Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 86


__ADS_3

"Selamat siang" sapa Elis, membuat Anjani yang membelakanginya berbalik badan.


"Hai...bukankan kau wanita yang ada di apartemen kak Bara?" tanya Anjani berpura-pura. Pura-pura lupa kalau Elis adalah istri Bara.


Tadi di lobi bawah, Anjani bahkan sempat menanyakan ke beberapa karyawan. Mereka semua tak mengetahui kalau sang bos telah menikah.


Elis menyunggingkan senyum ramah, meski dalam hati dia ingin mengumpat ke wanita di depannya ini.


Anggun sang sekretaris yang sejatinya juga belum mengetahui hubungan Elis dan Bara masih terdiam. Menurut Anggun, Elis adalah wanita baik, wanita pertama yang dibawa oleh sang bos ke kantor dan sangat dekat dengan putri satu-satunya bos nya.


"Nona Anjani, maaf. Tuan Bara sedang ada rapat penting, kalau sekiranya ada yang ingin disampaikan bisa melalui saya" ucap Anggun.


"Huh, aku mau menunggu saja. Gadis ini saja bisa menunggu, kenapa aku nggak?" ucap Anjani sambil melirik Elis.


"Nona Anggun, aku balik ke dalam ya" pamit Elis, daripada termangu di depan wanita uler itu, lebih baik tiduran aja sama Agni.


"Heh..." sergah Anjani dan menahan lengan Elis.


"Berani-beraninya kau masuk ruangan seorang CEO!!!" ancamnya.


"Salah ya? Dia suamiku loh. Mau kuadukan" ancam Elis dengan berbisik. Jangan sampai Anggun tau statusnya, sebelum sang suami mempublikasikan pernikahan mereka.


"Hah? Aku ggak salah dengar? Suami?" Anjani seolah terkejut padahal semua yang dilakukannya hanya akting belaka.


Elis melotot ke arah Anjani, bisa-bisanya dia bilang seperti itu. Jelas-jelas suaminya telah memberitahunya beberapa hari yang lalu. Batin Elis.


"Aku tak percaya kau telah menikah dengan kak Bara. Anggun, emangnya kamu tau kalau kak Bara telah menikah?" tanya Anjani ke arah Anggun dan dijawab gelengan kepala.


"Apa yang membuat kak Bara terpikat dengan wanita penggoda sepertimu? Kau sengaja kan mendekat ke putrinya. Perlu kau tau Agni itu keponakanku, harusnya aku yang lebih berhak mengasuhnya" ucap Anjani terus saja berpidato di sana. Anjani terus mengitari tubuh Elis yang masih terpaku berada di sana.


Anjani sengaja mengatakan hal-hal yang menurunkan kepercayaan diri seorang Elis.


Elis masih bingung harus merangkai kata seperti apa. Anjani sungguh pandai bersilat lidah di depan Anggun.


"Hhmmmm, terserah kau percaya atau tidak. Kalau aku telah menikah dengan tuan Bara Saputra Suryolaksono. Toh, aku juga tidak butuh rasa percayamu itu" akhirnya Elis mengeluarkan suara lantang.


"Ha....ha....percaya diri sekali kau nona" imbuh Anjani.


Elis tersenyum sinis, "Kenyataannya aku memang istri sah dari tuan Bara" tandasnya.


Anggun sampai menutup mulut tak percaya. Nona cantik itu telah berubah statusnya menjadi nyonya CEO Dirgantara.


Dan terdengar langkah dua pasang sepatu berjalan ke arah mereka bertiga.


.


Lima menit yang lalu.


Saat keluar lift Bara dan Iwan terkejut dengan kehadiran Anjani di sana.


Sepertinya istriku kebingungan antara harus berkata jujur atau menyembunyikan status pernikahan.


Sedetik kemudian Bara melihat sang istri berusaha untuk membalas semua ucapan Anjani.


"Tuan, apa tidak sebaiknya anda segera ke sana?" ucap Iwan.


Bara tersenyum, "Akan aku lihat sejauh mana wanita ular itu bersikap ke istriku" kata Bara tanpa menoleh ke arah Iwan.


Iwan mengikuti langkah Bara mendekati ketiga wanita yang berdiri di dekat meja Anggun.


"Maaf tuan, semua jadi kacau" kata Anggun kepada Iwan. Iwan pun mengisyaratkan Anggun untuk diam.


Anjani langsung saja menggelayut manja ke arah Bara, setelah melihat siapa yang datang barusan.

__ADS_1


"Kak, wanita itu mengaku sebagai istri sah mu. Apa kau tak marah?" rengeknya seperti anak kecil.


Bara melepas pegangan Anjani dengan kasar.


"Aku peringatkan kau Anjani, ini kali terakhir aku melihatmu di sini. Jangan pernah lagi kau tampakkan muka kamu di depanku" ancam Bara.


"Jadi kakak, lebih mengutamakan gadis penggoda itu? Hiks...hiks..."Anjani mulai mengeluarkan air mata buaya.


Elis nampak menghela nafas panjang. Dan semua terlihat oleh Bara.


"Anjani, jaga ucapanmu" bentak Bara, membuat Anjani semakin membesarkan suara tangisnya.


Iwan dan Anggun yang sudah terbiasa dengan akting Anjani, "Nona, sebaiknya anda pergi" kata Anggun ramah.


