
Bara benar-benar memanjakan sang istri kali ini.
Bahkan setelah ronde pertama mereka selesai, dan Elis telah keluar dari kamar mandi. Semua makanan telah terhidang di meja, tanpa harus mereka kesusahan keluar hotel.
"Ayo makan" ujar Bara yang hanya berbalut jubah kimono.
"Bersihin dulu badannya sayang" rajuk Elis.
Bara beringsut dan melakukan apa yang yang sang istri minta.
Elis sampai salah tingkah karena terus diperhatikan sang suami, membuat Bara semakin ingin menggoda sang istri.
"Sayang, kamu tadi luar biasa" bisik Bara. Membuat Elis mencebikkan bibir.
"Mau kuulang lagi yang tadi?" tukas Bara melihat sang istri yang merajuk.
"Baru aja bersihin badan, mau diulang lagi?" pelotot mata Elis tak percaya.
"Ha...ha...makan dulu lah. Buat nyiapin amunisi nanti" seloroh Bara.
Saat akan menyuapkan makan, tiba-tiba Elis menaruh sendoknya kembali.
Dia berlari ke arah wastafel yang ada di kamar mandi.
"Ada apa?" Bara mengikuti langkah sang istri.
Hoek....hoek....hoek...Elis muntah. Tapi nggak ada yang dikeluarkan, makanan aja belum sempat masuk lambung.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Bara. Apa Bara lupa ya, kalau dia seorang dokter...he...he...
"Masuk angin sepertinya. Dari siang aku belum makan" ujar Elis menjelaskan.
"Bisa kerokin aku yank?" pinta Elis.
"Kerokin????? Apa itu?" tanya Bara.
Elis memberikan minyak angin yang selalu dia siapkan, nggak tau kenapa akhir-akhir ini Elis sering mual.
Tak lupa Elis menyerahkan sebuah koin untuk sang suami.
"Untuk apa?" seloroh Bara.
"Buat kerokan sayangku" jelas Elis. Dan dia mencontohkan bagaimana cara kerokan yang benar. Alias memberikan tutorial kerokan.
"Gini ini kalau diunggah di sosmed, view-er pasti banyak dech yank" canda Bara.
Punggung yang dikerokin, tapi tangan Bara sudah tak terkondisikan.
"Sayang, minyak anginnya sampai ke mana-mana ini" ucap Elis jengah.
"Nggak apa-apa, nanggung kan kalau cuman punggung" tukas Bara.
"Sayang, apa akhir-akhir ini kau mual??" Bara asal menebak. Setelah dipikir-pikir, selama menikah dia tak melihat Elis kena palang merah.
"Kok tau?" Elis balik bertanya.
"Nebak aja" celetuk Bara.
"Iya nich, nggak tau juga akhir-akhir ini sering masuk angin. Apa aku sudah tua ya yank?" kata Elis serius.
Sebuah binar senyum di wajah Bara.
__ADS_1
"Apa kau juga telat haid?" Bara menatap mesra sang istri.
Elis masih belum ngeh dengan maksud ucapan sang suami.
"Apaan sih, mana ada kaitan masuk angin dengan siklus haid" sergahnya.
"Tapi selama kita menikah aku belum pernah tau kamu dapat tamu bulanan yank" seloroh Bara.
"Loh...???" Elis bengong, tak mengira kalau sang suami juga memperhatikan siklus haid nya.
"Iya ya,..padahal harusnya datang dua minggu yang lalu" celetuk Elis
Bara menimbang, kalau seperti itu otomatis saat ijab kabul istrinya sedang dalam masa subur.
"Ayo kita keluar" ajak Bara tiba-tiba.
"Gimana sich yank, katanya besok pagi-pagi aja lihat sunrise?" ujar Elis.
"Jalan-jalan aja sekitar hotel, nikmatin suasana Bali" lanjut Bara.
"Beneran nich???" tukas Elis antusias. Rasanya senang sekali sang suami mengabulkan permintaannya.
Padahal niat Bara hendak mengajak Elis, karena ingin mencari apotik yang buka dua puluh empat di sekitaran hotel.
"Sekalian ntar cari obat masuk angin untuk kamu" kata Bara.
"Masuk angin ya obatnya kerokan tadi" imbuh Elis, yang nyatanya telah siap dengan baju yang disukanya. Kaos dengan jeans dan sepatu sneaker yang selalu jadi andalan Elis.
Bara akhirnya mengikuti gaya pakaian sang istri. Bahkan dia juga pake celana pendek selutut. Gaya santuy seorang dokter spesialis anesthesi itu.
