
Maya menyelesaikan jahitan terakhir saat operasi telah berlangsung dua jam.
Sementara Bara menyiapkan pasien berikut dengan dokter operator adalah dokter Bagus. Dokter spesialis bedah itu.
Bara menghampiri Maya, yang sedang melengkapi berkas pasien karena dokter Bagus belum datang.
"May, lusa kosongkan jadwalmu" bilang Bara.
Maya mengalihkan perhatian dari berkas rekam medis.
"Emang ada apaan? Nyuruh ngosongkan jadwal?" tanya Maya.
"Nanti kukabari alasannya setelah aku mampir ke rumah papa" celetuk Bara hendak meninggalkan Maya.
"Kak, suamiku sudah kau beritahu?" tanya Maya lagi.
"Bukannya sama aja ya. Aku kasih tau kamu sama aja kasih tau kak Mayong. Kalian kan sepaket" imbuh Bara.
Maya hanya mencebik mendengar penuturan Bara.
Kali ini Bara meninggalkan Maya, untuk melakukan pembiusan berikutnya.
Operasi yang dilakukan dokter Bagus, berjalan lancar tanpa hambatan.
"Dok, langsung pulangkah?" tanya dokter Bagus.
"Heemmmm, iya" tukas Bara.
"Sekali-kali ke mana gitu kek dok?" celetuk dokter Bagus.
"Biar hidup lebih berwarna" celetuk dokter Bagus lagi.
"Kapan-kapan aja lah. Aku hari ini benar-benar nggak bisa dokter. Maaf ya" sahut Bara.
"Kutunggu beneran loh dok" jawab dokter Bagus.
.
Bara keluar ruangan operasi saat Maghrib menjelang.
"Lama juga ternyata operasi tadi. Tau-tau sinar matahari kok sudah menghilang" gumam Bara.
Dia mampir ke mansion papa. Dan di sana ternyata ada Mayong dan Maya beserta putra putrinya yang sedang berkumpul dengan Agni putri Bara.
"Mana Elis? Yang katanya mau kau kenalin pada kita?" belum juga duduk Bara telah ditodong oleh papa Suryo.
Bara menepuk jidatnya, bagaimana bisa melupakan hal itu. Harusnya ngenalin ke orang tua dulu baru ngurusin lamaran. Batin Bara.
"Mana?" kejar mama Clara karena tak melihat keberadaan Elis.
"Papa, mama Elis mana?" Agni menghambur memeluk papa Bara.
"Mama?????" papa Suryo dan mama Clara saling pandang.
"Jangan heran Pah, malah mereka sudah hidup bersama selama dua bulan ini" imbuh Mayong ikutan mengompori sang papa.
"Agni tuh sudah manggil Elis dengan sebutan mama sudah dari lama. Benar kan Elis?" Maya menanyai sang keponakan.
Agni mengiyakan ucapan mama Maya. "Betul Mah, aku sekarang punya dua mama. Mama Maya dan Mama Elis. Ya kan Pah?" tengok Agni ke Bara.
"Heeemmmm" sahut Bara.
__ADS_1
Sebenarnya tidak ada hal yang tak diketahui papa Suryo, tapi selama dua bulan ini dia sengaja mendiamkan Bara.
"Bener apa yang dikatakan Mayong?" tukas papa Suryo.
Bara gelagapan, "Bukannya aku sudah bilang papa waktu aku mau balik apartemen?" tanya Bara.
"Aku taunya kau tinggal sama Agni. Dan Elis hanya membantu mu. Datang pagi dan pulang waktu kamu sudah di apartemen" jelas papa Suryo. Orang tua itu sengaja ngerjain putra keduanya.
Bara terkicep diam. Apa ini hanya akal-akalan papa dengan pura-pura tidak tau ya? Tapi kan selama ini Bara tak pernah secara gamblang menceritakan semua.
"Bar, kok diam sih?" sela mama Clara.
"Kak Bara itu pasti lagi bingung Mah. Dia kan sudah tinggal bersama Elis selama dua bulan kurang beberapa hari ini" sesungging senyum di sudut bibir Maya karena sukses ikut dalam drama kali ini menguatkan apa yang disampaikan Mayong tadi.
"Benar itu Bara?" sergah papa Suryo.
"Kan cuma tinggal bersama Pah, aku juga tidak tidur bersamanya" bela Bara yang semakin terpojok dan berusaha menyangkal.
"Apa? Jadi kalian sudah tinggal seatap" Mama Clara seolah terkaget.
"Baraaaaaa...apa kau ingin mencoreng nama baik keluarga Suryolaksono?" tandas papa.
"Malah mereka pernah liburan bersama Pah, waktu penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan Daniel putra teman papa itu" ucap Mayong memperkeruh suasana.
Bara melotot ke arah kakak semata wayangnya, Mayong Saputra Suryolaksono.
Mayong tergelak melihat wajah adik yang seakan diinterogasi oleh papa Suryo saat itu.
"Bara, apa yang kau lakukan dengan anak gadis orang???" mama Clara pura-pura sedih.
