
Sampai di depan unit apartemen, Bara menekan angka-angka yang ada di pintu dengan pelan. "Hafalin" ucap Bara.
Elis hanya bisa mengangguk. Kalau kode akses nggak hafal kan nggak bisa masuk, batin Elis.
"Elis, kamarmu di sebelah sana. Istirahatlah. Aku akan ke perusahaan. Pulang sekolah Agni langsung ke sini diantar sopir" jelas Bara.
"Baik tuan" jawab Agni.
"Oke, aku berangkat" Bara berlalu meninggalkan Elis yang masih terpaku di tempat.
Elis mencoba melihat-lihat seisi apartemen, kecuali kamar utama dan ruang kerja Bara.
"Waaaahhhh, bagusnya" elus Elis ke peralatan mewah di dapur apartemen.
Semua detail apartemen tak luput dari penglihatan Elis. Pandangan Elis terhenti di sebuah foto yang menunjukkan tawa bahagia kedua mempelai.
"Cantiknya" kagum Elis sambil mengelus foto sang mempelai wanita.
Elis masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Bara sebelum pergi. Meski bukan kamar utama, luasnya bahkan lebih luas daripada kontrakan yang selama ini Elis tinggali. Elis menepuk-nepuk tempat tidur luas itu, baru setelahnya menaruh pantatnya di sana. "Nyaman sekali" gumam Elis.
Setelah cukup lama mengagumi seisi apartemen, Elis tak sengaja tertidur di kamar itu.
"Miss....Miss...Miss Elis" sayup-sayup terdengar suara anak kecil di telinga Elis.
Elis mencoba membuka matanya perlahan. Elis terjingkat karena Agni memang benar-benar telah duduk di dekatnya.
"Miss Elis nanti boboknya sama Agni ya?" pinta bocah kecil itu.
"Agni ganti baju dulu ya" kata Elis.
Agni mengangguk.
"Agni, miss Elis ambil baju gantinya dimana?" saat keliling tadi Elis belum menjumpai tempat baju Agni berada.
"Ayok sama Agni aja miss" gandeng Agni menuju kamar utama.
"Tadi pulang sama siapa?" tanya Elis.
"Sama sopir, abis ngantar ke sini Amang balik ke rumah Opa" cerita Agni.
Elis yang baru pertama kali masuk, dibuat kagum oleh interior kamar itu. Meski sedikit maskulin, tapi terkesan sangat mewah.
"Di mana sayang?" Elis bertanya tempat baju ganti Agni.
"Di sini miss" panggil Agni yang sudah berada di ruang wardrobe.
Elis masuk ke ruang itu. Dan lagi-lagi Elis dibuat kagum oleh barang-barang yang ada di hadapannya.
Koleksi jam, dasi dan perlengkapan kantor semua serba bermerk. Segala jenis sepatu bahkan tertata rapi seperti di etalase toko.
__ADS_1
"Miss di sini" panggil Agni.
"Iya, miss ke situ" Elis menghampiri Agni yang sedang memilah baju ganti.
"Ini aja miss. Yang ada gambarnya little mermaid" Agni menunjukkan baju gantinya ke Elis.
"Baiklah. Baju seragamnya miss Elis yang lepasin atau Agni sendiri yang nglepas?" tanya Elis.
"Aku sendiri aja miss" meski pelan, Elis masih sabar menunggu sampai kancing terlepas.
Terdengar bunyi perut Agni, dia pun terkekeh.
"Miss, lapar" rajuk Agni.
"Belum makan?" tanya Elis dan Agni pun mengiyakan.
Elis bingung lagi, kira-kira ada bahan makanan nggak ya di apartemen yang lama tak ditinggali itu. "Kita cari bahan makanan apa yang bisa dimasak yuk. Agni mau nemenin miss di dapur?" gandeng Elis keluar kamar utama.
"Mau dong miss" sambut Agni.
"Oke sayang" kata Elis komplit dengan tawanya.
Masing-masing dari mereka telah lengkap memakai apron memasak.
"Oke, kita buka kulkas dulu ada apa di sana?" Elis mengajak tebak-tebakan Agni.
"Aku saja yang buka lemari pendinginnya miss" pinta anak lima tahun itu.
Dia biarkan Agni membukanya. Elis melongo melihat isi lemari pendingin yang ternyata isi nya sangat lengkap itu.
