
"Besok pokoknya harus kau bawa Elis ke sini. Entah bagaimanapun caranya. Titik" ucap tegas mama Clara tanpa bisa dibantah Bara lagi.
Bara menatap Mayong seakan meminta bantuan pada sang kakak.
"Seorang CEO nggak boleh lemah, dokter juga begitu. Bukan begitu sayang" ucap Mayong menengok sang istri yang duduk di sampingnya.
"Perlu bantuan, bilang aja kak Bara" tukas Maya.
"Berharap bantuan kalian, sama aja menunggu hujan deras di musim kemarau" sergah Bara.
"Ha....ha....tapi itu mungkin terjadi lho. Nggak boleh bilang begitu" Maya tertawa.
"Tapi kemungkinan itu sangat kecil" imbuh Bara.
"Masih ada kemungkinan meskipun kecil" Mayong menimpali.
Bara beranjak sambil menggerutu, berharap dapat bantuan dari sang kakak, yang ada malah dapat olokan.
"Besok jangan lupa adikku sayang" teriak Mayong masih belum beranjak dari meja makan.
Bara mengangkat tangan kanannya, memunggungi sang kakak dan kembali menuju kamarnya.
Bara kembali melihat layar ponsel, dan tak ada balasan pesan yang telah dikirimnya tadi.
"Sombongnya!!!" umpatnya.
Dulu saja tiap kirim pesan ke sang istri, sesibuk apapun istrinya pasti langsung membalas.
Lha ini bukan apa-apaku, lelet amat balasnya. Bara masih saja menggerutu. Karena bukan apa-apamu, makanya dia tak punya kewajiban membalas pesanmu. Bisik hati Bara yang lain.
"Apa ku telpon aja ya??? Gengsi ah" gumam Bara sambil menimang-nimang ponselnya.
"Sudah telpon aja, daripada keduluan orang lain" kepala Mayong muncul di pintu kamar Bara.
"Haisssss.... Sudah urus saja keempat anak dan istrimu itu" sungut Bara.
"Ha...ha...." tawa Mayong membahana karena berhasil meledek adiknya.
Bara malam itu tidak bisa tidur nyenyak karena permintaan papa dan mamanya.
Selepas bangun tidur pun, Bara langsung membuka ponsel. Dan kembali dia kecewa karena tidak ada balasan pesan.
CEO pun juga bisa galau ternyata.
__ADS_1
"Pa, Ma selepas mengantar Agni aku ada jadwal operasi pagi lho" Bara beralasan.
"Aku sudah minta pak Bambang untuk memberikan cuti untukmu hari ini. Biar digantikan yang lain" tukas papa Suryo.
"Kok bisa? Aku nggak ngajukan cuti kok?" tolak Bara.
"Bisa saja, emang kamu lupa siapa papamu ini?" celetuk papa Suryo.
Bara hanya menggeleng melihat ulah Tuan Suryo. "Aku hanya ingat kalau papa adalah pensiunan CEO Dirgantara" Bara beranjak menghampiri Agni yang telah siap berangkat sekolah.
"Ayo sayang, kita berangkat" ajak Bara. Agni pun minta digendong oleh papa Bara.
Sampai di sekolah, selepas Agni masuk ke kelas. Bara berniat menunggu miss Elis yang sampai sekarang belum nampak batang hidungnya.
Hampir satu jam Bara di sana. "Guru macam apa ini??? Bahkan satu jam dia telat belum datang" gerutu Bara karena mulai berada kepanasan.
Bara mengirim pesan ke mama Clara kalau sampai sekarang dia belum bertemu dengan miss Elis. Dan dia bilang kalau mau ke kantor Dirgantara sebentar.
Bara sengaja memberi kabar sang mama dengan mengirim pesan tanpa menelpon, daripada dapat pidato dari mama Clara lebih baik dia kirim pesan saja.
Bara berjalan menuju perkiran sekolah tempat mobilnya berada. Dia lajukan ke arah perusahaannya. Saat melewati jalan sepi, tampak ada orang tergeletak di dekat sampah. Kalau sekilas pasti tak akan terlihat.
Bara menghentikan mobilnya tak jauh dari situ. Melihat sekeliling nampak sepi dan bahkan tak ada orang yang lewat. "Sepertinya seorang wanita" gumam Bara.
Belum terlihat wajahnya. Bara terkejut karena ada luka tusuk di perut. Senjata tajam masih tertanam di sana.
Bara selekasnya menghampiri.
