
"Kamu pembantunya kak Bara ya?" ujarnya dengan tatap penuh selidik ke arah Elis.
Elis hanya diam tak menjawab pertanyaan wanita itu.
Bahkan wanita itu duduk dengan seenaknya di kursi tamu, menampakkan sebagian paha nya yang segedhe gaban. Gaban yang nggak tahu apa-apa malah ikut terlibat...hhmmmm..
"Buatin minum dong, haus nih! Mbak nya ini gimana sih, ada tamu kok malah dianggurin" celetuknya sengit.
"Ntar kubilangin kak Bara baru tau rasa loe" ucapnya lagi.
Wanita ini siapa nih, nggak ada sopan-sopannya. Kenapa suamiku nggak pernah cerita tentangnya. Elis membatin.
Elis kembali dengan membawa segelas air putih.
"Maaf mbak, adanya air putih. Nggak ada stok lainnya" tandas Elis.
"Mbak...mbak...memang aku mbakmu apa. Panggil aku nona, karena sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Bara" imbuhnya kepedean.
Nyonya Bara???? Berasa mau muntah aku mendengarnya. Pikir Elis.
"Heh, kau. Panggil kak Bara sekarang, bilang kalau Anjani datang" hardiknya kepada Elis.
"Sayang....sayang...kau sudah selesai belum?" suara Bara terdengar dari kamar utama.
Wanita bernama Anjani beringsut dari duduk hendak menuju kamar utama, di mana suara Bara terdengar.
"Mba, kau mau ke mana?" cegah Elis.
"Mau menemui sayangku dong, emang apa hakmu?" sengau Anjani.
"Mba, aku dilarang tuan Bara loh untuk tidak menerima tamu tak dikenal" Elis mulai jengah.
"Siapa bilang aku tak dikenal, tanya aja kak Bara nanti" imbuhnya.
"Hhmmmmm" Elis bergumam.
"Sayang, kemarilah" panggil Bara lagi.
Membuat Anjani semakin bersemangat untuk menghampiri kamar itu.
"Maaf Nona, semakin lama kenapa anda semakin tak sopan. Harusnya tamu itu tempatnya ruang tamu, bukannya langsung masuk seenak hati" Elis menahan Anjani.
"Heh kau, apa hakmu di sini? Kamu kan hanya pembantu di sini" hardiknya lagi.
Elis semakin ingin menjambak wanita yang tak tahu diri itu.
.
Bara keluar dari kamar utama karena mendengar keributan.
"Ada apa ini?" ucap Bara yang barusan keluar.
Anjani langsung bergelayut manja di lengan Bara, "Kak, pembantumu itu kurang ajar sekali. Malah melarang aku masuk" hasut Anjani.
Bara menatap Elis, tapi Elis mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Bara melepaskan pegangan Anjani.
"Sepertinya Elis benar, aku memang melarangnya untuk menerima tamu di apartemenku" ulas Bara.
"Kak, aku kan bukan tamu. Aku ini adik sepupumu kan?" Anjani membela diri.
"Dan termasuk adik sepupu dilarang masuk apartemenku" tandas Bara.
__ADS_1
Anjani mencebik, Bara mana mau peduli.
"Sayang, sudah selesai mandinya? Kenapa nggak ke kamar?" Bara menghampiri dan memeluk Elis.
Anjani membelalak melihat pemandangan di depannya.
"Apa ini maksudnya?" tanyanya.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi. Elis Melati ini istriku, bukan pembantuku. Jadi kalau mau ke sini, ijin dulu sama dia" tandas Bara tak mau dibantah.
"Ish...ish...Kak Bara sudah membuat keluarga mendiang kak Yasmin kecewa. Kenapa menikah tak meminta restu ke mereka dulu. Belum tentu juga keluarga mendiang akan merestuimu" sarkas Anjani.
"Begitukah? Apa ini juga menjadi urusanmu sekarang?" kata Bara mulai hilang kesabarannya.
"Maaf nona, kalau sudah selesai silahkan tinggalkan kami" sela Elis.
"Huh sombong, baru jadi nyonya aja belagu" nyinyir Anjani melenggang ke ruang tamu sembari mengambil tas dan melenggang keluar pintu apartemen.
Bara menatap Elis, sementara Elis menuju dapur.
"Sayang, apa kau nggak cemburu??" goda Bara.
"Enggak?" jawab Elis enteng tak ada beban.
"Wanita ular tadi bilang apa?" pancing Bara untuk membuat sang istri cemburu.
"Tanya aja sendiri, bukannya tuan punya nomer ponselnya?" Elis memanyunkan bibirnya. Membuat Du-ren di depannya langsung menyambar bibir Elis.
Elis sampai terengah mendapat serangan mendadak dari sang suami.
"Ciuman pertamaku, kenapa kau ambil?" Elis menutup bibirnya.
Bara tersenyum puas. Ternyata ini ciuman pertama bagi Elis, aku akan mangajarinya abis ini.
"Boleh lagi?" tanya Bara.
"Kau lupa statusmu. Aku suamimu loh sekarang" Bara mengingatkan.
