Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 98


__ADS_3

Bara mengajak sang istri ke butiknya yang berada di mall Dirgantara grub.


"Sayang ngapain kita ke sini, kenapa aku musti nyoba semuanya?" celoteh Elis tak berhenti sedari dia masuk ke butik ini.


Bara mencium bibir sang istri karena gemas dengan segala pertanyaannya tadi.


"Kok malah mencium sih" Elis bersungut.


"Malu atuh sama semua yang disini" lanjutnya.


"Santai aja, mereka tak berani melihat...he...he..." ungkap Bara dengan pedenya.


"Jawab dulu, kenapa aku di suruh fitting?" telisik Elis.


"Temanku itu ada yang mau nikah, calon istrinya itu posturnya sama seperti kamu yank" beritahu Bara.


"Kenapa nggak coba sendiri aja?" tanya Elis.


"Sayang, acaranya itu minggu depan. Tapi sang istri masih di luar negeri buat nyelesaikan tugas-tugasnya. Nggak salah kan kalau kita membantu?" ujar Bara.


"Nggak salah sih. Tapi kenapa harus aku?" tanya Elis masih saja penasaran.


"Sudah, ayo coba aja. Itung-itung menolong teman" kata Bara dengan senyum tersungging di bibir. Tak sesulit yang dibayangkan membujuk istrinya, mesti dengan sedikit jurus modus...he...he...


Bara memberitahu Iwan bila dia sukses membujuk istrinya lewat pesan.


Sedetik kemudian Iwan menelpon bertepatan dengan Elis yang sedang mengganti baju.


"Halo Tuan, untuk tempat acara dan segala kelengkapannya semua siap. Tempat tetap di hall hotel Drigantara Grub" beritahu Iwan.


"Iwan, selesai ini kita ke Star Media. Aku akan mengantarkan undangan langsung. Dan menindaklanjuti rencana kerjasama dengan perusahaan itu" perintah Bara.


"Tuan, tapi sesudah fitting agenda anda adalah ke rumah sakit. Ada operasi elektif othopedi dengan dokter Andre" Iwan mengingatkan.


"Baiklah. Siapkan saja setelah ini. Kau buatkan janji temu dengan pihak mereka. Aku akan minta tolong dokter Mirza atau dokter Heru untuk menggantikan aku" ucap Bara.


"Baik tuan" jawab Iwan.


Tak seperti biasanya tuannya itu begitu bersemangat rapat. Batin Iwan saat Bara menutup panggilannya.


Bara bengong saat panggilannya telah terputus bersamaan dengan sang istri yang keluar dari ruang ganti dengan sangat anggun.


"Sayang, baju ini bagus sekali. Pas sekali dengan ukuran tubuhku" seloroh Elis dengan riang.


"Andai aku yang pakai sendiri, duh senangnya" celoteh Elis dengan badan diputar-putar.


Hhhhmmm, itu memang untuk kamu sayang. Gumam Bara dalam batinnya.

__ADS_1


"Gimana, sudah pas kan ukurannya? Boleh kulepas?" Elis menghampiri sang suami yang terpesona melihat sang istri, sambil mencubit gemas lengan sang suami.


"Awwww...sakit sayang" kata Bara.


"Itu hukumannya karena bengong sedari tadi" kata Elis dengan tertawa.


Bara mengurai senyum di bibir. "Oke, makasih sayang. Hari ini kau banyak membantu" puji Bara.


"Kita ke mansion papa ya abis ini?" ajak Bara.


"Aku ikut ke Dirgantara aja" celetuk Elis.


"Tapi sayang, aku ada rapat di luar hari ini" Bara mencoba menjelaskan.


"Iwan itu sudah seperti istrimu saja. Bahkan waktumu lebih banyak sama Iwan loh sayang" sungut Elis.


Melihat ekspresi Elis saat ini, sungguh Bara ingin menciumnya sampai habis.


"Sudah ayo ke mansion aja. Mama dan Maya juga berada di sana" imbuh Bara.


Saat di mobil Bara mencoba menghubungi dokter Mirza. "Dok, bisa minta tolong hari ini. Ada elektif orthopedi, bisa nggak ngantiin?" tanya Bara.


"Oke bossss, tapi mungkin agak mundur jam nya. Aku sedang di IGD ini" jawab dokter Mirza.


"Aku saja yang menghubungi dokter Andre" imbuhnya.


