Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 74


__ADS_3

Saat makan malam berdua, Bara menerima pesan dari Mayong.


Dahi Bara berkerut saat membaca pesan dari kakaknya itu.


"Ada apa? Serius amat?" tatap Elis yang barusan selesai menata makan malam yang dipesan oleh sang suami.


Bara menunjukkan sebuah foto yang dikirim oleh Mayong kepada Elis.


"Kok tuan Mayong punya foto nya Pak Catur?" selidik Elis dan merasa heran melihatnya.


"Panggil kakak juga, Kak Mayong itu kakak ku" suruh Bara.


"Iya...maaf belum terbiasa sayang" tukas Elis.


"Harus dibiasakan" seloroh Bara sambil menyuapkan nasi yang telah diambilkan Elis barusan ke mulutnya.


"Eh bentar, kenapa kau bisa mengenal orang yang dikirim kak Mayong tadi?" selidik Bara.


"He...he...aku harus jujur atau bagaimana ya. Kalau mengingat semua, aku jadi malu sendiri" Elis malah tertawa.


Bara masih menatap Elis, menunggu jawaban dari istrinya.


"Sayang, apa kau mengenalnya?" ulang Bara.


"Aku mengenalnya sayang. Dia itu namanya pak Catur" Elis mulai bercerita.


"Kok bisa kenal dengan pencuri?" tukas Bara.


"Bisa lah. Ingat sayang aku ini mantan copet" ucap Elis.


"Heemmm" Bara mencoba menelaah.


"Apa kau satu sindikat dengan orang itu?" Bara menimpali.


Sambil makan mereka berdua malah terlibat obrolan yang membahas masa lalu Elis.


"Bisa dibilang begitu" jawab Elis.


"Pak Catur itu nasibnya lebih mengenaskan dariku sayang" Elis menyuapkan nasi ke mulut dan mengunyahnya perlahan.


"Kamu tahu detail?" imbuh Bara.


"Dia orang yang mampu awalnya dan juga orang yang baik. Usahanya ditipu mentah-mentah oleh seorang temannya. Dan buruknya, temannya itu meninggalkan hutang yang tak sedikit atas nama pak Catur" lanjut Elis.


"Dan seperti diriku, akhirnya pak Catur bertemu dengan juragan Darto si rentenir tak punya hati itu. Maka dijadikanlah kami mesin pencetak uang bagi kelompoknya" Elis menarik nafas panjang mengakhiri ceritanya.


Bara manggut-manggut, mulai mengerti kronologis Elis menjadi copet.


"Maafkan aku ya, yang pernah memasukkan kamu ke bui" ucap tulus Bara.


"Ah, lupakan saja. Malah saat itu aku senang berada di penjara. Karena tak perlu lagi menghindar dari kejaran anak buah juragan Darto...he...he...." Elis terkekeh.


"Aneh" Bara menimpali.


Elis tertawa lepas.


"Jadi tiap hari kalian disuruh kerja, dengan beberapa preman yang mengawasi" Bara mengorek keterangan dari sang istri.


"Kok tahu???" Elis juga penasaran karena Bara juga tahu akan hal itu.


"Kamu ingat nggak saat aku menangkap basah kamu sedang mencopet di mall Dirgantara?" tanya Bara.


"Ya ingatlah. Mana bisa aku melupakan makhluk ciptaan Tuhan yang super tampan itu. Apalagi tatapan dingin nya saat itu, membuat aku bergidik ngeri" sindir Elis membuat Bara tertawa lepas.


"Jadi kau ngaku kalau suamimu ini tampan?" Bara mencuri ciuman di pipi Elis karena gemas.


Elis mencebik.

__ADS_1


"Mau kugigit tuh yang lagi manyun?" goda Bara.


"Ceritain dong? Kok bisa tahu kalau ada preman yang menungguiku" tanya Elis balik ke tema awal.


"Nggak sengaja tahu" jawab Bara enteng.


"Nggak seru jawabannya" sungut Elis.


"Loh, memang begitu adanya. Saat kau kutinggalin di tempat security, dan ke parkiran mall nampak ada beberapa preman yang sedang membicarakanmu" Bara menceritakan yang diketahuinya.


"Emang banyakkah anak buah juragan Darto?" penasaran Bara.


"Banyak lah. Mereka itu sudah seperti sindikat. Bagi mereka pencopet dan pencuri seperti kami ini hanyalah kecil" imbuh Elis.


"Kalau rumah mama nggak dipindahkan oleh tuan Iwan, nggak mungkin hidup kami tenang sayang. Untuk itu aku ucapin makasih ya" Elis meminum air putih yang berada di depannya.


Bara tersenyum simpul.


"Sekarang ceritain, kenapa kamu terima lamaranku?" Bara mengalihkan topik bicara.


"Apa karena aku tampan, apa karena aku seorang dokter, apa karena aku kaya, apa karena Agni" semua disebutkan oleh Bara.


"Karena kamu baik. Klise nggak alasanku?" Elis menimpali.


.


Bara pamit ke ruang kerja sementara Elis membereskan meja makan.


