Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 78


__ADS_3

"Aku nggak punya tunai yank" Bara menunjukkan dompetnya.


"Katanya orang kaya, kok nggak punya duit sih" sengit Elis.


Bara hanya bisa mengusap tengkuk, menghadapi ucapan Elis.


Elis kembali menaruh gelas kosong nya di atas meja.


"Sayang, besok anterin belanja ke pasar boleh?" pinta Elis.


"Pasar????" bengong Bara.


"Iya, yang dekat perempatan jalan protokol itu loh yank" beritahu Elis.


"Pasar itu?" pertegas Bara.


"Iya, di sana ikannya seger-seger loh" imbuh Elis.


"Kenapa tadi pas di mall nggak belanja sekalian? Mumpung di sana?" tanya Bara.


"Di sana mahal-mahal sayang" tukas Elis.


Apa dia lupa ya siapa suaminya ini, batin Bara.


"Besok kuanterin ke mall Dirgantara aja sayang, soalnya aku pagi ada operasi" Bara beralasan.


"Ooooo...begitu ya?" Elis seakan menimbang.


"Sayang, aku ke pasar sendiri aja" ucap Elis.


"Tapi aku nggak ada uang tunai loh" tukas Bara, biar Elis tidak jadi pergi.


"Uang yang kau kasih sebelumnya masih ada kok" kata Elis.


Bara tak lagi bisa berkata-kata untuk menahan Elis supaya tak pergi sendirian.


"Aku akan hati-hati" Elis tau suaminya itu mencemaskan dirinya.


"Anak buah juragan Darto jarang yang menelisik area seperti itu" Elis menambahi.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya" nasehat Bara.


.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Bara.


Ternyata Mayong lah yang mengirim sebuah foto.


"Bukannya ini Anjani. Terus pria setengah tua ini?" gumam Bara.


'Seperti pernah melihat, tapi dimana?' pikir Bara.


"Sayang, aku ke ruang kerja bentar ya?" pamit Bara.


"Heemmmm" Elis pun beringsut pindah dari mejanya dan melangkah ke ruang tengah.


"Aku mau nonton aja" kata Elis dan Bara melangkah ke ruang kerja.


"Bara, kamu kenal laki-laki yang bersama sepupu mendiang istrimu itu?" bunyi pesan Mayong.


"Bukannya dia yang punya Star Media?" perjelas Mayong.


Bara akhirnya mendial nomer Mayong, "Kak" sapa Bara.


"Beneran yang kau sampaikan itu?" tanya Bara. Bara biasanya hanya mengenal pengusaha yang bekerja sama dengan Dirgantara.


"Itu info yang kudapat dari Doni" jawab Mayong.


Asisten Mayong itu memang bisa diandalkan untuk mencari informasi dengan cepat.


Kemungkinan orang ini lah yang mengambil alih Starco, batin Bara.


Tapi apa hubungannya dengan Anjani? Bara masih serius berpikir.

__ADS_1


Elis masuk dengan membawa secangkir kopi dan beberapa camilan.


"Katanya mau nonton, kok malah nganterin makanan ke sini?" tanya Bara.


"He...he...lagi nungguin episode berikutnya, tapi malah sinyalnya loading" canda Elis.


.


Pagi-pagi, "Sayang, aku langsung ke rumah sakit ya" pamit Bara seperti biasanya.


"Sarapan dulu dong?" kata Elis.


"Nggak sempat sayang, kamu denger sendiri kan kalau operasinya urgen" jelas Bara.


Ya, sebelumnya Elis memang mendengar saat dokter jaga sedang konsul dengan sang suami. Ada operasi kebidanan yang harus segera dikerjakan dalam satu jam ke depan, karena bayinya dalam kondisi tidak baik-baik saja. Bahkan mereka berdua masih dalam kondisi polos saat Bara menerima konsulan.


Elis akhirnya membawakan bekal untuk sang suami, "Jangan lupa sarapan ya" ujar Elis.


"Senengnya, sekarang ada yang perhatiin" tukas Bara sambil mengecup kening sang istri.


"Eh, sayang. Aku jadi ke pasar loh" ucap Elis untuk minta ijin.


"Tunggu aja sopirnya Agni datang. Tadi pagi sudah kuberitahu dia untuk nganterin kamu" Bara bergegas untuk pergi.


Elis mengangguk dan mencium tangan suaminya.


Selepas Bara pergi, "Ternyata begini ya rasanya jadi istri seorang dokter anesthesi. Sewaktu-waktu siap ditinggalin, apapun kondisinya...he...he..." Elis mereka ulang Bara yang langsung bergegas mandi setelah menerima telpon tadi. Bahkan mereka baru saja menyelesaikan imun pagi hari.


Sementara Bara pergi ke rumah sakit, jemputan Elis telah datang.


Elis pun pergi ke pasar seperti yang dia bilang semalam ke suaminya.


Setelah puas mencari apa saja kebutuhan yang diperlukan, Elis hendak kembali ke parkiran di mana sang sopir sedang menunggu.


Tapi alangkah kaget nya Elis, saat hidungnya ditutup sebuah sapu tangan. Sepersekian detik, Elis tak sadar. Barang belanjaannya pun tercecer di sekitar tempat itu.


