
...π¦ HAPPY READING π¦...
Erik memacu kudanya dengan cepat,namun juga hati-hati. Hanya bermodalkan penerangan dengan obor,ia mengawasi kereta kuda yang berisikan kedua pangeran kembar.
Hendri, pengawal pangeran Aiden terlihat begitu tegang. Erik bisa melihat ketegangan di wajahnya yang biasanya rajin tersenyum itu. Erik bukanlah tipe pemuda yang banyak omong,jauh berbeda dengan Hendri,yang memiliki sifat sama seperti pangeran Aiden.
Mereka baru saja menuruni lembah dan sekarang harus mendaki bukit yang lebih tinggi lagi. Sebenarnya bisa saja para pangeran menggunakan kuda,karena sangat membantu di perjalanan terjal seperti ini. Namun Marquis Steven dan Duke Marchel melarang keras. Karena kedua pangeran yang masih terlalu kecil,serta resiko mata-mata yang mengintai keselamatan mereka dan menyadari kepergian para pangeran.
Mereka sudah berkendara selama 2 hari,dan dari ingatan Erik, sebentar lagi mereka akan segera sampai. Setelah mendaki bukit ini,nanti mereka akan di arahkan pada jalan setapak yang berada di antara celah jurang. Dan Erik sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Mereka akan melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda milik Hendri dan juga Erik.
Erik benar-benar mengutuk kakek tua itu, bisa-bisanya dia memilih tempat tinggal dengan Akses jalan yang sangat menyulitkan di situasi segenting saat ini. Entahlah, padahal beberapa tahun lalu,saat ia di perintahkan Duke Marchel datang ke tempat kakek tua itu, sepertinya akses jalan ke sana tidak sesulit ini.
Tapi lagi-lagi Erik menghela nafas kasar. Ia melupakan satu hal ketika sibuk merutuki kakek tua itu,fakta jika kakek tua itu adalah seorang penyihir.
"Apa masih jauh lagi Erik?" Tanya Hendri di sela-sela hentakan kuda dan roda yang saling beradu dengan tanah, memecah keheningan diantara mereka.
Erik melihat ke arah Hendri yang berjaga di sisi lain kereta kuda. "Tidak, setelah ini kita akan memutuskan untuk berkuda. Di depan sana, adalah akses terakhir menuju ke rumah tuan Zargon. Kita akan meninggalkan kereta kuda di balik tebing!" Ucap Erik sambil menunjuk sebuah tebing yang jaraknya sudah tidak jauh dari mereka.
Hendri mengangguk,jujur saja dirinya benar-benar sudah merasa sangat lelah. Apalagi dirinya benar-benar mengkhawatirkan keadaan pangeran kembar. Selama perjalanan,mereka berdua tidak henti-hentinya untuk mengambil sikap waspada.
Jubah hitam yang menutupi seluruh bagian tubuh hingga kepala mereka, berhenti berkibar saat laju kuda kian memelan. Erik turun dari kudanya dan menghampiri pangeran kembar,disusul oleh Hendri yang mengikat kudanya di salah satu pohon berbatang sedang.
"Apa yang terjadi Erik? Apa kita sudah sampai?" Tanya pangeran Aidan saat menyadari jika kereta kuda yang mereka naiki telah berhenti.
__ADS_1
"Kita hampir sampai pangeran, hanya saja kita tidak bisa meneruskan perjalanan menggunakan kereta kuda. Saya akan meminta kusir kereta untuk kembali dan melapor Kepada Marquis Steven atau Duke Marchel jika kita sudah sampai dengan selamat. Kita akan meneruskan perjalanan menggunakan kuda,saya harap pangeran tidak keberatan. Jika pangeran merasa keberatan,kita bisa berjalan kaki saja." Ucap Erik serius dengan raut wajah datar,sama seperti biasanya.
Pangeran Aidan melirik ke adiknya yang sudah terlihat sangat kelelahan,lalu menghela nafas kasar. "Baiklah, lebih baik kita lanjutkan perjalanan dengan kuda. Kau telah bekerja keras dengan tanggung jawab sebesar ini Erik... Aku akan mengikuti semua perkataan mu, karena aku percaya kepadamu dan juga Hendri." Lanjut pangeran Aidan sambil sedikit tersenyum.
Erik mengangguk sebagai jawaban,ia lalu membantu Hendri untuk memindahkan pangeran Aiden ke atas kuda milik Hendri. Begitu selesai,Erik membantu pangeran Aidan untuk naik ke kuda miliknya. Kedua pangeran kembar duduk di depan dengan Erik dan hendri yang memegang pelana kuda mereka masing-masing.
