Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 45


__ADS_3

Bara menghampiri Elis. "Doakan saja mama mu supaya operasinya lancar" ucap Bara.


"Terima kasih tuan" hanya itu yang bisa diucapkan Elis.


Bara dan Maya masuk ke ruangan operasi bersama.


Elis dan Chyntia menunggu di depan kamar operasi. "Chyntia kita ke Mushola saja yuk, doakan mama di sana" ajak Elis. Chyntia mengikuti langkah kakaknya.


Sementara di dalam, Maya dan Bara telah berganti baju operasi. Maya menghampiri nyonya Mawar yang telah terbaring di meja operasi.


"Berdoa ya nyonya. Semoga dilancarkan semua" ucap Maya.


"Iya dokter. Saya sedikit gugup sekarang" katanya.


"Tim kami akan berusaha yang terbaik" imbuh Maya.


"Baiklah nyonya, kami akan mulai. Setelah bius masuk, nanti anda akan tertidur"jelas Bara.


Nyonya Mawar menangguk pasrah.


Bara menyiapkan obat-obatan yang diperlukan, saat Bara mulai memasukkan obat sedikit demi sedikit nyonya Mawar tertidur.


Saat nyonya Mawar telah lelap, "Siap May" kata Bara.


Maya mencuci tangan bedah dan bersiap memakai gaun steril dan juga sarung tangan.


"Aku akan melaksanakan prosedur biasanya ya kak" ucap Maya dan Bara mengangguk.


Maya dengan cekatan mulai membuka lapangan operasi di depannya. Dengan tetap fokus Maya melaksanakan langkah demi langkah prosedur operasi itu.


"May, apa ada perdarahan? Tekanan darah lumayan turun" ucap Bara.


"Sedikit kak, aku agak kesulitan ini. Ternyata lesi kanker meluas ke segmen bawah rahim" jelas Maya.


"Aku akan lebih hati-hati kak, di sini ada pembuluh darah yang lumayan besar" imbuh Maya.


Para kru kamar bedah juga melayani kedua bos rumah sakit itu dengan cekatan.


"Oke, dapat" celetuk Maya mengeluarkan jaringan yang berhasil dipotongnya.


"Keadaan umum stabil, tanda vital pun demikian" info Bara.


Hampir tiga jam Maya berkutat dengan lapangan operasi itu. "Kak, sudah aman. Habis ini sering-sering tengok juga nih calon mertua" canda Maya.


Bara mendelik ke arah Maya.


"Beneran dok?" sela Anung yang mengasisteni Bara.

__ADS_1


"He...he..." Maya terkekeh melihat reaksi dokter anesthesi itu.


"Kita ikut mendoakan saja, semoga dilancarkan sampai hari H" kata Anung dengan tangan posisi berdoa.


Sebuah botol infus kosong mengenai lengannya.


"Dokter Maya, aku kena timpuk nih" keluh Anung. Semua yang di sana menertawakan ucapan Anung.


Karena operasi hampir selesai, dan dokter Maya sedang menyelesaikan jahitan kulit paling luar. Maka guyonan-guyonan receh mereka mulai terdengar. Suasana yang berbeda tidak seperti saat mereka memulai operasi tadi.


Ponsel Maya berdering, Perfect Ed Shireen mengalun di kamar operasi.


"Boleh minta tolong? Lihatkan siapa yang menelpon" pinta Maya dengan tetap fokus menjahit.


"Siapa lagi yang berani menelponmu saat-saat begini" tukas Bara dengan yakinnya.


"He...he..." Maya kembali terkekeh. Bara juga pasti tahu itu siapa. Mayong lah pelakunya.


"Ya sudah biarin aja, ini juga mau selesai. Ntar aja biar kuhubungi balik" Maya menyimpul jahitan terakhir tanda operasi berakhir.


Maya telah melepas gaun bedah yang dipakai sekaligus atribut yang lain.


"Mas, boleh minta tolong dipanggilkan putri dari nyonya Mawar. Tadi dia menunggu di ruang tunggu depan" pinta Maya.


"Dipanggil ke sini dokter?" perjelasnya. Karena jarang dokter Maya memanggil keluarga pasien ke ruang dokter.


"Baik dokter" ucapnya seraya beranjak meninggalkan dokter spesialis obgyn konsultan onkologi itu.