Tak lupa mereka juga melapisi kaosnya dengan jaket hodie dengan warna senada. Ternyata Elis telah menyiapkan semuanya. Membuat sepasang suami istri seperti orang yang sedang laiknya muda mudi pacaran.
"Nampak lebih muda lho yank" imbuh Elis.
"Jadi biasanya aku nampak tua begitu?" rajuk Bara.
"Kan memang usia tak bohong sayang" gurau Elis dan membuat Bara semakin bersungut.
Elis mencium pipi Bara yang nampak menggemaskan di matanya, "Yuukkk berangkat!"
Elis beringsut dan jalan keluar kamar. Bara tersenyum meliat Elis yang semakin berani itu.
Bara menggandeng mesra tangan sang istri.
Tujuan pertama Bara mencari keberadaan apotik.
"Tuh lihat apotiknya masih buka" ujar Bara.
"Aku tuh beneran nggak apa-apa sayang" tukas Elis.
"Iya...aku percaya. Tapi aku mau beli sesuatu untuk kamu gunakan besok pagi" kata Bara dengan tetap menggandeng sang istri ke arah apotik yang masih buka itu.
"Idih, nggak jelas banget sih" seloroh Elis.
Bara tak memperdulikan apa yang diucapkan sang istri.
Sampai di dalam apotik, Bara meminta tes pack tiga peaces.
"Untuk apa ini?" Elis menerimanya dari Bara setelah Bara membayarnya.
"Besok pagi kau akan tau sayang" ucap Bara penuh teka teki.
__ADS_1
Elis tau fungsi alat itu, tapi untuk apa dia memeriksanya. Pikir Elis saat itu.
"Belum tau juga?" tanya Bara.
"Tau sih, tapi apa aku harus pakai itu?" tanya Elis.
Bara dibuat gemas oleh ucapan sang istri. Kalau biasanya istri lah yang lebih antusias untuk memeriksa dengan alat itu, yang terjadi terhadap pasangan itu malah kebalikannya. Bara yang lebih antusias untuk segera memeriksa kehamilan sang istri.
Sampailah mereka di sebuah street food yang tak jauh lokasinya dari hotel yang mereka tempati.
"Sayang, aku ingin itu" ucap Elis menunjuk ke arah sebuah gerobak makanan yang lumayan banyak antriannya.
"Hah??? Apa harus ngantri sebanyak itu?" tanya Bara.
Tanpa menjawab Elis menggandeng Bara ke sana. Mereka berdua ikutan mengantri.
"Ini serunya sayang, makan dengan penuh perjuangan. Perjuangan mengantri...he...he..." ucap Elis.
"Apa harus begitu?" Seumur-umur baru kali ini CEO Dirgantara menginginkan sesuatu harus pake antri terlebih dahulu.
"Heemmmm" gumam Elis.
"Akhirnya dapat juga" Elis berucap riang dan menerima makanan yang dibelinya.
"Bayarin" pinta Elis.
"Berapa bang?" tanya Bara mengikuti permintaan sang istri.
"Tiga puluh ribu" celetuk abang penjual itu.
"Hah?" Bara melongo dan belum menyerahkan uangnya.
"Eh tuan. Ini nggak mahal ya. Tiga puluh ribu aja. Percuma pakai baju merk terkenal, tapi nggak ada uang tiga puluh ribu" ucap abang penjual yang sepertinya salah paham dengan Bara yang tak jua memberikan uang seharga jajanannya.
"Sayang" Elis mencubit lengan Bara.
"Eh iya, tiga ratus ribu ya bang?" celetuk Bara.
Gantian abang penjual yang melongo. Aneh nih orang. Pikir abang penjual terhadap Bara.
Bara meninggalkan uang tiga ratus ribu untuk makanan yang dibeli oleh Elis.
"Woooiii kebanyakan tuan" ucapnya.
"Ambil aja kembaliannya" Bara menggandeng sang istri menjauh dari tempat itu.
Saat tiba di depan suatu kafe, tak sengaja mata Bara menampuk seorang sosok wanita yang sepertinya sedang mabuk dan bersama dengan sosok laki-laki setengah baya seperti yang dilihat Bara sebelumnya.
"Sayang, bukannya itu Anjani???" celetuk Bara ke Elis. Arah mata Elis mengikuti arah mata Bara.
"Jadi dia mau ke sini juga?" kata Elis sepertinya tak terkejut melihat Anjani.
"Kok kamu nggak kaget melihatnya?" tanya Bara.
"Kita kan satu pesawat dengan Anjani waktu kita berangkat ke sini yank" beritahu Elis.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
💝
__ADS_1