Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 76


__ADS_3

Mama Clara memilihkan sebuah tas yang dirasa cocok untuk Elis, "Ini saja sayang" Mama Clara menyerahkan untuk dibayar oleh Maya.


"Eh Mah. Aku nggak ingin beli apa-apa" tolak halus Elis. Dia tak ingin dianggap memanfaatkan keadaan Bara yang sudah terlalu baik terhadapnya selama ini.


"Hei, kau sudah jadi menantuku sayang. Maka kau tak boleh menolak permintaan mamamu ini" tandas Mama Clara.


"Lagian Elis, santai aja. Mama bilang, kita juga harus rajin-rajin nggesek ini" senyum Maya menunjukkan black card unlimited punyanya.


Elis hanya mematung, ATM punya kak Maya kok aneh bentuknya. Pikir Elis.


Maya menyerahkan sebuah paper bag untuk Elis. "Ntar bilangin kak Bara, jangan lupa akan janjinya ya" ucap Maya sambil terkekeh.


"Kita ke klinik kecantikan langganan kita aja yuk May, sudah lama loh kita tidak ke sana" ajak mama Clara.


Sementara Elis, boro-boro ke klinik kecantikan. Saben hari kegiatannya cuma memikirkan bagaimana cara bertahan hidup.


"Elis, kok melamun sih. Buruan gih!" ujar Maya menarik lengan Elis yang masih belum beranjak.


Elis akhirnya mengikuti juga langkah sang mama mertua dan kakak ipar melangkah.


Meski beda usia, tak jarang orang yang berpapasan dengan mereka menatap kagum ketiga wanita cantik itu.


"May...sini sebentar" panggil Mama dengan sorot mata ke arah seberang.


"Apa Mah?" Maya dan Elis mendekat.


"Bukannya wanita di sana itu Anjani?" celetuk mama Clara.


'Deg...deg...' dada Elis berdegup. 'Apa mama Clara juga mengenalnya, apa sedekat itu hubungan suamiku dengannya?' benak Elis menerka.


"Loh, siapa lelaki setengah baya yang bersamanya itu?" mama Clara penasaran.


"Kita ambil fotonya ajah Mah. Susah-susah kak Bara biayain kuliah, malah endingnya membuat susah" seloroh Maya. Tak sadar kalau ada Elis di dekat mereka.


"Mama dan kak Maya juga kenal wanita itu?" seloroh Elis akhirnya.


"Loh, kamu pernah berjumpa dengannya?" tanya heran Maya.


"Kemarin dia datang ke apartemen" ujar Elis.


"Emang Anjani itu siapa sih kak?" tanya Elis daripada penasaran.


Menunggu penjelasan dari Bara nanti malam kelamaan, menurut Elis. Ada hati yang mulai panas ini sepertinya...he...he...


"Nanti aja. Itu tugasnya Bara yang wajib menceritakan ke kamu. Yang pasti dia itu tidak ada hubungan istimewa dengan suami mu itu" seloroh mama Clara.


Ucapan mama Clara sedikit menenangkan Elis.


"Ayo Mah. Kita kok malah nggibahin si Anjani. Nggak ada gunanya juga" imbuh Maya. Dan mengajak untuk ke klinik kecantikan yang ada di mall itu juga.


Elis sangat dimanjakan dalam treatment kali ini. Treatment yang seumur-umur baru dicobanya.


Ponselnya berdering, lagu kasih putih milik Glenn Fredly mengalun sangat indah.


"Halo sayang" ucap Elis.


"Masih sama mama dan Maya?" tanya Bara.


"Iya, ini malah diajak mama sama kak Maya ke klinik kecantikan langganannya" cerita Elis.


"Kalau perlu kamu ikutan treatment juga, biar efek semalem langsung hilang. Dan nanti malem siap dilahap lagi" kata Bara sungguh tanpa filter.

__ADS_1


"Hheemmmmm...maunya" ledek Elis.


"Tapi aku nggak biasa dengan hal seperti ini" kata Elis segan. Baru sehari menjadi istri tuan Bara, sudah banyak menghabiskan uang miliknya.


Padahal untuk beli tas dan juga biaya perawatan kali ini, cukup untuk biaya hidup setahun bersama keluarganya.


"Sayang, nggak apa. Sebagai seorang suami aku juga wajib memberi nafkah lahir untuk istri" jelas Bara.


"Tapi aku boros sekali sayang" sahut Elis.


"Ha...ha...penghasilanku sehari lebih dari itu sayang. Jadi nggak usah kuatir" Bara tertawa menanggapi ucapan sang istri.


Maya dan mama Clara, menertawakan Elis yang sedang berbicara dengan Bara.


"Wanita polos, bahkan dia tak tahu seberapa kaya suaminya" celoteh Maya.


"Kamu juga dulu seperti Elis" imbuh mama Clara.


"Ha...ha..." kedua wanita itu tertawa bersama disambut tatapan Elis.


