Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 87


__ADS_3

Bara dan Elis hanya bisa saling tatap.


"Tuh, Agni nunggu penjelasan kamu sayang" celetuk Elis.


"Nanti di rumah aja ya papa jelasin? Papa lagi fokus nyetir nih" kata Bara ngeles.


"Kan papa bisa bilang sambil lihat jalan" seloroh Agni masih mengharap jawaban papa nya.


"Sayang, adik bayi itu nggak instan. Hari ini buat besok jadi" jelas Elis.


"Kok bisa gitu Mah?" Agni penasaran.


"Calon adik Agni harus tiduran dulu di perut mama selama sembilan bulan. Nah, nanti kalau adik siap..keluar dech dari perut mama" imbuh Elis.


"Nanti perut mama robek dong, aku nggak mau mama kenapa-napa" Agni mulai menangis.


"Nggak sayang, mama nggak kenapa-napa. Makanya Agni berdoa, biar di perut mama lekas hadir adik bayi ya?" hibur Elis.


"Tapi aku nggak mau mama Elis meninggal seperti mama Yasmin yang meninggalkan aku" ucap sedih Agni.


Elis menaruh Agni dalam pangkuannya, dia kecup puncak kepala putri kecilnya itu. Mengerti akan perasaan Agni. Bara hanya terdiam, bayangan akan kehilangan istri saat melahirkan melintas kembali di depan mata nya.


"Sayang, sudah jangan sedih lagi ya. Banyakin berdoa sama Allah, biar hati tenang. Berdoa juga untuk mama Yasmin yang sudah ada di surga. Mama Yasmin pasti senang, punya anak solehah seperti Agni" ujar Elis mencium gemas Agni.


Agni memeluk erat mama Elis. "Agni sayang mama" celetuk bocah kecil yang berada di pangkuan Elis.


Bara tersenyum bahagia melihat interaksi kedua wanita yang sekarang menjadi prioritasnya itu.


.


Elis menemani Agni di kamar. Sementara Bara pamit ke ruang kerja, selepas makan malam.


"Mah, bacain cerita boleh?" pinta Agni.


"Siap sayang, Agni ingin yang mana?" tanya Elis sambil menunjukkan buku cerita koleksi Agni.


"Tapi itu sudah pernah dibaca semua Mah" sahut Agni.


"Terus mau cerita apaan dong?" seloroh Elis.


"Mama cerita tentang mama saja" rajuk Agni.


"Maksudnya ceritanya tentang mama?" Elis mengulang permintaan Agni.


"Heemmmm" Agni mengangguk.


"Wah, kalau cerita tentang mama. Nggak ada serunya sayang. Mama hanyalah putri pertama dari Oma Mawar. Mama punya adik namanya Chyntia" cerita Elis.


"Kapan-kapan aku mau ketemu Oma Mawar ya Mah? Sama aunty Chyntia" rajuk Agni.


"Oke, tapi Agni sekarang bobok dulu ya" Elis membenahi letak selimut sang putri. Menunggu di sana sampai sang putri tertidur.


Elis beringsut pelan dari ranjang, setelah mengetahui Agni telah nyenyak.


Elis membuatkan secangkir kopi dan membawakan cemilan untuk sang suami.


"Sayang, ini kopinya" Elis menghampiri Bara yang sedang serius menatap layar laptop di depannya.


"Oke. Makasih sayang" tukas Bara.


Elis tak mau menganggu sang suami yang sepertinya sedang ada masalah di perusahaan.


"Mau ke mana?" tatap Bara yang melihat Elis hendak keluar.

__ADS_1


"Mau nonton" imbuh Elis beralasan. Karena sebenarnya dia tak mau menganggu sang suami.


"Sini sebentar" pinta Bara.


"Ngapain?" tanya Elis.


Tanpa menunggu lagi, Bara menghampiri sang istri dan menyerangnya dengan ciuman.


Rasa penat dan letihnya saat ini hanya bisa diobati oleh harum badan istrinya.


Bara melepas ciuman ketika Elis terengah kehabisan nafas.


"Sayang, aku ingin" mata Bara mulai berkabut gair4h.


"Di sini?" tukas Elis. Bara tak menjawab tapi langsung melanjutkan aksinya.


Terdengar lenguh4n keduanya. Kali ini Bara menuntaskan hasr4t yang beberapa kali tertunda karena panggilan operasi dan kerjaan yang menumpuk di Dirgantara.


"Gimana kalau besok kita pergi ke Bali?" bisik Bara.


"Mumpung cuti" Bara mengedipkan genit sebelah matanya.


"Pasti ada maunya" Elis memeluk Bara yang masih dalam keadaan polos.


"Mau lagi?" goda Bara.


Elis menggeleng. Permainan suaminya barusan sungguh membuatnya ngos-ngosan.


"Tapi pelukanmu ini membuat sesuatu yang barusan tertidur bangun lagi" ucap Bara.


Dan benar saja, Elis sampai tersipu karena merasakannya.


"Aku ke kamar dulu ya yank" ucap Elis mengurai pelukan hendak beranjak.