Bara mencoba menelpon Mayong.


"Kak, sudah tidurkah?" tanya Bara ketika penggilannya tersambung.


"Belum, kan lagi kau telpon. Gimana sih?" jawab Mayong.


"Aku ada cerita seru, yang ada kaitannya dengan pesan yang kau kirimkan tadi" ucap Bara.


Bara menceritakan apa yang diketahuinya dari Elis kepada sang kakak.


"Meresahkan sekali ulah mereka" gerutu Mayong terdengar.


"Bar, harus kau selesaikan itu. Terutama kejadian di mall dan rumah sakit tadi siang. Nama Dirgantara sudah dicoreng itu" celetuk Mayong serius.


"Kalau masalah yang lain, serahkan saja kepada yang berwajib" saran Mayong.


"Oke Kak" jawab Bara dengan tegas.


Elis masuk dengan membawa secangkir kopi yang masih mengeluarkan asap panas.


"Sayang, boleh lihat televisi ya?" ijin Elis.


"Loh, rumahku sekarang rumahmu juga sayang. Kalau mau lihat ya lihat saja" jawab Bara.


"Masalahnya aku nggak tau cara menyalakan dan memindah chanelnya" imbuh Elis menjelaskan.


"Loh, selama ini siapa yang menyalakan?" tanya Bara.


"Agni" jawab Elis dengan padat dan singkat.


"Lah, di rumah kan hanya ada televisi kuno sayang. Paling dinyalainnya sebulan sekali" lanjut Elis.


"Kok bisa?" Bara merasa aneh dengan cerita Elis.


"Soalnya penghuninya sedang sibuk mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian. Pergi pagi pulang pagi" imbuh Elis.


"Oooooo...hidupmu seperti beberapa judul lagu yang dirangkai ya????" canda Bara.


"Kalau gitu kutemenin nonton yuk, sekalian telpon Agni" Bara keluar dari ruang kerja, sementara Elis membawa kopi yang belum diincip sama suaminya.

__ADS_1


.


Bara akan langsung ke rumah sakit pagi ini. Karena telah ditelpon oleh ruang bedah sentral.


Baru setelahnya ke Dirgantara.


"Sayang, aku ke rumah sakit dulu ya!" pamit Bara dan beringsut dari duduk.


"Ingat, kalau tak kenal nggak usah bukain pintu. Apalagi seperti wanita kemarin!" pesan Bara sebelum pergi.


"Kayaknya suamiku ini hutang penjelasan dech" tukas Elis.


"Ntar malam aja ya. Aku buru-buru nih...he...he..." Bara mengecup kening istri.


Elis menyalami dan mencium punggung tangan Bara sebagai tanda bakti.


Adem bagi yang melihatnya.


Saat di jalan Bara menelpon Iwan. "Iwan, kelanjutan penyelidikan tentang juragan Darto bagaimana?"


"Loh, perlu dilanjut kah?" tukas Iwan.


Bara hanya bisa menepuk dahinya sendiri.


"Habis ini lanjutkan penyelidikanmu!!! Karena kemarin orang-orangnya sudah menyasar ke rumah sakit Suryo Husada. Untung ada kak Mayong menemukan salah satunya" perintah dan cerita Bara.


"Siap tuan" Iwan menutup panggilan dari Bara.


Bara baru teringat kepala sipir yang bernama Soni. Saat sampai di rumah sakit, dan berjalan di lorong Bara menelpon Soni.


"Selamat pagi tuan Bara, ada perlu apa sekiranya menelpon pagi-pagi?" jawab Soni.


"Hanya ingin menanyakan kabar tuan Beni" tandas Bara.


"Dia kabarnya baik tuan Bara, setelah dua hari kemarin babak belur karena dihajar teman satu selnya" Soni menanggapi.


"Oke, baiklah kalau begitu. Nanti siang aku mampir sebentar untuk menemuinya" ucap Bara.


.


Dan benar saja, setelah acara operasi selesai. Bara mengemudikan mobil ke arah lapas tempat di mana pak Beni ditahan.


Bara menunggu di ruang biasa keluarga mengunjungi warga binaan.


"Selamat siang tuan Bara. Apa kau akan menjadi orang sok pahlawan lagi?" ucap sinis pak Beni. Pak Beni yang belum mengetahui pernikahan Bara dengan Elis.


"Ha...ha...aku ke sini tak ada hubungan dengan gadis yang kau akui putrimu itu" tandas Bara.


"Lantas?" picing mata pak Beni mulai curiga.


"Apa yang kamu tahu tentang Starco?" tanya Bara untuk memancing informasi dari pak Beni


"Tak ada" sahut pak Beni.


"Really?" Bara menautkan alisnya.


Bara sebenarnya sudah mengetahui detail tentang Starco yang dianggap sebagai perusahaan pailit itu. Dan sekarang telah berganti nama menjadi Star Media.


Bara sengaja memanasi pak Beni, agar mau mengungkap apa yang terjadi sebenarnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Like, vote, komen othor tungguin yah 🤗😊


💝

__ADS_1


__ADS_2