
Elis dipindah ke instalasi bedah sentral dengan tangan sudah terpasang infus.
Bara menggenggam tangan sang istri erat. Tangan yang mengeluarkan keringat dingin karena gugup.
"Sudah jangan takut, pasrah aja sama Sang Pembuat Kehidupan" kata Bara meski hatinya juga deg-deg an.
Elis mengangguk.
"Aku ganti baju dulu bentar" pamit Bara. Elis menggeleng lemah.
"Bentar aja sayang" tukas Bara.
"Mama temenin" sela mama Clara.
"Yaaa???" Bara minta persetujuan Elis.
Elis mengangguk sudah ada mama Clara.
"Yang tenang sayang, mama dulu juga gitu. Panik dan cemas. Apalagi papa dulu nggak ngerti sama sekali seluk beluk melahirkan" mama Clara berusaha menenangkan.
"Bara di mana?" tanya Abraham yang tergopoh barusan datang.
"Ganti baju" beritahu mama Clara.
"Oke, aku susul ke sana" Abraham menimpali.
Bara keluar dari dalam ruang OK, mendekat ke Elis yang sekarang berada di ruang pre med.
Elis menatap siapa yang menghampirinya.
"Kenapa?" tanya Bara yang merasa diperhatikan Elis.
"He...he...kirain siapa. Ternyata suamiku sendiri" canda Elis.
"Kamu ganteng yank, kalau pakai baju kamar bedah" puji Elis tulus.
"Ha...ha....bisa aja" seloroh Bara.
"Mah, istriku kubawa masuk ya. Minta doanya semua biar dilancarkan" kata Bara.
"Pasti" tukas mama Clara dan memeluk Elis menantunya.
Bara mendorong sendiri sang istri ke kamar operasi dibantu oleh seorang perawat.
"Bos, perlu bantuan?" kata Anung yang barusan datang.
"Nggak perlu" jawab Bara.
"Nung, kamu siapin dulu semua. Ntar aku pas masukkan obat, kamu nggak usah nungguin" perintah Bara.
"Siap dok, ku sudah tahu" tukas Anung.
Mana rela bagian tubuh istrinya dilihat oleh yang lain.
__ADS_1
Bahkan Bara juga minta tolong dokter Anita untuk membantu proses persalinan istrinya. Tentu saja didampingi oleh prof. Abraham.
"Yakin mau kau bius sendiri Bar?" tanya Om Abraham yang barusan gabung.
"Yakin Om" tegas Bara.
"Oke, kau mulai aja" kata Abraham.
"Kamu yang tenang Elis" imbuh Abraham.
"Iya Om, Bismillah" jawab Elis.
Bara melakukan prosedur seperti biasanya. Elis mencoba menuruti semua yang dikatakan oleh sang suami dengan mulut komat kamit melafalkan doa.
"Oke sayang. Selesai. Kamu telentang lagi" kata Bara.
"Dingin banget" keluh Elis.
"Bentar, habis ini pasti diselimutin"
Tim kamar operasi yang kebetulan cewek semua, melakukan tugasnya masing-masing.
"Ijin dokter Bara, saya mulai ya" kata dokter Anita dan mulai memimpin doa.
"Dokter anaknya sudah datang ya?" kata dokter Anita mengkonfirmasi.
"Sudah dok, beliau stanby di tempat resusitasi" laporan perawat penerima ruang perinatologi.
"Oke" dokter Anita mulai melakukan prosedur tindakan bedah untuk melahirkan bayi.
Terus dia ciumi pipi sang istri agar tenang sementara tangannya menggenggam erat sang istri sambil sesekali melihat monitor yang terpasang.
Anung, juga telah masuk mendampingi tindakan Bara. Jadi Bara bisa konsen mendampingi sang istri.
Tak lama terdengar tangisan bayi yang baru keluar.
"Alhamdulillah" kata semua yang ada di kamar operasi.
Elis menitikkan air mata bahagia. Dan Bara mengusapnya pelan.
Bayi diletakkan ke dada Elis untuk melakukan inisiasi dini.
"Selamat Bar, baby boy" ucap Om Abraham menepuk bahu Bara.
"Makasih Om" Bara memeluk guru besar yang sudah dianggap papa nya sendiri.
"Gimana dokter Anita?" tanya Abraham memastikan.
"Aman prof" tukasnya dengan terus melanjutkan tindakan penjahitan.
"Aku keluar ya. Capek juga berdiri terus tanpa melakukan apa-apa di sini" canda Abraham.
"Kasih tau orang tua di luar itu Om. Mereka berdua pasti cemas" beritahu Bara.
__ADS_1
"Pasti" Abraham mengangkat jempol.
Memang benar kedua orang tua itu mondar mandir seperti gangsingan...he...he. .saat Abraham keluar kamar operasi.
"Selamat, cucu kalian bertambah. Baby boy" beritahu Abraham ketika papa Suryo dan mama Clara menatap ke arahnya.
"Keadaannya???" tanya mama Clara.
"Sehat. Tunggu aja, bentar lagi dipindahin ke ruag recovery" jelas Abraham.
Sementara di dalam kamar operasi, "Selesai dok. Kontraksi baik, perdarahan normal, keadaan umum nyonya juga baik. Laporan selesai" kata dokter Anita.
"Makasih semua atas bantuannya" tukas Bara mengucapkan terima kasih kepada kru kamar bedah yang membantu persalinan sang istri.
Elis telah dipindah ke ruang recovery dengan Bara tetap di samping.
"Ternyata begini rasanya menjadi ibu. Bahagia cemas campur aduk jadi satu" kata Elis.
"Makasih sayang" Bara mengecup kening sang istri dan ******* bibir sang istri. Bersamaan dengan itu mama dan papa masuk.
"Idih, sudah nyosor aja tuh anak kamu" ledek mama.
"Merayakan momen bahagia Mah" Bara beralasan.
Papa Suryo tak menanggapi tapi langsung mendekati Elis.
"Selamat ya" papa Suryo menyalami menantunya.
"Aku nggak diberi selamat nih" sela Bara yang masih lengkap pakai atribut kamar operasi.
Papa Suryo memeluk putra keduanya, "Selamat. Tambah satu lagi amanah yang kau dapat" amanatnya sambil menepuk bahu Bara.
"Siap Pah" sahut Bara.
Terdengar ketukan pintu, terlihat perawat masuk menggendong bayi yang merupakan putra Bara.
Bara langsung meminta menggendong bayinya. Diciumnya pipi gembul putranya. "Putra papa yang tampan" Bara menimang sang putra.
Rona bahagia terpancar di wajah Bara. Elis terharu melihat interaksi Bara dan baby boy.
"Kau beri nama siapa?" tanya papa Suryo.
"Jangan kau bilang belum ada ide seperti waktu Agni lahir" tukas mama Clara.
"Ha...ha...panggil aja baby 'A'" celetuk Bara.
"Kelanjutannya nanti aja ya...wkwkwkkkkk" Bara terbahak. Baby 'A' menangis.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π
Ada yang usul siapa nama anak Bara dan Elis, catat di komen yah.....π€π€π€
__ADS_1
Sori up nya ngelag, ikutan othor yang sedang bergaya repot π
Banyak cinta untuk kalian yang masih setia di Agenda Dokter Bara πππππ