
"Sekarang saja, aku butuh jawaban itu sekarang!" tegas Bara
"Tuan pemaksa" gumam Elis.
"Kamu harus memutuskan sebelum kontrak itu selesai" tegas Bara.
"Ya terserah aku dong Tuan" tukas Elis sengit.
"Tidak bisa. Karena setelah kontrak yang kemarin, aku akan memperpanjang masa kontrakmu menjadi seumur hidup" ucap Bara semena-mena.
"Hah? Mana ada begitu?" tatap bengong Elis.
"Ada, nggak percaya? Abis ini kubuatkan khusus untukmu" imbuh Bara.
Elis masih belum paham sampai Bara menjitak keningnya, "Dasar telmi" canda Bara membuat Elis bersungut.
"Elis, balik lagi ke tema awal. Kau suka padaku nggak?" tanya Bara.
"Tuan, mana ada begitu nembak cewek?" seloroh Elis.
"Terus gimana nembaknya? Dor...dor...dor... Begitukah?" Bara memeragakan cara menembak.
"Ish... Dasar tuan nggak peka" gerutu Elis.
Bara tertawa.
"Harusnya tuh buatin suasana romantis atau apa kek gitu!" celetuk Elis.
"Yang penting kan niatnya, aku mau serius sama kamu. Kalau kamu setuju dan mau, besok kita ke penghulu" ucap serius Bara.
"Hah????" Elis kembali menepuk jidat yang mendengar ucapan Bara yang seakan tanpa beban itu.
"Tuan Bara beneran serius? Tidak lagi ngigau kan?" selidik Elis dan mencubit lengannya sendiri.
"Beneran aku serius, tinggal nunggu jawaban kamu aja. Ya apa tidak?" tatap serius Bara.
Elis terdiam.
"Aku bingung tuan musti jawab apa. Kita ini bagai bumi dan langit" imbuh Elis, insecure terhadap dirinya sendiri.
"Tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Kutunggu jawabanmu nanti malam" tegas Bara.
Bara menjalankan mesin mobil, dan perlahan keluar area parkir lapas.
Mereka berdua lebih banyak terdiam saat mobil Bara melaju di tengah kemacetan jalan raya.
"Kamu tunggu Agni di apartemen aja, biar dia dijemput sopir. Aku mau langsung ke Dirgantara. Sore juga ada beberapa jadwal operasi elektif" kata Bara.
"Baik tuan" tukas Elis.
"Panggil Abang, berapa kali aku harus bilang Elis" tandas Bara.
"He...he...suka lupa dan sudah jadi kebiasaan tuan...eh...Abang" Elis tersenyum simpul.
Bara menurunkan Elis di apartemen yang mereka tinggali. Selama hampir dua bulan mereka telah tinggal bersama, Bara lebih banyak tidur di ruang kerja. Karena kamar utama lebih banyak dikuasai oleh Agni dan Elis.
.
Bara benar-benar menagih janji Elis untuk memberikan jawaban atas yang diucapkannya tadi siang.
"Harus sekarang kah?" tanya Elis.
Bara mengangguk.
"Operasi aja bisa diacarakan kalau tidak urgen. Jawaban ku kan juga tidak urgen Bang, jadi bisa ditunda dong" imbuh Elis.
"No" geleng kepala Bara.
Elis bersungut mendapat tekanan dari Bara.
"Kan tinggal jawab ya atau tidak. Apa susahnya sih?" tandas Bara.
__ADS_1
"Lah, aku kan juga harus bicarain dengan mama dulu" kata Elis.
"Emang aku mau nikahin mama mu juga, enggak kan?" sela Bara.
"Aku kan juga mau pertimbangan dulu sama Mama" ucap Elis mencelos.
"Elis, sori. Ini soal hati, jadi nggak bisa ngelibatin orang lain dong" tambah Bara.
"Jangan pakai alasan langit dan bumi seperti tadi siang lagi. Itu tidak akan kuterima" ulas Bara.
"Tapi keadaannya memang seperti itu tuan" Elis mulai menunduk.
"Aku memang gadis copet seperti yang kau kenal dulu. Hidupku juga penuh masalah. Terus apa yang akan kau banggakan kepada keluarga anda tentang diriku. Bahkan aku saja membenci diriku sendiri" kata Elis mulai terbata.
"Elis, tatap aku" ucap Bara.
Elis mendongak menatap Bara.
"Jangan dikira keluargaku yang bersikap diam itu, tidak pernah tau keberadaanmu di sini. Mereka diam tak berbuat sesuatu, malah kuanggap mereka telah menyetujuinya" lanjut Bara.
"Dan asal kau tau, mendiang istriku yang juga mama nya Agni bahkan juga berasal dari keluarga yang sangat sederhana" imbuh Bara. Ada sedikit bergetar di suara nya.
Elis masih terdiam. Elis yakin Bara pasti sangat mencintai mendiang istrinya.
"Tuan, ijinkan saya menanyakan sesuatu sebelum aku memberi jawaban apa yang anda utarakan tadi siang" ucap Elis.
"Heemmm" Bara menanggapi.
"Apa benar kau tulus? Bukankah dalam hati anda masih tersimpan nama nyonya Yasmin?" tanya Elis dengan sedikit ragu. Takut Bara akan marah.
"Heemmmm... Jujur, Yasmin adalah wanita pertama yang aku cintai. Bahkan dia telah meninggalkan sebuah kenangan terindah untukku, yaitu kehadiran Agni. Bahkan sebelumnya aku juga pernah bertekad untuk tidak menikah lagi. Tapi semenjak Agni sering merengek akan kehadiran seorang ibu, aku mulai berpikir. Alangkah baiknya aku mulai membuka hati untuk wanita lain" jelas Bara.
