
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Plakk!!
"APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU BRENGSEK!"
Castela menegang saat menyadari tindakan Morgan yang ingin memperkosanya. Wajah Castela memerah menahan amarah,namun sepertinya dirinya benar-benar sudah kehilangan kesabaran.
"Lo mau ngapain anjing? Lo Uda gak punya otak?! Bangsat Lo Morgan! Bajing*n!" Teriak Castela dengan mata yang memerah. Saat itu juga air matanya tumpah mengingat kejadian barusan.
Morgan yang tersadar dengan apa yang ia lakukan merutuki dirinya sendiri. Ia memang tidak mengerti apa yang di ucapkan Castela. Namun,dengan melihat wajah Castela,ia tahu jika gadis itu sangat marah padanya.
"Maaf" ucapnya pelan sambil mendekat ke arah Castela ingin menutupi tubuh Castela dengan jubah yang ia kenakan.
Namun, Castela yang masih dalam kondisi terguncang,dengan gerakan cepat mundur ke belakang dengan kedua kaki yang ia peluk untuk menyembunyikan tubuh bagian atasnya yang terbuka.
"Aku,aku minta maaf. Pakailah ini,temui aku di pinggir sungai setelah kau selesai." Ucap Morgan
Tanpa menunggu jawaban dari Castela ia bangkit dari sana. Mengambil rusa yang tadi mereka perebutkan,juga barang-barang berburu milik Castela yang tadi ia campakkan ke sembarang arah.
"Sialan! KENAPA LO HARUS NGIRIM GUE KE TEMPAT INI TUHAN?! KENAPA?! KENAPA LO GAK LANGSUNG KIRIM GUE KE NERAKA AJA?! Lebih baik gue tersiksa di neraka, dari pada hidup di tempat kayak gini! Apa salah gue Sampek neraka sendiri aja gak mau Nerima gue." Jerit Castela di sela tangisnya.
Morgan mengusap wajahnya kasar. Ia membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih dan segar. Saat ini,Morgan berada di pinggir sungai. Tempat semula rusa buruan itu minum air.
"Aku,apa yang aku lakukan? Aku tidak mengerti apa yang gadis itu katakan. Tapi, kenapa hatiku terasa sakit saat melihatnya seperti itu. Apa aku jahat? Apa tindakanku tadi menyakitinya? Bukankah seharusnya para anak muda sudah tidak asing dengan hal seperti itu?" Tanya Morgan pada dirinya sendiri. Ia menyentuh pipinya yang sudah dua kali mendapatkan tamparan dari gadis itu.
Yah,di zaman ini, kegiatan seperti itu sangat lumrah dan wajar di lakukan. Bahkan, terkadang ada beberapa bangsawan yang melakukan adegan seperti itu di tempat umum. Makannya,Morgan sangat kaget saat melihat reaksi yang di berikan oleh Castela tadi. Reaksinya seolah-olah mengatakan jika itu yang pertama untuknya.
Morgan mendirikan sebuah api unggun. Ia memutuskan untuk bermalam di tempat ini karena baru menyadari jika matahari sudah mulai turun. Itu artinya ia harus menunggu esok untuk bisa keluar karena mereka berada cukup jauh di dalam hutan.
Morgan sempat terkejut saat memeriksa isi tas yang di bawa oleh Castela. Sebuah selimut yang tidak terlalu tebal, sekantung koin emas, obat-obatan,pisau,dan sebungkus bumbu seperti ramuan yang berbau aneh.
"Apa ini? Mengapa gadis itu membawa hal-hal seperti ini? Apakah dia memang berniat untuk kabur?" Tanya Morgan heran.
"Jauhkan tangan kotormu dari tas milikku." Ucap Castela datar yang memandang Morgan tanpa ekspresi.
Morgan menghela nafas kasar lalu meletakkan tas itu di sebelahnya.
"Kau sudah kembali? Em,untuk kejadian tadi aku ingin meminta maaf,aku-"
"Aku tidak ingin menghentikan omong kosongmu. Kau benar-benar laki-laki bajing*n,dan bodoh." Potong Castela,lalu dengan kasar ia menarik daging rusa yang sudah di bersihkan,tapi belum di apa-apakan oleh Morgan.
Morgan menatap sebal gadis kecil itu. Padahal tadi gadis itu terlihat sangat rapuh, bahkan mendramatis menjerit-jerit sambil mengucapkan kata-kata yang aneh. Dan lihatlah sekarang,dia kembali menjadi gadis yang menyebalkan.
Tapi entah mengapa,Morgan tidak bisa marah. Morgan memperhatikan wajah Castela yang tampak serius memotong-motong bambu,lalu membelahnya menjadi memanjang dan kecil-kecil.
Lalu kemudian gadis itu menusukkan daging rusa yang telah ia potong-potong dengan ukuran kecil ke bambu itu. Ia terus mengulanginya hingga sudah terdapat hampir 30 potong daging yang di tusuk dengan bambu itu.
Sebenarnya sedari tadi Morgan sudah menahan mulutnya untuk bertanya. Namun,ia urungkan karena takut jika gadis itu kembali marah-marah. Namun,pada akhirnya ia tidak kuat untuk bertanya.
