Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 53


__ADS_3

"Ooooo...ternyata makhluk astral itu" gumam Bara.


Elis menoleh mendengar apa yang dikatakan Bara.


"Makhluk astral?" tukas Elis.


"He...he...nggak kok" jelas Bara menatap Elis.


"Pah, aku lapar" kata Agni.


"Pesen online aja ya, biar om Iwan yang mesenin" tukas Bara.


Bara mengirim pesan ke Iwan untuk memesan makan siang.


"Mah, ke ruangan sebelah yuk. Kita mainan di sana aja!!" Agni menarik Elis masuk ruangan sebelah yang ternyata sebuah kamar luas lengkap dengan perabotnya. Bahkan baju ganti Bara juga lengkap tersedia di sana.


Agni membuka pintu lemari pendingin. Agni mengambil sekotak kecil susu kemasan.


"Bentar Agni, mama Elis cek dulu" Elis mengambil susu kemasan yang diambil oleh putri Bara itu.


"Oh..masih aman" ucap Elis menyerahkan susu kotak untuk diminum oleh Agni.


"Jelas saja aman, itu baru kemarin dibeli oleh Iwan" sela Bara yang ikutan masuk ruangan itu.


"He...he...maaf tuan. Aneh aja, di perusahaan sebesar ini ada susu kemasan untuk anak kecil" Elis terkekeh.


"Iwan selalu nyediakan, jaga-jaga kalau seperti ini. Agni mendadak ingin ikut ke sini" jelas Bara.


"Kau telpon lah mama mu" suruh Bara.


"Kasih kabar juga kalau kau betah kerja denganku" imbuh Bara.


"Hah????" pede amat bos ku ini. Batin Elis.


Elis mencoba ponsel baru miliknya. Elis terkaget, karena wallpaper nya memunculkan gambar mereka bertiga.


"Loh? Ini?" Elis menunjukkan wallpaper ke Bara.


Bara juga bengong melihatnya. "Ulah Iwan, siapa lagi?" celetuknya.


"Kalau kau tak suka, boleh kok kau ganti" sarkas Bara.


"Nggak kok tuan, aku suka" jawab Elis. Dia pandangi wallpaper itu.


Sesungging senyum di bibir Bara meski tak terlihat oleh Elis.


"Hayo, tunggu apa lagi? Telponlah mama mu!" suruh Bara lagi.

__ADS_1


Elis menekan nomor adiknya dan menyimpannya. Barulah dia mendial nomor adiknya. Sekali tak diangkat, dua kali tak diangkat juga.


Elis baru tersadar kalau mereka berdua itu setipe, tak pernah mengangkat nomor yang tak dikenal. Trauma teror anak buah juragan Darto yang selalu menagih hutang pak Beni.


"Belum diangkat?" tanya Bara yang selalu menatap Elis sedari tadi.


"Belum tuan, mungkin Chyntia masih di sekolah. Jadi nggak mengangkat panggilanku" Elis beralasan.


"Nanti sore aja, kucoba lagi" ulas Elis.


Ketukan pintu terdengar dari luar. "Tuan, ini Iwan" suara Iwan terdengar dari balik pintu.


Biasanya Iwan langsung masuk abis ketuk pintu. Tapi karena ada Elis dan Agni, Iwan menunggu disuruh masuk terlebih dahulu.


"Masuk aja!" perintah Bara.


"Makan siangnya" Iwan meletakkan beberapa bungkusan makanan di meja Bara.


"Oke, makasih" ucap Bara.


Bara membawa semua nya ke ruangan di mana Agni dan Elis berada. Mereka makan siang bersama.


Agni menguap setelah perutnya terisi.


"Ngantuk?" Elis tersenyum ke arah Agni.


"Temenin" rajuk Agni.


"Nggak" tolak Agni.


"Aku sama mama aja" lanjutnya.


Bara pura-pura merajuk. "Semenjak punya mama, papa jadi sering dikesampingkan" kata Bara.


"He..he..sama papa kan udah sering. Kalau sama mama kan baru kemarin Pah" Agni ikutan ngerajuk.


"Iya..iya..Papa nggak apa-apa. Lagian papa juga mau kerja di ruangan sebelah" Bara mengecup kening sang putri.


Bara keluar dari ruangan membiarkan Elis dan Agni istirahat. Dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi.


Belum juga memegang berkas, panggilan IGD terlihat di ponselnya.


"Halo dengan dokter Bara" ucapnya.


"Siang dokter, ini ada pasien pasca kecelakaan. Sepertinya trauma kepala. Kesadaran menurun" lapor dokter jaga.


"Periksa menyeluruh saja dulu. Jika ada indikasi trepanasi, pindah pasien ke kamar operasi jika keadaan umum stabil" advis Bara.

__ADS_1


"Baik dokter" jawab dokter jaga dan menutup panggilannya.


Bara menghembuskan nafas panjang.


Kesibukan yang dulu sangat dinikmati karena untuk menghabiskan waktu biar tak selalu teringat dengan mendiang sang istri.


Tapi sekarang pandangan itu mulai berubah, semenjak sang putri sudah pintar protes dengan kesibukannya yang tak mengenal waktu.


"Yasmin, apa memang sebaiknya aku berkeluarga lagi? Memberikan keluarga yang utuh untuk putri kita" gumam Bara.


Bara menatap foto Yasmin yang tersenyum ke arahnya. Wanita yang selalu menghiasi hati dan pikiran Bara walau telah jauh meninggalkannya.


Iwan kembali mengetuk pintu ruangan Bara.


"Masuk aja" tukas Bara.


"Ada apa lagi?" Bara mendongak dan meletakkan kembali foto mendiang istrinya di atas meja.


"Ini tuan, semua sudah kubenahi" Iwan menyerahkan berkas kerjasama ke Bara.


"Tinggal tanda tangan nih?" canda Bara.


"Sebaiknya begitu. Karena tuan Daniel sudah menanyakan dari kemarin" imbuh Iwan.


Bara membubuhkan tanda tangan di berkas kerjasama itu.


Perusahaan tambang yang baru dimulai oleh Dirgantara Grub.


"Minggu depan kita diundang ke perusahaan tuan Daniel sekalian meninjau lokasi tambang tuan" beritahu Iwan.


"Berapa hari?" tandas Bara.


"Kurang lebih tiga harian tuan" imbuh Iwan.


"Kalau begitu, tata ulang semua jadwalku. Sekalian aku ngajak liburan putriku" pertegas Bara.


"Putri apa yang lain tuan?" goda Iwan.


"Dua-duanya" tandas Bara.


"Ha...ha...siap tuan" Iwan terbahak.


"Jangan keras-keras. Putriku sedang tidur" Bara menaruh jari telunjuk di depan mulutnya sebagai isyarat agar Iwan diam.


"Baiklah, akan aku atur scedule Tuan untuk Minggu depan" Iwan pun undur diri.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


πŸ’


__ADS_2