
"Bara, gimana kalau kalian tinggal di mansion aja. Kalau kau tinggal kerja, Elis kan bisa sama mama" usul mama Clara.
"Akan aku pikirkan" Bara masih menimbang kenyamanan sang istri. Apalagi kesibukan yang kadang tak bisa ditinggal. Bara tak ingin istrinya kesepian sendiri di apartemen.
"Gimana sayang, tawaran mama?" kata Bara ke sang istri.
"Aku ikut keputusan kamu saja sayang" tukas Elis. Baginya, dimana suami berada di sanalah sang istri harus mendampingi.
Kalau dulu Yasmin sibuk dengan butiknya, sementara Elis belum ada kesibukan di luar. Tapi Bara memang menghendaki sang istri untuk tetap di rumah, jadi bisa mendampingi dirinya, Agni dan juga calon bayinya nanti.
"Mah, untuk sementara kita tetap di apartemen aja ya. Ntar kalau istriku bosen, selama aku kerja baru ke mansion" keputusan Bara.
"Oke kalau gitu. Kalau ada apa-apa lekas hubungin mama ya sayang" kata mama dan memeluk putri menantunya itu.
Kali ini Agni ikutan pulang ke apartemen, setelah mama Elis dan papa Bara mengajaknya.
Mereka di antar sopir dalam perjalanan.
"Pak, tolong berhenti sebentar!" kata Elis tiba-tiba.
"Iya nyonya" pak sopir menghentikan laju mobil sedikit mendadak karena permintaan nyonya.
"Ada apa?" telisik Bara.
"Aku ingin itu?" tunjuk Elis ke arah luar mobil.
"Apa?" Bara masih belum tahu maksud sang istri.
"Aku ingin cilok di sana itu loh yank" tunjuk Elis ke arah penjual cilok pinggir jalan.
"Hah???" tukas Bara dan melihat arah yang dtunjuk oleh Elis.
"Antri loh yank" beritahu Bara.
"Karena antri, makanya aku ingin. Ingin ikut antri yank" celetuk Elis.
"Kamu itu ingin cilok atau ikut antrinya?" sahut Bara.
"Ingin antri" seloroh Elis dan telah membuka pintu mobil tanpa menunggu Bara keluar duluan.
Bara menggaruk kepala melihat tingkah aneh sang istri.
Bara ikutan gabung di belakang sang istri.
Mereka ikut panas-panasan di antara orang-orang yang antri.
Pandangan semua orang mengarah ke pasangan tampan dan cantik itu.
"Nyonya, berapa?" tanya penjual abang cilok itu ketika tiba giliran Elis.
"Lima puluh ribu aja bang" jawab Elis.
"Kok dikit amat belinya?" tukas Bara kala sang istri mengucapkan nominal rupiah.
Bagi Bara lima puluh ribu itu dapat apa, nggak seimbang sama sekali dengan pengorbanan antri yang sekian lama.
Bara memandang aneh ketika Elis mendapatkan tiga kantong plastik sedang yang berisi cilok lengkap dengan bumbu-bumbunya.
"Ayok" ajak Elis yang melihat Bara masih tertegun di tempatnya berdiri.
__ADS_1
Elis menyerahkan sekantong buat pak sopir. "Ini buat bapak" kata Elis.
"Makasih nyonya" ucapnya sopan.
"Ini makanan apa?" tanya Bara saat memegang sekantong plastik cilok.
"Cilok" jelas Elis.
"Bersih nggak? Sehat nggak?" telisik Bara.
"Repot dech kalau bicaranya sama dokter" celetuk Elis bercanda.
"Coba aja dech" lanjut Elis.
Bara mengambil satu biji cilok yang ditusuk dengan tusukan yang diberikan abang cilok tadi.
Sesuap, dia kulum dan coba rasakan bumbu nya. Dan coba Bara kunyah perlahan.
"Kenyal-kenyal begini?" Bara merasa aneh saja dengan teksturnya.
Elis tertawa melihat suaminya yang sedang mencoba cilok.
Sementara Bara heran, melihat sang istri yang makan dengan lahap.
.
Ponsel Bara berdering di tengah perjalanan mereka menuju apartemen.
"Halo Iwan, bagaimana di sana?" tanya langsung Bara saat panggilan tersambung.
"Semua sudah di bawah kendali kita tuan. Awalnya pihak tuan Daniel menolak. Tapi setelah kita beri tekanan mereka menyetujuinya" beritahu Iwan.
"Oh ya Tuan, apa anda sudah melihat foto yang kukirim kemarin?" tanya Iwan.
"Lihat aja tuan" imbuh Iwan.
Iwan memutus panggilan setelah melaporkan hasil kinerjanya hari ini.
Bara membuka pesan yang dikirim oleh Iwan, ternyata sebuah foto Anjani bersama laki-laki setengah tua yang Bara temui tadi pagi.
