Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 23


__ADS_3

Maka kuputuskan kuajak ke rumah sakit saja dia untuk melihat luka-lukanya. Sekalian aku operasi. Pikir Bara.


Setelah keberi tahu perawat yang menerima gadis itu, dia kutinggalkan di IGD untuk perawatan luka. Aku juga bilang ke perawat untuk bill tagihan biar menjadi urusanku. Selain sudah menjadi tanggung jawabku, kukira tak mungkin cewek dekil itu punya uang untuk membayarnya. Melihat penampilannya saat ini Bara yakin kalau dia jarang mandi di dalam penjara. Tapi mesthi begitu, guratan kecantikannya masih terlihat jelas di wajahnya. Bara sampai mengusap wajahnya beberapa kali karena terlalu lama memandang wajah gadis yang sedang fokus diobati lukanya.


Saat durante operasi, pikiranku tak tenang. "Kenapa aku malah teringat padanya? Sial" umpat Bara dalam hati. "Dok, sedari tadi ngalamun aja...Kesambet setan ntar" goda dokter Alex yang melihat Bara gelisah tak seperti biasanya. "Ada yang dipikirin kayaknya sama dokter Bara" imbuh Alex yang fokus dengan lapangan operasi di depannya. "Pasti ada lah dok, pasti cewek yang di IGD" tebak Anung yang sedang membenarkan posisi monitor di samping pasien. "Ha...ha...beneran Nung?" tanya Alex tak percaya. "Bener kayaknya dok. Dokter Bara aja diam tanpa menyanggah" ledek Anung kembali.


"Hhmmmm...kalian ini. Gadis itu kuserempet di perempatan dekat Dirgantara sana loh" jelas Bara. "Ada luka, makanya kubawa ke sini sekalian" imbuh Bara. "Ooooooo...." semua penghuni kamar operasi kompak ber 'o' menanggapi ucapan Bara. Dan meledaklah tawa mereka karena berhasil mengerjai sang CEO. Untungnya pasien diberikan general anesthesi, jadi tidak ikut mendengarkan gurauan receh mereka. Meski diberikan spinal anesthesi, malah pasien juga kadang diajak bergurau juga untuk mengurangi ketegangan pasien di kamar operasi. "Jadi hari ini aku dibully nih ceritanya" ucap Bara. "Sekali-kali lah dok, masak kita terus yang kena giliran" tukas mas Agus yang menjadi asisten operator dalam operasi itu.


"Anung, tolong kau kasih tau kamar bedah. Tunda dulu kirim pasien yang dielektifkan hari ini ke bedah sentral" perintah Bara. "Dokter Beni kan operatornya?? Biar aku yang hubungi." imbuh Bara. "Tunda besok maksudnya?" perjelas Anung. "Bukan, tunda jam nya saja" tukas Bara. "Tiwas hati senang dok, kirain besok" celoteh Anung. Bara mengirimkan ke dokter Beni spesialis orthopedi untuk menunda beberapa jam operasinya. Bara beralasan ada kepentingan yang tidak bisa ditinggal. Dokter Beni kebetulan juga ada kepentingan. Mau memberi kabar tapi keduluan Bara yang mengiriminya pesan.


"Oke, Lex. Pasien stabil. Ijin ya aku duluan. Ada Anung yang nungguin sampe selesai. Kalau ada apa-apa segera lapor ya Nung" pamit Bara. "Siap dokter" tukas Anung cepat. "Dokter Bara, jangan lupa yang di IGD ditengok, kalau perlu dianterin" ledek Anung. Kembali tawa bergema di ruang operasi. Bara hanya bisa geleng kepala melihat polah mereka. Suasana yang kadang memang ngangenin. Kesuntukan dan kesibukan di Dirgantara akan lenyap begitu saja bila sudah bertemu dengan kru Instalasi Bedah Sentral.


Memang benar apa yang diucapkan Anung barusan. Bara sengaja menunda jam operasi agar bisa mengantar gadis kucel itu. Sebagai rasa tanggung jawab, karena telah menyerempetnya. Padahal kalau dipesankan taksi online aja sebenarnya lebih praktis.

__ADS_1


Sampai di IGD kulihat dia duduk termenung di kursi tunggu, lebih tepatnya melamun. Saat aku berada di kamar operasi tadi, sempat kuhubungi IGD untuk menyuruhnya menungguku.


