Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 69


__ADS_3

"Elis, aku hanya ingin memberitahumu kalau lusa keluargaku jadi ke rumahmu. Papa dan mama setuju kok" cerita Bara tanpa menambahkan kalau dia dipaksa oleh tuan Suryo untuk segera menikah dengan Elis.


"Oke, baiklah tuan" jawab Elis.


.


Keesokan hari, Iwan datang ke kontrakan nyonya Mawar.


"Pagi, nyonya" sapa Iwan.


"Bukannya anda asisten tuan Bara?" tanya nyonya Mawar, karena saat itu Elis sedang keluar.


"Iya nyonya. Nona Elis nya ada?" lanjut Iwan.


"Elis sedang keluar. Ada yang bisa saya bantu?" jawab nyonya Mawar.


"Begini nyonya, saya ke sini atas perintah tuan Bara untuk menyiapkan acara besok" terang Iwan tanpa menjabarkan acara yang dimaksud.


"Rumah sudah saya bersihkan tuan Iwan. Mau disiapkan apa lagi?" tanya Nyonya Mawar.


"Maaf nyonya, saya hanya menjalankan perintah tuan Bara. Apa nyonya nggak kasihan sama saya kalau saya dipecat" ucap Iwan seolah mohon iba agar diperbolehkan.


"Benarkah?" tanya nyonya Mawar tak percaya.


"Beneran nyonya, pekerjaan jadi taruhan kalau saya tak menjalankan amanat tuan Bara" Iwan menangkupkan kedua tangan berharap nyonya Mawar segera menyetujui permintaannya.


Nyonya Mawar menghela nafas panjang. Acara putrinya ini benar-benar mengingatkan dirinya akan lamaran Andreas dulu. Lamaran yang direncanakan, tapi malah acara ijab kabul yang terlaksana.


Pernikahannya dengan papa Elis sungguh di luar dugaan keluarga Mawar. Kehidupan yang bertolak belakang tak menyurutkan Andreas untuk melabuhkan cinta pada seorang Mawar.


Meski Andreas adalah pewaris tunggal Starco.ind, orang tua Andreas menerima kedatangan Mawar dengan penuh kasih sayang.


Bahkan kelahiran Elis begitu membahagiakan mereka. Putra tunggalnya telah memberikan cucu cantik.


Kebahagiaan keluarga itu tak berlangsung lama. Karena mama mertua meninggal saat Elis berusia setahun, setahun kemudian papa mertua menyusul kepergian mama. Keduanya meninggal karena serangan jantung.


Mama Mawar mengingat kejadian kecelakaan yang telah merenggut suami tercintanya. Suami yang rela mengorbankan diri untuk keselamatan istri dan putrinya.


"Nyonya..." panggil Iwan dengan menepuk bahu nyonya Mawar. Nyonya Mawar tersadar dari lamunannya.


"Iya tuan Iwan. Maaf" sahutnya.


"Gimana? Bisa dimulai saya menyiapkan buat acara besok?" tandas Iwan.


"Silahkan tuan. Maaf tadi malah saya tinggal melamun" Nyonya Mawar terkekeh.


Nyonya Mawar kembali masuk rumahnya. Sementara orang-orang suruhan Iwan mempersiapkan semua.


Elis yang barusan datang menghampiri Iwan yang sedang meneguk air putih kemasan.


"Tuan Iwan" panggil Elis menepuk bahu belakag Iwan.


Iwan tersedak karena kaget oleh panggilan Elis.


"Nona, buat kaget aja" sergah Iwan.


"He..he... Tuan Iwan ngapain di sini?" tanya Elis yang memang belum tahu.


"Nona Elis darimana aja? Bukannya calon pengantin musti dipingit" celetuk Iwan. Sesaat Iwan langsung menutup mulut yang keceplosan itu.


Dahi alis mengkerut. "Apa maksudnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Bukan begitu nona, maksudnya saya diutus tuan Bara untuk membantu buat acara besok" jawab Iwan.


"Oooooo....begitu ya?" Elis meninggalkan Iwan yang sedang sibuk menyuruh orang-orangnya.


.


Sementara Bara yang tidak diperbolehkan oleh papa nya untuk datang ke Dirgantara dan sedang off di rumah sakit, jadi bingung.


"Mau ngapain ini di rumah?" gumam Bara.


Dia yang biasa sibuk jadi seperti pengangguran kali ini.


Apalagi Agni, yang selalu buat suasana ramai. Dalam dua hari ini disabotase oleh papa Suryo dan mama Clara. Mereka tak membiarkan cucu nya ikutan Bara.


"Ish...sepi sekali" gerutu Bara.


Bara mencoba menelpon Iwan. Tapi oleh Iwan panggilan Bara sengaja dialihkan oleh Iwan.


"Sial. Sepertinya Iwan sengaja nih" umpat Bara.


"Apa ku telpon Elis saja ya" Bara nampak berpikir.


"Tapi kata papa, katanya kita dalam masa pingitan" Bara masih meragu untuk menelpon Elis.


Kutelpon Iwan lagi saja, gumam Bara.


Tapi sekali lagi, panggilan Bara dialihkan oleh Iwan.