"Oke dokter Mirza. Terima kasih" ucap Bara saat menutup panggilan ponselnya.


"Sepertinya rapat kali ini penting sekali sayang, sampai jadwal operasi saja minta tolong ke dokter Mirza?" tutur Elis.


"Heemmmmm" gumam Bara.


Karena rapat kali ini tentang masa depanmu sayang. Mau tidak mau aku harus berhasil mendapatkan kerjasama ini. Pikir Bara.


Mama dan Maya menyambut kedatangan Elis yang baru saja tiba diantar oleh Bara.


"Jangan sampai istriku tau tentang semua rencanaku" bisik Bara ke telinga Maya.


"Siap tuan bos" ujar Maya terkekeh.


"Kalian ngobrolin apaan sih? Pake bisik-bisik segala?" tanya Elis.


"Aku pergi dulu ya sayang, Iwan sudah tiba di depan tuh" celetuk Bara dan semua juga melihat kalau memang barusan ada mobil yang berhenti di depan mansion.


Elis bersungut karena tak mendapat jawaban yang diinginkannya keburu Bara pergi.


Maya menghampiri sang adik ipar, "Nggak usah bete, kita lagi bicarain pasien di rumah sakit" jelas Maya.

__ADS_1


Penjelasan Maya tak begitu saja Elis percaya. Pasti ada yang disembunyikan oleh suaminya, tapi apa? Ah, entar aja kutanya lagi saat suamiku balik.


Bara pergi meninggalkan sang istri di mansion papa nya.


"Iwan, sudah kau buat janji temu dengan pemilik Star Media?" telisik Bara saat baru saja duduk di jok mobilnya.


"Sudah tuan, sepertinya bos media itu senang sekali menerima penawaran kerjasama anda" tukas Iwan.


Bara memang sengaja menginvasi perusahaan yang sepertinya cuma dijadikan tameng oleh sang pemilik untuk menutupi perusahaan ilegal yang disembunyikan.


"Tuan, sudah kau pikirkan dengan matang?" Iwan mencoba mengingatkan.


"Heemmmm...." gumam Bara.


"Sepertinya mereka sangat licik tuan" lanjut Iwan.


"Kalau nggak licik, mereka tak akan mengambil Starco dengan paksa Iwan" ucap Bara.


"Bahkan mereka melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tujuannya" Bara mengeratkan genggaman tangannya.


"Kau tau Iwan, tujuan mereka mengambil alih paksa Starco. Untuk mendapatkan modal lebih banyak supaya usaha ilegalnya kembali berjalan" kata Bara bermonolog.


Iwan hanya terdiam. Karena memang hasil penyelidikan menunjukkan semua yang diungkap oleh bos nya barusan.


"Aku akan meminta bantuan kakakku dan juga papa untuk membantu jika saatnya tiba" kata Bara.


Bara sengaja memakai uang pribadi untuk mendapatkan kembali perusahaan sang papa mertua yang tak sempat dikenalnya. Ada hak Elis dan Chyntia sebagai ahli waris perusahaan itu, maka dari itu Bara hanya memakai nama besar Dirgantara untuk sedikit menggertak Star Media.


Dan benar saja, ternyata pemilik Star Media adalah laki-laki berumur yang sering bersama dengan Anjani.


"Silahkan duduk tuan Bara, perkenalkan nama saya Markus" ucapnya sambil menyalami Bara, CEO Dirgantara.


"Saya sudah mendengar semua maksud kedatangan anda. Tadi tuan Iwan asisten anda sudah menjelaskan semua" beritahu Markus.


"Benar tuan. Saya dengar perusahaan anda sedang membutuhkan tambahan modal, jadi kedatangan saya ke sini untuk itu" tandas Bara penuh ketegasan di setiap kata-katanya.


"Benarkah? Kenapa anda tertarik tuan Bara. Padahal setahu saya, Dirgantara belum pernah menjamah bisnis media?" telisik Markus.


Aku harus hati-hati dengan ucapanku. Batin Bara. Laki-laki ular ini sepertinya sangat jeli dengan situasi.


"He...he...aku rasa Star Media tak perlu aku ragukan lagi kemampuannya di bidang media. Makanya aku yakin, jika modal yang aku tanam di sini tidak akan merugikan Dirgantara" tukas Bara penuh ketenangan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading.


πŸ’

__ADS_1



Sori telat up, karena tiap pagi musti mojok dulu.


__ADS_2