"Nggak bisa dong. Semua yang kau mulai harus kau akhiri" tilik mata Bara ke arah sesuatu di tengah poros tubuhnya.


Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Bara kembali menuntaskan permainannya. Dan membuat Elis kewalahan.


"Makasih sayang" kecup kening Elis oleh Bara.


"Boleh ke kamar, tulangku rasane remuk semua?" Elis beranjak.


"Kuat jalan?" ucap Bara tersenyum.


"Kakiku lemas semua" imbuh Elis.


"Sudah tidur dulu saja di sana, aku mau nyelesain kerja yang kau ganggu barusan" suruh Bara agar Elis tidur di ranjang di ruang kerja itu.


"Siapa yang ganggu sih" sungut Elis, membuat Bara tertawa.


Dan tak sampai lima menit setelah berpakaian lengkap, Bara menengok istrinya yang telah terlelap.


"Lama tak mengajakmu seperti tadi yank, rasanya emang nagih" gumam Bara.


Bara melanjutkan pekerjaan yang tertunda, yaitu meneliti berkas laporan yang dipresentasikan oleh Daniel tadi siang.


"Bagaimana bisa baru berjalan satu bulan dia mengatakan defisit?" pikir Bara.


"Besok sebaiknya aku hadirkan akuntan perusahaan dan tim yang terlibat di perusahaan Daniel. Apa perlu kutarik saham di sana, atau langsung aku akuisisi semua saja" Bara masih memikirkan hal tadi.


Bara menajamkan netranya kala menemukan biaya operasional yang begitu besar di sana.


"Apa ini? Semua seperti di mark up?"

__ADS_1


Bara mengirimkan pesan ke Iwan, untuk menyiapkan semua yang dimintanya buat besok.


Bara memindahkan Elis yang terlelap dalam gendongannya. Sambil memindah dia ciumi pipi sang istri dengan gemas, membuat Elis semakin membenamkan wajahnya ke dada san suami.


"Kau sungguh menggemaskan istriku" gumam Bara menuju kamar utama.


Beberapa hari yang lalu, Bara telah memindah foto-foto dirinya bersama Yasmin. Hal itu sebenarnya telah ditolak oleh Elis. Bagaimanapun Yasmin berhak untuk tetap dalam hati sang suami. Dan Elis menyadari itu. Bagaimanapun tak ada masa depan tanpa masa lalu. Tapi Bara tetap memindahkan foto-foto itu, demi menghormati sang istri yang sekarang telah menjadi pendampingnya.


Elis pernah mengungkapkan kepadanya, jika dirinya pun mempunyai masa lalu yang ingin dia kubur dalam. Meski itu hal yang sulit.


Bara berjanji, esok hari akan dia ajak sang istri untuk ke makam mendiang mama nya Agni.


"Yasmin, aku harap kamu merestui hubungan kami" ucap Bara lirih.


Bara menaruh pelan Elis ke pembaringan luasnya.


"Selamat tidur sayang, have nice dream" Bara mengecup kembali kening sang istri.


Dia usap perut Elis, "Semoga lekas hadir apa yang menjadi harapan kita dan Agni".


"Aamiin" Elis mengaminkan apa yang menjadi doa Bara.


"Hei, curang" Bara mencubit gemas pipi sang istri.


"He...he..." Elis terkekeh.


"Yuuk tidur" Bara memeluk sang istri dan Elis pun melingkarkan tangan di pinggang sang suami.


Elis dan Bara tertidur pulas setelah itu.


.


Keesokan pagi, Bara pamit buru-buru pergi ke Dirgantara setelah mendapatkan pangilan ponsel dari Iwan. Agni yang telah berangkat duluan dengan diantar sopir.


"Sayang, aku berangkat ya. Ditungguin Iwan di bawah" pamit Bara beranjak dari meja makan.


"Nggak operasi, nggak Iwan. Apa sih yang membuat kamu nggak terburu-buru?" tukas Elis.


"Memakanmu. Satu hal itu yang membuat aku tak terburu-buru" seloroh Bara.


"Heemmm...mesum ah" tukas Elis. Pipinya sudah seperti kepiting rebus kali ini.


"Sayang, ntar sore siap-siap ya. Abis ngantor kita ke makam mama nya Agni" kata Bara.


"Baiklah" sahit Elis.


"Jangan lupa packing, week end ini kita ke Bali" imbuh Bara.


"Agni gimana?" tanya Elis.Jika Agni diajak tentu saja Elis dengan ikhlas menyiapkan semua.


"Agni? Biar nanti di mansion papa saja. Lagian dia pasti senang main bersama sepupunya"


"Ooo begitu. Kirain diajak? Kalau diajak sekalian aja aku siapin semua" kata Elis menimpali.


"Sementara Agni biar di mansion papa aja. Nanti kita ajak waktu dia liburan sekolah" jelas Bara.


"Oke" Elis menyetujuinya.


Bara berangkat setelah mencium kening sang istri.


Elis kembali ke dalam, dan mengisi kekosongan waktunya untuk nonton tutorial memasak di televisi ruang tengah.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading


💝


__ADS_2