.


Jadi sebelum ke Dirgantara, Bara sempatkan untuk balik apartemen terlebih dahulu.


"Kok sepi, di mana istriku?" Bara menelisik seisi apartemen untuk mencari keberadaan sang istri. Tapi hasilnya nihil.


Bara mencoba menghubungi ponsel milik Elis, tapi setelah tiga kali mencoba hasilnya ponsel Elsi non aktif.


"Aneh" dahi Bara berkerut.


Bara kemudian mendial nomer sopir yang biasa mengantar jempit putrinya.


"Pak, tolong kasihkan nyonya. Aku mau bicara" kata Bara sesaat setelah telpon berdering.


"Nyonya sedang belanja tuan, dari tadi belum balik" beritahu sopir itu.


"Belanja apa sampai berjam-jam. Kamu tidak ngikutin dia?" bentak Bara karena mulai mencemaskan Elis.


"Maaf tuan, saya akan mencari nyonya sekarang" tukas sopir itu terdengar ketakutan.


Bara mencoba mencari posisi Elis lewat GPS yang terhubung dengan ponsel Bara. Titik terakhir yang dia temukan, Elis masih berada di lingkungan pasar.


Bara menyusul keberadaan Elis yang pamit ke pasar.


Hampir setengah jam Bara mengubek-ubek keberadaan Elis bersama sang sopir.


"Aaahhhhh, sial" umpat Bara.


Bara mendial nomer Iwan, "Iwan cepat kerahkan orang-orang kita, sepertinya ada yang menculik istriku" perintah Bara dengan teriak membuat Iwan yang disana terkaget mendengarnya.


Bara sangat mencemaskan keadaan Elis. Sopir yang berada di dekat Bara ikutan gemetar, karena semua kejadian itu adalah keteledoran dirinya.


Bara menemukan sebuah tas, yang ternyata milik istrinya. Terjatuh bersamaan barang belanja.


"Sayang kau di mana?" Bara tergugu di tempat.


Bara menghubungi Mayong, memberitahukan kondisi yang tengah dialaminya.

__ADS_1


"Biar kusuruh Doni untuk membantu. Dia sangat pintar dalam hal lacak melacak" kata Mayong.


"Tapi ponsel istriku sedang mati kak" beritahu Bara.


"Doni ahlinya" jelas Mayong dan mencoba menenangkan sang adik yang baru dua hari menikah itu.


Bara ditemani Mayong meluncur ke tempat yang berhasil terlacak oleh Doni.


Ternyata hanya sebuah gudang kosong di sana.


Bara menemukan ponsel yang sepertinya milik sang istri.


"Sepertinya mereka mampir ke sini dulu, sebelum membawa Elis pergi" ucap Mayong setelah menelusuri setiap jengkal gudang kosong itu.


Bara berusaha tenang, untuk memikirkan hal ini.


Wanita yang dinikahinya kali ini memanglah wanita yang banyak masalah sebelumnya, jadi Bara harus tau konsekuesi ini.


"Kak, coba lacak keberadaan cincin yang dikenakan istriku!!!" ucap Bara tiba-tiba, karena baru teringat akan hal itu.


Doni dan Iwan yang juga berada di sana, segera melakukan perintah Bara.


Doni memandang lekat layar monitor yang berada di pangkuannya.


.


Elis mulai membuka mata dengan pandangan yang masih temaram.


Dia memicingkan mata karena sinar terang tepat berada di depan mata.


"Ahhhh...aku di mana?" gumamnya.


Elis mencoba menggerakkan badan, ternyata kaki dan tangannya terikat erat.


"Bos, wanita ini sudah sadar" ucap seseorang membuat Elis reflek menoleh ke arah suara.


"Ha...ha..." seseorang yang dipanggil bos itu pun mendekat ke arah Elis dengan suara tawa yang memekakkan telinga.


"Hei...kau tikus kecil" panggilnya ke arah Elis.


Elis menatap laki-laki yang tak dikenalnya itu.


"Siapa kau?" Elis menatap laki-laki itu penuh selidik.


"Ha...ha....kau tak perlu tau" tukasnya.


"Untuk apa kau membawaku?" tanya Elis.


"Karena perintah dari bos nya bos" ujarnya, tak memberi titik terang kepada Elis.


Elis mencoba menelisik situasi saat ini di mana dia berada. Elis mencoba mencari ponsel yang disimpannya di saku belakang.


"Sial, terjatuh di mana ponselku?" gerutu Elis.


Elis mencoba bersikap tenang. Aku harus memikirkan cara melarikan diri sekarang, batin Elis.


Tapi sepertinya mereka berjumlah lebih dari lima orang, monolog Elis.


"Bang, aku lapar. Orang yang diculikpun butuh asupan loh bang" kata Elis, menunggu reaksi orang yang menjaganya di depan pintu.


Tak ada sahutan, Elis mencoba bersuara lagi.


"Kau ini cerewet sekali" kata penjaga di depan.


"Bang, beneran. Aku lapar bang" ucap Elis lagi.


'Apa aku pura-pura jadi orang gila saja ya' Elis kembali bermonolog.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝💝💝💝💝

__ADS_1


__ADS_2