
Bara dan Iwan beserta Agni dan Elis benar-benar akan pergi pagi ini.
Bahkan semalam Elis disibukkan packing baju-baju mereka bertiga, hingga hampir jam sebelas malam.
Mereka menuju bandara dengan mobil yang sama.
"Tuan kita sudah ditunggu oleh tuan Daniel di kota B" kata Iwan memulai pembicaraan.
"Apa agendanya hari ini?" tanya Bara. Sepertinya Iwan lupa membacakan agenda Bara.
"Sori Tuan, terlupa" Iwan terkekeh.
"Hari ini begitu kita sampai, kita akan langsung tinjau lokasi tambang. Baru setelahnya kita mantabkan kerjasamanya. Kalau sudah oke, tim hukum juga akan menyusul ke sana" imbuh Iwan.
"Baiklah. Sesampai di sana, Agni dan Elis biar istirahat dulu di hotel. Dan kita langsung ke lokasi" imbuh Bara.
Tak sampai setengah jam mereka telah sampai di bandara.
Karena memakai pesawat komersil, mereka masih menunggu lagi jam keberangkatan yang masih lima belas menitan.
"Kalau pakai pesawat sendiri, kita tinggal berangkat aja tuan" gerutu Iwan di samping Bara.
"Aku mau ngajarin putriku cara naik pesawat komersil. Biar dia tahu kalau pesawat itu tidak hanya pesawat pribadi saja" ujar Bara dan membuat Iwan terdiam tak bisa membalas perkataan Bara.
.
Dan benar saja Agni sangat senang naik pesawat komersil. Karena tidak hanya keluarganya saja yang berada di sana. Dia berceloteh sepanjang pesawat mengangkasa.
Sementara Elis lebih banyak terdiam, karena merasakan mual dan pening.
Saat pesawat akan landing, Elis mengambil sebuah kantong plastik. Rasa mual tak bisa lagi ditahan. Dan akhirnya semua isi perut dikeluarkan semua oleh Elis.
"Nona Elis apa hamil tuan?" selidik Iwan yang duduk tak jauh dari Bara.
Bara menatap tajam sang asisten yang mulutnya tanpa filter itu.
"Untung Elis tak dengar, kalau dia sampai dengar bisa ditimpuk kau dengan sepatu sneaker nya" Bara menimpali ucapan Iwan.
Bara mengandeng Elis yang nampak lemas karena mabuk udara.
"Maaf ya tuan, malah menyusahkan anda" ucap lirih Elis. Elis sebenarnya malu, karena ini pertama kalinya dia naik pesawat. Pakai acara mabuk kendaraan lagi.
Mereka bagai pasangan suami istri yang serasi. Bahkan Agni sekarang malah bersama Iwan yang berjalan di depan pasangan itu.
Tuan Daniel sudah menyambut kedatangan CEO Blue Sky.
"Maaf tuan Daniel, kita ke hotel sebentar. Sepertinya mama nya anakku lagi tidak enak badan" kata Bara, yang menurut Iwan perkataan Bara itu ambigu.
'Kalau cinta kenapa sih nggak sat set sat set. Pake tameng anaknya lagi' Iwan ikutan gemas dengan perilaku Bara.
"Baik tuan. Saya akan menunggu saja di lokasi. Nanti ada tim kami yang akan menjemput anda di hotel" tutur sopan tuan Daniel.
Bara mengantar Elis dan juga Agni sampai di kamar hotel.
__ADS_1
Kamar presidential suite telah disiapkan Iwan untuk Bara dan Agni. Sementara kamar Elis berada satu lantai dengan Iwan dan bersebelahan.
Tentu saja ada drama lagi. Mana mau Agni dipisah kamar dengan mama nya. Mama dalam tanda kutip...he...he...
"Papa sama mama harus nemenin Agni" protesnya.
Bara dan Elis saling bersitatap, tidak tau musti menjawab apa. Sementara Iwan hanya bisa menahan tawa melihat ketiganya.
"Begini saja, sekarang Agni sama mama istirahat di sini. Papa kerja dulu" kata Bara menengahi.
Drama untuk sementara selesai karena ucapan Bara.
Bara bersama Iwan dijemput oleh tim Tuan Daniel untuk meninjau lokasi pertambangan.
Bara serius dan detail selama di lokasi. Karena ini merupakan hal baru bagi Dirgantara Grub.
"Iwan, apa divisi hukum dan divisi yang lain sudah kau siapkan? Besok suruh datang ke sini" perintah Bara.
"Siap tuan" jawab tegas Iwan.
Produksi tambang dari perusahaan Daniel selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, juga ada yang diekspor.
"Tuan, anda yakin dengan spekulasi ini?" bisik Iwan.
