Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 50


__ADS_3

Sesampai di apartemen terjadilah drama yang dibuat oleh Agni. Anak kecil itu ingin tidur ditemani oleh Bara dan juga Elis.


"Pah, aku juga ingin seperti abang Raja dan kakak kembar. Mereka kalau mau tidur ditemani papa Mayong dan mama Maya" ucap Agni sambil menangis karena permintaannya ditolak oleh papanya.


"Kan sekarang ada miss Elis. Anggap saja miss Elis jadi mamaku" Agni semakin menunjukkan tantrumnya.


Bara bahkan tak tau harus menjawab apa. Semakin dituruti, Agni akan semakin menuntut lebih. Tapi kalau tak dituruti kasihan juga.


"Kali ini aja pah" rajuk Agni agar diijinkan papanya.


"Begini saja sayang, papa kan harus nelpon Om Iwan. Ada kerjaan yang musti dirapatkan malam ini. Gimana kalau Agni bobok dulu sama miss Elis?" bujuk Bara ke sang putri.


Akhirnya sang anak menyetujui usulan papa nya. "Tapi papa nanti nyusul ya?" seloroh Agni.


"Papa nggak janji, Om Iwan bicara nya suka lama" Bara beralasan dengan membawa nama-nama Iwan. Padahal Iwan tak tahu apa-apa.


Elis terdiam sedari tadi. Bingung juga mau bicara apa. Menanggapi permintaan anak kecil yang ingin tidur bersama. Hadech, ada-ada saja permintaannya, batin Elis.


Kebetulan ponsel Bara berbunyi. Panggilan dari bedah sentral. Kesempatan menghindari permintaan sang putri kali ini.


"Halo selamat malam dengan dokter Bara" jawab Bara setelah menerima panggilan telpon.


"Malam dokter, maaf mengganggu malam-malam. Ada cito operasi dengan dokter Alex. Biasa persalinan macet" suara di ujung.


"Baiklah" jawab Bara tanpa banyak kata.


"Agni, tuh papa ada panggilan operasi" kata Bara sesaat setelah menutup panggilan telpon dari rumah sakit.


"Katanya mau rapat sama om Iwan?" tanya Agni karena masih mengingat ucapan sang papa sebelumnya.


Bara menggaruk kepala yang tak gatal. "Papa tunda abis papa operasi. Biar Om Iwan nungguin papa sampai malam...he...he..." gurau Bara.


"Kasihan Om Iwan Pa" celetuk Agni.


Kok malah kasihan kepada Iwan sih, padahal yang banting tulang untukmu kan papa Agni. Ucap Bara dalam hati.


"Elis, kamu temeni Agni tidur. Di kamar utama saja. Aku nggak tau pulang jam berapa" ucap Bara.


"Apa biar di kamar yang kutempati saja tuan?" celetuk Elis, merasa sungkan karena harus menempati kamar Bara.


"Nggak usah membantah, tidur di sana saja" lanjut Bara.


"Ayo miss. Nanti papa nggak usah dikasih tempat. Salah siapa, waktunya tidur kok rapat sama operasi" sungut Agni.


"Kalau mau tidur nggak boleh ngambek, nanti mimpi buruk. Sini peluk papa" Bara merentangkan tangannya.


Agni menghambur ke pelukan papa Bara. Bara pun mencium kening putrinya. "Papa operasi dulu ya sayang. Agni baik-baik sama miss Elis" nasehat Bara.


"Siap papa" tukas Agni dan sudah tak ngambek lagi.


Bara keluar dari apartemen pergi ke rumah sakit.


Sementara Agni mengandeng Elis untuk diajaknya tidur di kamar utama.

__ADS_1


"Agni kalau mau tidur ngapain aja?" tanya Elis yang belum tau kebiasaan Agni setiap hari.


"Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi, ganti baju terus dengerin cerita pengantar tidur dech" celoteh Agni.


"Baiklah, kita mulai sekarang aja. Biar bisa lekas bobok" tukas Elis.


"Oke miss" Agni antusias.


Elis menemani Agni untuk melakukan semua yang dikatakan tadi.


Kali ini Elis belajar mendongeng alias bercerita. Meski banyak sanggahan dari Agni karena versinya Elis berbeda dengan cerita yang Agni dengar sebelumnya, akhirnya Agni tertidur juga.


Elis menghela nafas panjang. Lega karena Agni telah tertidur pulas. Elis tarik selimut untuk menutupi tubuh Agni.


"Baru sehari saja lelahnya seperti ini. Sabar...sabar....Elis" Elis menguatkan dirinya sendiri. Dia beranikan mengecup kening anak kecil itu. "Imut sekali kau Agni" gumam Elis.


