Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 63


__ADS_3

Bara baru bisa membuka ponselnya selepas semua operasi selesai.


Puluhan panggilan dari Iwan sampai siang tadi. Bahkan ada juga beberapa dari sebuah nomer yang sengaja tak disimpan oleh Bara.


Bara menelpon balik Iwan, "Halo, ada apa?" tanya Bara ketika terdengar sapaan Iwan.


"Nggak ada tuan, cuma cemas saja. Seharian tuan tidak ada kabar sama sekali" jawab Iwan.


"Tumben kau cemas?" sindir Bara.


"Ya iyalah. Apa tuan ini tidak peka kalau sebenarnya aku ini perhatian sekali kepada anda" jelas Iwan.


"Nggak tuh. Kalau kamu cemas, kenapa hanya sampai siang aja kau mencariku?" Bara tak sengaja melihat panggilan Iwan terakhir kali pada jam tiga belasan.


"Maaf nih tuan, bukannya aku tak mencarimu lagi. Tapi karena sudah mendapat penjelasan dari non Elis, aku tak mencarimu lagi" sanggah Iwan.


"Iya...iya...aku percaya" tukas Bara dan menutup panggilannya.


"Dokter Bagus, aku balik duluan ya?" Bara beringsut dari tempat duduk menuju ruang ganti.


"Nggak makan dulu dok. Mumpung ada nasi kotak nih?" dokter Bagus menawari.


"Makasih dech, aku pulang aja. Tadi sudah janji sama kakakku kalau mau mampir" kata Bara dari ruang ganti.


"Oke dok, hati-hati di jalan" imbuh dokter Bagus.


.


Bara menyusul Elis dan Agni yang sekarang berada di mansion Mayong.


"Kak, lapar nih. Ada makanan apaan?" Bara langsung duduk di meja makan, menyusul yang lain yang sudah duduk duluan di sana.


"Ish...ish...uncle jorok ah" seru Raja.


"Emang kenapa?" hardik Bara.


"Cuci tangan dulu dong. Pasti uncle juga belum mandi?" lanjut Raja putra sulung Mayong.


"He...he...kan baru selesai operasi Raja" jawab Bara dan beranjak untuk cuci tangan seperti yang diminta keponakannya.


"Sudah...sudah...ayo dimulai aja makannya. Sudah lapar semua nih nungguin uncle kalian datang" sela Mayong.


"Wah, ini pasti ayam bakar buatan mama nya Elis nih" celetuk Bara.


"Kok tau?" tanya Maya.


"Ya tau lah. Aku yang minta" sergah Bara.


"Elis nanti minta uang ganti ke Bara. Enak aja mau gratisan" ungkap Mayong.


"Aku sudah diberi oleh tuan Bara sebelumnya" jawab Elis.

__ADS_1


"Aku tuh nggak pelit kak" bela Bara.


Bara menyodorkan piring kosong di hadapan Elis, sengaja ingin ngerjain dirinya.


"Lagak loe Bar, kayak sudah jadi suami Elis saja" ledek Mayong.


Bara terkekeh, "Doakan saja" jawab Bara ambigu.


"Elis, enak loh ayam bakar bikinan mamah mu" puji Mayong.


"Aku yakin, istriku saja pasti nggak bisa buat seperti ini" Mayong ganti menggoda sang istri.


"Istrimu itu bisanya cuman operasi kak" Bara tergelak melihat ekspresi Maya yang sedang manyun itu.


"Kan gampang sayang, tinggal pesen aja ke mamah nya Elis" Maya beralasan karena tak mau ribet dengan acara memasak. Apalagi suaminya bukan lah type pemilih makanan. Semua yang ada di meja, Mayong pasti akan makan. Membuat Maya termayong-mayong deh...he...he...


"Elis, kenapa nggak buat resto aja sih. Beneran loh masakan nyonya Mawar ini benar‐benar enak" puji Maya.


Elis tersenyum simpul tanpa berkata apapun. Buat resto kan ya perlu modal. Kita dapat modal darimana. Batin Elis.


"Urusan modal, biar kak Bara yang mikirin" celetuk Maya seakan tau yang dipikirkan Elis.


"Keuntungan dibagi bersama" imbuh Bara terbahak, menanggapi ucapan Maya.


Rasa lelah Bara yang seharian berkutat di kamar operasi, sedikit berkurang karena ngobrol dengan keluarga kakak nya.


