Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 46


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa melototi istriku?" Mayong yang barusan datang melihat sang adik sedang menatap tajam ke Maya.


"Ha...ha...pembelaku datang" Maya semakin tergelak. Bara hanya bisa menoleh ke arah Mayong sang kakak.


"Ngapain CEO Nayaka ke sini. Nggak sibuk apa?" tanya Bara.


"Ye, terserah aku dong" tukas Mayong sengit.


"Sekarang jelasin, ngapain kau tadi melotot ke istriku" cerca Mayong.


"Kok ingat saja sih" gerutu Bara yang bahkan masih terdengar jelas oleh Mayong.


"Nggak ada apa-apa sayang. Kita lagi bahas kasus operasi kita tadi" jelas Maya.


"Calon mertua nya Bara itu?" tandas Mayong. Dan Maya pun mengangguk.


"Siapa calon mertuaku?" sela Bara.


"Yeiii...pura-pura lupa lagi. Nyonya Mawar kan?" ledek Maya.


"Kata siapa? Orang nggak ada hubungan apa-apa dibilang calon mertua" elak Bara.


"Terus hubungan kalian apa dong?" selidik Mayong sambil terus ingin menggoda sang adik.


"Dokter dan pasien" tegas Bara.


"Mana ada dokter biayain pasiennya, kalau tidak ada sesuatu" Mayong ikutan meledek seperti yang dilakukan Maya.


"Kan dia mau mengganti" bela Bara.


"Mengganti dengan menjadi pengasuh putrimu. Licik juga nih dokter Bara" imbuh Mayong sengit.


"Dia aja ikhlas, kok kakak sama Maya sewot" tukas Bara membela diri.


"Aku sudah tau semua rencanamu. Kau sengaja kan mau mengikat dia" lanjut Mayong.


"Kita dukung" celetuk Mayong dan Maya seia sekata.


Ganti Bara yang bingung. "Hei, kau CEO Dirgantara kok malah bengong sih?" Mayong menyenggol bahu sang adik.


"Kita dukung rencanamu untuk mengikat Elis. Kalau bisa jangan hanya dua bulan, tapi untuk selamanya" ungkap Maya sambil berbisik.


Mayong yang masih mendengar ikutan tertawa.


.


.


Elis telah benar-benar pulih luka operasinya. Bahkan perban penutup jahitan telah dibuka oleh dokter Bagus.

__ADS_1


"Baik nona Elis, luka anda telah kering. Jadi tidak perlu saya tutup lagi. Untuk selebihnya anda sudah tidak perlu lagi untuk kontrol" jelas dokter Bagus.


"Terima kasih dokter" Elia beranjak dari duduk setelah menerima selembar kertas resep yang diberikan oleh dokter Bagus.


"Ada yang menunggu anda nona" celetuk dokter Bagus.


Elis tidak jadi melangkah, tapi kembali menatap sang dokter.


"He...he...dia sudah menunggumu di depan pintu poliklinik bedah ini. Keluarlah" ucap dokter Bagus.


Elis menautkan kedua alisnya, tapi tetap berjalan keluar.


"Kau masih ingat dengan perjanjian kita kan?" ucapnya membuat Elis yang barusan keluar dari ruang poli terjingkat kaget.


"I...i...ya..." jawab Elis gugup.


"Oke, kita langsung ke apartemenku" ajak Bara.


"Loh, kok apartemen? Bukannya kalau pagi aku masih diperbolehkan kerja di sekolah" tanya Elis.


"Siapa bilang? Sudah kupamitkan kemarin kalau kau sudah tak kerja di sana" kata Bara.


Bagaimana bisa dia yang mutusin kehidupanku sih, gerutu Elis.


"Nggak usah menggerutu, ikhlas nggak nih" bisik Bara. Bahkan dia melakukan interaksi dengan Elis masih di depan ruang poli bedah dengan banyak antrian pasien di sana.


Dokter Bagus yang hendak keluar karena ada panggilan dari IGD, mendekati dua orang yang kelihatannya masih berdebat itu.


"Siapa bilang?" Bara mulai tersulut amarah.


"Ha...ha...santai bossss. Semangat" kata dokter Bagus meninggalkan mereka berdua.


