Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 41


__ADS_3

Elis meninggalkan ruangan perawatan mama dengan sedikit lega. Paling tidak dia sudah tau kondisi terbaru sang mama. Hanya satu yang membuat dirinya galau sekarang, biaya operasi dan perawatan untuk dirinya sendiri selama dirawat di Suryo Husada. Padahal besok dirinya sudah diperbolehkan pulang.


Elis menghampiri nurse station, di mana perawat jaga berkumpul di sana.


"Sore kak" sapa Elis masih duduk di kursi roda.


"Iya nona Elis, ada yang bisa kami bantu?" ucap perawat itu penuh keramahan.


"Maaf.. Maaf kak...Boleh saya nanya perkiraan biaya perawatan saya. Kira-kira habis berapa?" tanyanya lirih penuh keraguan.


"Itu yang tau bagian administrasi nona. Untuk lebih jelasnya besok pagi waktu jam kerja, anda bisa bertanya ke sana" jelas perawat itu.


"Baiklah kak. Terima kasih" Elis pun balik ke ruang rawat inap di mana kamarnya berada. Saat memasuki kamar, barulah Elis tersadar kalau dia dirawat di kelas satu.


"Matih gue, pasti akan lebih mahal lagi biayanya. Darimana besok gue dapat uang?" gumam Elis sendirian.


Ponselnya kembali berbunyi di tengah lamunan Elis yang sedang pusing memikirkan biaya rumah sakit.


"Tuan Bara...ada apa ya?" gumam Elis dan belum juga mengangkat panggilan itu. Panggilan itu terputus dengan sendirinya.


Ponsel Elis kembali berdering lagi.


"Halo Tuan Bara" jawab Elis tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Selamat sore nona Elis, saya pak Agus dari kepolisian. Bisakah anda hadir untuk kami jadikan saksi dalam kasus penipuan yang dilakukan oleh saudara Beni" ucapnya membuat Elis terkaget dari duduknya. Dikiranya tadi yang menelpon adalah Bara.


"Akan saya usahakan pak, tapi saat ini saya masih di rumah sakit" jelas Elis.


"Seperti biasa, petugas kami yang akan datang ke sana untuk menemui anda" kata petugas itu.


Elis akhirnya mengiyakan saja permintaan sang polisi.


Karena sedang banyak pikiran, Elis malah tertidur di kursi roda yang ditempatinya mulai tadi sore saat dirinya berada di ruangan mama nya.


Elis terbangun karena badannya terasa sakit semua. Apalagi di luka bekas pembedahan itu, rasanya mulai nyeri. Elis sampai lupa minum obatnya.


Elis makan makanan yang sedari sore belum terjamah. Makanan yang sudah dingin itu tetap dilahap olehnya. Barulah sehabis itu Elis minum obat yang diresepkan oleh dokter Bagus.


Elis merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah dengan susah payah dia berpindah dari kursi roda. Terlihat helaan nafas panjang dari diri seorang Elis.


Keesokan hari, Elis benar-benar didatangi pihak kepolisian. Tak tanggung-tanggung, ada tiga orang yang menemui Elis.


"Nona Elis, bisa anda sebutkan hubungan anda dengan tuan Beni?" tanya awal penyidik itu.

__ADS_1


"Tuan Beni itu ayah sambung saya. Setelah papa kandung saya meninggal, mama saya menikah dengan pak Beni" jawab Elis sesuai yang diketahuinya.


"Kapan pernikahan itu dilakukan?"


Elis mencoba mengingatnya, "Saya tidak ingat persis tanggalnya pak. Cuma yang saya ingat, pak Beni menikahi mama saya selepas saya dan mama keluar rumah sakit. Karena pak Beni selalu menunggui kami saat di rawat di rumah sakit setelah kecelakaan itu terjadi" lanjut Elis.


"Saat itu usia anda?" penyidik melanjutkan perkataannya.


"Kurang lebih lima tahun pak. Tapi kejadian kecelakaan itu amat sangat saya ingat" kali ini ada nada tegas dalam ucapannya.


"Apa maksud anda nona?" alis sang penyidik nampak bertaut.


"Benar pak. Saya juga masih teringat sekali bagaimana paniknya papa saat tau rem mobilnya tak berfungsi. Padahal sebelum kami berangkat saat itu, papa telah mengecek keadaan mobil yang akan kami bawa. Dan....akhirnya seperti itu lah. Kecelakaan tetap terjadi dengan papa sebagai korban" Elis nampak memerah matanya.


