ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)

ACASHA ( Simbol Keabadian Dan Kebangkitan)
Chapter 71


__ADS_3

...🦋 HAPPY READING 🦋...


Istana terlihat meredup setelah kepergian cahayanya. Hari ini, adalah peringatan ke lima tahun kerajaan atas wafatnya Raja Philip dan istri dari pangeran mahkota, calon Ratu selanjutnya, yaitu permaisuri Castela.


Istana tampak ramai dengan para pelayan yang berlalu lalang untuk menyiapkan acara doa. Yah,hari peringatan ini menjadi hari terpenting kerajaan. Karena di hari ini, Raja meninggal dan permaisuri putra mahkota yang di culik juga ikut menyusul.


Menimbulkan luka sayat yang dalam dan perih di hati setiap insan di kerajaan ini. Pangeran Aidan duduk di taman istana sambil mengamati kegiatan yang selama lima tahun ini selalu ia lihat.


Ia tahu jika wanita yang saat ini menjabat sebagai Ratu mendampingi ayahnya bukanlah ibu kandungnya. Ia pernah melihat lukisan ibunya di kamar ayahnya. Ibunya benar-benar sangat cantik. Tidak terlihat seperti manusia, lebih cocok di defenisikan sebagai seorang Dewi.


Warna rambutnya seterang matahari terbenam. Kulitnya putih seperti salju musim dingin. Bibirnya merah, hidungnya mancung serta bola matanya benar-benar sangat indah.


Pangeran kecil itu menyentuh matanya. Yah,warna mata mereka berbeda. Dari lukisan yang Pernah ia lihat,warna mata ibunya adalah hijau zambrud, hampir mirip seperti milik Aiden yang memiliki warna mata hijau gelap.


Sementara miliknya berwarna hitam,sama seperti milik ayahnya.


Ia tahu jika ibunya dan Ratu adalah saudari kembar. Namun, bukankah mereka berbeda? Maksudnya,ia mendengar dari banyak suara jika ibunya adalah seorang Dewi berhati baik. Sementara Ratu,dia benar-benar wanita yang sangat kejam dan tamak.


Percis seperti seorang monster yang selalu di ceritakan oleh Erik, kstaria pribadinya yang juga menjabat sebagai pelayannya. Erik benar-benar beruntung karena pernah melihat langsung bagaimana rupa dari ibu kandungnya.


"Yang mulia bukan manusia,ibunda pangeran adalah seorang Dewi. Tatapannya tegas, auranya kuat dan berwibawa. Wajahnya juga benar-benar sangat cantik, secantik hatinya. Anda seharusnya bangga memiliki ibunda seperti yang mulia. Yang mulia benar-benar panutan,jadi saya pikir, pangeran dan pangeran kedua seharusnya beruntung memiliki ibunda seorang Dewi."

__ADS_1


"Pangeran harus kuat,karena pangeran di lahirkan oleh wanita yang sangat kuat dan hebat. Pangeran harus mempu melampaui batas kemampuan diri pangeran sendiri. Hingga suatu hari nanti, ketika saatnya tiba, pangeran tidak akan pernah menyesal. Karena berusaha untuk menjadi kuat, lebih kuat dan menjadi yang paling kuat."


Begitulah kata-kata yang selalu di ucapkan oleh ksatrianya itu, sebagai sebuah obat ketika dirinya baru saja di hukum oleh Ratu. Remaja yang berusia 15 tahun itu tidak pernah banyak bicara. Tidak ada juga senyuman di wajahnya.


Hanya ada tatapan datar dan dingin yang selama ini ia dapatkan. Namun semua itu akan berubah jika mereka sudah membahas tentang permaisuri Castela.


Wajah remaja 15 tahun itu akan mendadak berubah menjadi lebih hidup. Seolah ada cahaya yang baru saja menerpa wajah tampan dan dinginnya itu. Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa dirinya tidak ingin kalah dari Erik Meijer.


Ah, benarkah yang mulia Raja mencintai ibundanya seperti kisah yang selama ini ia dengar? Tidakkah itu semua hanyalah sebuah angin lalu?


Mengapa juga ayahnya mau menikah lagi? Aidan kecil, benar-benar merasa sangat kecewa. Apakah karena ingin memberikan mereka ibu? Agar mereka tidak kehilangan kasih sayang? Tapi sepertinya itu adalah keputusan yang salah.


Pangeran Aidan menyentuh bekas luka yang masih baru di pergelangan tangannya. Memar berwarna keunguan, adalah bekas luka yang ia dapat tadi pagi.


