
Semua toilet wanita di lantai itu Bara masuki tanpa peduli pandangan sinis dari orang-orang yang di sana.
"Siapa lagi yang mau main-main denganku?" Batin Bara tetap mencari keberadaan sang istri.
Bara mencoba menelpon Iwan untuk memberitahu situasi saat ini.
Sambil tetap menelpon Iwan, Bara langsung menuju ke pos security yang berjaga.
Saat melewati food court, tak sengaja Bara melihat sosok wanita dari belakang seperti istrinya sedang menikmati sesuatu.
Bara menepuk bahu nya dari belakang.
Dan ternyata benar, sang istri sedang menikmati es teler dengan nikmatnya.
"Sayang.." Bara menepuk bahu sang istri
"Enak yank, mau?" Elis menawari suami yang baru datang tanpa rasa bersalah.
Ponsel Bara yang masih tersambung dengan Iwan, "Nggak jadi. Sudah ketemu" kata Bara.
Bara dibuat gemas oleh ulah sang istri.
"Lain kali bilang dong sayang" ujar Bara.
"Maaf, keluar dari toilet ada anak yang bawa es seperti ini. Aku kepingin" ucap Elis dengan wajah ditekuk. Ada rasa takut dimarahi sang suami.
Bara menghela nafas panjang, untuk mengurangi rasa emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Ya sudah, habiskan dulu. Baru nanti kita ambil belanjaan tadi" imbuh Bara.
"Sayang, nggak marah?" tatap Elis dengan mata beningnya.
Bara menggeleng. Mau marah sebenarnya, tapi nggak jadi...he...he...
Bara teringat dengan dirinya yang kalap mencari sang istri ke semua toilet wanita yang ada di mall sampai nggak kepikiran buat menghubungi sang istri lewat ponsel.
Bego...bego...gerutu Bara dalam hati.
Elis beranjak, setelah menghabiskan es teler yang ada di depannya.
"Mau ke mana? Aku ikut" ucap Bara dan tidak ingin kejadian seperti tadi.
"Mau itu" tunjuk Elis ke gerai ayam goreng. Padahal antrian di sana sedang banyak-banyaknya.
"Antri banget lho yank. Nggak yang lain aja?" Bara menimpali.
"Nggak mau, aku ingin itu" rajuk Elis, sudah seperti Agni jika ingin udang goreng tepung.
Sabar Bara, istrimu sedang ngidam. Hibur hati Bara.
"Ya sudah, aku belikan. Kamu duduk sana gih" suruh Bara.
"Nggak mau. Nggak seru dong kalau nggak pakai ngantri" seloroh Elis.
"Mau ngantri lagi?" tandas Bara
__ADS_1
"Iya...kan seru karena ngantri nya sayang" imbuh Elis.
Aduhhhh, bawaan orok aneh-aneh aja. Ngantri kok seru. Batin Bara.
.
Seseorang menepuk Bara dari belakang.
"Kak, ngantri juga? Agni mana?" Bara menoleh, ternyata Alex yang berada di belakangnya.
"Aku nggak sama putriku. Dia lagi di rumah papa" jelas Bara.
"Terus ngapain di sini?" tanya Alex penasaran.
"Beli ayam goreng dong" ketus Bara.
"Iya aku tahu, bungkusin buat Agni?" telisik Alex.
"Kamu sendiri beli buat siapa?" tanya balik Bara.
"Tuh" tunjuk Alex ke arah sang istri yang tak lain adalah dokter Anita lengkap dengan buah hati mereka. Bara mengangguk sopan ke arah mereka.
"Sudah yank?" tanya Bara yang melihat Elis telah selesai mengantri.
Alex yang mendengar kata sayang keluar dari mulut seniornya itu hanya bengong.
"Wah, bisa jadi berita hot minggu ini nih" gumam Alex dan terus memesan ayam sesuai keinginan putrinya.
"Nggak usah ngadi-ngadi. Nih kenalin istriku. Kamu sudah kenal kan?" kata Bara berbalik dan akan mencari meja kosong untuk makan sang istri.
"Apa kak? Istri? Kenapa nggak ngundang-ngundang kita? Wah, curang nih" tukas Alex.
"Lex, duluan ya" Bara meninggalkan Alex yang masih termangu.
.
"Sayang, kok sudah ngenalin aku sebagai istri?" tanya Elis.
"Terus sebagai apa? Teman tidur?" jawab Bara dengan bercanda.
"Nggak lucu ah" sungut Elis.
"Jadi makan nggak nih?" sela Bara.
Elis kembali tersenyum, setelah di depannya disuguhkan menu ayam goreng tanpa nasi.
Bara hanya geleng kepala melihat nafsu makan istrinya yang meningkat itu.
Padahal di trimester awal biasanya ibu hamil banyak yang mengalami emesis.
"Nggak mual yank?" tanya Bara.
"Enggak. Boleh ya nanti bungkusin" pinta sang istri.
"Heemmm" gumam Bara. Alamat mengantri lagi nih. Batin Bara.
__ADS_1
Bara memanggil security yang kebetulan lewat, "Pak sini sebentar" panggil Bara.
Pak satpam senior itu menoleh ke arah siapa yang memanggil.
"Eh tuan Bara, selamat siang pak. Ada yang bisa saya bantu" sapa nya ramah.
Pak satpam itu tak kalah terkejut melihat Elis yang duduk semeja dengan sang bos besarnya.
"Dia sekarang temanku pak" kata Bara dengan menahan tawa.
Elis pun mendongak dengan mulut penuh makanan.
"Maaf pak, aku sudah insyaf. Tidak mencopet lagi" kata Elis.
Bara malah menertawakan sang istri yang nampak lucu saat itu. Dia cubit pelan hidung sang istri karena gemas.
"Sakit yank" Elis bersungut lagi.
"Maaf tuan, tadi memanggil ada apa ya?" tanya pak satpam.
"Oh ya, pak aku tadi belanja di supermarket. Terus keranjang belanjaku tertinggal di depan toilet wanita karena aku tadi buru-buru mencari seseorang yang mendadak menghilang" cerita Bara.
"Kok bisa hilang tuan?" tanya pak satpam yang ternyata kepo juga.
"He...he...aman pak, sudah ketemu kok dia" imbuh Bara.
"Di mana ketemunya tuan?" pak satpam masih belum beranjak.
"Begini saja pak, tolong ambilin keranjang belanja itu. Terus bawa kesini. Aku tunggu" perintah Bara.
"Siap tuan" pak satpam berbalik ke tempat yang dibilang Bara tanpa bertanya lagi.
Bara beringsut berdiri, mau mengantri lagi untuk beli ayam goreng sesuai permintaan sang istri.
"Mau kemana?" tanya Elis menghabiskan suapan terakhirnya.
Dia ini lupa apa gimana ya? Monolog Bara.
"Katanya ayam gorengnya dibungkus?" tanya Bara balik.
"Nggak jadi ah, sudah kenyang" jawab Elis.
Bara mengajak sang istri pulang setelah selesai dari kasir.
"Kita ke mansion papa dulu gimana? Sekalian menjemput Agni" ajak Bara.
Elis mengangguk sambil menguap. Baru saja Bara hendak mengajak bicara, sang istri telah nyenyak tidur.
Bara kembali tertawa, teringat kebegoannya tadi sewaktu mencari Elis istrinya.
Waspada boleh Bara, tapi otak harus tetap waras.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued happy reading
__ADS_1
Buah tin buah kedondong #up dilanjutin vote ny dong
π