Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 105


__ADS_3

Bara ingin istrinya cukup melahirkan di rumah sakit nya sendiri, tapi dia juga mengharapkan Om Abraham senantiasa mendampingi kelahiran calon putra keduanya itu.


Karena tak ada alasan medis apapun, Elis ingin melahirkan normal. Apalagi Bara yang dokter saja menyetujui keinginannya.


"Sayang, yakin ingin spontan?" tanya Bara saat melihat sang istri packing perlengkapan bayi dan baju ganti selama di rumah sakit. Biar kalau terasa sewaktu-waktu tak merepotkan sang suami.


"Apa kau ingin mencoba persalinan normal tanpa rasa sakit?" sela Bara, duduk di sampng koper tempat Elis menata baju.


"Emang ada?" telisik Elis.


"Ada lah, nanti suamimu ini yang akan menyuntikkan penghilang rasa sakitnya" ujar Bara.


"Idih, jarum suntik aja aku takut" Elis bergidik ngeri.


"Aku ingin mencoba menikmati semua prosesnya yank" imbuh Elis.


"Okelah.Tapi kalau nanti di tengah jalan minta, nggak akan aku kasih" canda Bara terkekeh.


Elis merajuk.


"Oke beres" Elis menepuk koper yang telah ditutupnya.


"Yank, olahraga yuk" ajak Bara.


"Apaan sih, nggak capek. Kan barusan pulang operasi" jawab Elis.


"Kata Om Abraham semakin sering aku ngajakin olahraga akan mempercepat dan mempermudah persalinan loh" kata Bara.


"Emang ada teorinya?" telisik Elis yang memang awam dengan hal-hal medis.


"Heemmmmm" Bara mengangguk.


"Makanya ayo kita coba!" gurau Bara.


Elis yang semenjak kehamilan delapan bulan lebih suka memakai daster dan jarang memakai dalaman memudahkan Bara untuk melancarkan aksi.


Dan dalam sekejap sudah terdengar lenguh4n dari mulut Elis, saat Bara sudah bermain di puncak kembar yang semakin kencang itu.


Bara mengis4p, dan tetesan 4SI keluar dari sana. "Yank, sepertinya kau sudah siap mengasi" kata Bara.


"Rasanya apa yank?" tanya Elis dengan bodohnya, membuat Bara menghentikan sejenak apa yang dilakukan.


"Menurutmu?" tukas Bara.


Semua merk susu kemasan disebutkan oleh Elis, membuat Bara terkekeh.


"Rasanya sungguh tiada tara sayang" ucap Bara kembali mengulum puncak yang terlihat menegang itu.


Mereka telah mencapai pelepasan bersama setelah beberapa saat. "Semoga setelah ini dilancarkan persalinannya" kata Bara mengecup kening Elis.


"Aamiin" tukas Elis dan kemudian memeluk sang suami.


Menjelang pagi, saat hendak ke kamar mandi. Tiba-tiba saja keluar air merembes dan mengalir di paha Elis. Elis terkaget di buatnya.

__ADS_1


"Sayang...sayang..." Elis mencoba membangunkan Bara.


Lebih sepuluh menit Bara belum juga membuka mata.


"Sayang..."bisik Elis.


"Kok keluar air tapi nggak terasa mules" Elis bermonolog.


"Sayang bangun dong, sepertinya anak kita mau lahir" Elis menggoyang-nggoyangkan tubuh Bara dengan keras.


"Apa sudah lahir? Kenapa kau tak bangunkanku" kata Bara. Sepertinya nyawa Bara belum terkumpul semuanya.


"Sayang, bangun dong" panggil Elis sekali lagi.


"Katanya mau jadi suami siaga?" Elis mulai bersungut. Padahal dalam hati Elis tak tega, pasti suaminya sekarang sangat capek. Mengurus Dirgantara grub. Belum lagi sebagai dokter anesthesi. Ditambah lagi bolak balik Star Media. Tapi Elis juga bingung melakukan apa, karena juga tak paham dengan kondisi dirinya.


"Aku telpon kak Maya aja" seloroh Elis dan mengambil ponsel di atas nakas.


Ponsel langsung tersambung.