"Jadi kau mendekatiku karena ingin menjadikanku ibu sambung bagi Agni, tuan" sela Elis.
"Jangan kau sela dulu perkataanku. Awalnya aku memang hanya ingin menjadikan kamu ibu bagi Agni. Tapi semakin ke sini, kehadiranmu membuat warna lain dalam hidupku" imbuh Bara.
"Aku bukan sosok pujangga yang pandai merangkai kata. Intinya cinta untuk kamu dan cinta untuk mendiang istriku, akan aku tempatkan dalam lubuk hati terdalam dan dalam porsi yang sama. Jadi bagaimana jawabmu sekarang?" Tembakan Bara masih berlanjut sampai sekarang.
"Apa menganggukmu berarti iya?" Bara memastikan.
Elis mengangguk lagi.
"Makasih Elis, sekarang telpon mamah mu. Bilang saja aku besok mau ke sana" ucap Bara.
"Hah? Untuk?" Elis bengong.
"Hubungi saja dan sampaikan apa yang aku bilang tadi. Aku mau ke kamar menyusul Agni" suruh Bara.
Memang saat ini mereka berdua sedang berada di ruang kerja Bara.
Elis melakukan apa yang disuruh Bara dan memberitahukan kepada nyonya Mawar bahwa keesokan hari Bara mau mampir ke rumah.
"Tuan Bara ini ada apa ya? Sukanya membuat teka teki" gumam Elis dan berpindah di kamar sebelah.
.
Dan benar saja, selepas mengantarkan Agni ke sekolah. Bara mengajak Elis ke Dirgantara dulu karena ada rapat pagi.
Iwan yang datang bersamaan dengan kedatangan Bara dan Elis, "Wah, tambah seger aja tuh wajah Tuan?" canda nya.
"Iya, abis kumasukin kulkas. Jadi berasa seger" tukas Bara sekenanya.
"Kita langsung ke ruang rapat atau bagaimana tuan?" tanya Iwan.
"Aku antar dulu Elis ke ruanganku" kata Bara.
Iwan membego di lift mendengar perkataan Bara. "Abis makan apa tuannya pagi ini? Aneh sekali" gumam Iwan.
Iwan bahkan bisa melihat, Bara yang menggandeng Elis saat keluar lift barusan.
"Pasti ada sesuatu di antara mereka berdua" terka Iwan.
__ADS_1
Iwan berjalan keluar lift, dan didapatinya tatapan Anggun sang sekretaris yang seolah meminta jawaban Iwan. Iwan hanya bisa mengangkat kedua bahu tanda tak tau.
"Sepertinya kita melewatkan sesuatu" bisik Anggun.
"Benar, apa manusia es itu mulai meleleh?" tukas Iwan.
"Sepertinya begitu" Anggun menimpali.
"Iwannnnnnn" terdengar Bara memanggil dari ruangannya.
"Tuh, sudah dipanggil bos. Buruan masuk gih" suruh Anggun.
"Pagi bos" Iwan masuk setelah mengetuk pintu.
"Bacakan agendaku" suruh Bara.
Iwan tetap melakukan apa yang diminta sang bos , membacakan agenda Bara untuk hari ini. Meski dia tak pernah melewatkan untuk mengirim email sehari sebelumnya.
"Koreksi Iwan. Setelah rapat pagi ini, aku tidak mau ada rapat lagi. Kalau memang ada tolong rescedule semua dulu atau kalau bisa kau wakili, wakili saja. Karena selepas jam sepuluh, aku ada keperluan pribadi. Menjelang sore aku akan langsung ke rumah sakit. Jadi jangan mencariku lagi. Kamu paham!!!" tegas Bara.
"Paham tuan" singkat Iwan tanpa banyak bertanya lagi.
Bara hendak meninggalkan Elis di ruangannya untuk melaksanakan rapat yang diagendakan oleh Iwan.
"Kalau bosan menungguku, main game sana di ruangan sebelah. Beranikan sendirian? Atau mau ditemani Anggun?" suruh Bara.
"Emang aku anak kecil. Aku sendiri saja, nggak enak sama kak Anggun." sungut Elis.
"He...he...daripada kau diam di sini. Kan lebih baik bisa menggibah sama Anggun" kata Bara keluar dari ruangan sambil tertawa, membuat Elis semakin manyun dibuatnya.
Tepat jam sepuluh, sesuai janjinya Bara mengajak Elis.
"Kita mau ke mana? Buru-buru amat?" tanya Elis yang telat mengikuti langkah kaki Bara.
"Kau tidak melupakan sesuatu kan?" Bara menengok ke belakang di mana Elis berada.
"Apa?" Elis mengangkat kedua bahunya.
"Ngabarin mama mu, kalau aku mau ke sana?" selidik Bara.
"Oh itu....sudah kutelpon semalam" beritahu Elis.
"Baiklah" sesungging senyum di sudut bibir Bara.
"Tuan, ini mau kerumah mama?" tanya Elis setelah tau arah mobil dikemudikan.
"Iya" sahut Bara.
"Jadi anda membatalkan semua agenda anda hari ini karena hanya ingin bertemu dengan mama?" tanya Elis.
"Demi masa depanku" sahut Bara.
"Elis, kenapa panggilan tuan untukku masih saja kau sematkan?" Bara menengok ke arah Elis saat mobilnya berhenti di lampu merah.
"Aku masih geli aja kalau disuruh panggil Abang" elak Elis.
"Kalau gitu panggil sayang aja" suruh Bara.
"Hah????" ucapan Bara membuat Elis bengong.
.
Ternyata mama Elis telah menunggu kedatangan Bara di rumah kontrakan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
Senin tiba...vote nya dong 😊😊😊😊😊
💝
__ADS_1