"Paman, katakan kepada tuan Duke atau tuan Marquis,jika kami sudah sampai. Berhati-hatilah, selalu waspada." Ucap Erik kepada lelaki seumur Duke Marchel yang sedari awal bertindak sebagai kusir. Dia adalah salah satu Ksatria kepercayaan milik keluarga Ardeland.
"Baik,kalian berdua berhati-hatilah. Aku menitipkan kedua pangeran kepada kalian." Ucap lelaki itu tersenyum, sebelum akhirnya melajukan kudanya berbalik arah,melaju dengan kecepatan penuh.
Setelah melihat lelaki tadi pergi, Erik dan hendri pun memutuskan untuk menuruni tebing, melanjutkan perjalanan mereka.
"Erik,apa menurutmu perang benar-benar akan terjadi?" Tanya Hendri penasaran di sela-sela perjalanan mereka.
"Erik,aku tahu jika kau sudah pernah melihat ACASHA. Menurutmu, bagaimana sosoknya?" Tanya Hendri lagi demi mengusir rasa takut yang tiba-tiba menghinggapinya ketika mereka telah memasuki lereng yang benar-benar gelap dan mengerikan.
"Sempurna, sangat cantik seperti seorang Dewi." Ucap Erik ketika wajah lady Castela tiba-tiba melintas di otaknya, membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
Hendri yang melihat senyuman samar di wajah Erik ketika membahas tentang Lady Castela ikut terkekeh. "Dia pasti benar-benar sempurna. Bahkan... Hanya dengan membayangkan wajahnya saja, wajahmu sudah bersemu merah."
Erik yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu, jika temannya yang satu itu pasti sedang ketakutan. Hendri adalah pemuda bersurai hitam dengan netra berwarna coklat. Ia adalah sosok yang tangguh dan kuat. Kekuatan fisik dan ketangkasan pemuda itu tidak usah di ragukan lagi, itulah mengapa ia lolos dan terpilih menjadi pengawal pribadi pangeran Aiden.
Namun,satu kelemahan Hendri yang jarang diketahui orang-orang di balik wajahnya yang tampan dan sifatnya yang ceria serta humoris. Pemuda ini adalah sosok yang penakut. Dan kali ini,sisi penakut Hendri telah hadir menyapa.
__ADS_1
...πΌπΌπΌ...
BRAKK!!
Barang-barang yang semula tersusun rapih diatas meja rias itu, seketika berserakan diatas lantai. Camelia Menggerang marah ketika rencana yang telah ia susun rapih seketika hancur.
"Sialan! Dasar tidak becus! Bodoh! Apa aku membayar mahal kalian hanya untuk mendengarkan laporan ini?!"
Maki Camelia sambil menatap tajam beberapa orang lelaki berpakaian serba hitam yang berlutut di lantai dengan ekspresi takut. Menunduk,tidak berani menatap wajah tuan mereka yang sedang marah besar.
"KENAPA HANYA DIAM SAJA SIALAN! CEPAT PERGI! Cari kedua tikus itu sampai ketemu,aku tidak ingin kalian kembali jika tidak mendapatkan apa yang aku perintahkan! Jika kalian tidak kembali dengan berita bagus,maka siap-siap saja untuk kehilangan kepala kalian." Ucap Camelia emosi.
Sepuluh lelaki berpakaian serba hitam itu mengangguk cepat,lalu dengan secepat cahaya mereka melesat keluar dari jendela kamar milik Ratu Camelia.
Camelia mengepalkan kedua tangannya, seketika ia kembali teringat dengan percakapan Morgan kepadanya sebelum ritual dimulai.
"Morgan sialan! Sepertinya dia sudah mulai pintar sekarang. Bodoh! Bisa-bisanya aku kalah cepat dengan mereka. Morgan adalah lelaki bodoh, sepertinya kakak dan mereka sudah mulai bersekutu untuk melawanku."
Camelia bangkit dari duduknya. Ia berjalan diantara barang-barang yang berhamburan diatas lantai kamarnya yang dingin. Menuju ke jendela kamar,menatap jauh ke depan.
"Bahkan lagi-lagi aku harus berjuang sendirian. Ayah dan kakak yang aku bangga-banggakan, lelaki yang aku cintai,serta seluruh rakyat yang dulu begitu meng-agung kan namaku." Camelia tertawa miris, meratapi hidupnya yang benar-benar patut untuk di kasihani. "Tidak ada alasan lagi untuk tidak memusnahkan dirimu dari dunia ini, Castela." Lirihnya kemudian.
"Kau benar-benar harus mati!"
__ADS_1