
Terdengar klakson mobil yang berhenti di depan kontrakan Elis.
"Mah, sepertinya itu tuan Bara. Aku pamit dulu" Elsi beranjak dari duduk. Mama Mawar membawakan makanan seperti yang diminta oleh putrinya.
"Makasih Mah" Elis memeluk sang mama untuk pamitan.
"Salam buat Chyntia ya. Aku pergi dulu" Elis melangkah keluar pintu.
Bertepatan dengan itu, terdengar tepuk tangan di samping Elis.
"Wah...wah...kebetulan ini anaknya ada di rumah" orang itu menghampiri Elis.
"Siapa kamu?" Elis menjauhkan posisinya dari orang itu.
"Ha...ha...jangan pura-pura lupa kamu. Hutang ayahmu masih banyak di juragan Darto" beritahunya.
"Ha...ha...tagih saja ke orangnya. Kalian tau kan dimana pak Beni sekarang" jawab Elis tertawa sarkas.
"Hhmmm makin berani saja dia. Begini saja kalau kau tak mau membayar hutang ayahmu, kau ikut saja dengan kami. Mumpung juragan Darto sedang baik hati mau menikahimu" celetuk orang itu.
"Cih...mana mau aku sama bandot tu4 seperti dia" kata Elis yang mulai naik beberapa oktaf suaranya.
Ketiga orang itu memaksa Elis untuk ikut dengan mereka.
Lagi-lagi terdengar tepuk tangan. Sekarang posisinya di belakang ketiga orang itu.
"Berani-beraninya kalian? Teman-temanmu sudah meringkus duluan di penjara, kalian mau nyusul? Dasar manusia bodoh" umpat seseorang, yang ternyata adalah Bara.
Elis beringsut menjauh mendekati sang mama, kala ketiga orang itu berbalik menatap Bara.
Ketiga orang itu memandang sinis Bara. "Siapa kau? Jangan turut campur!" ancam salah satunya.
"Urusan nona Elis sekarang menjadi urusanku juga" imbuh Bara.
"Ha...ha....sejak kapan?" ledek yang lain.
"Sejak teman-teman kalian menjadikannya seorang pencopet di mall Dirgantara" tandas Bara.
Ketiganya bersiap menyerang Bara. Mereka tak tahu saja sabuk warna apa yang telah dikuasai oleh Bara.
Dengan sedikit gerakan, Bara telah berhasil meringkus ketiganya.
"Kalian bilang ke juragan Darto, kalau tak terima dengan ini. Datang saja ke Dirgantara" tantang Bara.
"Kutunggu di sana" imbuh Bara.
Mereka bertiga lari terbirit-birit meninggalkan Bara dan Elis.
"Makasih tuan" ucap mama Mawar.
"Sama-sama nyonya. Jika ada kejadian seperti ini lagi, tolong kabari Elis. Biar dia laporan kepada saya" tukas Bara.
"Maaf tuan, kami tidak mau merepotkan anda lagi" Mama Mawar menimpali.
Bara dan Elis telah berada di mobilnya sekarang.
"Apa seperti itu saben hari?" Bara menunggu penjelasan Elis.
"Sepertinya begitu tuan. Anak buah juragan Darto tak henti-hentinya meneror mama dan adikku" jelas Elis.
"Semua karena ulah pak Beni" lanjut Elis terdengar menahan rasa geram.
__ADS_1
"Apa mamamu pindah aja kontrakannya?" usul Bara.
"Apa itu akan menyelesaikan masalah tuan?" tanya balik Elis.
"Bisa sih, tapi sementara. Sampai anak buah juragan Darto menemukan kembali kontrakan baru mama mu" Bara terkekeh.
"Nggak lucu tuan" sungut Elis. Elis lupa pa gimana itu, mulai berani menyela ucapan sang tuan.
Bara semakin terbahak melihat ekspresi Elis saat ini. Tawa Bara malah membuat Elis semakin bersungut karena merasa diledek oleh Bara.
"Sori...sori..abis lucu banget ekspresimu" Bara menghentikan tawanya.
"Suruh pindah aja mama kamu, siang ini Iwan biar nyarikan. Sore suruh pindah" perintah Bara yang terdengar memaksa di telinga Elis.
"Buat keamanan mama mu" imbuh Bara.
Elis hanya bisa mengangguk pasrah. Elis tak mengerti tujuan sang bos memindah kontrakan mamanya selain karena alasan keamanan.
"Jangan banyak kau pikirkan, ini juga demi keamanan kalian semua. Sewaktu kita pergi, kamu nggak kepikiran sama mama kamu lagi" perjelas Bara.
"Baik tuan" singkat Elis.