Mungkin karena rasa lelah yang mendera, tak berapa lama setelah Agni tertelap Elis telah menyusul ke nirwana. Dengkuran halus mereka saling menyambung.


.


Bara masih berkutat dengan kegiatan operasi cito malam ini. Bahkan setelah pasien dengan kasus persalinan macet selesai. Alex masih mengajak Bara operasi dengan kasus yang lain.


"Lex, masih berapa lagi?" tanya Bara mendudukkan pantatnya di kursi ruang dokter.


"Yang tenang...sudah selesai. Emang mau kemana, buru-buru amat?" toleh Alex yang sebelumnya masih fokus di berkas rekam medik pasien.


"Kau lupa kalau ini dinihari?" Bara melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Kak, jalan yuk. Mumpung masih jam segini" ajak Alex.


"Ogah, mendingan narik selimut" tolak Bara.


"Selimut yang mati apa yang hidup kak?" celetuk Alex. Niatnya ingin menyindir Bara.


"Terserah kau saja" tukas Bara.


"Padahal enakan selimut yang hidup loh kak" ledek Alex.


"Ngeladenin kamu sampai matahari terbit nggak bakalan selesai. Mendingan pulang duluan" Bara beranjak ke ruang ganti.


"Yaelah nggak seru kamu kak. Padahal mau kuajak jalan. Sekali-kali hangout kan juga nggak apa-apa. Di daerah barat kota ada club baru lho kak" celoteh Alex meski tau Bara sedang ganti baju.


"Pergi sendiri sana. Aku tetap ogah" kata Bara dari dalam ruang ganti.


"Aku duluan" pamit Bara setelah mengganti baju.


Alex akhirnya merelakan seniornya itu duluan pulang.


Bara masuk apartemen saat waktu sudah menunjukkan dini hari.


Langsung saja dia buka pintu kamar utama karena diserang rasa kantuk yang amat sangat.


Dia rebahkan badan di samping tubuh yang dikira adalah putrinya. Bara langsung saja terlelap.

__ADS_1


.


Bara tiba-tiba terbangun karena pergerakan cepat dari tubuh yang dipeluknya.


"Tuan...tuan Bara" Elis terkejut.


Bara juga ikutan terkejut. Karena baru sadar kalau yang dipeluknya ternyata Elis.


Dokter bius, tapi seakan terbius oleh wajah Elis yang baru terjaga dari tidurnya.


"Aku pindah saja ke kamar sebelah ya tuan. Takut mengganggu Tuan Bara dan Agni" Elis beranjak dari tempat tidur. Bara tak menyahut apa yang diucapkan Elis karena bengong.


"Bagaimana kau bisa lupa sih Bara, kalau ada Elis di kamarmu" sesal Bara.


"Dia pasti berpikiran macam-macam" terka Bara.


"Bahkan kau dengan seenaknya memeluk dia" Bara merutuki dirinya sendiri.


"Ah, pikirkan besok saja. Raga ini butuh istirahat sekarang" gumam Bara dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Agni.


Bilangnya mau mengistirahatkan raga, tapi pikirannya malah melayang. Sampai hampir Subuh, Bara baru terlelap.


Sementara Elis juga merasakan hal yang sama. Dia masih teringat bagaimana rasanya saat Bara memeluk. Meski tertidur, ada rasa nyaman yang dirasakan olehnya.


"Ish...pikiran apa ini?" Elis coba mengusir rasa itu.


Sama halnya Bara, Elis juga baru bisa tertidur saat hampir Subuh. Mungkin kalau di desa, jam segitu pasti sudah kedengeran ayam berkokok tanda fajar telah datang.


Tapi karena terbiasa bangun pagi, Elis lebih dulu terjaga. Dia regangkan tubuh untuk memulai kegiatan hari ini. Tak lupa kewajiban sebagai umat beragama telah dia lakukan.


Elis telah berkutat di dapur saat Bara terbangun mau mengambil air minum. Ada suasana canggung yang tercipta di sana. Mereka dengan pikirannya masing-masing.


"Mau ngapain pagi-pagi?" akhirnya ada tanya dari bibir Bara.


"Boleh aku nyiapin sarapan pagi?" Elis malah bertanya ke Bara.


"Oke" tanpa banyak kata Bara balik ke kamarnya.


Elis memegang dada yang terasa jedag jedug tak beraturan. "Bagaimana bisa tidur dengan tuan Bara sih?" Elis juga merutuki dirinya sendiri.


Ternyata Bara juga masih menyandarkan tubuhnya di balik pintu.


"Baru juga sehari kau di sini sudah buat aku senam jantung" gumam Bara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


pasir putih di tepi laut, ombak datang pasir pun ikut #update telah othor lanjut, kasih komen like vote untuk menyambut πŸ€—


Salam sehat


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2