Tubuh mereka yang kecil, terlalu ringkih untuk bisa menerima pukulan yang tanpa belas kasih itu.


Bahkan orang-orang di istana tidak ada yang berani menolong mereka. Mereka hanya menatap kasihan, bukankah itu sangat lucu? Untung saja kstaria pribadinya, Erik,datang tepat waktu. Sehingga, remaja itu selalu berhasil menghentikan kekerasan yang kerap kali dilakukan oleh Ratu setelah ancaman yang di berikan oleh Erik.


"Anda harus berani melawan pangeran. Diam dan pasrah menerima tindasan seperti tadi, apakah itu yang selama ini anda dapatkan dari pembelajaran anda?"


"A-aku... Aku tidak berani. Dia adalah Ratu,aku takut... Jika dia akan semakin beringas menyakiti Aiden." Ucapnya terbata-bata dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Angkat kepala anda pangeran! Jangan merendahkan harga diri permaisuri Castela dengan menundukkan wajah anda seperti ini! Anda adalah seorang pangeran mahkota- putra sah dari yang mulia Castela,sampai kapan pun... Derajat anda lebih tinggi di bandingkan wanita monster itu! Jika anda tetap menjadi seorang pengecut seperti ini, sebaiknya anda mencari kstaria yang baru saja. Karena jika anda tidak berubah... Saya akan merasa malu,saya akan merasa gagal dalam memenuhi janji saya kepada yang mulai permaisuri!"


Pangeran Aidan kecil tersenyum miris. Ayahnya salah menikahi wanita, dia tidak benar-benar menikahi wanita. Dia menikahi seorang monster.


"Apa mama bahagia disana? Disini Aidan dan Aiden tidak. Tidak bisakah kami menyusul mama saja? Jika tidak bisa membawa kami berdua,tidak bisakah mama membawa Aiden juga? Aidan merasa tidak tega jika harus melihat Aiden di pukuli hanya karena hal sepele setiap hari. Meski papa menyayangi kami,tapi itu semua tidak cukup ma." Ucap pangeran berwajah dingin dan datar itu lirih.


Ia menghapus air mata yang keluar dengan cepat. Seolah tidak mengizinkan siapapun melihat sisi rapuhnya seorang anak berusia lima tahun itu.


"Erik benar-benar beruntung karena sempat bertemu dengan mama... Bahkan mama juga bukan,yang sudah memberikan nama belakang untuknya? terkadang Aidan selalu iri dengan Erik..." Lagi-lagi pangeran Aidan tersenyum miris.


"Apa Aidan salah ma..? Aidan hanya takut jika Aidan melawan, Ratu akan semakin beringas memukuli Aiden. Aidan takut ma... Aidan takut gagal melindungi Aiden. Tidak bisakah mama kembali? Tidak bisakah mama ada untuk Aidan dan Aiden??"


Pangeran kecil itu menatap langit biru yang mataharinya bersinar terang.


"Papa memang baik,papa memang menyayangi Aidan dan Aiden. Tapi Aidan dan Aiden juga butuh mama... Kata mereka,mama adalah seorang Dewi. Bukankah Dewi bisa melakukan apa saja? Bukankah seharusnya Dewi memiliki hidup abadi? kata mereka Dewi itu tinggal di nirwana... Tidak bisakah mama hidup kembali,lalu datang kesini? Apa perlu Aidan menyusul mama ke nirwana?"


"Aidan ingin di peluk, Aidan butuh mama..." Lirih pangeran kecil itu dengan air mata yang lagi-lagi mengalir tanpa henti.


Tanpa ia sadari,tidak jauh dari tempatnya duduk. Abigail sedang bersembunyi di atas pohon,ia mengawasi Raja Morgan yang diam-diam juga menangis ketika mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut kecil putra tertuanya itu.


"Sungguh pemandangan yang mengharukan. Haruskah aku juga ikut menangis?" Abigail memandang datar drama di bawah sana. Setelahnya,ia pun menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Kapan anda akan kembali Dewi? Sudah lima tahun berlalu. Jika bukan karena permintaan Marquis gila itu, mungkin aku sudah ikut menyusul anda ke nirwana. Apakah disana anda hidup enak? ah... apakah orang yang sudah mati, setelah disana bisa di katakan hidup?"Ucapnya yang mulai melantur sambil menerawang jauh, kembali kepada kejadian berdarah lima tahun yang lalu.


__ADS_2