"Sudah lanjutin aja ngobrol sama suamimu itu. Anggap aja kita tak ada" ledek Maya. Elis sampai malu menanggapi ledekan sang kakak ipar.


Maya menuju meja kasir setelah semua selesai perawatan.


"Sebelum pulang, kita makan aja dulu" ajak mama.


Maya dan Elis menuruti kemauan wanita yang dihormatinya itu.


Sambil menunggu makanan datang, mereka ngobrol. Kadang tawa berada di sela obrolan mereka.


Elis tak sengaja menangkap sosok yang dikenal olehnya.


"Mah, kak aku ke sana sebentar" Elis beringsut dari duduknya untuk menemui sosok laki-laki yang sangat dikenal olehnya.


"Siapa itu Mah?" tanya Maya. Mama Clara mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.


Maya berinisiatif mengambil gambar Elis yang sedang ngobrol dengan sosok laki-laki muda dan mengirimkan ke Bara.


Bukan untuk menghasut keduanya, tapi sekedar memberi informasi. Barangkali saja Bara sudah mengenal laki-laki itu.


"Siapa yang bersama istriku?" bunyi pesan Bara.


"Mah, kak Bara malah belum mengenalnya?" ucap Maya sambil menunjukkan bunyi pesan Bara.


"Kita lihat saja. Tak mungkin Elis mengkhianati Bara, sementara ada kita di sini" jelas Mama Clara.


"Benar juga sih Mah" Maya mengusap tengkuknya.


Elis telah kembali duduk di kursinya kembali.


"Maaf kak, Mah...ada gangguan dikit" ucap Elis.


"Nggak apa-apa. Ayo makan" ajak Maya. Maya tak ingin mengorek siapa laki-laki itu sebelum Elis mau bercerita.


"Dia teman komplotan ku dulu Kak" ucap Elis tiba-tiba.


"Jadi aku menemuinya untuk tidak menjalankan aksinya di sini" jelas Elis.


Mama Clara dan Maya saling pandang.


"Bahkan kak Mayong dan suamiku telah membahas ini. Karena kemarin kejadian juga di rumah sakit" cerita Elis.

__ADS_1


"Benarkah? Jaringannya ternyata luas sekali ya?" penasaran mama Clara.


Elis menunduk malu. Bagaimanapun juga, dulu dia termasuk di dalamnya.


Maya menepuk bahu Elis, tau perasaan yang dirasakan oleh Elis saat itu.


.


Tak dinyana, Bara datang saat mereka bertiga sedang asyik menikmati makanannya.


"Halo semua" Bara langsung saja duduk di antara sang istri dan mama nya.


"Idih, ngapain datang. Gangguin aja me time kita bertiga" seloroh Maya.


"Kenapa? Aku mau jemput istriku" sergah Bara.


"Mentang-mentang sudah punya istri. Dulu aja suruh nikah, jawabnya entar-entar" ledek mama Clara.


"Sekarang beda Mah, bawaannya mengurung istriku ini di kamar terus" seloroh Bara seenaknya, bahkan membuat Elis malu.


"Mah, nanti Agni biar di mansion mama dulu ya?" rajuk Bara.


"Hhmmmm...maunya" sela Maya.


"May, mana orangnya?" tanya Bara tiba-tiba.


"Orang yang mana?" Maya belum ngeh arah pertanyaan Bara.


"Orang yang berani ngobrol dengan istri dokter Bara"


"Oooooo...jadi tadi ke sini dalam rangka cemburu????" sahut mama Clara.


"Tanya tuh Elis" seloroh Maya.


"Emang ada apa kak?" tanya Elis yang tak tahu kalau gambarnya yang sedang ngobrol dengan seorang laki-laki dikirim oleh Maya.


"Cerita saja, kamu tadi ngobrol sama siapa saja" suruh Mama.


"Bukannya ngobrol sama mama dan kak Maya ya?" Elis malah balik bertanya, membuat Maya menepuk jidat.


"Siapa laki-laki yang kau ajak ngobrol ini?" ucap Bara serius sambil menunjukkan gambar di galeri ponselnya.


Elis menatap Maya. "Iya, emang aku yang ngirim gambarnya" Maya mengakui.


Bara menatap Elis intens, menunggu penjelasan dari sang istri.


"Dia itu temannya pak Catur juga" ucap Elis.


Mendengar ucapan Elis. Bara sudah bisa menebak, kalau laki-laki itu adalah teman sekomplotan.


"Pencopet juga?" tebak Bara dan Elis pun mengangguk.


Bara mengelus rambut sang istri yang menunduk.


"Benar apa kata kak Mayong, aku harus segera menindak mereka. Terutama yang beraksi di area sini dan rumah sakit. Bisa membuat resah pengunjung. Dan bisa berimbas ke semuanya" celetuk Bara.


Tak lama Mayong dan papa Suryo juga hadir di tengah mereka.


"May, me time macam apaan ini?" canda mama Clara dan dijawab tawa oleh Maya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


πŸ’


__ADS_2