"Halo Elis, sudah kerasa kah?" tanya Maya langsung.


"Kak, kok keluar cairan encer gitu ya? Padahal aku nggak kerasa BAK loh. Kontraksi perut juga belum sering" jelas Elis.


"Oh, gitu ya? Bisa jadi itu air ketuban. Kak Bara ke mana?" telisik Maya.


"Noh, di sebelahku. Tapi masih tidur" ulas Elis.


"Bangunin. Abis itu langsung berangkat ke rumah sakit" suruh Maya.


.


Elis kembali membangunkan Bara, "Sayang, bangun dong" Elis mengecup pipi Bara. Geregetan dibangunkan sedari tadi masih pules aja.


"He...he...sudah keluar air ketub4n?" tanya Bara.


"Kok tahu??" Elis menautkan alisnya.


"Bersihin dulu badan, abis ini kita ke rumah sakit" sambung Bara.


"Nggak usah lama-lama" lanjutnya.


"Aku mandi di kamar Agni aja, skalian mbangunin dia" ujar Bara.


Elis hanya menjawab anggukan.


Melihat reaksi Bara yang tenang, Elis pun kut tenang.


Sampai di lobi IGD, Elis telah ditunggu beberapa staf.


"Enak ya, berasa pejabat aja" celetuk Elis terkekeh.


Elis naik kursi roda dan didorong oleh Bara.

__ADS_1


"Dokter Anita sudah datang?" tanya Bara ke bidan jaga.


"Sudah dok, kebetulan tadi dokter Anita habis nolong persalinan spontan" jelasnya.


"Heemmmm" Bara menjawab dengan gumaman.


"Pagi dokter Bara. Pagi nyonya Elis" sapa dokter Anita.


"Sepertinya ketub4n sudah pecah" jelas Bara.


"Oke aku periksa dulu" jawab dokter Anita dan mempersilahkan Elis naik ke bed pemeriksaan.


"Rileks ya nyonya biar nggak sakit" ucap dokter Anita saat akan melakukan pemeriksaan pembukaan.


"Berapa?" tanya Bara. Elis yang mendengar mengkerutkan dahi, "Kok berapa?" sela Elis.


"Hemmm, maksudnya dokter Bara pembukaan berapa nyonya" jawab Anita terkekeh.


"Ooohhhhh, maaf" sahut Elis.


"Oke, saya jelaskan semua ya berdasar hasil pemeriksaan yang kulakukan tadi" imbuh Anita.


Bara dan Elis mengangguk kompak.


"Begini dok, begini nyonya. Hasil pemeriksaan tadi pembukaan masih satu, ketub4n emang sudah pecah. Cuma kendalanya, kalau dari bawah bagian terendah belum masuk. Menurut prediksiku bayinya lumayan besar loh" jelas Anita.


"Kemudian tak lihat dari pemeriksaan prof. Abraham ada lilitan dua kali. Kalau saran saya sih langsung operasi saja dokter Bara" ucap dokter Anita.


"Kalau spontan, kemungkinannya gimana?" tanya Bara.


"Ya musti dipacu sih, biar pembukaan cepet bertambah. Apalagi ketuban sudah negatif. Tapi tentu saja akan sangat beresiko, karen bagian terendah belum masuk ke panggul" sahut Anita.


"Sudah langsung operasi saja" kata papa Suryo bersama mama Clara.


"Kalian kok sudah di sini aja?" celetuk Bara. Alhasil pelototan papa Suryo didapat Bara.


"Abraham ntar lagi nyusul. Dan dia juga nyaranin untuk operasi saja" sahut papa Suryo.


Bara memandang Elis dan dia genggam tangan sang istri yang dingin.


"Aku takut" seloroh Elis.


"Nanti kudampingin di dalam kamar operasi" tatap Bara ke arah sang istri.


"Bius sendiri saja dok" canda Anita.


"Emang harus begitu. Mana dia rela istrinya dibius sama Heru dan Mirza" sela Alex yang barusan gabung di sana.


"Ha...ha...itu kamu tau" tukas Bara.


Elis dipersiapkan. Bara menungguinya dengan setia. Meski hati masih saja deg-deg an sampe sekarang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2