
"Kita kan satu pesawat dengan Anjani waktu kita berangkat ke sini yank" beritahu Elis.
Bara menatap Elis. "Kok kamu tahu?" tanya Bara.
"He...he...ketemu pas aku ke toilet di pesawat" jelas Elis.
"Dia naik first class?" dahi Bara berkerut.
"Ngarep ingin ketemu dengannya?" kata Elis tapi wajahnya melengos ke arah lain.
"Sepertinya ada yang marah nih" kata Bara dengan berbisik di telinga sang istri.
"Nggak, siapa juga yang marah" tolak Elis.
"Bibir bisa bilang enggak, tapi muka kamu tuh nunjukin yang lain sayang" Bara terkekeh.
"Sayang, kamu kenal nggak sama laki-laki setengah baya yang bersama Anjani itu?" telisik Bara.
"Mana aku tahu" kata Elis mencelos.
"Dia itu salah satu punggawanya Star Media. Barangkali aja kamu kenal?" kata Bara.
Elis nampak berpikir, "Star Media?" utas Elis.
"Heemmmm" gumam Bara.
"Biar jelas, kita masuk aja yukkkk. Sambil nikmatin live music seru juga kayaknya" ajak Bara.
Bara masuk dengan tetap menggandeng Elis.
"Tapi aku nggak mau melihat wanita yang mengaku sebagai adikmu itu mendekati kamu" kata Elis dengan ketus.
"Iya..." jawab Bara, tak mau membuat wanita nya dibakar api cemburu.
Bara dan Elis duduk di pojokan kafe. Dengan posisi duduk Anjani dan pasangannya membelakangi mereka.
Bahkan obrolan mereka masih bisa terdengar oleh Bara dan Elis.
"Sayang, kapan kau kasih uang lagi? Uangku habis buat beli tas kemarin" rayu Anjani ke laki-laki setengah baya itu.
"Iya, besok kuberikan. Asal kau memuaskan ku malam ini" kata laki-laki itu dengan senyum sinis.
Bara dan Elis saling memandang, jijik mendengar kata-kata mereka.
Bara mengajak Elis untuk pergi saja. Tapi urung dia lakukan saat mendengar laki-laki itu berkata lagi.
"Uang yang kau habiskan sudah lumayan banyak bulan kemarin" lanjut laki-laki itu.
"Itu semua untuk menutup kasus tabrak lari yang kamu lakukan itu" sergahnya.
"Bukannya sudah beres semua ya? Ternyata yang kutabrak waktu itu seorang dokter loh sayang" kata Anjani.
"Kok kamu tahu?" laki-laki itu menimpali.
"Karena dia dokter di rumah sakit yang dipunya oleh kakak ipar sepupuku" celetuknya.
"Kakak iparmu kaya dong? Bisa aku mengenalnya?" laki-laki yang bersama Anjani menimpali.
"Bukan hanya kaya, dia mah sultan" kata Anjani mulai meracau, sepertinya dia memang mabuk berat.
"Ayo balik hotel saja. Aku nggak sabar ingin memakanmu" laki-laki itu mulai menuntun Anjani yang jalannya sempoyongan.
"Tapi aku nggak mau ya kepergok anak dan istrimu" celoteh Anjani.
"Hotelnya beda sayang" ucap laki-laki itu dan mengajak Anjani meninggalkan tempat itu.
Bara masih mencerna ucapan mereka tentang tabrak lari.
Apa mereka tadi sedang membahas kecelakaan dokter Eka? Pikir Bara.
Pesanan mereka telah datang. Elis hanya memesan susu jahe hangat, lumayan untuk mengurangi efek masuk angin tadi. Sementara Bara memesan kopi latte.
__ADS_1
Elis memakan makanan yang dibelinya di street food tadi.
"Mau?" Elis menawari sang suami.
Bara menggeleng. Karena dia sudah cukup kenyang makan waktu di hotel tadi.
"Kamu nggak lapar? Tadi kan nggak jadi makan" ucap Bara.
Tapi Elis tak mau, hanya ingin ngemil makanan yang dipegangnya saat ini.
"Balik yuukkkk, udah tengah malam nih" ajak Bara setelah menandaskan minuman di gelasnya.
Elis menandaskan sisa susu jahe yang masih ada.
Dan beringsut dari duduknya.
"Ternyata jauh juga kita jalan barusan" seloroh Bara.
"Capek yank?" tanya Elis. Pasti suaminya ini jarang melakukan hal-hal seperti ini atau bahkan tak pernah.
"Lumayan" tukas Bara.
"Pastilah. Kemana-mana kan kamu biasa naik mobil" ejek Elis.
"He...he...joggingnya kan cukup di dalam kamar yank" tukas Bara bercanda. Elis mencebik mendengar jawaban sang suami.
Hidup bersama Elis, membuat hidupnya lebih berwarna. Elis wanita sederhana yang sangat dicintainya sekarang.
Sampai di kamar hotel, Elis langsung berganti baju tidur kesukaan dan tak lupa membersihkan diri.
Tak lupa dia menyiapkan baju sang suami yang masih menelpon Iwan.
