
Elis dengan sabar menunggu bapak petugas admin itu menyelesaikan tugasnya.
"Nona Elis" bapak itu mendongak memanggil Elis.
"Iya. Maaf pak, sebelum anda memberitahukan total biayanya. Apa boleh saya menanyakan sesuatu?" Elis mencondongkan mukanya lebih dekat ke arah bapak itu.
"Iya Nona" tukasnya.
"Pak, mungkin nggak sih kalau biaya di sini boleh saya cicil?" tanya Elis pelan, takut terdengar oleh yang lain. Yang juga sedang mengantri biaya rumah sakit.
Bapak itu mengernyitkan alis, heran dengan apa yang dikatakan oleh gadis di depannya itu.
"Boleh nggak pak?"Elis menanti jawaban dengan harap cemas.
"Nona.." bapak itu hendak mengatakan sesuatu. Tetapi malah dipotong oleh ucapan Elis, "Boleh ya pak, plisssss. Nanti kartu identitasku kutinggal dech" potong Elis.
Bapak bagian admin itu sampai semakin heran dengan ulah Elis.
"Maaf nona, apa yang mau kau cicil. Sementara semua biayamu telah lunas" bapak itu memutar layar monitor komputer yang ada di depannya biar terbaca oleh Elis juga.
Elis melongo, "Kok bisa?" tanyanya.
"Bisa dilihat kan nona, kalau semua biaya telah lunas" pertegas bapak itu.
"Boleh nanya pak, siapa kira-kira yang telah melunasi bill ku?" tanya Elis.
Dan bapak itu menanggapi dengan mengangkat kedua bahu tanda tak mengerti.
"Baiklah pak, terima kasih" Elis beranjak.
"Tunggu sebentar nona" tukas bapak admin itu.
Elis kembali duduk, "Apa ada kekeliruan pak?"
"Bukan nona, tolong tunggu sebentar. Aku printkan kuitansi, nanti tolong serahkan ke nurse station di mana ruangan anda dirawat. Agar anda mendapatkan surat kontrol" jelas bapak itu.
Elis pun mengangguk, karena dalam pikirannya masih bertanya siapa yang melunasi bill tagihan rumah sakit ini.
"Apa mungkin tuan Bara? Kalau bukan dia siapa lagi" gumam Elis.
Setelah mendapatkan kuitansi pembayaลan, Elis benar-benar melakukan seperti yang dijelaskan oleh bapak bagian admin itu. Dia menyerahkan sebuah kuitansi pembayaran untuk mendapatkan surat kontrol pasca rawat inap di sana.
"Baiklah nona Elis. Di situ tertulis kapan dan jam berapa anda harus datang untuk kontrol" jelas perawat jaga dengan sopan.
__ADS_1
"Baik kak. Terima kasih" ucap Elis dan undur diri dari nurse station. Karena jalannya yang belum bisa cepat seperti sebelum operasi, tak sengaja dia mendengar obrolan para perawat di nurse station itu. Elis pun menghentikan langkah kakinya.
"Enak benar nona itu. Sangat diperhatikan dokter Bara. Bahkan beberapa kali dokter Bara juga menyempatkan ke ruangannya. Apa istimewanya sih dia" terdengar nada sinis ucapan salah satu perawat tadi.
"Benar sih, kok bisa dokter Bara perhatian dengan cewek lusuh seperti itu" tukas yang lain.
"Apalagi dia dirawat juga karena luka tusukan senjata tajam. Dia pastilah gadis bar-bar. Bahkan aku lihat banyak petugas polisi hilir mudik di kamarnya. Dia terlalu merepotkan dokter Bara. Apalagi aku dengar semua biaya juga ditagihkan langsung ke dokter Bara yang super ganteng itu" tandas mereka.
Elis melanjutkan langkahnya dengan air mata menetes. "Memang benar semua apa yang dikatakan mereka. Sebaiknya mulai saat ini, aku menjaga jarak dengan tuan Bara" gumam Elis.
Elis melangkah perlahan dari kamar inap setelah membereskan beberapa potong baju ganti yang dia pakai selama di rumah sakit.
Elis mengirimkan pesan ke nomer Bara, untuk mengucapkan terima kasih. Tak lupa dia juga berjanji kalau dia akan mengganti semua biaya yang dia pakai selama rawat di rumah sakit.
