Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 31


__ADS_3

Bara dibuat pusing oleh permintaan papa dan mamanya. Bara tak habis pikir, bagaimana bisa orang tuanya meminta dirinya mengajak gadis pencopet itu untuk datang ke mansion. Sungguh tak masuk akal, batin Bara.


Bara membolak balikkan badannya di tempat tidur. Bagaimana caranya mencari alasan untuk menolak permintaan papa dan mamanya tadi. Tapi kalau papa sudah bilang, mana bisa ditolak. Bisik hatinya yang lain. Bara sampai mengacak-ngacak rambut pendeknya, frustasi.


"Ya sudahlah, kucoba aja menghubungi gadis copet itu. Itung-itung menyenangkan orang tua kan berpahala" gumamnya.


Bara membuka ponsel dan menscrol semua kontak yang ada di sana. "Kok nggak ada kontak dia??" Ya jelas saja tak ada, Bara tak pernah memintanya.


"Coba tanya Iwan sajalah" celetuk Bara.


"Halo Tuan, baru pulang aku. Please jangan kau suruh lembur hari ini Tuan" ucapnya penuh nada kepasrahan hidup.


"Hei, sapa yang mau nyuruh kau lembur. Aku cuma nanya apa kamu punya nomer gadis pencopet itu" ucap Bara agak malu-malu. Seumur-umur baru kali ini nanyain kontak seorang cewek ke orang lain.


"Hah? Gadis copet? Buat apaan? Jangan bilang kalau mau kau ajak kencan Tuan" seloroh Iwan.


"Sudah jangan bilang banyak kata. Punya nggak nomer kontaknya? Buruan!!!" potong Bara.


"Ha...ha....sabar dikit napa sih Tuan. Oke kucari dulu ntar kukirim. Wait" ucap Iwan menutup telponnya.


Hampir lima menit Bara menunggu pesan dari Iwan. "Lama kali dia" ucap Bara.


Tring...sebuah pesan masuk dan langsung dibuka oleh Bara. Sebuah nomer ponsel dari Elis, dan langsung di save oleh Bara.


Bara mencoba mengetikkan sesuatu...ketik... hapus...ketik...hapus...karena tak yakin apa yang akan dia bilang ke gadis pencopet itu.


"Bagaimana ya cara ngomongnya? Hadech...papa dan mama buat kurepot aja" ucap Bara gusar.


Bara mengetikkan kata selamat malam di aplikasi pesannya. Bara yang kehausan mencoba meraih gelas air minum di nakas. Tak sengaja menyenggol layar ponsel, sehingga ucapan selamat malam itu pun terkirim.

__ADS_1


"Haduh, bagaimana ini. Bisa ke-geer-an dia" ucap Bara kebingungan. Baru kali ini seorang CEO, dokter spesialis anesthesi dan seorang duren, dibuat kelabakan hanya karena ucapan selamat malam yang diketiknya.


Di kediaman Elis. Elis yang baru selesai bercerita dengan mama tentang kepulangannya yang lebih awal dari biasanya masuk ke kamar.


"Hari yang berkesan", gumam Elis merebahkan diri.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel yang lumayan jadul miliknya. Elis melirik layar, nomor tak dikenal. Biarin aja. Elis trauma karena beberapa kali nomor tak dikenal sering menerornya yang ternyata anak buah juragan Darto yang mencoba menagih hutang.


Sementara Bara bolak balik mengecek pesan yang dikirimkan tadi, meski hanya ucapan selamat malam.


Sudah terkirim tapi kenapa nggak kebaca-baca sih. Bara mulai galau...he...he...


Sok jual mahal, umpat Bara dalam hati.


Bara keluar kamar, perutnya terasa keroncongan karena terus memikirkan permintaan papa dan mama.


Di meja makan ternyata telah berkumpul lengkap papa, mama dan keluarga Mayong beserta ekor-ekornya (Raja, Ghalya, Ghina, dan Ghania) serta Agni.


"Duduk Bar" celetuk Mayong.


"Tak kau suruh duduk pun, aku tetep akan duduk kak" tukas Bara.


"Gimana? Besok abis ngantar Agni jangan lupa bawa gadis yang sudah kau bawa tadi ke sini" ulang papa Suryo.


"Nggak janji" sela Bara.


"Nggak usah banyak alasan, gadis yang telah kau bawa itu harus kau ajak kesini" tandas papa Suryo serius.


"Pah, aku kan sudah bilang tadi. Lagian aku ngajak dia juga ada putriku di dalam mobil" bela Bara.

__ADS_1


"Bahkan dia juga kau lindungi dari serangan preman yang mencoba mengeroyoknya. Benar apa salah?" lanjut papa Suryo.


Bara diam tak menyahut.


Bara tak heran, papa pasti sudah menyelidiki semuanya. Tak mungkin orang tua itu menyuruhnya kalau tak menyelidiki dulu gadis yang sudah kubawa tadi, batin Bara.


"Lantas apa salahnya sih Bar, kau bawa Elis ke sini?" tukas Mayong.


"Salahnya dia itu bukan apa-apaku kak. Lagian dia kukirimi pesan juga tak balas. Gadis macam apa itu?" celetuk Bara.


"Jadi kalian sudah saling berkirim pesan?" sela mama Clara.


"Haduh, salah ngomong lagi gue" ucap Bara lirih. Semua menertawakan Bara.


Mereka melanjutkan obrolan di meja makan bersama, dan trending topik yang dibicarakan adalah Bara. Sementara anak-anak telah berada di ruangan lain begitu menyelesaikan makan malamnya. Bara sampai jengah berada di tengah obrolan itu karena kali ini dialah yang menjadi obyek bullian keluarganya.


"Besok pokoknya harus kau bawa Elis ke sini. Entah bagaimanapun caranya. Titik" ucap tegas mama Clara tanpa bisa dibantah Bara lagi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading 😊


Bunga sepatu bunga matahari, othor usahakan up tiap hari


Bunga matahari indah warnanya, setelah up jangan lupa vote-nya


Bunga lily ditaruh ember, kasih like komen biar karya ini populer


Follow IG author ya

__ADS_1


@moenaelsa_


💝


__ADS_2