
Bara tak menjelaskan sesuai keinginan sang istri. Dia hanya menjawab kalau Star Media memang sedang membutuhkan penanam modal lagi.
Sementara Dirgantara sebelumnya belum pernah menjamah bisnis media. Jadi apa salahnya kalau Bara membeli saham di sana.
Saham yang dibeli pun sudah di atas namakan sang istri.
Bara hanya akan menego beberapa direksi yang sekiranya tak begitu loyal dengan tuan Markus selaku direktur utama. Sehingga bisa menambah nilai sahamnya dan menjadikan sang istri menjadi dirut yang seharusnya sudah menjadi hak sang istri.
.
Hari resepsi atau pesta tiba. Elis yang tak mengerti permintaan sang suami untuk memakai gaun yang dicobanya beberapa hari lalu tentu saja menolaknya.
"Sayang, kok aku musti pakai baju ini lagi sih?" seloroh Elis.
"Terus kenapa kau juga pakai tuxedo segala?" imbuhnya.
"Biar keren" jawab Bara dengan terkekeh.
Elis hanya menatap sang suami yang tak jua mengatakan maksud dia harus pakai baju seperti itu.
Bahkan muka nya pun telah dirias sedemikian rupa menambah keanggunan seorang Elis Melati.
"Ayolah, jangan cemberut gitu dong" canda Bara.
"Tuh bibir sudah seperti rambut aja" tukas Bara.
Elis semakin bersungut menangapi candaan sang suami.
"Tuh kan, mau kukuncir?" seloroh Bara semakin senang menggoda sang istri.
Tamu-tamu yang diundang oleh Bara telah berdatangan.
Keluarga besar pun telah berkumpul. Tak lupa Bara juga mengundang orang tua mendiang Yasmin untuk datang.
"Terima kasih pak, sudah berkenan hadir dan memberi doa kepada kami" ucap Bara menyalami bapak Yasmin yang mulai kelihatan guratan menua saat mereka menemui Bara di belakang panggung.
"Kamu sudah kuanggap seperti putraku. Sudah selayaknya sebagai orang tua ikut mendoakan kebahagiaan putranya" ucapnya.
Elis pun ikut menyalami.
"Terima kasih sudah menerima cucuku, layaknya putri kandungmu nak" imbuh bapak Yasmin merangkul Elis.
Terlihat mata yang berkaca-kaca dari sepasang orang tua itu. Menantunya itu kini telah mendapatkan tambatan hati setelah bertahun-tahun menyendiri.
Bara menepuk bahu bapak Yasmin yang sedikit terguncang, "Makasih pak atas doa-doa baiknya" kata Bara menimpali.
Bara menunjukkan sisi romantis saat mereka berdua jalan bersama ke singgasana seharinya.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini?" kata Elis dengan mulut ternganga. Terkejut dengan pemandangan di depannya. Sebuah red karpet terbentang di depan mereka berdua.
"Kejutan" kata Bara pelan di samping Elis.
"Tutup tuh mulut. Bisa kemasukan lalat ntar" bisik Bara.
Semua yang memandang ke arah mereka bertepuk tangan, seakan Bara sedang menunjukkan sisi keromantisannya. Padahal yang dibisikkannya sungguh jauh dari kata romantis.
Elis mencubit lengan sang suami, karena gemas dengan kata-katanya.
Bara hanya mengulum senyum dengan tetap menggandeng sang istri dengan mesra.
Sekarang Bara dan Elis telah berada di depan, seakan mereka menjadi raja dan ratu untuk sehari ini.
Tuan Markus telah naik dan memberi ucapan selamat untuk mempelai.
Dia lumayan terkejut dengan wajah Elis yang menjadi istri Bara, CEO Dirgantara itu.
"Kenalkan tuan. Ini istriku Elis Melati" kata Bara mengenalkan sang istri.
Tuan Markus menyalami Elis dan Elis sedikit terkejut melihat kehadiran dirut Star Media itu.
Nyonya Mawar ikut bergabung saat Markus berada di sana.
Melihat semuanya, membuat seorang Markus lebih terkejut lagi.
"Apa kabar tuan Markus?" tanya nyonya Mawar yang tentu saja masih mengenal Markus.
"Makasih sudah datang" tukas nyonya Mawar.
"Kita sekarang rekan bisnis Mah" sela Bara di antara obrolan nyonya Mawar dan Markus yang masih berdiri di sana.
Momen kembali ramai saat Anjani ikutan naik untuk menyalami mempelai.
Dan wajah Markus lebih terkejut lagi melihatnya. Semua perubahan ekspresi Markus pun tak terlewatkan oleh Bara.
Bara tersenyum smirk. Siapkan jantungmu tuan Markus, akan kejutan-kejutan yang akan aku buat. Batin Bara.
Markus beserta istri turun, saat Anjani dengan gaya centilnya berada di atas pelaminan.
Saat Anjani turun dan hendak mengambil minuman, dia dihampiri oleh tuan Markus.
"Kenapa kau ada di sini?" telisiknya.
"He...he...jangan kepedean sayang. Laki-laki di atas sana itu dulu adalah sepupu iparku. Harusnya aku yang berada di sana mendampinginya. Tapi wanita uler itu lebih dulu mendapatkan" gerutu Anjani.
"Hah? Ternyata kita punya musuh yang sama" bisik tuan Markus.
__ADS_1
"Kok bisa?" selidik Anjani.
"Nanti kita atur pertemuan selanjutnya" lanjut tuan Markus.
"Gimana kalau kita naik aja? Kita bicarakan di sana. Aku nginap di sini loh. Sebagai keluarga tentunya" ucap Anjani.
"Setuju" singkat Markus.
"Istrimu?" sahut Anjani.
"Kusuruh pulang duluan lah" kata tuan Markus.
Markus meninggalkan Anjani setelah mendapatkan informasi kamar dan seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka berdua.
Anjani menenggak minuman yang diambilnya, dan menikmati hidangan di sana.
Seseorang menghampiri dan tanpa sungkan merangkulnya.
"Halo sayang" bisik mesra kedengaran di telinga Anjani.
Anjani menoleh, dan dilihatnya tuan Beni yang berada di belakangnya.
"Eh kau sayang? Kok ada di sini?" tanya Anjani.
"Jelas saja, kan aku juga dapat undangan. Dirgantara adalah rekan bisnis perusahaan kami" beritahu Beni dengan penuh percaya diri.
"Oh...sama istrimu?" sela Anjani.
"Ya enggaklah. Wanita lemah itu sedang bedrest di rumah" ungkap Beni.
"Makanya kau berani merangkulku di tempat umum" celetuk Anjani.
"Ada nggak ada istriku, aku akan memperlakukan sama terhadapmu" kata Beni.
"Haisss...pede amat kau ini" kata Anjani dengan senyum menggoda.
"Lama juga kita tak ketemu. Apa kamu nggak kangen?" rayu Beni.
Dan dengan bodohnya Anjani memberi tahu nomor kamarnya juga.
Semua pertemuan itu, antara Anjani dan Markus serta Anjani Beni. Sebenarnya telah disetting oleh Iwan. Tanpa mereka bertiga tahu.
Kok bisa? Rahasia othor itu mah...he...he...
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1
💝
ketik...ketik...sambil nikmatin livoli 🥰