"Apa yang sedang kau buat?" Tanya Morgan dengan hati-hati.
"Ini? Aku sedang membuat sate rusa." Jawab Castela dengan mood yang sudah kembali bagus.
__ADS_1
Membuat Morgan diam-diam menarik nafas lega.
"Sate? Apa itu sate?" Tanyanya lagi yang membuat Castela menatapnya.
Sebentar,hanya sebentar,namun entah mengapa membuat jantungnya serasa lompat dari tempatnya.
"Kau tidak tau? Ah,iya,aku lupa,mana mungkin kau tahu. Baiklah,akan aku beri tahu. Sate adalah daging yang di tusuk dengan lidi atau bambu lalu di bakar di atas bara api dengan menggunakan bumbu rahasia. Ah, seandainya ada lontongnya juga." Ucap Castela sangat antusias ketika membayangkan bagaimana sate itu masuk ke dalam mulutnya. Membuat air liurnya tidak sengaja hampir menetes.
"Sudahlah, hentikan ocehanmu itu. Lihatlah,bahkan air liurmu hampir menetes saat menjelaskannya. Aku jadi penasaran seenak apa makanan yang namanya sate itu, benar-benar sangat asing." Ucap Morgan yang membuat pipi Castela memanas menahan malu.
Ah, padahal baru saja tadi dirinya memaki-maki lelaki itu. Tapi lihatlah sekarang,hanya karena sebuah kata dirinya malah terkesima. Hah, author sendiri tidak tau harus berkata apa Castela.
Castela dengan semangat mengolesi daging-daging itu dengan racikan bumbunya yang memang sudah ia bawa dari rumah. Ia meletakkan daging-daging yang sudah matang ke atas daun talas.
Setelah semua daging selesai, Castela memberikan 10 tusuk sate itu kepada Morgan yang sedang duduk melamun di pinggir sungai.
"Terima kasih." Ucap Morgan.
Castela tidak menjawab,ia ikut duduk di sebelah Morgan lalu mulai memakan sate-satenya dengan semangat.
"Enaknyaaaa." Ucap Castela di sela-sela makannya sambil menghapus air mata yang keluar di ujung matanya karena terharunya.
Morgan menatap Castela,gadis itu benar-benar terlihat sangat cantik. Tidak perduli pada situasi apapun. Bahkan, ketika kulit wajahnya yang putih bersih itu terlihat sedikit kotor karena asap saat membakar daging.
"Apakah seenak itu?" Tanya Morgan sambil terus menatap Castela.
Ia ikut menarik sudut bibirnya saat melihat pipi gadis itu menggembung karena makanan yang memenuhi mulutnya.
'Apa dia benar-benar gadis itu? Gadis yang mendapatkan julukan iblis kecil? Apakah rumor itu benar? Mengapa dia jauh berbeda dengan yang di rumorkan, bahkan apa yang di katakan Rosenta waktu itu benar-benar jauh dengan apa yang aku lihat? Yang aku lihat,hanyalah seorang gadis yang menggemaskan,dengan tingkah konyol dan mulutnya yang memang sedikit jahat. Tapi lebih dari itu, sepertinya aku mulai menyukai sifatnya.' batin Morgan.
"Ah,tidak,aku hanya sedang berfikir apa yang di lakukan oleh gadis kecilnya Duke Herli di tengah hutan seperti ini tanpa pengawalan?" Tanya Morgan mengalihkan pembicaraan,namun mulutnya mulai mencoba makanan itu.
'enak' batinnya. Namun ia segera menyadari sesuatu.
"Hey! Apa yang barusan kau katakan? Kenapa kau seenaknya memanggil namaku?" Tanya Morgan kesal saat menyadari jika gadis itu memanggil namanya.
"Kenapa? Kau tidak suka? Bukankah itu memang namamu?" Tanya Castela tanpa mengindahkan tatapan kesal Milik Morgan.
"Itu-"
"Tidak sopan? Lalu apa yang tadi siang kau lakukan padaku pangeran Morgan yang terhormat? Apa perilakumu tadi mencerminkan jika kau pria terhormat? Huh! Aku bahkan sudah memutuskan untuk tidak akan menikah." Ucap Castela.
"Kenapa?" Tanya Morgan dengan nada lemah
"Apanya?"ucap Castela tidak mengerti
"Kenapa kau tidak ingin menikah?" Tanyanya lagi
"Entahlah,aku rasa tidak akan ada yang mau menikahi gadis yang sudah pernah di Sentuh oleh seorang pangeran." Ucap Castela
"Mengapa kau berfikiran seperti itu?" Tanya Morgan tidak mengerti.
"Ah, mengapa kau sangat bodoh? Jika pangeran saja meninggalkan seorang gadis setelah di sentuh,maka menurutmu bagaimana pandangan pria lain di luar sana? Jika pun ada yang mau, bukankah pria itu menikahi gadis itu karena hal lain? Kedudukan,harta,atau nama besar misalnya." Jelas Castela yang membuat Morgan terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Memang benar,apa yang di ucapkan oleh Castela barusan. Dan dirinya benar-benar merasa sangat hina karena telah merusak masa depan seorang gadis.