Bara mengangguk, "Makanya kusuruh kau panggil tim hukum dan tim lain yang terkait untuk menyusul ke sini. Karena tanpa bantuan dana dari Dirgantara, perusahaan tuan Daniel pasti sudah dinyatakan pailit. Ini bukan spekulasi Iwan, tapi melangkah di luar zona nyaman kita selama ini" sahut Bara juga sambil berbisik.
Dengan penandatanganan kerjasama antara kedua belah pihak yang rencana nya akan dilakukan besok menunggu tim hukum dan yang lain maka mulai saat itu Dirgantara lah yang mempunyai saham dominan di perusahaan tuan Daniel.
Saat masuk kamar presidential suite, didapatinya Agni dan Elis yang tertidur saling berpelukan.
Bara merebahkan tubuhnya di sofa dekat tempat tidur. Tak lama Bara telah menyusul Agni dan Elis, terlelap.
Ponsel Bara berdering beberapa kali dan tak terangkat.
Tidur Elis ikut terganggu karena suara ponsel Bara.
"Ponselnya kok di sini? Tuan Bara di mana?" gumam Elis dengan netra yang belum terbuka lebar.
Ponsel kembali berdering membuat Elis terkaget.
"IGD?" gumamnya.
Elis beringsut hendak mencari keberadaan Bara. Disapunya seluruh ruangan kamar. "Oooo..ternyata di sini" gumam Elis setelah melihat Bara.
"Tuan...Tuan..." panggil Elis dengan membawa ponsel yang tengah berdering.
Bara terbangun mendengar suara ponsel yang distel dengan volume dering lumayan keras.
"Tuan...tuan...panggil Abang dong!!" ucap Bara tajam ke arah Elis.
"Siapa yang menelpon?" tanya Bara karena ponselnya masih dipegang Elis.
"IGD" seloroh Elis.
__ADS_1
"Kok masih ada panggilan IGD sih, bukannya jadwalku sudah diatur semua oleh Iwan" gerutu Bara.
Meski dengan mengumpat, tapi Bara tetap menerima panggilan itu.
"Halo dengan dokter Bara. Bukannya asistenku sudah merescedule semua jadwalku. Kalian mau konsul apa?" ucap Bara berdiplomasi.
Elis ikut menahan tawa, karena melihat tingkah Bara yang awalnya memarahi penelpon tapi tetep saja menerima konsulan pasien.
"Maaf tuan, konsul pasien baru dengan trauma abdomen. Perdarahan dari sumber luka lumayan banyak. Pasien syok dan butuh intubasi. Saya menghubungi dokter anesthesi yang lain sedari tadi tidak bisa" keluh penelpon yang ternyata dokter jaga IGD itu.
"Alihkan saja ke video call dokter, saya mau lihat kondisi pasiennya langsung. Kalau memang butuh intubasi, saya tak bisa karena di luar pulau. Siapkan saja alatnya, nanti kuarahkan dari sini. Anda yang memasang" saran Bara.
Bara mengamati keadaan pasien yang dikonsulkan, "Sepertinya memang perlu intubasi, silahkan pasang saja dok. Saya arahkan dari sini" tandas Bara.
Dan benar saja, dokter jaga itu melakukan dengan cekatan semua yang diperintahkan oleh Bara lewat sambungan telpon.
"Coba hubungi lagi dokter anesthesi yang jaga, kalau masih belum bisa juga. Rujuk aja ke rumah sakit lain, setelah kamu pastikan kondisinya stabil" saran Bara lebih lanjut.
Bara menutup panggilan. Rencana ingin liburan sembari kerja di luar pulau, tetap saja ada panggilan urgen rumah sakit. Mau menggerutu tapi sudah menjadi pilihannya, mau menanggapi tapi Bara sedang off di rumah sakit.
Apa kuhubungi pak Bambang aja ya? Bukan kali ini saja Bara menggantikan posisi dokter anesthesi itu. Ntar balik dari sini aja kutemui ditektur rumah sakit. Batin Bara.
"Kenapa kau tatap aku seperti itu?" tanya Bara yang tak sengaja melihat Elis melihatnya sedari tadi.
"Nggak kok tuan, eh abang" Elis tergagap karena ketahuan Bara.
Ponsel Bara berdering lagi beberapa kali saat Bara tengah di kamar mandi.
"Elis, siapa yang menelpon?" teriak Bara dari dalam.
"Nggak ada namanya tuan" tukas Elis.
"Tolong, angkat saja" perintah Bara.
Elis menggeser tombol hijau di ponsel mahal Bara.
"Halo selamat sore" sapa Elis ramah.
"Hai, siapa kau? Beraninya mengangkat ponsel kak Bara" terdengar suara wanita di seberang.
Elis menjauhkan ponsel Bara dari telinga karena suara cempreng dari orang yang menelpon Bara.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
othor masih nungguin loh like, komen, vote nya.
Salam sayang untuk readers
π
π
__ADS_1