Kutelpon Elis saja lah, daripada bosen.


Bara mendial nomer Elis. Tapi sama saja dengan Iwan. Panggilan dari Bara malah tak tersentuh sama sekali oleh Elis.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Bara. Karena sedang boring, Bara langsung membuka chat yang dikiranya berasal dari Iwan atau Elis.


Bara harus menelan kecewa, karena pesan itu pun bukan dari keduanya.


"Kak, sekarang aku di Dirgantara. Kakak sedang cuti ya? Boleh aku ke apartemen? Atau kakak sedang di rumah sakit?" bunyi pesan itu.


Bara menautkan alisnya. Ngapain ni orang bagai hantu gentayangan saja, umpat Bara.


Bara bergegas ke pintu depan dan langsung mengganti pasword pintu apartemen miliknya.


"Masa bodoh, mau ke sini atau ke Suryo Husada" Bara masuk kembali dan tak berniat membalas pesan tadi.


Siapa orang itu, hanya Bara yang tau.


.


Iwan telah menyelesaikan pekerjaan, dan telah mengambil beberapa foto dari berbagai sudut untuk dilaporkan kepada Bara.


Bahkan Iwan sengaja mengabaikan panggilan sang tuan karena ingin segera menyelesaikan.


"Pasti tuan Bara sedang mengumpat sekarang" sudut bibir Iwan mengulas senyum.


"Ah sudahlah, biarkan saja. Sekali-kali membuat tuan Bara jengah" gumam Iwan.


Sebuah mobil mewah berhenti di depan kompleks perumahan itu, karena semua akses masuk ke rumah Elis telah ditutup oleh ulah Iwan.


"Nyonya? Kok datang?" tanya Iwan.


"Mau menemui calon menantu yang belum kukenal" bisik nyonya Clara.

__ADS_1


Nyonya Clara sengaja datang untuk mengajak Elis mencoba gaun yang telah dipesan ke butik langganan mama Clara.


"Iwan, bisa anterin aku ke dalam?" suruh mama karena belum pernah bertemu Elis.


"Baik nyonya" Iwan mengikuti langkah sang nyonya besar.


"Non, Nona Elis" panggil Iwan.


Elis keluar dari dalam bersama dengan nyonya Mawar. "Iya tuan" jawabnya.


Elis bingung karena ada seorang wanita yang masih cantik dan anggun meski sudah termakan usia.


"Kenalin ini nyonya Clara, mamahnya tuan Bara" ucap Iwan.


"Se...selamat siang nyonya" sapa Elis tergugup. Baru pertama kali bertemu dengan nyonya Suryolaksono.


"Biasakan panggil mama dari sekarang" ulas lembut nyonya Clara.


Nyonya Clara menyalami juga mama Mawar. Dengan sedikit memicingkan mata, nyonya Clara mengamati nyonya Mawar.


"Kamu bukannya Mawar jurusan ekonomi?" tanya nyonya Clara.


"Benar nyonya" tanggap Mama Mawar yang belum tau arah pembicaraan wanita yang menyalaminya.


"Kamu apa seangkatan dengan Andine dan juga Aisyah?" imbuh nyonya Clara.


"Kok anda mengenal mereka nyonya, mahasiswi populer seangkatan saya?" selidik mama Mawar.


"Kalau gitu anda kenal dengan Gayatri apa nggak?" tukas nyonya Clara.


"Kenal dong, kak Gayatri kan cewek paling populer di antara para mahasiswa kala itu. Bahkan Abraham dan James saling berebut untuk mendapat perhatian kak Gayatri" mama Mawar terkekeh, teringat dengan masa mudanya.


"Kalau ingat dengan Gayatri, kamu kenal sama saya dong?" tatap mama Clara.


Mama Gayatri mengamati lebih dalam. "Apa anda kak Clara yang super centil itu?" tebak mama Mawar.


"Seratus untukmu Mawar" jawab mama Clara terbahak.


Kedua mama itu berasa reunian. Sementara Elis dan Iwan hanya bisa mengusap tengkuknya, belum tau alur cerita mereka berdua.


"Jadi papa nya tuan Bara itu, Mas Suryo? Yang sewaktu kuliah sudah cinta mati denganmu kak?" imbuh mama Mawar.


"Tidak salah lagi" jawab mama Clara.


"Ha...ha....ternyata dunia itu sempit sekali kak" Mereka berdua berpelukan karena puluhan tahun tak bertemu.


"Memang anakku yang kurang ajar Mawar, tak pernah membawaku kemari" Nyonya Clara duduk di kursi tamu.


"Maaf kak, adanya cuman begini" nyonya Mawar mulai insecure melihat kakak tingkatnya sewaktu kuliah itu berhiaskan barang branded.


"Elis, sini duduk dekat mama. Akhirnya mama punya dua putri yang ternyata juga putri sahabat-sahabat mama" Mama Clara menepuk kursi sebelahnya untuk diduduki Elis.


Elis mendekat, dan langsung dipeluk erat oleh mama Clara.


"Pasti lah kamu anak Andreas sejati" ucap mama Clara di telinga Elis.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝

__ADS_1


__ADS_2