema setelah mereka menjauh dari lorong itu.


Di depan sana, setelah tikungan adalah kamar milik pangeran Morgan.


"Entahlah Ema,aku tidak peduli. Aku hanya ingin cepat sampai dan cepat kembali. Kepalaku sudah sangat pusing saat ini." Ucap Castela tidak berbohong


Ema mengangguk,lalu kembali menuntun Castela ke ruang kamar milik pangeran Morgan.


Ketika sampai disana, Castela melihat panglima Karel yang sedang berjaga. Di temani oleh seorang pelayan yang Castela tahu adalah salah satu pelayan dekat Milik Rosenta.


Panglima Karel benar-benar sangat terkejut melihat kehadiran permaisuri dari tuannya. Wajahnya pucat dan seketika ia menjadi kaku tidak tahu harus berkata apa.


"Hor-mat p-permaisuri." Ucap panglima Karel gugup.


Diikuti oleh pelayan Castela yang tampak terlihat tenang ketika mengucapkan salam kepadanya.


Bagaimana tidak gugup,saat ini yang berdiri di hadapannya adalah nona Castela Ardeland. Siapapun tahu mengenai sikapnya yang sangat tegas,dan mulutnya yang kejam. Bahkan raja sendiri saja di lawannya kala itu.


Castela mengangkat sebelah alisnya. Ia melihat panglima Karel dari atas sampai bawah. Lalu matanya beralih kepada wanita di sebelah panglima Karel.


"Kenapa kau terlihat sangat gugup seperti ini? Dan kenapa pelayan putri Rosenta ada disini? Apa pangeran ada di dalam?"


"Itu-"


Belum sempat panglima Karel menjawab. Perkataannya terputus ketika suara ******* dan racauan terdengar dari dalam kamar milik pangeran.


Castela tidak perlu mendengarkan dengan jelas suara siapa itu. Sudah pasti itu adalah suara milik Rosenta, apalagi pelayannya sudah jelas-jelas ada disini.


"Em, begini permaisuri, sebenarnya-"


Castela mengangkat sebelah tangannya. Dengan raut wajah yang datar ia membuka suara.


"Kau tidak perlu menjelaskannya. Aku sama sekali tidak peduli apa yang di lakukan oleh taunmu itu. Tapi katakan kepadanya,jika dia memang tidak punya urusan penting yang ingin di bicarakan kepadaku,tidak usah menyuruhku datang. Apa kau tau? Butuh tenaga untuk bisa sampai disini."


Panglima Karel mengerutkan keningnya. Dirinya sedang mencerna maksud dari perkataan wanita cantik di hadapannya ini.


"Aku pergi,aku masih punya banyak pekerjaan." Setelah mengucapkan itu Castela benar-benar pergi tanpa sedikit pun raut marah atau cemburu di wajahnya.


Hanya ada rona merah di kedua pipinya yang putih karena suhu udara yang semakin dingin.


"Suruh kusir menyiapkan kereta. Besok pagi, sebelum matahari terbit,kita akan pergi ke kota Rutin. Siapkan semua keperluan malam ini agar besok kita bisa pergi tanpa Kendala." Ucap Castela tegas sambil terus melangkah keluar dari kediaman pangeran Morgan.


"Tapi nona,apa anda yakin? Akan sangat berbahaya jika kita pergi dalam kondisi cuaca yang seperti ini." Ucap Ema cemas.


"Apa kau meragukan keputusan ku Ema? Banjir bandang kemarin benar-benar membuat kerusakan yang cukup parah disana. Aku tidak bisa berdiam diri saja disini sementara rakyat ku disana menderita. Tadinya aku ingin mendiskusikan ini kepada monster itu. Tapi ternyata dirinya sedang sangat sibuk. Aku tidak bisa lagi menunggu."


Ema tidak bisa membantah lagi. Bahkan Duke Herli dan tuan Marcel saja tidak pernah melarang apa yang ingin nonanya lakukan.

__ADS_1


"Baiklah nonaku tersayang,aku akan mengabari Marquis Steven untuk menemani anda." Ucap Ema yang membuat Castela tersenyum lalu mengangguk setuju.


__ADS_2