Bara menyusul keberadaan Maya yang sedang melengkapi berkas rekam medik.


"Nih, laporan anesthesinya" Bara menyerahkan segepok lembaran kertas berisi laporan anesthesi selama operasi. Bara tak mengetahui kalau Maya memanggil Elis ke dalam ruangan itu.


"Oke kak" Maya menerima lembaran-lembaran kertas yang diberikan Bara.


Terdengar ketukan pintu di mana mereka berada. Bara pun menoleh, kaget juga melihat kehadiran Elis.


"Duduklah" ucap Maya tanpa beralih dari berkas rekam medik.


Bara masih menatap gadis cantik itu. Melihatnya memakai gaun kamar operasi warna maroon, semakin memperlihatkan kulitnya yang putih karena nampak kontras dengan warna bajunya.


Elis yang ditatap sebegitunya nampak gugup. Karena baru kali ini dia melihat Bara dengan atribut lengkap kamar operasi. Bagi Elis itu merupakan pandangan langka. "Kenapa tuan Bara semakin tampan aja dengan baju itu" ucap Elis dalam batin.


"Kok masih disitu, duduklah" Maya menoleh dan dilihatnya dua orang manusia yang saling menatap dalam diam itu.


"Eh, kok malah bengong kalian. Kalau saling suka ngomong dong" goda Maya.


Elis salah tingkah, sementara Bara membuang pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Elis telah duduk di depan Maya. "Sudah siap mendengar apa yang akan kujelaskan?" tatap Maya.


"Baik dokter" tukas Elis.


"Begini Elis, alhamdulillah operasi berjalan lancar. Dan untuk selanjutnya, saya harapkan nyonya Mawar tetap menjalankan prosedur selanjutnya. Jangan hanya berhenti sampai di sini. Untuk itu peran penting kamu dan juga adikmu sangat kita harapkan. Berikan semangat untuk mamamu menjalani proses pengobatannya" saran Maya.


Elis mengangguk. "Entah berapa kali saya mengucapkan dokter. Yang pasti sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada anda dan tuan Bara atas segala bantuannya" ucap Elis tulus.


"Sama-sama. Pertolongan semua dari yang di Atas, kita hanya perantaranya" tukas Maya.


"Beneran kan kak Bara?" Maya menoleh ke Bara. Bara mengangguk dengan muka datar.


"Abis ini mama mu akan dipindah ke ruang recovery, kamu bisa menemuinya di sana" akhirnya keluar juga suara mahal Bara. Maya tersenyum melihatnya.


"Terima kasih dok" Elis hendak beranjak dari sana.


"Dan jangan lupa akan janji kamu!" tandas Bara.


"Eh..." Elis menoleh tak mengira Bara akan mengucapkan itu di depan dokter Maya.


"Ha...ha...ha.... Perjanjian yang berlaku dua bulan itu????" Maya terbahak mendengar ucapan Bara.


"Jangan mau Elis, perjanjian itu lebih menguntungkan kak Bara. Kalau bisa minta ganti rugi yang besar untuk waktumu yang akan terbuang sia-sia dalam dua bulan ini" Maya mencoba mempengaruhi Elis.


"Maaf dokter, tapi tuan Bara sudah membiayai semua tagihanku selama di rumah sakit. Dan saya berjanji akan menggantinya" Elis masih kekeuh dengan keputusan yang telah disepakatinya dengan Bara.


Maya semakin tergelak, "Biaya rumah sakitmu itu tidak ada seujung kuku dari hartanya kak Bara. Jadi jangan terlalu merasa bersalah"


"Tak kau ganti pun, tuan Bara ini juga tak akan bangkrut" Maya semakin ingin menggoda mereka.


"Elis keluarlah. Jangan hiraukan apa yang dikatakan dokter Maya barusan" kata Bara.


"Ha...ha..." tawa Maya kembali terdengar. Bara hanya bisa mendelik ke arah Maya saat Elis barusan keluar dari ruang dokter itu.


"Aku tahu akal bulusmu kak" seloroh Maya masih tergelak. Bara semakin menajamkan pandangannya ke arah Maya.


"Ada apa ini? Kenapa melototi istriku?" Mayong yang barusan datang melihat sang adik sedang menatap tajam ke Maya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


ikan patin dalam ember, favoritin dong biar populer


🤗


💝

__ADS_1


__ADS_2