Apakah gadis ini akan serius dengan ucapannya?
"Lebih baik jangan katakan kepada suamimu jika kau,jika kau,jika kau sudah pernah aku sentuh." Ucap Morgan kemudian.
Membuat Castela menatapnya untuk beberapa saat,lalu tertawa. Suara senyapnya malam membuat suara Castela memenuhi seluruh Indra pendengaran Morgan.
"Apa kau gila? Bagaimana perasaanmu saat mengetahui jika istrimu ternyata sudah pernah di Sentuh oleh pria lain sebelum menikah denganmu,lalu dia menutupinya?" Tanya Castela terdengar datar setelah menghentikan tawanya. Menatap tajam Morgan yang seolah terkejut dengan pertanyaan.
"Tentu saja aku akan marah." Ucap Morgan kemudian.
"Kau sudah menemukan jawabannya." Ucap Castela lalu bangkit meninggalkan Morgan
"Ah,tubuhku terasa lengket dan bau. Sepertinya aku akan berendam sebentar." Ucap Castela lalu berjalan menuju bebatuan agar Morgan tidak bisa mengintipnya yang sedang mandi.
Castela melihat kiri kanan memastikan tidak ada siapapun disana. Hanya ada Morgan yang berada jauh di ujung sana yang sedang menikmati satenya.
Castela membuka seluruh bajunya. Lalu ia masuk ke dalam sungai yang tingginya hanya sebatas dadanya saja. Sungguh sangat segar rasanya setelah seharian tubuhnya berkeringat dan bau.
Castela menyandarkan tubuhnya ke batu besar lalu menutup matanya. Menikmati pijatan gratis dari arus air yang lumayan dirasanya.
Cukup lama Castela berendam tiba-tiba saja ia teringat kepada lontong sate yang ingin ia makan saat waktu kembali dari istana. Bukannya mendapatkan lontong sate, dirinya malah bertemu dengan Erik, viscount Petra,kakek Bili dan warga yang menyebutkan dirinya sebagai acasha. Manusia yang merupakan jelmaan Dewi.
"Hahah ada-ada saja." Ucap Castela tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
Castela membuka matanya saat ia mendengar suara Morgan. Dan benar saja, laki-laki itu sudah berada di atas batu tidak jauh darinya berendam.
'Dasar Morgan bajing*n! Apa dia dari tadi mengintipku?' kesal Castela dalam hatinya.
"Apa kau tidak kedinginan mandi malam-malam begini? Kau sudah cukup lama berendam,kau bisa masuk angin." Ucapnya lagi.
"Kau! Apa yang kau lakukan disitu brengsek!" Tanya Castela kesal
"Apalagi? Aku hanya mengkhawatirkanmu. Bagaimana jika ada hewan buas yang tiba-tiba menerkammu?" Ucapnya santai sambil merendam kakinya di air
"Jangan berbohong brengsek! Jika memang ada yang ingin menerkamku,sudah pasti itu adalah kau! Apa-apaan tatapan mesummu itu!" Ucap Castela kesal
Ia semakin membenamkan dirinya ke dalam air agar menghalau pandangan Morgan dengan apa yang ada di dalam air. Sungguh, dirinya benar-benar mengutuk Morgan,karena saat ini ia benar-benar tidak mengenakan apa-apa.
"Tidak usah khawatir,aku sudah melihat semuanya tadi. Air sungai yang jernih ini benar-benar membuatku bisa melihatnya,walau tidak terlalu jelas karena gelap. Tubuhmu benar-benar sangat bagus. Sepertinya Duke Herli mengurusmu dengan benar." Ucap Morgan santai tanpa ada beban.
Sial! Wajah Castela benar-benar memerah saat ini. Bagaimana laki-laki itu bisa mengatakan dengan santai hal vulgar seperti itu. Apa dia benar-benar sudah kehilangan otaknya.
'Arggghh!! Morgan anjingg!!' teriaknya dalam hati.
"Hentikan tatapan mesum mu itu brengsek! Sepertinya kau benar-benar membuatku tidak akan menikah!" Ucap Castela kesal.
"Tidak apa,karena aku satu-satunya pria yang sudah melihat tubuh indahmu itu,maka aku akan menikahimu." Ucapnya Santai yang membuat Castela tidak sengaja tersedak air sungai.
"Apa katanya barusan? Dia menikahiku? Sial! AKU TIDAK AKAN MENIKAH DENGANMU MORGAN BRENGSEK!" ucap Castela menggema ketika menyadari Morgan sudah kembali ke tempat awal mereka.
__ADS_1
"Cepatlah pakai bajumu! Aku tidak ingin binatang disini,atau bahkan roh penunggu hutan juga memandangmu dengan tatapan lapar! Akan merepotkan nantinya!" Teriak Morgan yang membuat Castela menatap horor sekitarnya.
"Oh astaga, bukankah di dunia ini ada iblis? Ah,kau benar-benar sial Castela! Kau bahkan sudah bertemu salah satunya." Ucap Castela dengan cepat keluar dari air lalu memakai bajunya kembali.