"Elis?? Apa yang terjadi?" batin Bara. Bara berlari ke mobil untuk mengambil peralatan medis yang selalu tersedia di mobilnya.
Bara lakukan bebat di sekitar luka tanpa melepas senjata yang masih menancap itu. Dilihatnya Elis telah pingsan.
Bara melajukan mobilnya ke IGD Dirgantara. Saat berada dalam mobil tak lupa Bara menghubungi IGD dan juga IBS agar segera mempersiapkan operasi cito.
"Kau gadis cantik, kenapa hidupmu penuh masalah????" pikir Bara yang melihat Elis semakin pias wajahnya.
Dia raba pergelangan tangan Elis, teraba tekanan darah yang cepat dan tidak terlalu kuat tekanannya. Syok haemorragic, batin Bara.
Dia rendahkan kursi mobil agar kepala Elis bisa bersandar dengan sempurna, dan pasokan oksigen cukup untuk memenuhi otaknya. Bara sudah tak memperdulikan baju yang dia kenakan yang sudah penuh dengan darah Elis. Demikian juga kabin mobilnya.
Sampai di IGD, petugas garda terdepan di rumah sakit itu sudah siap menyambut kedatangan Bara. Tanpa peduli tatapan aneh beberapa orang yang dilaluinya, digendongnya tubuh Elis yang lunglai dan ditaruhnya ke atas brankar pasien.
"Berkas rekam mediknya dia pasti sudah ada di sini. Jadi jangan tanya identitasnya kepadaku lagi" tegas Bara yang tau pasti petugas admin itu akan banyak bertanya padanya terutama tentang biodata pasien.
__ADS_1
"Baik dokter Bara. Kalau boleh tau atas nama siapa? Saya akan mencarinya" ucap ramah petugas admisi pendaftaran itu.
"Elis Melati" jawab Bara.
Bara segera menghampiri keberadaan Elis. Sebuah botol infus telah terpasang di pergelangan tangannya. "Perdarahan kayaknya lumayan banyak dokter. Ujung kuku kaki dan tangannya anemis sekali" kata dokter jaga IGD itu. Bara mengangguk.
"Dok, kau hubungi dokter Bagus saja. Luka tusuknya dalam itu. Pisau yang menancap harusnya diambil di kamar operasi" beritahu Bara.
"Sudah dokter. Dokter Bagus sudah saya hubungi dan meluncur ke sini" jelas dokter jaga.
Bara sekilas melihat monitor yang terhubung ke tubuh Elis. Sejenak dia menghela nafas panjang, sedikit lega melihat tekanan darah dan nadi yang mulai stabil.
Bara bahkan ikut mengantarkan Elis sampai ke kamar operasi. Karena sedang tidak bertugas, Bara menunggu di depan kamar operasi. Mau menghubungi mama nya Elis, tapi tidak tau nomernya. Dia juga tidak menemukan ponsel Elis di lokasi kejadian.
Bara menghubungi Iwan asistennya, "Iwan, tolong kau selidiki kejadian Elis pagi ini" perintah Bara.
Bara menceritakan kronologi bagaimana dia menemukan Elis dengan kondisi seperti tadi. "Itu sudah kriminal tuan. Apa nggak sebaiknya kita laporkan polisi saja" usul Iwan.
"Baiknya memang begitu. Tapi selain melapor, selidiki juga terutama di TKP" imbuh Bara.
Orang-orang yang lewat memandang aneh baju Bara yang memang banyak tertempel noda darah. Dokter Bagus yang barusan keluar dari instalasi Bedah Sentral saja juga merasakan keanehan.
"Dok, emangnya ada apa? Kok sampai terjadi seperti itu?" tanyanya heran.
"Nggak tau juga dok. Ada wanita pingsan dengan luka tusuk senjata tajam di pinggir jalan. Sebagai seorang dokter, jiwa kemanusiaan terpanggil dong" tukas Bara.
"Gimana keadaannya? Perdarahannya? Luka tusuknya sedalam mana?" rentetan tanya dari Bara.
Melihat wajah dokter Bara yang cemas dan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan barusan, membuat yakin dokter Bagus kalau koleganya itu sekarang sedang mengkhawatirkan korban yang barusan ditangani tadi
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Ke toko beli roti sama kedondong, tolong like-nya dong π
Like, komen, vote n' jangan lupa favoritin dong biar karya ini populer
Follow juga IG author ya
@moenaelsa_
π
__ADS_1