"Miss ada udang nggak?" tanya Agni polos.
"Mau udang goreng tepung?" Elis sesaat ingat bagaimana lahapnya Agni makan udang goreng tepung saat tak sengaja mereka bertemu di sebuah resto yang berujung makan siang bersama.
"Miss Elis bisa buatin?" tanya Agni.
"Bisa dong, Agni mau bantuin?"
"Emang boleh?" tanya Agni minta persetujuan.
Takut salah bicara, Elis menatap Agni. "Boleh, tapi hati-hati ya" pesan Elis.
"Makasih miss Elis" sebuah ciuman kembali mendarat di pipi miss Elis.
Setelah udang dibersihkan oleh Elis, "Sekarang giliran Agni ngasih tepung nya ya?". Elis memberi contoh putri tuan Bara itu.
Agni masih antusias. Dan dapur yang semula bersih menjadi kotor karena ulah mereka berdua.
"Biar miss aja yang masukin ke penggorengan, Agni lihat dulu aja ya" suruh Elis. Dia tak mau membahayakan putri majikannya.
__ADS_1
Untung saja Agni menuruti perkataannya. Dia mau duduk manis menunggu udangnya matang.
"Mau dibuatin udang asam manis?" Elis memandang anak kecil di depannya.
"Mau...mau...." jawab Agni dengan penuh semangat.
Elis melanjutkan acara memasaknya. Dia juga membuatkan Agni lengkap dengan menu sayur. Ternyata tuan Bara perhatian sekali terhadap kebutuhan dapur, batin Elis. Katanya lama ta k ditinggali, bagaimana bisa selengkap ini, pikir Elis.
.
.
Sementara Bara yang sedang menghadiri rapat bersama Iwan di sebuah resto nampak tak fokus dengan isi rapat saat itu. Bara terus memandangi ponsel nya.
Kadang Bara tersenyum sendiri melihat layar ponselnya itu.
Iwan menyenggol lengan Bara, "Tuan fokus dong, tuan Daniel sedang presentasi itu" celetuk Iwan.
Bara hanya menyunggingkan senyumnya ke arah Iwan. Sang asisten benar-benar tak membolehkan sang CEO bersantai sejenak. Padahal sebelumnya Bara tengah melihat interaksi sang anak dengan miss Elis yang tengah berkutat di dapur melalui CCTV yang disambungkan ke ponselnya. Bahkan kedua wanita itu telah belepotan tepung tanpa mereka sadari. Itulah yang membuat Bara tersenyum-senyum sendiri.
"Tuan, ada yang mau ditambahkan?" tanya Iwan berbisik.
Bara pun akhirnya fokus dengan materi yang dipresentasikan oleh tuan Daniel dari perusahaan rekanan Dirgantara.
Dirgantara Grub ingin mengembangkan sayap bisnis nya di bidang tambang batubara. Gayung bersambut, perusahaan Daniel sedang membutuhkan biaya tak sedikit untuk mendongkrak produksi.
"Oke tuan Daniel, untuk proses selanjutnya silahkan dikoordinasikan dengan Iwan asisten saya. Klausul perjanjian kerjasama kalau telah siap bisa diserahkan ke Iwan. Terima kasih" Bara menjabat tangan Daniel. Daniel si pengusaha tambang batubara, juga merupakan teman seangkatan kuliah meski dulu mereka tak dekat.
Meski masih ada acara makan siang, Bara meninggalkan tempat rapat itu.
"Tuan mau ke mana?" selidik Iwan yang melihat sang bos tengah berdiri dari duduknya.
"Kau temani tuan Daniel makan siang. Aku ada perlu. Selepas makan siang aku langsung ke rumah sakit. Jadi untuk selanjutnya kerjasama dengan tuan Daniel kau selesaikan!!" perintah Bara.
"Tuan Daniel, saya permisi duluan. Maaf tidak bisa menemani anda makan siang" Bara benar-benar meninggalkan acara makan siang dengan kolega bisnisnya itu.
Bara melangkah sedikit terburu. Dia mau kemana? Tentu saja Bara tak mau ketinggalan dengan acara makan siang bersama putrinya.
Modus kah?
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading.
Sampai saat ini othor masih ngarep jempol, komen, bunga nya loh π€π€π€π
Salam sehat
Lope-lope untuk readers tersayang
__ADS_1
π