
...🦋 HAPPY READING 🦋...
Castela memijit kepalanya yang mendadak pening. Saat ini dirinya sedang mengurung diri di dalam kamar Morgan. Yah,sejak siuman beberapa hari yang lalu, Morgan langsung memindahkan barang-barangnya ke paviliun miliknya.
Lelaki itu juga sangat berubah akhir-akhir ini setelah Castela memilih untuk memaafkannya. Kemana pun ia pergi, lelaki itu akan menempelinya persis seperti lintah. Melarangnya melakukan ini itu karena takut membahayakan anaknya.
Padahal Castela sendiri tidak bodoh. Dia hanya melakukan jalan-jalan di taman,mana mungkin sampai membahayakan anaknya sendiri. Namun Morgan tetaplah Morgan, apapun alasan yang ia buat, lelaki itu selalu berakhir menang dan membungkam mulutnya.
Hal itu tentu saja membuat Castela merasa pusing. Apalagi harus selalu menghindari lelaki itu dengan posisi perut yang sudah membesar.
Tok...
**Tok...
Tok**...
"Sayang... Buka pintunya,kau harus segera meminum vitamin mu. Aku juga sudah membawakan kalian makan siang!"
Castela menatap kesal Abigail yang sedari tadi ia minta untuk menemaninya. Lelaki muda itu tampak sedang menahan tawanya saat melihat raut kesal tuannya itu. Castela mengangkat sebelah alisnya, sementara Abigail langsung kabur saat menyadari aura kemarahan dari tuannya itu.
"Sayang... Jika kau tidak segera membuka pintunya,aku akan mendobraknya dari luar!" Ancam Morgan yang membuat Castela melangkah malas ke arah pintu.
Bagaimana tidak? Ia baru tiga hari menempati kamar ini,tapi pintu kamar ini sudah di ganti sebanyak dua kali. Bukankah itu sangat gila? Pintu ini bukanlah pintu biasa. Pintu ini sangat kuat,karena merupakan pintu kamar seorang pangeran mahkota. Castela benar-benar tidak bisa membiarkan Morgan mendobrak pintu kamarnya,yah, kamarnya.
Begitu pintu terbuka,maka tampaklah wajah menyebalkan Morgan yang sedang tersenyum lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapih. Jangan lupakan nampan berisi makanan yang ada di tangannya.
Tanpa perlu disuruh lagi, Morgan segera masuk dan duduk di atas ranjang berukuran king size itu. Sementara Castela mengekor di belakangnya dengan raut wajah masam.
__ADS_1
"Apa kabar anak papa,wah semakin hari kau semakin besar saja ya. Apa kau betah berada di dalam perut mamamu? Apa di dalam tidak sempit? Baiklah kau harus segera makan, jangan nakal-nakal ya,nanti papa pukul!" Ucapan yang sama yang selalu ia ucapkan saat mengelus perut besar Castela.
Bahkan Castela sudah hapal Ucapan yang selama tiga hari ini selalu menemani hari-harinya.
Sementara Castela,hanya memandanginya malas. Sungguh,aneh rasanya saat lelaki yang selama ini selalu menatap penuh permusuhan dan rencana licik terhadapnya, berubah menjadi lelaki yang manis dan sok dewasa. Sungguh situasi yang sangat menyeramkan.
"Mengapa kau berisik sekali? Cepat suapkan makanan itu dan segera pergi dari sini! Kau benar-benar menggangguku Morgan!" Kesal Castela.
Masalahnya, lelaki itu tidak akan membiarkannya menyendok makanannya sendiri. Sehingga membuat Castela benar-benar ingin meninju wajah tampan suaminya itu.
"Ah, ternyata istriku sudah sangat kelaparan." Ucap Morgan sambil mencubit pipi Castela yang semakin hari semakin mengembang.
"Ck! Jika kau masih berucap omong kosong,lebih baik aku makan sendiri!" Ucap Castela mencoba merebut sendok di tangan Morgan,tapi langsung dijauhkannya.
"Jika kau tidak menurut,jangan salahkan aku jika aku akan menjenguk anakku sekarang juga!" Ancam Morgan dengan suara rendah tepat di telinga Castela. Bahkan gadis itu tidak sengaja menyentuh sesuatu yang menegang di bawah sana ketika Morgan menghimpit kan tubuh mereka.