Dokter Bara menggandeng Elis menjauh dari ruang tunggu poli itu. Bahkan pagi ini dia sengaja mengosongkan agenda rapat dan menunda operasi hanya untuk menunggu Elis selesai kontrol. Ternyata sampai sebegitunya ya, mana Elis tau...he...he...


Bara menyerahkan ponsel. "Hubungi mama mu, beritahu dan minta ijin lah kalau hari ini kamu mulai kerja di tempatku" kata Bara dengan nada memerintah.


Elis mengangguk pasrah. Tidak mungkin kali ini dia melanggar janji yang telah dia ucap. Dua bulan Elis, hanya dua bulan. Elis menghibur dirinya sendiri.


Diraihnya ponsel Bara untuk menghubungi sang mama.


Panggilan ke tiga baru nyambung ke nomer ponsel Chyntia. Karena mama nya selama ini tidak pernah pegang ponsel.


"Halo, dengan Chyntia" sapa sang adik.


"Ini kakak Chyn" jelas Elis.


"Lho ponsel kakak mana, kok pake nomer lain?" selidik Chyntia.


"Sudah jangan banyak tanya, mama mana?" sambung Elis.

__ADS_1


"Bentar kak, mama abis dari toilet" jelas Chyintia.


"Halo sayang, ada apa nyari mama. Gimana luka kamu?" mama Mawar ternyata sudah mengambil alih ponsel Chyntia.


"Iya Mah. Perbanku sudah dibuka. Tadi dokter Bagus juga bilang kalau sudah tidak perlu lagi kontrol" jelas Mutia.


"Oh ya Mah, waktu di rumah kan aku pernah cerita kalau sudah sembuh aku mau kerja. Kebetulan di tempat tuan Bara ada lowongan. Aku minta ijin sekalian ya Mah, kalau dua bulan ini aku belum bisa pulang" ijin Elis.


"Kok gitu, kerja apa kok nggak dibolehin pulang?" tanya mama Mawar.


"Nemenin putrinya tuan Bara" perjelas Elis.


"Bahkan nggak dibolehin pulang?" tanya mama Mawar kembali.


Elis yang menatap Bara karena tak bisa menjawab pertanyaan sang mama. Karena segala putusan ada di tangan laki-laki di depannya ini.


Bara mengambil alih ponsel yang dipegang Elis.


"Selamat pagi nyonya Mawar" sapa Bara.


"Pagi tuan" jawab mama Mawar.


"Elis mulai saat ini akan kerja di tempat saya. Mengenai ijin pulang, pasti akan kuperbolehkan. Asal tidak menginap di rumah" jelas Bara.


Mana ada aturan kerja seperti itu, melebihi batas jam kerja. Elis masih saja menggerutu dalam hatinya. Tapi dia sudah kalah duluan, karena sudah menandatangi kontrak sebelumnya. Bara tentu saja tidak mau dibodohi...he...he...


"Ayo, kita ke apartemen" ajak Bara lagi.


"Beneran ke apartemen? Kok ke sana?" tanya Elis ragu.


"Karena kerjamu nanti di sana" jelas Bara.


Bara benar-benar melajukan mobil ke arah apartemen yang bahkan telah lama dibiarkan kosong olehnya.


Dia hanya ingin menghadirkan sosok ibu untuk putrinya dalam waktu dua bulan ini. Hanya Elis lah yang bisa melakukan karena Agni sang putri terlihat nyaman saat di dekat Elis.


Bara juga sengaja berbohong ke papa Suryo dan mama Clara, ingin tinggal di apartemen dengan alasan karena sudah lama kosong. Papa Suryo langsung mengiyakan ucapan putra keduanya. Karena sudah mendapat bocoran dari Mayong dan Maya sebelumnya.


"Beneran tuan mau ke apartemen?" tandas Elis sekali lagi.


"Hhmmm..." Bara hanya berdehem.


Sementara Elis sedang berkecamuk pikirannya. Entar kalau tuan Bara berniat macam-macam bagaimana? Kan hanya ada dirinya dan tuan Bara. Agni masih di sekolah. Nggak lah, dia kan baik. Elis sampai menggelengkan kepala karena pikiran yang melintas.


"Ada apa?" Bara menoleh.


"Nggak apa-apa Tuan" celetuk Elis dengan tangan yang sudah berkeringat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2