"Maaf nona, kami mengingatkan anda dengan kejadian tak mengenakkan yang anda alami" ucap penyidik yang lain.


Elis mengusap air mata yang hendak jatuh itu.


"Apa mama anda terlihat bahagia dengan pernikahan keduanya?" lanjut penyidik untuk mendapatkan tambahan informasi.


"Tidak sama sekali" tegas Elis.


"Apa anda tau kalau pernikahan ayah dan mama anda palsu?" dijawab gelengan oleh Elis.


"Baik nona. Terima kasih atas kesaksian anda. Untuk informasi tambahan, hari ini kami juga akan menemui nyonya Mawar. Beliau di sini bisa disebut korban penipuan dari tuan Beni. Oleh karena itu keterangan beliau sangat kami perlukan. Bisa kami tahu keberadaan nyonya Mawar?" tanya penyidik dengan sopan.


"Mama ku juga sedang dirawat di rumah sakit ini" Elis menyebut ruangan di mana mama nya dirawat.


"Tapi sebelum menemui mama, sebaiknya anda bertiga minta ijin dulu ke dokter Maya. Jika beliau mengijinkan, silahkan menemui mama ku" beritahu Elis.


Ketiga polisi itu pun pamit undur diri. Karena sudah mendapatkan beberapa keterangan dari mulut Elis.


Elis mencoba berdiri sambil memegang perutnya. Perlahan dia angkat kakinya menuju tempat tidur. Meski tertatih, dia coba mobilisasi sesuai pesan dokter Bagus kemarin. Kalau ingin segera sembuh, jangan terlalu takut gerak.


Kebetulan dokter Bagus hari ini visite pagi. "Pagi nona Elis, gimana mobilisasinya?" sapa dokter Bagus mengawali visite pagi ini.


"Alhamdulillah dokter. Meski masih nyeri saya coba pakai jalan" tukas Elis.


"Baiklah. Silahkan baring. Saya akan memeriksa anda" ujar dokter Bagus.


Dengan dibantu oleh perawat yang mengikuti visite, Elis memposisikan dirinya seperti yang diminta oleh dokter Bagus.


Dokter Bagus pun memeriksa kondisi luka Elis yang masih tertutup perban itu.

__ADS_1


"Mba, sebelum nona Elis pulang sebaiknya ganti perbannya dulu" perintah dokter Bagus.


"Baik dokter" dan dengan cekatan perawat itu mengganti perban di perut Elis.


"Sudah selesai nona" kata perawat itu.


"Oke, luka baik keadaan umum juga baik. Hari ini anda saya perbolehkan pulang" ulang dokter Bagus.


Elis mengangguk. Rencana abis dokter Bagus memeriksa keadaannya, Elis hendak menemui bagian administrasi.


Sampai saat ini Elis masih bingung dengan keadaannya yang belum pegang uang sepeserpun.


"Bagaimana ini?" gumam Elis sambil mondar mandir.


Elis akhirnya memaksakan diri menanyakan letak bagian administrasi ke nurse station.


"Keluar aja dari pintu depan itu, terus belok kanan. Di sana ada tulisan admin rawat inap. Silahkan anda ke sana nona" jelas perawat jaga itu penuh kesopanan. Elis mengangguk.


Sampai di tempat yang ditunjuk oleh perawat tadi, Elis nampak terdiam dan ragu. "Tapi sudahlah, semua harus kuhadapi" Elis meyakinkan hatinya.


"Selamat pagi pak, saya Elis pasien dari ruang rawat inap bedah" kata Elis.


"Iya Nona, ada yang bisa kami bantu" tukas petugas admin itu tak kalah ramah.


"I..iya..pak. Aku mau menanyakan biaya atas nama ku selama di sini" Elis nampak gugup.


"Atas nama?" perjelas bapak itu.


"Atas nama Elis Melati pak"


"Baik, bisa ditunggu sebentar. Silahkan duduk nona" bapak itu mengecek komputer yang ada di hadapannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


beli ramen beli kopi di kantin #kasih komen, like, vote dan favoritin 🤗


Mencoba berkarya, semoga readers suka


💝


Follow IG othor dong

__ADS_1


@moenaelsa_


__ADS_2