"Iya aku ingat. Baru tadi siang ijab kabulnya" ucap Elis.
"He...he...tuh ingat. Makanya dosa kalau menolak permintaan suami. Jadi boleh ya?" alibi Bara.
"Boleh apaan?" Elis pura-pura tak tahu.
Bara yang gemas langsung menggendong Elis, dipindahnya ke kamar. Elis meronta ingin turun.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" Elis memukul-mukul bahu Bara.
Duh, kenapa istriku ini polos sekali sih? Batin Bara. Padahal sebelumnya, kumpulannya adalah para preman dan para pencopet. Bara semakin gemas.
Dia tidurkan Elis di ranjang. Langsung dia serang bibir mungil kemerahan di depannya.
Saat Elis kehabisan nafas, barulah Bara berhenti.
Dengan penuh kelembutan dia telusuri leher jenjang itu dengan lidahnya.
Elis berusaha menahannya, "Tuan aku geli" .
"Panggil apa kamu barusan?" Bara menghentikan sapuan bibirnya.
"He...he..." Elis tertawa geli, karena Bara menciuminya lagi.
"Panggil sayang, kalau tak mau aku tak berhenti" ancam Bara.
__ADS_1
"Apa pula itu?" tukas Elis.
"Ayo, panggil sayang" ulang Bara tak berhenti.
Bahkan pakaian Elis sudah tak terkondisikan. Tentu saja dalam hal ini Bara lebih berpengalaman lah daripada Elis.
"Sayang" panggil Elis lengkap dengan lenguh4nnya, membuat Bara semakin bersemangat.
Bara yang telah lama tak menikmati sebuah sumur bor tentu saja ingin segera menimbanya.
Sementara Elis menikmati sensasi luar biasa yang baru pertama kali dirasakan olehnya.
Bara menikmati kedua buah ceri, dikulum dan disesapnya pelan. Membuat Elis meracau tak karuan. Bahkan Bara tak menyangka, dibalik kaos kedodoran yang selalu dipakai oleh Elis ternyata ada aset yang begitu luar biasa. Dipacking sedemikian rupa dengan sesuatu yang berenda.
Bara menuntun tangan Elis untuk menyentuh palang nya, membuat Elis membelalakkan mata.
"Besar sekali?" gumamnya menutup mulut.
"Aku akan pelan-pelan. Jadi kamu rileks aja sayang" Bara mulai *****4* bibir sang istri untuk mengurai ketegangan yang dirasakan Elis.
Saat dirasa Elis mulai rileks, Bara memasukkan sesuatu yang sudah menegang sempurna ke dalam sumur bor Elis.
Elis menahan sakit yang luar biasa. "Sayang sakit" kata Elis mengeluarkan air mata.
Bara kembali memainkan puncak ceri agar Elis juga menikmati permainan yang telah dimulai.
Saat Bara mulai menggerakkan pinggul, Elis tak lagi menjerit. Semakin lama Bara menaikkan tempo pergerakannya, membuat Elis mencengkeram punggung Bara.
Bara menuntaskan semua sampai puncak.
Bara ambruk di samping tubuh Elis setelah berhasil menyalurkan semua yang dipendam selama lima tahun lebih.
Bara mengecup kening sang istri, "Makasih telah menjaganya untukku sayang" ucap Bara.
Elis mengangguk pelan. "Badanku rasanya remuk sekali, tulang-tulang terasa lepas dari sendi. Lemas sekali" keluh Elis.
"Tidurlah. Itu tadi baru satu ronde sayang. Nanti malam entah berapa ronde lagi" senyum penuh kepuasan di ujung bibir Bara.
"Hah? Tadi itu namanya baru satu ronde?" tanya polos Elis.
Bara menepuk jidat. "Kamu itu polosnya kebangetan banget sih" Bara mencubit hidung Elis.
Kebetulan setelah ritual, ponsel Bara berdering.
"Halo, dengan dokter Bara" jawabnya. Sementara Elis telah menarik selimut dan tidur.
"Dok, selamat sore. Maaf menganggu waktunya. Ini ada pasien dokter Maya yang seharusnya dielektifkan besok, tadi ada keluhan perdarahan. Kita konsulkan, dan dokter Maya menghendaki diajukan. Dokter Maya meminta anda lah yang jadi pendamping bius di kamar operasi" beritahu Agus, perawat ruang Bedah Sentral.
Bara menggerutu dalam hati, pasti ini hanya akal-akalan Maya aja nih untuk ngerjain diriku.
Melihat Elis yang nampak kelelahan, Bara menuliskan pesan memberitahu bahwa dirinya sedang ke Suryo Husada untuk operasi dengan Maya.
.
Sampai di Instalasi Bedah Sentral belum juga masuk ruang ganti terdengar celetukan dari seseorang, "Wah, Du-ren nya sudah belah duren belum?" sambil tertawa cekikikan.
Bara membalikkan badan, sudah tau siapa yang meledeknya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Banyakin komen, like dan vote nya dong. Biar othor semangat up.
__ADS_1
Kadang karena terlalu banyak kerjaan, lelah juga nih mata mantengin ketikan.😊
💝