Membuat Bara mendekati mama nya. "Mah, suerrrr aku nggak ngapa-ngapain dia" jelas Bara.
"Pah, harus segera kau nikahin mereka. Aku nggak tau lagi bagaimana menghadapi kelakuan putramu ini" mama Clara semakin menampakkan akting sedih dengan sempurna.
Bara syok mendengar perintah papa Suryo.
"Pah, lusa aku rencana nya mau melamar Elis. Aku mampir kesini dalam rangka mau menyampaikan itu" perjelas Bara.
"Tidak ada acara lamaran langsung menikah saja, kamu sudah membuat malu papa dengan tinggal bersamanya" ulas papa Suryo sambil mengedikkan sebelah mata ke arah mama Clara.
Mama Clara sedikit mengangkat jempol ke arah papa Suryo, menandakan akting mereka sukses.
Maya dan Mayong pun begitu saling ber toss ria, meski hanya di bawah meja. Biar tak terlihat Bara.
Sungguh kerjasama keluarga Suryolaksono patut diacungi jempol.
"Telpon Iwan sekarang, aku mau bicara" perintah papa Suryo.
Bara pun melakukan apa yang diperintahkan oleh sang papa.
Bara mendial nomer Iwan.
"Halo, iya Tuan. Jangan bilang kalau kau ingin merepotakanku lagi. Aku sudah di rumah nih" celetuk Iwan kedengaran saat panggilan Bara tersambung.
"Ish...kau ini. Papa Suryo mau bicara denganmu" ucap Bara setengah berbisik.
"Iwan" panggil papa Suryo.
"I...i...iya Tuan" Iwan tergugup mendengar suara tuan Suryo.
"Besok siapin berkas-berkas Bara Saputra Suryolaksono dan Elis Melati" tutur tuan Suryo.
__ADS_1
"Untuk?" tanya Iwan.
"Serahkan ke KUA, daftarkan pernikahan mereka. Dua hari lagi mereka harus sudah menikah!!!" tandas Tuan Suryo.
"Hah, secepat itu? Apa nona Elis sudah hamil duluan?" tanya Iwan tak kira-kira.
"Bisa jadi" imbuh tuan Suryo.
Bara bersungut mendengar perkataan papa nya. Meski Elis cantik, Bara belum berani untuk menjamah.
"Aku masih tau adap sopan santun Pah" celetuk Bara saat tuan Suryo masih berbicara dengan Iwan.
"Siap tuan Suryo, lusa saya siapkan acaranya" Iwan menyanggupi perintah sang tuan besar.
"Oke, makasih Iwan. Jangan sampai ada yang kelewat ya" sahut papa Suryo dan mengakhiri panggilan kepada Iwan.
"Bara, hari ini kau sama besok di mansion ini saja. Untuk kerjaan di Dirgantara, selama dua hari ini biar dihandel Iwan. Urusan rumah sakit juga biar digantikan dokter Eka untuk sementara" tuan Suryo memberi perintah lagi.
Sampai saat ini Bara masih tergugu di tempat tak menanggapi ucapan sang papa. Ke mansion hanya ingin menyampaikan acara lamaran buat sang gadis pujaan malah berakhir dengan pingitan.
Apa kukabari Elis saja ya? Batin Bara.
Ah, masa bodoh. Sebaiknya kuberi tau aja dia. Pikir Bara sedang bingung.
"Bar, tinggal kawin aja apa susahnya sih" goda Mayong.
"Urusan kawin mah gampang kak, tapi yang ribet tanggung jawabnya itu loh" imbuh Bara.
"Niat baik pasti akan dimudahkan. Contohnya hari ini, niatmu ingin melamar dulu malah dimudahkan oleh papa untuk segera menikah...ha...ha..." imbuh Mayong.
"Jodoh, rejeki dan mati itu hanya sang Kuasa yang tau" seloroh Mayong serius.
Bara beringsut dari duduk dan berjalan menuju kamarnya yang berada di mansion hendak membersihkan diri.
Bara menghubungi Elis sambil rebahan di atas tempat tidur.
"Halo, selamat malam tuan Bara" sapa Elis di panggilan video itu.
"Apa kau bilang? Tuan?" serius Bara.
"He...he...maaf lupa" Elis cengegesan.
"Abis ini bila kau lupa lagi, maka kau harus dapat hukuman" ancam Bara dengan bercandam
"Tuan, kau belum menyampaikan maksud anda menelponku" cerca Elis.
"Tuan lagi???" tandas Bara.
"Hukumannya, cium gue sekarang" sahut Bara.
"Maafin adik Abang yang cantik ini dong. Mana bisa mencium lewat online" rajuk Elis.
"Kali ini kumaafkan. Tapi sebagai gantinya, saat kita ketemu kau harus menciumku" imbuh Bara.
"Elis, aku hanya ingin memberitahumu kalau lusa keluargaku jadi ke rumahmu. Papa dan mama setuju kok" cerita Bara tanpa menambahkan kalau dia dipaksa oleh tuan Suryo untuk segera menikah dengan Elis.
"Oke, baiklah tuan" jawab Elis.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading.
__ADS_1
π