Tertulis caption, 'Bos Star Media sedang menggandeng wanita simpanannya' . Bara tertawa membaca caption Iwan.
Andai itu diunggah pasti akan menjadi berita viral.
Setelah ini Bara akan fokus membantu sang istri untuk menyelesaikan permasalahan Starco.Ind yang telah bergulir lama.
Mengembalikan hak yang seharusnya untuk Elis dan Chyntia adiknya.
Elis nampak bersandar di bahu sang suami. Saat Bara hendak menanyakan sesuatu, ternyata Elis telah tertidur.
"Kau nampak lelah sayang" gumam Bara. Sementara Agni yang duduk di depan, sedang bergurau dengan pak sopir sambil menikmati es krim yang dibeli dari depan klinik om Abraham.
.
Selama seminggu cuti dari kerjaan, Bara benar-benar menemani sang istri di rumah. Walau kadangkala masih ke Dirgantara untuk rapat penting.
Urusan dengan perusahaan tambang pun telah diselesaikan dengan baik oleh Iwan dan tim yang ditunjuk dan dipercaya Bara.
"Don, kira-kira berapa waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan keadaan di sana?" tanya Bara ketika sedang bersama Iwan membahas perusahaan Daniel yang akhirnya diakuisisi oleh Dirgantara secara keseluruhan.
__ADS_1
"Kita coba satu semester awal ini tuan, baru kita bisa narik kesimpulan" jawab Iwan.
"Oke lah, kalau begitu. Aku balik aja dulu. Mau nikmatin waktu cuti yang tinggal sehari ini" kata Bara beranjak dari duduk untuk menghampiri sang istri yang berada di kamar sebelah menunggunya selesai rapat.
"Tuan, apa sudah dengar kalau nona Anjani terlibat kecelakaan dengan dokter Eka waktu itu?" tanya Iwan.
"Sudah" tukas Bara.
"Kok?" Iwan heran.
"Dia bilang sendiri dengan orang yang kau bilang bos Star Media itu. Dan tak sengaja aku mendengar semuanya...he...he..."Bara terkekeh.
"Kenapa nggak bilang?" tanya Iwan.
"Buat apa ngurusin hal-hal yang tak guna Iwan" sergah Bara.
"Bisa jadi suatu saat hal itu akan berguna tuan. Bukannya anda ingin sedikit mengusik Star Media?" telisik Iwan.
"Atau jangan-jangan tuan sudah tau duluan waktu aku kirim foto itu?" seloroh Iwan.
"Istriku yang tau, malah si uler itu sempat berselisih dengan istriku" kata Bara enteng.
"Dalang di balik penculikan istri anda apa sudah tau?" lanjut Iwan.
"Heemmm" Bara mengangguk membuat Iwan bengong.
"Bos Star Media kan?" tandas Bara, ganti Iwan yang mengangguk.
"Orang bodoh aja pasti tau kalau itu ulahnya Wan. Cuma yang sulit itu mencari bukti-bukti" tutur Bara menjelaskan.
"Benar juga sih tuan" imbuh Iwan.
"Sudah...sudah...ngobrol sama kamu nggak ada titik adanya koma melulu" Bara berjalan menghampiri tempat sang istri dan meninggalkan Iwan yang masih duduk termangu di kursi.
Bara dan Elis menghabiskan waktu untuk mampir di mall Dirgantara.
Elis meminta ke sana untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga.
Semenjak mengetahui sang istri telah hamil, Bara tak membiarkan sang istri terlalu capek. Asisten rumah tangga juga Bara tambah.
Antar jemput Agni sudah menjadi urusan sopir yang dipercaya oleh Bara.
Kesibukan Bara di rumah sakit pun sudah Iwan atur sedemikian rupa. Apalagi sudah ada yuniornya yang datang, membuat kesibukan Bara berkurang.
"Sayang, beli apa saja ini?" tanya Bara sambil mendorong kereta belanja yang sedikit demi sedikit mulai terisi barang yang diambili oleh sang istri.
"He...he...." Elis hanya terkekeh.
"Aku ke toilet sebentar ya. Nggak tau kenapa kok akhir-akhir ini sering buang air kecil" pamit Elis.
Bara hanya tersenyum menanggapi. Sering BAK saat awal kehamilan adalah hal yang fisiologis, sebagai dokter tentu Bara memahami itu.
Bara telah menunggu lebih tiga puluh menit di tempat. Dan saat melihat arloji di pergelangan tangannya, Bara mulai cemas. Dan mulai mencari keberadaan sang istri.
Semua toilet wanita di lantai itu Bara masuki tanpa peduli pandangan sinis dari orang-orang yang di sana.
"Siapa lagi yang mau main-main denganku?" Batin Bara tetap mencari keberadaan sang istri.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading
💝