Membuat gadis itu seketika menegang di tempatnya.
Castela akhirnya pasrah,dari pada berakhir seperti kemarin malam, Castela lebih baik mengikuti ucapan lelaki ini.
Kemarin malam,saat acara makan malam, Castela mendadak merasakan pegal di bagian kakinya. Jadi, dirinya terpaksa di gendong oleh Morgan untuk kembali ke kamar. Namun,karena Castela baru memakan makan malamnya sedikit, Morgan kembali membawakannya makanan.
Castela menolak dan merebut paksa sendok itu dari tangan Morgan. Dan alhasil, Morgan malah menghimpit badannya di atas ranjang dan mengancam akan melakukannya. Meski tidak menyakiti perutnya,namun karena mood Castela yang sedang labil,ia akhirnya menangis dan memohon kepada Morgan untuk tidak melakukannya. Dan akhirnya Morgan melepaskannya dengan syarat ia harus menuruti perkataan Morgan yang sebenarnya untuk kebaikannya sendiri.
"Buka mulutnya sayang... Aaaa... Pinter."
Castela mengunyah makanannya dengan tidak semangat. Dirinya bukan seorang anak kecil,apa lelaki ini tidak bisa melihatnya yang jelas-jelas sudah besar? Apalagi dengan perut sebesar ini!
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kakinya masih sakit?" Tanya Morgan sambil meletakkan piringnya di atas nampan dan tangannya beralih mengambil kaki Castela.
Menyingkapkan gaun Castela hingga menampakkan kaki telanjang Castela yang putih dan terawat. Castela hampir tersedak makannya sendiri saat Morgan tiba-tiba mengelus kakinya. Membuat bulu-bulunya merinding.
"Astaga,apa kau tidak bisa pelan-pelan saja mengunyahnya? Tidak akan ada yang meminta makanan mu sayang." Ucap Morgan panik lalu membantu Castela meminum air dari gelas yang ia bawa.
'Sialan! Enak saja dia menyalahkan ku, apakah dia tidak sadar jika perlakuannya barusanlah yang membuatku hampir mati tersedak!' umpat Castela dalam hati.
"Apa sudah lega?" Tanya Morgan.
Castela mengangguk,lalu dengan cepat menutup kembali gaunnya yang terbuka hingga Pahanya.
Morgan memperhatikan gerakkan Castela dan menatap tidak suka.
"Kenapa di tutup? Aku belum selesai memeriksa kakimu! Bagaimana jika nanti kau merengek lagi karena kakimu yang tiba-tiba sakit?" protesnya
"Aku tidak apa Morgan! Kau terlalu berlebihan!" Ucap Castela kesal.
"Berlebihan apanya?! Apa kau tidak ingat jika tadi pagi kau hampir terjatuh di kamar mandi karena kakimu yang membengkak? Untung saja aku cepat datang. Jika tidak, apa yang akan terjadi kepadamu dan anak kita? Aku hanya khawatir Castela! Aku hanya takut kehilangan kalian lagi,sudah cukup aku hampir kehilangan kalian karena kesalahanku waktu itu!" Ucap Morgan dengan nada setengah membentak, membuat Castela kaget dan tanpa sadar, matanya sudah berkaca-kaca.
Sepertinya hormon ibu hamilnya kembali datang. Morgan yang menyadari dirinya membentak Castela langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku El, maafkan aku,aku tidak sengaja membentak mu, maafkan aku. Aku hanya takut, maafkan aku." Ucap Morgan tulus sambil menciumi puncak kepala Castela.
Morgan terus memeluk Castela dan tidak melepaskannya meski tahu jika baju yang ia kenakan sudah basah akibat ulah istrinya. Kemudian ia melirik istrinya yang sudah tidak melakukan pergerakan itu. Dilihatnya istrinya itu sudah terpejam dengan nafas yang teratur.
Dengan hati-hati, Morgan menggendong Castela lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas ranjang.
__ADS_1
"Huh! Kenapa semakin hari tubuhnya semakin berat,aku jadi curiga jika anakku tidak hanya satu di dalam sana." Ucap Morgan lalu mengambil selimut dan menyelimuti seluruh tubuh Castela hingga lehernya.
"Selamat tidur sayang." Ucapnya memberi kecupan di kening dan bibir Castela sebelum akhirnya melangkah pergi keluar kamar dengan nampan di tangannya.