Elis menghampiri kamar di mana mama Mawar dirawat di sana.
Senyum teduh mama menyambut kedatangan Elis.
"Mama apa kabar?" peluk Elis untuk sang mama.
"Hhmm, seperti yang kau lihat. Yang pasti lebih baik dari yang sebelumnya" tukas Mama.
"Alhamdulillah" ucap syukur Elis.
"Loh, kan Elis sudah diperbolehkan pulang Mah. Jadi Elis gantian yang nungguin mama" kata Elis.
"Elis, kamu istirahat di rumah saja. Mama sendirian di sini nggak apa-apa. Hari ini mama tinggal nunggu hasil pemeriksaan tadi sama nunggu dokter Maya" jelas mama.
"Kalau gitu aku ikutan nunggu dokter Maya saja. Biar tau keadaan mama" imbuh Elis.
"Anak ini susah kali dibilangin. Suruh istirahat saja susah amat" sungut mama.
"Iya..iya...aku akan pulang nanti. Tapi setelah dokter Maya ke sini" ucap Elis tak beranjak dari duduknya.
Mama terdiam, percuma memaksa kalau Elis bersikeras menunggunya.
"Mah, apa polisi kemarin datang ke sini?" tanya Elis. Mama Mawar mengangguk.
"Mah, jangan bilang kalau mama juga baru tau kalau surat nikah mama itu palsu?" mata Elis memicing.
Dan mama Mawar kembali mengangguk.
"Mah, bagaimana bisa?" Elis heran bagaimana bisa mamanya tidak tahu. Apalagi hadir Chyntia di tengah pernikahan palsu itu.
__ADS_1
Mama Mawar menatap Elis putrinya. "Elis kamu sudah dewasa, sudah saatnya mama cerita"
Demikian juga Elis menatap serius sang mama.
"Chyntia itu adik kandungmu, bahkan papa nya juga papa mu. Papa Andreas adalah papa kalian. Kamu ingat kejadian kecelakaan saat itu?" tanya mama. Dan dijawab anggukan Elis.
"Saat itu mama baru mengandung Chyntia. Dan sehari sebelum kita berangkat piknik itu mama memberi kejutan kepada papa. Papa sangat senang karena kau akan mempunyai adik. Makanya papa penuh semangat mengajak kita liburan saat itu" cerita mama.
"Tapi bagaimana bisa mama sampai tidak tahu kebusukan pak Beni?" ulas Elis.
"Karena pak Beni selalu menegaskan, kalau dia mendapatkan amanat dari papa Andreas untuk selalu menjaga kita bila sewaktu-waktu papa mendahului kita" imbuh mama.
Elis menautkan alisnya, tanda berpikir. "Kok bisa pak Beni bilang seperti itu? Bukannya aneh Mah, kenapa seakan-akan ada keyakinan kalau papa akan meninggal duluan di ucapan pak Beni itu?"
Mama mengangkat kedua bahunya. Sama-sama tak mengerti.
"Akan kuselidiki, biar semuanya jelas" gumam Elis.
"Sebaiknya tidak usah kau lanjutkan Elis. Akan sangat berbahaya untukmu" larang mama Mawar dan berusaha mengingatkan sang putri.
Tapi bukan Elis namanya. Semakin dilarang dia akan semakin bertekad untuk melakukan itu.
Tiba-tiba pintu ruang rawat mama Clara diketuk oleh seseorang.
"Boleh masuk?" tanya ramah yang ternyata adalah dokter Maya.
"Silahkan dokter" tukas mama Mawar.
"Loh, Elis kok sudah di sini saja. Apa sudah boleh pulang?" tanya Maya.
"Sudah nyo...eh kak" ralat panggilan Elis ke Maya.
"Tadi Agni, putri kak Bara kayaknya sedang mencarimu dech. Apa kau tau?" ujar Maya.
"Enggak" jawab Elis singkat.
"Wah, bisa rewel dia kalau tak ketemu sama kamu. Hari ini saja dia mogok sekolah, dan sedari pagi dia sudah buat repot papa nya" cerita Maya.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
To be continued, happy reading
๐ค๐
__ADS_1