
"Starco, perusahaan multimedia besar yang sekarang telah gulung tikar dan berganti nama itu?" jawab Bara pura-pura tidak tahu kalau itu perusahaan almarhum papa nya Elis.
"Oh ya? Bagaimana kau tau?" Bara masih berpura-pura.
"Jelas saja aku tau, aku ingat semuanya. Cuma waktu itu aku masih kecil aja jadi nggak bisa berbuat banyak. Aku kira mama menikah juga berdasarkan cinta, ternyata semuanya hanya aksi tipu-tipu pak Beni" seloroh Elis.
"Dan semenjak aku melihat keseharian anda, walau sudah kaya tapi masih semangat menjalani kerjaan saben hari. Membuat mataku terbuka tuan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini" lanjut Elis.
"Jadi aku bertekad akan menyelidiki kematian papa ku kembali. Meski akan banyak rintangan yang menghadangnya. Aku bisa mulai dari pak Beni" kata Elis.
"Apa yang membuatmu yakin?" Bara mendongak memandang Elis.
"Banyak Tuan"
"Salah satunya?" Dewa mengejar dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Papaku adalah tipe orang yang detail tentang mobil. Papa selalu mengecek keadaan mobil saat kami akan pergi. Tapi kenapa kecelakaan itu terjadi, saat mobil dalam kondisi baik?" jawab Elis.
"Oke, kita anggap argumenmu benar. Tapi apa buktinya?" tanya Bara lagi.
"Aku akan mencarinya tuan" imbuh Elis.
Padahal Bara sudah banyak info tentang kematian papa Elis dari papa Suryo dan penyelidikan Iwan.
Tapi untuk mencari bukti kematian seseorang yang lebih dari dua dekade tentu akan sulit.
Seumpama melaporkan pun kalau tidak ada bukti kuat tentu saja akan ditolak.
Agni yang barusan keluar dari kamar dan menenteng tas sekolahnya.
"Mau berangkat sekarang sayang?" tanya Bara.
"Iya, tapi hari ini aku tidak mau sama sopir. Maunya sama papa dan mama" rengek Agni.
Bara dan Agni saling pandang.
"Kita antar aja tuan, baru selanjutnya saya ke pak Beni" Elis tak menyebut kata penjara karena ada Agni di sana.
"Aku antar sekalian?" tanya Bara.
"Nggak usah tuan, takut merepotkan anda" jawab Elis segan.
"Mumpung aku longgar hari ini. Rapat juga digendakan Iwan agak siang kok. Kita ambil jam jenguk pagi saja" usul Bara.
Elis pun mengangguk, dan mengiyakan saja perkataan Bara.
.
Seperti biasa mereka jalan beriringan, menuju basement apartemen yang mereka tinggali.
__ADS_1
"Elis apa rencanamu setelah kontrak denganku selesai?" tanggap Bara.
"Tentu saja menjalani hidup yang penuh liku ini tuan...he...he..." Meski tersenyum, ada helaan nafas panjang di sela kata-kata yang Elis ucapkan.
"Heemmmm..." Bara pun bergumam.
"Tuan, saya juga mengucapkan terima kasih sekali. Mama sudah dibuatkan sebuah kedai ayam bakar" celetuk Elis.
"Mungkin dengan bekerja seumur hidup kepada Tuan pun, tidak akan mampu melunasi budi baik anda" seloroh Elis.
"Emang kamu mau? Bekerja seumur hidup denganku?" kata Bara ambigu.
"Eh..eh...bukan begitu maksudnya?" Elis terkekeh lagi.
"Loh, aku kan hanya menyambung apa yang kau katakan tadi" imbuh Bara.
"Sebenarnya kau bisa saja membalas budi baikku Elis" lanjut Bara.
"Asal aku bisa, akan kulakukan Tuan" jawab Elis berikutnya.
"Tapi kalau mau sih!" ucap Bara ngegantung.
"Come on Agni kita berangkat" lanjut Bara menyalakan mesin mobil. Kemudian melajukan mobil ke arah sekolah sang putri.
Bara hendak mengantarkan Agni sampai pintu kelas, dan meminta Elis menunggu di mobil saja.
"Sayang, pamitan sama mama. Abis ini papa antar ke dalam" celetuk Bara.