"Hhmmmm" sahut Bara hanya dengan gumaman.
Agni ternyata telah keluar kelas saat Elis menjemput. "Mamah..." hambur Agni ke pelukan Elis.
"Wah, sayang mama lama nggak nungguin tadi?" tanya Elis.
"Nggak kok Mah" Agni menggandeng Elis menuju mobil Bara yang terparkir.
Elis menaruh tas Agni di belakang. Agni pun masuk di belakang. "Loh kok disitu?" tanya Bara.
"Iya, biar papa sama mama di depan" celoteh Agni.
"Pah, kata temenku kalau di mobil papa sama mama nya saling berpegangan. Mama dan papa kok nggak?" tanyanya polos.
Bara membuang mukanya kasar, menoleh ke kanan melihat jendela mobil. Demikian juga Elis.
'Bahaya bener nih anak' gumam Bara dalam hati.
"Pah, kapan mobilnya jalan?" ucap Agni lagi.
"Oke, kita pulang" tukas Bara.
.
Bara telah berganti baju rumahan. Mungkin hanya Elis yang tau gimana gokilnya Bara saat bermain dengan putrinya.
Elis menyiapkan makan siang untuk Bara dan Agni. Untung saja mama bawain lauk ni tadi, gumam Elis.
"Agni sayang, makan siang sudah siap" panggil Elis.
"Kok cuma Agni aja, papa nya nggak?" celoteh Bara.
"Eh..iya tuan sekalian" Elis tergagap.
"Kalau sedang di rumah panggil abang aja" ucap Bara tanpa menatap Elis yang terbengong. Sementara mata Bara fokus menatap ayam bakar dengan urap sayur di atas meja makan.
"Makanan apa ini?" tanya Bara penasaran.
"Sayur tuan" tukas Elis. Alhasil mata Bara melotot ke arah Elis.
__ADS_1
"Eemmmm...sayur bang" ucap Elis sedikit kikuk.
"Iya aku tahu, tapi kok baru ini aku melihatnya" sambung Bara.
"Ini namanya urap sayur. Sayur yang dicampur dengan sambal kelapa muda. Mau coba?" Elis mengambilkan untuk Bara.
"Ini kalau orang luar negeri mungkin bilangnya salad ya?" Elis tertawa.
"Hhmmm...enak. Kapan-kapan minta mama buatin lagi aja" kata Bara yang tak sengaja menyebut nyonya Mawar dengan kata mama.
Agni juga lahap makan ayam bakar yang dibuatin nyonya Mawar.
Bara bahkan sampai nambah nasi dua kali. Antara senang dan lapar jadi satu...he...he...
"Kenyangnya" Bara mengelus perutnya yang terasa begah sekarang.
Elis hanya tersenyum menanggapi ulah Bara.
"Agni, abis ini bobok siang dulu ya" Elis beralih ke sang putri.
"Ditemenin mama" rajuknya.
"Iya mama temenin, tapi di kamarnya mama aja ya" bisik Elis tidak mau kedengaran Bara.
"Di kamar sana aja" tolak Agni dengan suara yang lumayan keras.
Bara melihat ke arah mereka.
"Apaan sih Agni?" selidik Bara.
"Ngajakin mama tidur di kamar sana" tunjuk Agni ke kamar utama.
Bara terdiam. Dia malah teringat saat tak sengaja memeluk Elis malam kemarin.
"Pah, boleh ya?" Agni menepuk bahu papa nya.
"Iya...iya..." akhirnya Bara menyetujui.
Bara berlalu ke ruang kerja untuk mengurangi interaksi dengan Elis.
Ponsel Bara berdering menunjukkan ada panggilan telpon masuk.
"Halo Iwan, gimana sudah beres untuk berangkat besok?" tanya Bara.
"He...he...malah belum kusiapin. Aku mau melaporkan kalau tugas tambahan hari ini sudah kuselesaikan. Kontrakan dapat di daerah barat kota. Hawanya sejuk dan lumayan aman tuan. Laporan selesai" kata Iwan.
"Suruh anak buahmu bantuin pindahan!" suruh Bara lagi.
"Ini di luar job disk ku tuan. Jangan lupa bonusnya" lanjut Iwan terkekeh.
Bara tak menanggapi tapi malah memberi perintah tambahan lagi untuk Iwan.
"Besok berangkat pakai pesawat komersil aja"
"Loh, kenapa nggak pakai pesawat pribadi aja tuan. Waktunya lebih fleksibel" imbuh Iwan.
"Jangan banyak nanya, tinggal pesen tiket aja apa susahnya sih" Bara menutup panggilan Iwan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 🤗
__ADS_1
Senin, ditungguin vote nya 😆
💝