"Sudahlah, aku antar. Ini juga sebagai bentuk tanggung jawab telah menyerempetmu tadi" ucap Bara. Awalnya dia menolak, tapi dengan sedikit Bara paksa akhirnya gadis itu menyetujui juga.


Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan yang kita omongkan, hening. Malah masing-masing bagai orang bisu menikmati kediaman. Bara berpikir, tidak perlu nanya lokasi rumah yang sudah diketahuinya itu. Lagian gadis ini juga tidak berusaha menjelaskan, pikir Bara. Kenapa dia percaya saja denganku? Batin Bara. Terdengar dengkuran halus, Bara pun menoleh. "Hhmmmm sudah tidur aja dia" gumam Bara. Nampak wajah letih gadis itu saat Bara mencoba menyibak rambut yang menutupi wajahnya. Entah dorongan dari mana, Bara menyentuh pipi gadis yang terlelap itu, "Cantik" lirih sekali Bara berucap. Bilang aja kau tertarik Bara, gengsimu turunin dikit. Bisik hati Bara saat itu.


Sampai di depan rumahnya, Bara hentikan laju mobilnya.


"Hei, hei bangunlah...sudah sampai rumahmu tuh" ujar Bara berusaha membangunkan gadis itu. Dia bahkan sampai terlonjak kaget. "Maaf...maaf aku malah ketiduran" gadis itu membenarkan posisi dudukku. "Turunlah, tuh rumahmu" tunjuk Bara. "Sebelum turun, bersihkan dulu tuh ilermu. Cantik-cantik ileran" gerutu Bara. Sesungging senyum terlihat di bibirnya walau sekilas terlihat di pandangan Bara. Entah apa yang gadis itu pikirkan, diolok kok malah tersenyum. Aneh.


Gadis itu turun, dan mengucapkan lagi terima kasih kepada Bara. Bara hanya mengangguk menanggapi. "Namaku Elis tuan. Elis Melati, jangan panggil kau kau terus" ucapnya untuk terakhir kali sebelum membalikkan badan melangkah menuju rumahnya. Beraninya dia, gerutu Bara dalam hati sebelum dia menginjak pedal gas mobilnya.


Bara berputar arah kembali ke Rumah Sakit Suryo Husada sesuai janjinya kepada dokter Beni tadi.

__ADS_1


Kebetulan sampai basement rumah sakit Bara ketemu dengan dokter Beni, "Baru sampai dok?" tanya dokter Beni. "Iya" ucap Bara singkat. "Tumben nunda operasi???" selidik dokter Beni. "Adalah" tukas Bara tersenyum. Senyum yang jarang Bara lakukan semakin membuat penasaran dokter Beni.


Bara telah siap kembali di kamar operasi setelah memakai baju kebesaran di kamar operasi. "Tenang dok, kita masih menunggu dengan setia kedatangan dokter" celetuk Anung. "Kamu duduk-duduk di sini, pasien sudah disiapkan?" tanya Bara. "Sudah dok, ada mas Agus tadi di dalam" jelasnya. "Kalau gitu, ayo lekas kita main" tukas Bara. Main di sini yang dimaksud adalah bersiap untuk tindakan pembiusan ya. Jadi tidak boleh berpikir yang aneh-aneh...he...he...


"Jadi tiga Nung? Pasien elektif nya dokter Beni" tanya Bara. "Betul dok, kalau nggak nambah lagi" gurau Anung. "Nambahnya buat besok aja boleh???" gurau Bara. "Setuju...ha...ha..." tukas Anung lagi.


Ketiga pasien elektif ini sama kasusnya. Ingin melepas pen yang dipasang di tubuhnya dulu sewaktu terjadi patah tulang.


"Dokter Beni, bisa nggak sih patah hati dipasang pen???" gurau mas Agus. "Hatimu patah mas Agus?...Kasihan!!" balas dokter Beni. "Tapi hari ini ada yang berbunga-bunga dok" sahut Agus. "Siapa? Anung kah?" dokter Beni ikut penasaran. "Ayo gas saja Nung, keburu keduluan yang lain" imbuh dokter Beni. "Eh, kok aku yang kena. Dokter Bara tuh yang abis nganterin cewek" seloroh Anung. "Wah, gue lagi yang kena. Apes banget hari ini" balas Bara.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


#sayur sop perkedel kentang #enaknyooo πŸ˜†


Salam sehat


__ADS_2