"Bye mama. Love you" Agni beringsut keluar dari mobil. Sementara Bara telah keluar duluan.
Elis melihat bahagia, pasangan papa dan putrinya itu. Jangan mengharap lebih Elis, kamu itu tak cocok dengan tuan Bara. Kamu dengannya bagai bumi dan langit. Batin Elis.
"Hei, melamun aja. Lagi melamunkan diriku kah?" canda Bara.
"He...he... Kok tau tuan?" jawab Elis ikutan ambigu.
"Syukurlah, kalau kau mau memikirkan diriku...ha...ha..." Bara tertawa renyah.
Hampir dua bulan hidup bersama Elis, walau hanya sebatas antara tuan dan karyawan setidaknya Bara telah melihatkan sisi konyolnya saat bersama.
"Kita langsung ke penjara?" tanya Bara.
"Beneran tuan nggak sibuk?" sela Elis. Dan Bara mengangguk.
"Baiklah, aku ngikut tuan aja" seloroh Elis.
Bara memutar balik laju mobil menuju penjara di mana pak Beni berada.
"Bukan maksud mencampuri urusan keluarga mu, tapi sebaiknya kau hati-hati dengan belut licin seperti Beni itu" saran Bara.
__ADS_1
"Dia bukan keluarga ku tuan, hanya orang luar yang sengaja memanfaatkan kesulitan keluargaku saat itu" imbuh Elis.
Semua yang dikatakan Elis memang benar adanya.
"Padahal awal hidup bersama dengan pak Beni, setauku dia itu orang baik tuan. Bertanggung jawab kepada keluarga kami. Tapi semenjak dia dipecat dari Starco, mulailah pak Beni merajalela" Elis menambahkan ceritanya.
.
"Baiklah, kita sudah sampai. Apa perlu kuantar ke dalam?" Bara memarkirkan mobil dekat pintu masuk.
"Nggak usah tuan, aku sendiri saja" tolak halus Elis.
"Aku sekalian menemui kepala penjara di sini. Kebetulan aku mengenalnya" alibi Bara. Sebenarnya dia ingin menemani Elis masuk ke dalam.
Mereka berpisah haluan. Elis menuju ke ruang yang disiapkan untuk jenguk. Sementara Bara ke ruang kepala penjara.
.
"Ha...ha...untuk apa kau ke sini? Mau mengejekku kah?" sindir Pak Beni.
Elis terdiam menatap tajam orang tua yang sudah membuat penderitaan keluarganya itu.
"Apa kau puas setelah menjebloskan aku ke sini?" pak Beni masih saja berpidato di depan Elis.
"Belum, sebelum aku bisa membalas rasa sakit yang telah kau buat untuk mama dan jugga diriku" ketus Elis.
"Ha...ha...dengan apa kau bisa membalas. Kau dan mama mu hanya wanita lemah" sindir pak Beni lagi.
"Asal kau tau Elis, masih banyak musuhmu selain aku" sarkas Pak Beni.
Elis memicingkan mata, mencari jawaban di ucapan Pak Beni barusan.
"Apa kau tidak tau juga kalau keluarga papa mu lah yang menyebabkan awal penderitaan kalian. Aku hanya memanfaatkan situasi sesudahnya saja...ha...ha...." pak Beni semakin terbahak.
"Jangan bilang kau tak tau Elis. Mana bisa kamu mengajak berperang kalau tak ada senjata" sindir pak Beni kemudian.
"Kenapa kau jahat sekali pak Beni?" tatap tajam Elis tak beralih dari wajah pak Beni itu.
"Ha...ha...meski kematian papa mu hanya meninggalkan sebuah rumah itu. Tapi aku mendapat bagian lumayan banyak juga loh. Apa kamu tahu itu. Pasti tidak kan?" tandas Pak Beni.
Elis semakin tak paham pembicaraan pak Beni.
"Untuk apa kau bicarakan sekarang??" kata Elis. Shock juga mendapat kejutan dari pak Beni pagi ini.
"Pasti kau bertambah membenciku...ha...ha..." tawanya semakin membahana.
Elis yang datang untuk untuk memberikan shock terapi buat pak Beni. Malah yang terjadi sebaliknya, Elis shock mendengar penuturan pak Beni.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
To be continued, happy reading
πππ