Meski dirinya sedang berada dengan Elis di sini, tapi separuh jiwa Bara adalah milik Iwan...he...he...
Elis menarik selimut dan merebahkan dirinya di ranjang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, gumam Elis bermonolog.
Tak lama, dengkuran halus sudah terdengar dari suara nafas Elis.
"Yaaaaahhhhh, cepat sekali kau tidur" ucap Bara. Tapi saat melihat jam, "Lama juga ternyata aku nelpon Iwan" gumam Bara.
Bara melihat baju ganti yang disiapin sang istri. Seperti halnya Elis, Bara menyusul rebahan di samping sang istri dan memeluknya.
.
Bara mencari-cari keberadaan sang istri, saat meraba ranjang kosong di sampingnya.
"Sayang....sayang....kau di mana?" kata Bara sedikit kencang karena tak melihat keberadaan sang istri.
Saat hendak membuka kamar mandi, ternyata terkunci.
"Sayang" panggilnya lagi sambil mengetuk pintu.
"Iya, aku di dalam" jawab Elis.
Bara lega telah mendengar suara istrinya, "Kirain ke mana" celetuk Bara.
"Habis ngapain?" tanya Bara, melihat Elis yang barusan keluar kamar mandi.
"He...he...nongkrong. Abis mules banget perutku" kata Elis.
"Sakit?" selidik Bara.
"Nggak tahu, cuma sedari tadi tuh mules, dipake nongkrong ilang. Terus balik kamar mules lagi" Elis mengutarakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Sayang, coba kau ambil air seni mu. Tampung sini" pinta Bara sambil menyerahkan sebuah gelas plastik kosong.
"Untuk apa?" seloroh Elis.
"Tes kencing" jawab Bara singkat.
"Ngapain air kencing aja pake di tes segala?" tukas Elis.
__ADS_1
"Bentar....bentar....apa ini untuk tes kehamilan sayang?" imbuh Elis dan dijawab anggukan cepat Bara.
"Masak sih aku hamil?" Elis belum beranjak juga dari tempat duduknya, hingga Bara menyentil keningnya pelan.
"Kan kamu punya suami, ya bisa dong hamil" celetuk Bara menyahut ucapan Elis barusan.
"He...he.."Elis tertawa menanggapi ucapan sang suami yang nampak bersungut.
Sedetik kemudian Elis merasakan mules lagi, dan hendak balik ke toilet. Bara mengikutinya di belakang.
"Kok ngikut?" celetuk Elis.
Bara menyerahkan gelas yang lupa dibawa oleh Elis.
"Tampung dulu air seninya, baru nanti bisa tau apa sebab mulesmu itu" jelas Bara.
"Apa hubungannya?" tatap Elis.
"Kamu lupa kalau suamimu ini dokter?" imbuh Bara.
Elis hanya menggaruk kepala yang tak gatal, "Tapi kamu keluar dulu dong sayang" pinta Elis.
"Kutungguin aja" sahut Bara.
"Mana bisa kalau ditungguin, aku nggak bisa konsentrasi dong" tutur Elis tetap meminta sang suami menunggunya di luar.
Bisa malu aku, kencing ditungguin. Monolog Elis.
Elis keluar dari toilet dengan membawa air seni yang telah ditampungnya.
Tanpa rasa jijik, Bara menerima nya dengan antusias. Elis pun begitu.
Bara membuka kemasan alat tes yang dibelinya dari apotik.
"Gimana sih caranya?" tanya Elis penasaran dan beringsut menempel ke samping Bara.
Bara menyerahkan sebuah stik. "Nih, celupin sampai sebatas ini" suruh Bara sambil menunjukkan batas maksimal alat dimasukkan.
"Ke sini?" Elis menunjuk air seninya.
Bara mengangguk.
Kini mereka berdua sama-sama menunggu hasil dengan berdebar.
"Bismillah, apapun hasilnya kita terima dengan ikhlas ya sayang" kata Elis.
"Positif alhamdulillah, kalau negatif usaha nya digiatin lagi....he...he..." imbuh Bara.
Setelah beberapa detik, muncul satu strip. Bara menghela nafas panjang. Smoga sesuai harapan. Batin Bara.
Elis menunjukkan stik di depan Bara, "Stripnya dua yank, apa artinya?" tanya Elis minta penjelasan Bara.
Tapi Bara langsung memeluknya erat membuat Elis menautkan alisnya.
"Sayang, apa hasilnya?" Elis masih saja bertanya, membuat Bara mencubit gemas hidung sang istri yang masih saja belum ngerti.
"Positif sayang, positif hamil" jelas Bara dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah" tukas Elis.
"Rasa mulesmu tadi bisa jadi karena kecapekan kita jalan. Kalau begitu dipake baring aja" saran Bara.
"Siap pak dokter" tukas Elis. Mereka berdua masih menunjukkan binar bahagia.
"Masih menjelang pagi, sebaiknya kita tidur lagi" ajak Bara karena melihat jam dinding masih menunjukkan jam tiga pagi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π
__ADS_1