
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela mengusap lembut perutnya yang masih datar. Saat ini dirinya sedang berada di pinggir danau tidak jauh dari paviliunnya.
Keadaan Morgan sudah cukup baik,karena lelaki itu bisa memakan makanan yang ia resepkan kepada koki istana.
Beberapa hari ini ia tidak melihat panglima Karel. Ia juga tidak bisa bertemu dengan Marquis Steven,karena Morgan yang terus-menerus memberikan pekerjaan begitu banyak, sehingga lelaki itu harus menyelesaikannya terlebih dahulu.
Ayahnya juga masih sibuk, mengurusi kakak kembarannya yang masih belum memiliki kemajuan hingga saat ini. Sementara Marcel sudah kembali ke akademi. Lelaki itu juga sedang sibuk mengurus ujian kenegaraan yang akan segera tiba beberapa bulan lagi.
Rosenta juga tampak tenang,tidak sedikit pun mencoba mencari masalah dengannya, setelah rencana pembunuhannya menuju kota Rutin Waktu itu gagal.
Seharusnya Castela merasa tenang,namun castela merasakan perasaannya yang tiba-tiba saja berubah tidak enak. Entah mengapa, ketenangan yang terjadi saat ini justru menimbulkan kewaspadaannya. Hingga tak lama kemudian ia menerima laporan dari Abigail, jika panglima Karel telah kembali setelah beberapa hari meninggalkan istana.
Castela meremas gaunnya,entah mengapa ia mendapatkan feeling yang tidak baik. Ia ingin memerintahkan Abigail untuk mendatangi kediaman Marquis Steven. Namun, sebuah suara menginstruksiknya. Abigail dengan cepat pergi bersembunyi.
Panglima Karel baru saja kembali dari tugas yang di berikan oleh Morgan. Begitu sampai,ia langsung menghadap Morgan yang tampak kurang sehat.
"Hormat saya yang mulia."
Morgan mengangguk,bau itu kembali tercium membuat dirinya ingin cepat-cepat mengusir Karel dari ruangannya.
"Cepat katakan,apa kau menemukan pelakunya?" Tanya Morgan tidak sabaran.
"Benar yang mulia, saya sudah menemukan pelakunya,tapi sepertinya ada yang-"
"Sudahlah,kau sudah bekerja sangat baik. Bawa orang itu ke penjara bawah tanah,lalu segera interogasi. Jangan berhenti menyiksanya hingga ia mengatakan apa alasannya dia melakukan hal itu." Ucap Morgan lalu mengusir Karel dengan gerakan tangannya.
"Tapi yang mulia, pelakunya adalah-"
"APA KAU TULI? SEJAK KAPAN KAU BERANI MELAWAN UCAPANKU? LAKUKAN SAJA APA YANG KU PERINTAHKAN! AKU YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB!"
Dengan berat hati Karel keluar dari ruangan itu. Namun sebelum ia benar-benar keluar,sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian.
"Kau, sudah masuk ke dalam perangkap Morgan. Kau akan menyesali keputusan mu ini." Ucapnya pelan.
Lalu kemudian ia pergi dari sana untuk menangkap pelaku dari rumor tersebut. Dan saat ini,dengan diikuti oleh beberapa prajurit, langkah kakinya membawa mereka ke satu tempat,danau di paviliun permaisuri.
"Apa yang kau lakukan dengan membawa prajurit ke kediaman ku?" Tanya Castela sambil melirik beberapa orang prajurit di belakang panglima Karel yang tidak berani menatapnya.
"Anda menjadi tersangka dari kasus yang melibatkan putri Rosnta yang mulia. Dan Raja sudah memberikan perintah kepada saya untuk menangkap anda." Ucap panglima Karel santai dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
"Kau bercanda? Sejak kapan aku tertarik dengan wanita itu?" Tanya Castela menatap dingin manik mata panglima Karel.
Karel menyeringai,ia benar-benar sudah muak dengan wajah angkuh gadis di hadapannya ini. Ia lalu memberi perintah kepada prajurit yang ia bawa untuk menyeret paksa Castela.
Castela tidak memberontak,ia menghempaskan tangan prajurit yang memegang lengannya.
"Lepaskan tangan kalian,aku bisa berjalan sendiri." Ucap Castela mencoba tenang.
Ia benar-benar sangat jengkel dengan kegilaan yang dimiliki oleh Morgan. Hingga tidak sadar, rasa kecewa tumbuh dihatinya,dan menggoreskan luka yang cukup perih disana.
Ema berlari di belakangnya saat mereka melewati paviliun permaisuri. Bisik-bisik para pelayan terdengar saat melihat Castela di bawa oleh panglima Karel.
"Kau! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa permaisuri! Lepaskan!"
Ema mencoba menghalau,namun salah satu prajurit menghempas Ema Hingga gadis itu terjerembab ke tanah dengan kasar. Membuat beberapa luka gores di telapak tangannya.
"Panglima! Katakan kepada saya,kenapa anda membawa permaisuri?!"
Panglima Karel menatap datar Ema, sementara Ema menuntut jawaban dari mulut lelaki itu. Ia tahu, pasti ini semua berhubungan dengan rumor putri Rosenta.
"Permaisuri harus di adili,yang mulia sendiri yang memerintahkan untuk menghukum pelaku penyebaran rumor tidak mendasar tentang putri Rosenta. Apakah ada lagi yang ingin kau tanyakan,,, pelayan rendahan?"