"Kak, sudah malam. Kita pulang dulu" pamit Bara.


"Heleh, paling ngajak menggibah" ledek Bara.


"Yang kuajak Elis, kenapa kak Bara yang sewot?" cibir Maya.


"Elis, simpan nomer kontakku" Maya menambahi saat Bara mulai menjalankan mobil.


"Oke kak. Makasih ya untuk hari ini" ucap Elis.


"Bye semua..." pamit Bara lagi.


.


Keesokan hari sebelum tindakan operasi elektif dengan dokter Bagus, Bara menghadap dokter Bambang selaku direktur rumah sakit yang ditunjuk langsung oleh papa Suryo.


"Silahkan masuk dokter, pak Bambang sudah menunggu di dalam" sekretaris pak Bambang mempersilahkan Bara masuk.


"Pagi pak Bambang" sapa Bara.


"Oh, dokter Bara...silahkan duduk!" tukas pak Bambang dengan ramah.


"Tumben, pagi-pagi ada apa ya?" tanya pak Bambang.


"Hanya ingin bertanya saja pak Bambang, beberapa kali saya menggantikan jaga dokter Eka. Karena beliau tak bisa dikonfirmasi. Apa ada keterangan dari beliau bagaimana gitu?" tanya Bara.

__ADS_1


"Bukan maksud mencampuri urusan pribadi dokter Eka. Yang terakhir, waktu aku cuti dan sedang berada di luar kota. Ada pasien butuh intubasi, beliau juga tidak bisa dihubungi. Apa pak Bambang tau akan hal itu?" lanjut Bara.


"Maaf dokter Bara, coba nanti saya konfirmasikan ke komite medik dulu. Kalau memang ada tindakan indisipliner yang disengaja oleh yang bersangkutan, tentu saya akan ambil tindakan" jelas pak Bambang.


"Baiklah pak Bambang, terima kasih atas waktunya" dokter Bara beralih ke ruang operasi.


"Pagi dok" sapa dokter Eka yang ternyata telah menunggu kedatangan Bara di kamar operasi.


"Pagi juga. Tumben sudah di ruang bedah sentral, padahal bukan waktu jaga dokter Eka loh" sindir Bara.


"Saya ke sini karena ingin bertemu anda dok" tukasnya.


"Untuk?" Bara mendekati teman sejawat spesialis itu.


"Maaf, karena telah beberapa kali membuat anda repot. Bahkan mangkir dari jadwal jaga yang telah kita sepakati bersama. Saat itu anak saya sedang sakit dok, dan istri saya malah tega meninggalkan saya dan juga anaknya" cerita melow dokter Eka.


Wah, pagi-pagi sudah diajak bercerita tragis nih. Batin Bara.


"Oke dok. Kali ini saya terima alasan anda. Tapi alangkah baiknya, kalau anda mengabari saya pribadi atau dokter anesthesi yang lain. Agar jika ada panggilan darurat kita juga bersiap menggantikan anda" Bara menimpali.


"Makasih dokter Bara" dokter Eka beringsut, pamit ke dokter Bara untuk melakukan visite di ruang ICU.


Ternyata nasib keluargamu lebih tragis daripada lika-liku hidupku dok. Batin Bara.


.


Tak terasa Elis tinggal seminggu lagi menjalani kontrak kerja dengan dokter Bara.


Saat Bara mau berangkat Dirgantara dan mengantar Agni ke sekolah. "Tuan, bolehkah hari ini aku menemui pak Beni di penjara" Elis minta ijin.


Bara mendongak saat sedang menikmati sarapan pagi. "Untuk apa kau ke sana?" selidik Bara.


"Untuk bertanya langsung kepadanya, tujuannya menyiksa kami selama tinggal bersama itu apa?" kata Elis terdengar menahan geram.


"Ingat Elis, jangan pelihara rasa dendam. Itu yang akan menghancurkan kamu kelak. Kalau kau ingin bertemu dengannya, tanya pak Beni baik-baik" saran Bara.


"Akan aku coba Tuan" jawab Elis singkat.


"Tuan, apa anda tau tentang Starco?" tanya Elis tiba-tiba.


"Starco, perusahaan multimedia besar yang sekarang telah gulung tikar dan berganti nama itu?" jawab Bara pura-pura tidak tahu kalau itu perusahaan almarhum papa nya Elis.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Alur yang santuy kayak di pantai buat Bara dan Elis...he...he.... Semua karena faktor kesengajaan othor


πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2