"Aku tidak akan pergi, aku tak akan membiarkain gadis itu mendekati kakakku" ancam Anjani.


"Iwan, kau panggil keamanan. Usir dia!" suruh Bara.


Tanpa memperdulikan Anjani, Bara menggandeng mesra Elis masuk ke ruangannya.


Dengan melihat posesifnya sang bos, Anggun bisa menyimpulkan kalau ucapan Nona Elis pasti benar.


Anjani hanya bisa menghentakkan kaki, karena usahanya gagal.


Niat awal ke kantor Bara, karena ingin melancarkan aksi merayu CEO Dirgantara itu. Mencoba menghindari istri Bara yang pastinya berada di apartemen.


Tapi, nyatanya alam tak berpihak kepada Anjani.


"Tuan, aku akan keluar. Makasih. Tak perlu repot-repot" tandas Anjani yang melihat Iwan hendak menelpon security.


"Baguslah" Iwan menghela nafas panjang.


Dering ponsel menyala sangat keras di ruangan itu. Anjani yang mengeluarkan ponsel dan melihatnya.


Wajah yang semula pura-pura bersedih karena ditinggalin Bara barusan, langsung berubah sumringah.


.


Di ruangan Bara, "Sayang, kok manyun aja sih?" tanya Bara yang melihat sang istri lebih banyak terdiam.


"Apa karena kejadian tadi?" Bara mendekat ke arah Elis.


"Nggak, lagi malas ngomong aja" celetuk Elis.


Bara tersenyum melihat istrinya yang merajuk itu.


"Sayang, kau cemburu?" Bara mulai usil menggoda Elis.


"Nggak" sahut Elis.


"Tapi wajahmu itu mengatakan iya" Bara meneruskan candaannya.


Elis mencebikkan mulut bibir yang semakin membuat Bara gemas saja.


Bara menyerang Elis dengan bibirnya. Bara baru menghentikan saat sang istri kehabisan nafas.


"Papa..." panggil Agni membuat Bara dan Elis gelagapan.


"Papa seperti drakula" Agni berlari memeluk mama.


"Jangan sakiti mama" seloroh bocah polos itu.


"Tuh lihat, leher mama kemerahan kan?" Agni bahkan mengelus leher Elis bekas gigitan kecil Bara.

__ADS_1


Sang CEO tak berkutik menerima tatapan tajam putrinya.


Elis hanya bisa menahan tawa untuk saat ini.


"Sayang, sudah selesai kan rapatnya? Pulang yuk!" ajak Elis untuk menetralisir suasana antara Agni dan sang papa.


Bara mengangguk sambil mengusap tengkuknya. Pusing dengan kata-kata sang putri.


Anggun dan Iwan, ternyata juga sedang bersiap untuk pulang.


Anggun mengangguk hormat saat Bara dan Elis melaluinya.


Elis berbisik, "Bersikap seperti biasa saja" celetuknya dan meninggalkan Anggun yang terbengong di tempat.


"Akhirnya aku bisa tidur nyenyak nanti malam" kata Bara sesaat mereka bertiga masuk mobil.


"Emang kenapa?" ulas Elis.


"Karena seminggu ke depan aku cuti di rumah sakit. Mau mengistirahatkan fisik dan pikiran" kata Bara.


"Dan aku akan mengembalikan istriku ini menjadi wanita pertama lagi" gurau Bara.


"Heemmmm...hawa-hawa nggak enak nih" ledek Elis.


"Ha...ha...." Bara tertawa menimpali ucapan Elis.


"Malam ini mama Elis tidurnya sama Agni" celetuk bocah kecil yang sedang duduk di kursi belakang.


"Mampus gue" tukas Bara dengan lirih.


Elis sekarang menggantikan tawa Bara.


Sambil menjalankan mobil, Bara masih memikirkan gimana caranya mengatasi gangguan kecil dari putrinya.


Tetapi di sebelahnya duduk Elis yang dirangkul oleh Agni dari belakang sedang menyayikan lagu anak-anak yang sangat disukai oleh Agni.


"Agni, papa mau nanya sesuatu?" tanya Bara setelah menemukan ide brilian.


"Apa?" Agni masih saja ketus menjawab pertanyaan Bara.


"Mau punya adik baby nggak?" celetuk Bara, dan membuat Elis reflek melotot ke arah sang suami.


Bagaimana bisa suaminya menanyakan hal seperti itu kepada anak kecil polos itu. Batin Elis.


"Mau dong Pa, apalagi seperti abang Raja yang langsung punya adik tiga" jawab Agni antusias.


"Tiga????" sahut Elis. Dia bahkan geleng-geleng membayangkan perutnya berisi bayi tiga. Bara terkekeh melihat ekspresi Elis saat itu.


"Papa sih gimana mama Elis saja" ujar Bara.


"Kok gitu pah?" tanya Agni.


"Begini sayang, untuk punya adik bayi papa dan mama harus kerjasama untuk membuatnya" seloroh Bara.


"Terus?" Agni mengejar jawaban papa nya.


"Jadi papa dan mama harus sering bersama termasuk tidur bareng tiap malam" ucap Bara bermodus.


Alhasil cubitan Elis mendarat di lengan Bara, "Memanfaatkan keadaan" celetuk Elis.


"Kalau gitu, papa sama mama bobok bareng aja. Biar besok Agni punya adik bayi" seloroh bocah kecil itu.


Bara dan Elis hanya bisa saling tatap.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2