Panglima Karel berdecih saat melihat Ema yang pergi dari sana dengan terburu-buru. Pasti pelayan rendahan itu tengah kabur agar nyawanya tidak terlibat. Kira-kira begitulah yang sedang mereka semua pikirkan.
Sementara Castela,ia merasa khawatir. Ia khawatir jika mereka akan terlibat dan semuanya menjadi kacau.
Ia benar-benar bersumpah,jika nanti ia di izinkan untuk membunuh,maka orang yang paling ingin ia bunuh adalah suaminya sendiri, pangeran Morgan.
Castela di seret dengan paksa ke penjara bawah tanah. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai. Sementara tubuhnya disandarkan di sebuah balok kayu berukuran tinggi dengan potongan vertikal dan horizontal di atasnya.
Panglima Karel memilih-milih senjata siksaan apa yang harus ia pakai. Begitu banyak senjata siksaan yang tersusun rapih di atas meja. Lengkap dengan bekas-bekas darah yang mengering.
Panglima Karel menyeringai,ia menatap Castela sejenak, sebelum akhirnya mengambil sebuah cambuk. Melihat cambuk,ia jadi teringat dengan kekasihnya yang harus terluka karena gagal melenyapkan wanita di depannya ini.
Luka di balas luka, bukankah itu adil? Dan lebih adil lagi,jika senjata yang di gunakan untuk menciptakan luka itu adalah senjata yang sama. Dan karena orang yang sama.
Ruangan itu gelap,hanya ada dua obor yang berada di masing-masing sudut ruangan ini. Sebuah ruangan dengan bau amis dan pengap. Ada sekitar sepuluh sel tahanan disana. Dan beberapanya telah terisi oleh orang-orang yang berpakaian compang camping dan kusut.
Castela menatap ngeri panglima Karel yang sedang tersenyum sambil berjalan mendekatinya,dengan sebuah cambuk di tangannya. Sontak saja Castela melirik ke perutnya,dia benar-benar sangat khawatir.
Ia pikir, Morgan hanya akan mengurungnya,atau langsung memenggal kepalanya. Namun ternyata tidak, bagaimana bisa ia santai jika saat ini ada kehidupan lain di dalam perutnya.
__ADS_1
CETAR!
Castela memejamkan matanya saat merasakan pedih dan panas menembus kulit tubuhnya.
CETAR!
Rasa pedih dan panas itu kian lama kian menguat saat benda kasar itu kembali bersentuhan dengan kulit tubuhnya.
CETAR!
Castela mencoba menahan air matanya. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah keselamatan anaknya. Tidak henti-hentinya Castela berdoa di dalam hati agar tali itu tidak mengenai perutnya.
Namun seolah bisa membaca pikirannya, lelaki itu malah mengarahkan tali panjang itu ke arah perut Castela. Membuat air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh seketika.
'Anakku, tahanlah sebentar sayang... Mama minta tolong, tahanlah sebentar rasa sakit ini... Tolong bertahanlah,kita berjuang bersama-sama. Tolong berjuang bersama mama...'
CETAR!
Sudah puluhan kali cambuk itu menghujani tubuh Castela. Membuat sayatan di seluruh tubuhnya dengan darah yang perlahan-lahan merembes dari balik gaunnya.
Cambuk yang semula berwarna putih itu,kini telah berubah menjadi merah.
"Bagaimana rasanya permaisuri? Menyenangkan bukan?" Tanya panglima Karel dengan senyuman merekah di bibirnya.
Castela benar-benar mengutuk lelaki ini. Lelaki bajingan seperti dirinya tidak pantas hidup di dunia ini.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, panglima Karel kembali menghujani cambukan ke tubuh Castela. Membuat wanita itu luruh dan hampir kehilangan kesadarannya.
Panglima Karel tertawa,tampak terlihat jelas kepuasan di wajahnya. Ia kemudian mendekat,lalu menggapai dagu Castela dan mengangkatnya ke atas hingga tatapan mereka bertabrakan.
"Kau seharusnya mati saja saat itu permaisuri. Tapi kau sangat keras kepala untuk tetap hidup. Jadi, nikmatilah hidupmu yang indah ini. Ini semua, adalah pilihan mu."
Castela menatap tajam kedua manik mata lelaki yang sedang menyeringai di hadapannya ini.
"Kau, bajingan Karel! Manusia seperti mu tidak pantas hidup! Sejak awal aku tidak pernah percaya kepadamu! Kalau begitu, mari kita lihat, siapa yang akan mati duluan diantara kita!" Ucap Castela dengan seringaian di bibirnya, benar-benar menyeramkan.
Panglima Karel yang mendengar penghinaan dari mulut Castela langsung saja melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi mulus Castela. Membuat sudut bibirnya koyak dan sedikit berdarah.
"Dasar ******! Bahkan kau masih berani bertaruh denganku?! Akan ku pastikan jika aku akan melihat kepalamu yang terpisah tanpa harga diri!" Ucap panglima Karel lalu meninggalkan tempat itu.
"Sialan kalian semua! Akan ku pastikan, kehancuran kalian akan berada di tanganku! Morgan... Aku bersumpah,aku bersumpah kau akan hidup di dalam penyesalan. Kau tidak pantas menjadi ayah untuk anakku. Aku bersumpah! aku sendiri yang akan melenyapkan mu dengan kedua tangan ku.." Ucap Castela dengan amarah yang berapi-api, sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
__ADS_1